MasukMobil milik Zayne melesat kencang membelah jalanan malam, dan begitu tiba di basement apartemen pribadinya, pria itu tidak memberi Sora waktu sedetik pun untuk bernapas lega.Begitu pintu apartemen tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Zayne langsung merengkuh pinggang Sora. Tanpa aba-aba, pria itu menghempaskan tubuh Sora lembut ke dinding lorong masuk yang dingin. Jas tegap yang tadinya menutupi bahu Sora melorot jatuh ke lantai.Bibir Zayne langsung membara, menuntut ciuman liar dan dalam yang langsung merampas sisa oksigen di paru-paru Sora. Tangan besar Zayne meremas pinggulnya, menarik tubuh mereka agar melekat tanpa celah, sementara ciuman itu turun merayap panas ke leher dan rahang Sora. Sensasi basah dan gigitan-gigitan kecil yang sensual membuat lutut Sora lemas seketika.Sentuhan panas itu membakar habis kewarasan Sora. Namun, di tengah kepungan gairah yang memuncak, otak pragmatis Sora berputar cepat. Jika dia terus terbawa arus malam ini, dia hanya akan menjadi wanita
Pintu tebal lounge VIP itu terbuka lebar. Tanpa memedulikan tatapan canggung dan gelisah dari ajudan pribadi yang berdiri kaku di luar pintu, Zayne menggandeng erat tangan Sora yang terbungkus jas besarnya. Pria itu melangkah tegas membelah lorong privat menuju area VVIP di lantai dua."Pak Zayne? Ketua Besar menunggu Anda di—""Aku tahu," potong Zayne dingin tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun.Jas hitam Zayne terpasang rapi di bahu Sora, menutupi gaun yang agak berantakan. Zayne sengaja membiarkan leher mulus wanita itu yang dihiasi jejak kemerahan hangat terpampang nyata. Sora yang masih lemas hanya bisa pasrah terseret langkah lebar Zayne, kepalanya masih berdenyut pusing akibat sisa gairah dan oksigen yang rasanya belum sepenuhnya kembali ke otaknya.BAM.Pintu ruang VVIP terdorong terbuka. Kakek yang sedang duduk menyandar pada tongkat kayunya mendongak, diapit oleh beberapa pengawal dan ajudan. Matanya menyipit tajam, lalu kekehan rendah yang dingin lolos dari bibi
Mata kelabu Zayne berkilat gelap. Tanpa membuang waktu, tangannya merayap ke pergelangan tangan Sora, merenggut kasar gelang pintar bersinar hologram itu lalu melempar benda itu sembarangan ke atas karpet tebal.TAK."Persetan dengan uang lima milyar, Sora," bisik Zayne tajam.Tangan kanannya yang hangat dan besar kembali menyusup cepat ke belakang tengkuk Sora, meremas lembut helai rambutnya dan mendongakkan wajah wanita itu. Tanpa penyesalan, Zayne menurunkan sedikit gaun malam Sora ke bawah.Dengan gemas pria itu meremas lembut puncak kembar di tubuh Sora yang terekspos di balik kain tipis.Bibir Zayne mendarat panas, melempar ciuman-ciuman kelaparan dari rahang turun ke ceruk leher, lalu menyesap kuat kulit mulus di atas belahan kembar perempuan itu."Nghh... Z-Zayne..." cicit Sora terengah, dadanya membumbung naik saat lidah dan bibir Zayne memberi gigitan-gigitan kecil yang sensual di sana. Sensasi terbakar menyengat hingga ke ujung jemari kakinya.Sora sendiri tak kuasa menahan
Tanpa membalas godaan Kakeknya, Zayne berbalik dan langsung mengambil langkah lebar setengah berlari menerobos pintu VVIP. Pria itu memotong jalur tangga darurat dengan dada bergemuruh penuh amarah. Masa bodoh dengan taruhan Kakek, ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menyentuh wanitanya!Di tengah lantai dansa, pria itu menyunggingkan senyum lebar, merangkul pinggang Sora dan hendak menariknya ke dalam putaran dansa.SREK!Zayne mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan tenaga yang kuat hingga sang pria terdorong mundur dan meringis kesakitan.Sebelum Sora sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ditarik paksa ke dalam pelukan dada bidang Zayne. Aroma khasnya yang menenangkan seketika melingkupi Sora.Zayne mengunci pinggang Sora dengan lengannya yang kokoh, mengambil alih posisi tepat saat musik waltz bertempo lambat mulai mengalun.Lampu sorot mengunci pergerakan mereka berdua di tengah lantai dansa. Para tamu bersorak meriah, mengira Zayne adalah pasangan
Sora yang mendengar penuturan Kakek Zayne hanya bisa tertunduk lesu. Ia tidak bisa mengelak apapun, karena menurutnya ia masih memiliki banyak kekurangan jika disandingkan sebagai asisten pribadi Zayne. Sementara itu Zayne cuma bergeming dengan raut datar. "Sora, kamu tunggu di balkon luar sebentar ya. Aku mau bicara sama Kakek kaku ini," ujar Zayne, seraya mengelus pelan jemari Sora. Sora mengangguk sopan. “Saya permisi dulu, Ketua,” ucapnya lalu melangkah keluar. Pintu tebal itu tertutup rapat. Kakek menyandarkan punggungnya, menatap Zayne sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Asisten biasa, hm? Kakek tahu cara matamu memandangnya saat masuk tadi. Kau tidak mungkin membawa wanita sembarangan ke ruangan ini." Zayne berdiri tegap. Jemarinya merapikan ujung jasnya dengan santai, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. "Sora bukan sekadar asisten pribadiku, Kek," potong Zayne langsung, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak. "Dia wanita yang aku
Bibir Sora mengatup rapat, matanya membelalak menatap Zayne yang masih berjarak amat dekat darinya. Bisikan atasannya tadi sukses membuat debaran di dadanya kian bergemuruh tak terkendali."Zayne... jangan bercanda," cicit Sora pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. "Acara Kakek itu sangat penting. Kamu sendiri padahal yang bilang kalau ini perintah. Kalau kita tidak datang—"Zayne mengikis jarak, terkekeh rendah seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Sora, menggenggamnya hangat. "Aku tidak pernah bercanda soal kamu, Sora. Tapi tenang saja... aku tahu kapan harus mengalah."Zayne mengusap punggung tangan Sora dengan ibu jarinya, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Ayo. Nanti kita terlambat."***Sedan hitam Zayne berhenti tepat di pelataran karpet merah Grand Ballroom hotel bintang lima milik Nareshwara Group. Kilatan lampu warna warni dan alunan musik instrumental menyambut kedatangan mereka.Zayne turun terlebih dahulu, membukakan pintu, lalu mengulurkan tanga







