共有

Bab 122. Dia Istriku

作者: Rina Novita
last update 最終更新日: 2025-12-06 23:57:08

“Terima kasih kamu mau antar Vania. Tapi aku datang untuk jemput istriku, Lang.”

Suara Bimo terdengar tegas, dan penuh penekanan pada kata istriku. Dia berdiri tepat di depan Galang, tubuhnya sedikit condong ke depan seolah ingin menunjukkan siapa yang berkuasa.

Galang tidak mundur setapak pun. Mereka berdiri begitu dekat, hanya terpisah beberapa centimeter. Dua pria dengan dua sikap yang benar-benar berbeda, keduanya saling memandang tajam tanpa berkata apa-apa.

Beberapa detik tak ada yang bic
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (4)
goodnovel comment avatar
Rina Novita
Aamiinkan yuk
goodnovel comment avatar
Rina Novita
siap Kak magda
goodnovel comment avatar
Magda
ayo semangat vania pasti bisa...iya kan thor?
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 167. Milikmu Seutuhnya

    Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan sampai di titik ini. Berdiri di depan cermin besar ruang rias ballroom Hotel Vania – Bandung, mengenakan gaun pengantin putih dengan taburan kristal yang berkilau setiap kali terkena cahaya lampu. Jantungku berdegup cepat, bukan karena gugup semata, tetapi karena rasa tak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Riasan di wajahku tampak natural, tidak berlebihan, namun cukup berkelas hingga pantulan diriku di cermin tampak seperti orang lain. Rambutku disanggul elegan, dihiasi hiasan perak kecil berbentuk bunga. Di belakangku, beberapa perias masih sibuk merapikan ujung gaun yang menjuntai panjang di lantai. Dari balik pintu tertutup, samar-samar terdengar alunan musik lembut dari dalam ballroom. Harum bunga segar bahkan sudah sampai ke ruang rias. Mawar putih dan lily menjadi dekorasi utama. Semuanya terlihat mewah, elegan, dan ... hangat. “Cantik sekali,” bisik Siska yang berdiri di sampingku sejak tadi. Matanya berkaca-kaca. Aku

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 166. Janji Galang

    “Vania sudah banyak terluka. Saya tidak mau anak saya kembali disakiti.” Ibu bicara cukup tegas pada Galang. Baru kali ini aku melihat ibu bicara setegas dan seserius itu. Aku terpaku di tempatku berdiri. Suara ibu terdengar penuh tekanan. Ruangan sederhana itu tiba-tiba terasa sempit. Bahkan suara kipas angin di sudut ruang tamu pun seperti ikut berhenti berputar. Galang tidak tampak tersinggung. Ia justru melangkah maju satu langkah. Tatapannya lurus ke arah ibu, penuh kesungguhan yang tidak dibuat-buat. Ia mendekat, lalu berlutut di hadapan ibu.“Saya Galang, Bu. Saya janji akan membuat Vania dan Ankala bahagia meski harus mempertaruhkan nyawa saya sekalipun.”Dadaku langsung sesak. Ucapan itu bukan hanya terdengar seperti janji, tetapi seperti sumpah yang keluar dari lubuk hati paling dalam. Aku menoleh sekilas ke arah ibu Galang. Wanita itu berdiri tenang, wajahnya lembut namun tegas, seolah mendukung setiap kata putranya. Mata ibu tampak berkaca-kaca. Garis-garis halus di

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 165. Kejutan

    POV VANIA “Aku mau ajak kamu jalan-jalan malam ini,” kata Galang tiba-tiba setelah aku selesai menidurkan Ankala di kamar tamu. “Ankala aman sama Suster Lany.” Aku menoleh kaget. “Sekarang?” Galang mengangguk. “Iya. Cuma sebentar.” Aku ragu. “Tapi Ankala—” “Suster Lany sudah biasa jaga dia,” potong Galang lembut. “Ibu juga ada. Kamu tenang saja.” Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu mengangguk. Entah kenapa, aku tidak ingin menolak ajakan Galang malam ini. Kami keluar sekitar pukul delapan malam. Udara Bandung terasa dingin, berbeda dengan Jakarta yang padat. Galang menyetir sendiri. Mobil melaju tenang, tanpa musik. Aku memperhatikan jalan yang kami lewati. Saat berbelok, aku merasa familiar dengan tempat ini. “Mas,?" Aku menoleh. “Ini arah ke—” “Iya,” jawabnya singkat. “Kamu nggak salah.” Mobil berhenti di depan sebuah hotel. Aku tertegun. Aku ingat Galang pernah membawaku ke sini. Waktu itu Hotel ini masih tahap pembangunan. Masih banyak pekerja proyek. Tapi sekarang

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 164. Aku disambut dengan ...

    POV VANIA Aku berdiri terpaku di tempatku.Tatapan Ibu Galang yang semula tajam perlahan berubah. Sorot matanya melembut saat menatap Ankala yang berada di gendongan Galang. Bibirnya bergetar tipis, seolah sedang menahan sesuatu yang mengalir dari dalam dadanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu melangkah mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti takut membuat Ankala terbangun. Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu berhenti beberapa senti dari pipi Ankala. “Apa boleh … Ibu menggendongnya?” tanyanya lirih. Aku refleks menoleh ke Galang. Galang tersenyum. Anggukan kecil darinya terasa seperti jawaban atas ribuan kecemasanku sejak di mobil tadi. “Tentu, Bu,” kata Galang. "Tapi ... ibu kuat?" tanya Galang ragu. "Ibu ingin memeluknya sebentar," jawab Ibu Galang yang masih memandang Ankala. Galang menyerahkan Ankala ke pelukan ibunya.Dan saat itu juga, sesuatu di dadaku runtuh.Ibu Galang memeluk Ankala dengan sangat hati-hati, seolah sedang memeluk benda paling

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 163. Ke Bandung

    POV VANIASejak kejadian di restoran sore itu, Bimo tidak pernah lagi datang. Tidak lagi ada teror seperti waktu itu.Hari-hariku terasa jauh lebih tenang. Aku bisa fokus bekerja, menata pikiran, dan menikmati waktu bersama Ankala tanpa bayang-bayang suara bentakan Bimo yang selalu menuntut ini dan itu.Sampai akhirnya, di hari minggu pagi itu, ponselku bergetar saat aku baru saja selesai menyusui Ankala. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan.Nama Galang muncul di layar.Jantungku langsung berdetak lebih cepat.“Hai, Nia.” Suaranya terdengar berbeda. Sepertinya Galang sedang bahagia."Hai, Mas,"jawabku pelan. “Ada kabar apa?”“Aku mau jemput kamu sama Ankala jam sepuluh,” katanya to the point. “Kita pergi hari ini. Pulang besok.”Aku terdiam.“Pergi ke mana?” tanyaku hati-hati.“Ajak suster Lani juga, ya,” lanjutnya, seolah menghindari pertanyaanku. “Bawa baju ganti secukupnya.”“Mas Galang …” Aku menghela napas. “Aku perlu tahu kita mau ke mana.”Di seberang sana, terden

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 162. menuntut Hak

    BAB 162POV VANIA “Apa mau kamu sebenarnya?”Suaraku meninggi tanpa bisa kutahan saat melihat Bimo berdiri di tengah restoran, membuat beberapa pengunjung menoleh. Sore itu restoran sedang ramai. Hampir semua meja terisi. Beberapa pelayan tampak ragu mendekat. Bimo berdiri dengan dada dibusungkan. “Aku mau menuntut hakku!” Aku menarik napas cepat. Tatapanku menyapu ruangan. Beberapa pelanggan mulai berbisik. Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut. “Kita bicara di ruanganku saja,” kataku menahan emosi. “Ikut aku.” Aku berbalik lebih dulu, melangkah cepat ke ruang kerjaku. Bimo mengikuti. Langkahnya santai, angkuh, seolah-olah restoran ini miliknya. Tanganku mengepal ketika meliriknya sekilas. Begitu masuk ke ruanganku, aku menutup pintu setengah tertutup. “Duduk,” kataku pendek. “Sekarang silakan bicara.” Bimo tidak duduk. Ia bertolak pinggang, menatapku dari atas ke bawah. Suaranya sengaja dikeraskan. “Kamu ini memang nggak tahu terima kasih, Vania! Ingat! Kamu bisa begini gar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status