Accueil / Romansa / Rengkuhan Hangat Adik Ipar / 𑣲⋆Dua Miliar Untuk Rissa

Partager

𑣲⋆Dua Miliar Untuk Rissa

Auteur: Aphrodite
last update Date de publication: 2026-07-17 12:53:53

"Kamu belum tidur?"

Alina menoleh ke arah pintu ruang kerja Tristan yang terbuka sedikit. Tristan berdiri di sana dengan jas yang sudah dilepas dan lengan kemeja yang digulung sampai siku. Wajah pria itu tampak lelah.

"Aku sedang merapikan beberapa berkas laporan keuangan tahun lalu," jawab Alina tenang sambil menutup salah satu map tebal di atas meja.

Tristan berjalan masuk dan melangkah mendekati meja kerja kayu milik keluarga Donovan. "Kenapa harus mengerjakan itu tengah malam begini? Itu tugas staf keuangan."

"Staf keuanganmu tidak tahu berkas mana yang harus disiapkan untuk audit Tuan Bramanta besok lusa," sahut Alina tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Tristan menghentikan langkahnya. Tangannya masuk ke dalam saku celana. "Kamu sungguh-sungguh mau membantuku di depan Tuan Bramanta?"

"Aku melakukan ini untuk menjaga posisiku," balas Alina datar. "Kalau posisi perusahaanmu aman, posisiku sebagai istri sah juga aman di mata publik."

Tristan mengembuskan napas lega. Dia menarik kursi di depan meja kerja lalu duduk di hadapan Alina.

"Maafkan aku soal tadi di mobil," ujar Tristan dengan suara yang lebih lembut. "Aku hanya stres karena masalah pekerjaan dan Rissa yang terus menuntut."

Alina memindahkan flashdisk hitam dari saku gaun tidurnya ke bawah tumpukan kertas. "Rissa menuntut apa lagi?"

"Dia minta dibelikan apartemen di pusat kota malam ini juga," kata Tristan sambil memijat pangkal hidungnya. "Dia mengancam tidak mau bertemu kalau sertifikatnya belum atas nama dia."

Alina menyunggingkan senyum tipis. "Lalu kenapa tidak kamu belikan saja? Bukankah kamu punya dana taktis perusahaan?"

"Dana taktis itu butuh tanda tangan persetujuan darimu, Alina," kata Tristan menatap Alina lekat-lekat. "Itu alasan aku pulang malam ini."

"Berapa nominal yang kamu butuhkan?" tanya Alina lancar, jari-jarinya bergerak santai di atas keyboard.

"Dua miliar," jawab Tristan cepat. "Cuma dua miliar. Setelah dia melahirkan anak itu, aku akan mengambil kembali semua asetnya."

Alina menarik satu lembar formulir pencairan dana dari dalam laci. Dia mengambil pulpen, lalu menandatanganinya tanpa ragu di depan mata Tristan.

"Ini," kata Alina sambil menggeser kertas itu ke arah Tristan. "Ambil uangnya dan belikan dia apartemen."

Tristan membelalak terkejut dengan kemudahan yang diberikan istrinya. Dia menyambar kertas itu dengan cepat.

"Kamu serius, Alina?!" tanya Tristan tak percaya.

"Sangat serius," jawab Alina dingin. "Tapi ada syaratnya."

Raut wajah Tristan berubah waspada. "Syarat apa?"

"Berikan aku akses penuh ke brankas dokumen aset tanah di ruang bawah tanah," kata Alina. "Aku butuh sertifikat pabrik utama untuk dilampirkan ke berkas investasi Tuan Bramanta."

Tristan diam sejenak menimbang-nimbang permintaan Alina. Namun, melihat lembar persetujuan dua miliar di tangannya, rasa curiganya menguap begitu saja.

"Kunci brankas ada di dalam laci meja ini," kata Tristan sambil menunjuk laci paling bawah. "Password-nya tanggal pernikahan kita."

Alina mencatat informasi itu di dalam kepalanya. "Baik. Kamu bisa pergi sekarang."

Tristan berdiri dari kursinya, lalu mendekati Alina dan menunduk hendak mencium kening istrinya.

Alina dengan cepat berdiri mengemas laptopnya, membuat ciuman Tristan melayang di udara kosong.

"Aku mau tidur," kata Alina singkat.

Tristan berdeham canggung, lalu merapikan kertas dua miliar di tangannya. "Terima kasih, Alina. Kamu memang istri yang sangat mengerti posisi suami."

Tristan berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah cepat, tidak sabar menghubungi Rissa.

Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, Alina melangkah ke laci meja paling bawah. Dia memutar pin kombinasi tanggal pernikahan mereka, memasukkan kunci, dan membuka brankas besi di dalamnya.

Di dalam brankas, tersusun rapi puluhan sertifikat aset atas nama perusahaan dan pribadi Tristan.

Alina mencabut flashdisk hitam dari balik kertas, lalu mencolokkannya ke laptop. Dengan gerakan cepat dan cekatan, Alina memfoto satu per satu lembar sertifikat tanah dan dokumen pengalihan saham menggunakan ponselnya.

Setelah selesai, Alina mengunci kembali brankas tersebut dan mengembalikan kunci ke tempat semula.

Dia membuka aplikasi pesan di ponselnya, lalu mengirimkan seluruh file foto sertifikat tersebut kepada Adrian.

"Semua sertifikat aset tanah dan saham Tristan sudah di tangan saya. Dua miliar dana taktis perusahaan baru saja dia cairkan untuk selingkuhannya."

Pesan balasan dari Adrian langsung muncul beberapa detik kemudian.

"Dua miliar untuk apartemen Rissa adalah bukti penggelapan dana perusahaan yang sempurna. Besok pagi, tim hukumku akan memproses pemblokiran rekening Tristan."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆155

    "Apakah kamu sudah memeriksa kembali seluruh dokumen proposal yayasan sosial untuk minggu ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang."Semua dokumen proposal sudah aku periksa secara teliti semalam, Mas," pangkas Alina jujur."Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam menyelesaikan tugas yayasan," puji Adrian bangga.Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan.Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar."Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆144

    "Apakah kamu sudah memeriksa kembali seluruh dokumen proposal yayasan sosial untuk minggu ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang."Semua dokumen proposal sudah aku periksa secara teliti semalam, Mas," pangkas Alina jujur."Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam menyelesaikan tugas yayasan," puji Adrian bangga.Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan.Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar."Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆143

    "Apakah kamu sudah menyiapkan berkas laporan yayasan untuk rapat besok pagi, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan dokumen kantor. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang."Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerja, Mas," pangkas Alina jujur."Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam mengurus pekerjaan yayasan," puji Adrian bangga.Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan kerah kemeja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan.Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar."Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati makan malam bersama?" tanya Pak Bramanta ramah.

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆142

    "Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani aku mengunjungi panti asuhan siang ini, Mas?" tanya Alina ramah.Alina berdiri di depan cermin besar kamar utama seraya merapikan jilbab abu-abunya dengan telaten. Adrian melangkah mendekati sang istri, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat antusias."Mas sudah siap sejak tadi, mari kita berangkat sekarang," pangkas Adrian mantap."Tunggu sebentar, aku ambil tas perlengkapan Arka di atas meja," pangkas Alina cepat.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah bersama menuju lantai dasar kediaman. Pak Bramanta duduk tegap di sofa ruang keluarga seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya seraya membawa mobil mainan plastik. Bocah balita itu mendongakkan kepalanya ke atas dengan raut wajah sangat ceria."Arka mau ikut Papa dan Mama ke panti asuhan!" teriak Arka gembira."Ayo jagoan kecil Papa ikut bersama kami," pangkas Adrian tertawa.Pak Anton melangkah masuk dari arah p

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆141

    "Apakah laporan anggaran bulanan yayasan sudah kamu periksa dengan teliti, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian merapikan letak dokumen di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Alina membalikkan badannya dari lemari pakaian, lalu menyunggingkan senyuman tipis dengan raut wajah tenang."Semua berkas laporan sudah aku periksa secara cermat kemarin sore, Mas," pangkas Alina jujur."Bagus sekali, kamu memang selalu teliti dalam mengurus yayasan sosial," puji Adrian bangga.Alina memasukkan sisa pakaian ke dalam lemari kayu jati tanpa ragu. Adrian melangkah mendekati sang istri, lalu merangkul pinggang Alina secara mesra.Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka lebar."Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati makan malam bersama?" tanya Pak Bramanta ramah."Kami sudah siap, Papa, mari kita turun ke ruang makan sekarang," pangkas Alina a

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆140

    Pagi yang Penuh Harapan"Apakah semua perlengkapan kantormu sudah siap di dalam tas, Mas?" tanya Alina ramah.Alina berdiri di dekat meja rias kamar utama seraya merapikan dasi kerja suaminya dengan gerakan telaten. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh cinta dan senyuman hangat di bibirnya."Semua berkas dan laptop sudah tersusun rapi di dalam tas kerja," pangkas Adrian jujur."Baguslah kalau begitu, mari kita turun sarapan bersama Arka," pangkas Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta sudah duduk tegap di kursi utama meja makan membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangatnya dengan raut wajah sangat ceria."Selamat pagi Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi juga jagoan kecil Papa," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampinga

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status