Share

Bab 150. Tangisan Haru

Auteur: Rina Novita
last update Dernière mise à jour: 2025-12-24 19:53:55

POV VANIA

Perlahan aku membuka isi amplop itu. Jantungku seakan berhenti berdetak saat menangkap satu kata yang langsung mengusik kesadaranku ... "DNA".

Tanganku bergetar ketika menarik kertas di dalamnya. Ada namaku di sana. Ada nama Galang. Huruf-huruf tercetak rapi, dan resmi hingga dadaku berdebar sebelum sempat membaca lebih jauh.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Pandanganku menyusuri baris demi baris, sampai akhirnya berhenti pada angka yang membuat mataku membulat.

"99%".

Dunia seperti berhenti berputar dalam beberapa detik. Kertas di tanganku bergetar, seiring degup jantung yang kembali berpacu tak karuan.

“A-apa maksudnya ini, Mas?” tanyaku lirih, nyaris seperti bisikan. Aku menoleh pada Galang, berharap ia menyangkal, menjelaskan bahwa aku salah membaca, atau mengatakan ini hanya kekeliruan.

Namun, Galang tidak mengalihkan pandangan. Wajahnya tenang, namun matanya tampak berbinar oleh sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat

“Tes DNA itu dilakukan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
roso wulan
ngapain itu ibj dan anak bikin ribut mau culik ana nia
goodnovel comment avatar
Etris Tresnawsti
bimo dan ibunya berulah lg ga ada kapok" nya...
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 157. Sidang Pertama

    POV BIMO Pagi itu aku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Tanganku refleks merapikan kerah, meski sebenarnya tidak ada yang salah. Tetapi sejak tadi aku menang gelisah. “Bimo!” panggil Mama dari luar kamar. “Kamu sudah siap belum?” “Iya, Ma,” jawabku cepat. “Sebentar lagi.” Pintu kamar langsung terbuka. Mama sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. “Mama ikut.” Aku mendesah keras. “Ma, sudah kubilang, Mama nggak perlu ikut. Ini urusan aku sama Vania.” “Justru karena itu Mama harus ikut!” Mama melangkah masuk. “Kamu pikir Mama bisa diam di rumah saat menantuku menggugat cerai kamu?” “Ma, ini sidang." Suaraku meninggi. “Bukan arisan keluarga.” “Jadi, kamu pikir Mama ini orang luar?” Mama membalas tak kalah tajam. “Mama ini ibumu! Semua ini juga menyangkut nama baik keluarga!” Aku memijat pelipis. “Ma, tolong jangan bikin ribut di sana.” Mama menyilangkan tangan. “Mama janji akan diam. Tapi Mama ikut.” Aku menatapnya lama. Kami saling adu pandang beber

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 156. Gugatan

    POV BIMOAku mondar-mandir di ruang tamu rumah, kepalaku penuh. Mama duduk di sofa dengan wajah tegang, jemarinya sibuk memutar-mutar tasbih kecil yang sejak tadi tak lepas dari tangannya. Sejak kejadian di restoran itu, suasana rumah terasa tegang. Aku seperti sedang menunggu bom waktu yang siap meledak kapan saja.“Ini nggak bisa dibiarin, Bim.” Suara Mama akhirnya memecah hening. “Perempuan itu makin berani. Masa mau gugat cerai segala?”Aku menghela napas kasar. “Aku juga lagi mikir, Ma.”Kita sama-sama tahu, ancaman paling ampuh sekarang ini adalah bayi itu. Fajar. Tapi pasti sulit. Bayi itu masih butuh ASI. Tidak mungkin kita menariknya paksa tanpa risiko besar. Dan yang lebih menyebalkan, Vania terlihat jauh lebih siap daripada yang kukira.“Kalau pakai cara biasa, susah,” lanjut Mama, suaranya menajam. “Kamu juga jangan kelihatan lemah. Dia itu istrimu. Tanpa persetujuanmu, mana bisa cerai?”Aku mengangguk, meski di dalam dada ada kegelisahan yang sulit ditepis. Selama ini aku

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 155. Bukti Video

    POV VANIAAku tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi antara Bimo dan ibunya di ruang private itu. Suara Bu Marni yang meninggi, atau wajah Bimo yang mungkin sedang pucat ketakutan, sama sekali tidak ingin kupikirkan lagi. Kepalaku terlalu lelah untuk menampung emosi mereka.Aku melangkah cepat menuju paviliun.Begitu pintu tertutup di belakangku, suasana langsung berubah sunyi. Ankala sedang terjaga di ranjang kecilnya, sementara suster Lani baru saja selesai membersihkan botol-botol susu Ankala.Aku mendekat, menggendong Ankala dengan hati-hati, lalu duduk di kursi sofa yang biasa aku gunakan untuk menyusui bayiku itu . Aku menyusui Ankala perlahan, sambil mengelus punggungnya.“Tenang ya, Nak,” bisikku lirih. “Mama nggak akan biarin siapa pun menyakitimu.” Aku menyusui Ankala sampai bayiku puas kekenyangan. Tak lama kemudian, Suster Lani masuk membawa perlengkapan mandi bayi. Ia memandikan Ankala dengan cekatan, penuh kehati-hatian. Setelah selesai, ia mengeringkan tubuh kecil i

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 154. Butuh Penjelasan

    POV VANIA“Mana Vania?!”Suara Ratna terdengar lantang dari pintu masuk restoran. Dari dalam ruang private yang sebagian dindingnya terbuat dari kaca, aku bisa melihat Ratna dengan jelas. Wajahnya tegang, matanya menyala penuh emosi. Untungnya, keluarga besar Bimo sedang fokus menikmati hidangan, tertawa kecil dan saling berbincang, sehingga mereka tidak mendengar suara Ratna. Hanya beberapa pelanggan yang duduk dekat pintu masuk yang sempat menoleh sekilas.Dadaku langsung berdegup kencang. Aku tidak bisa membiarkan Ratna membuat keributan di sini.Aku segera bangkit dari kursiku dan melangkah cepat keluar dari ruang private, menghampirinya sebelum suasana menjadi semakin buruk.“Mbak Ratna?” sapaku pelan. “Ada apa, Mbak?”Meski suaraku bergetar, aku berusaha terlihat setenang mungkin. Sebenarnya aku panik. Kedatangan Ratna yang tiba-tiba, dengan ekspresi seperti itu, jelas bukan pertanda baik.Ratna melotot tajam ke arahku. “Heh, Vania! Aku perlu bicara sama kamu. Empat mata.”Aku

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 153. Mati Kutu

    POV VANIA“Memangnya Bimo kenapa?”Pertanyaan itu meluncur dari salah satu tamu, seorang tante berusia lima puluhan yang sejak tadi duduk di ujung meja. Suaranya terdengar santai tapi tatapannya sangat penasaran.Aku menarik napas perlahan. Tanganku refleks mengelus punggung Ankala yang masih terlelap di gendonganku. Jantungku berdetak lebih kencang. Aku tahu, kalimatku barusan pasti akan membuat Bimo dan mamanya ketakutan.“VANIA!” Bu Marni memekik lantang. Matanya melotot, wajahnya merah padam. “Kamu jangan coba-coba jelek-jelekan suami kamu di depan orang-orang! Istri macam apa sih kamu ini!”Suaranya penuh amarah, tapi aku bisa menangkap sesuatu yang lain di sana, ketakutan. Bu Marni jelas panik. Dia tahu, kalau aku mulai bicara, semua cerita versinya tentang aku akan runtuh.Aku menatapnya datar. Dadaku memang panas, tapi anehnya kepalaku justru terasa jernih. Mungkin karena terlalu lama ditekan, akhirnya aku kebal.Belum sempat aku menjawab, pintu ruang private terbuka.“Sudah-

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 152. Kedatangan Keluarga Besar

    POV VANIA“Bu Vania?”Suster Lani kembali memanggilku. Aku tersadar dari lamunan. Sejak tadi aku memang hanya diam, menatap Ankala yang kembali terlelap di gendonganku. Kepalaku penuh memikirkan kenyataan yang satu per satu terbuka.“Iya, Mbak,” jawabku akhirnya, meski suaraku terdengar lebih pelan Lani tampak bingung. Tatapannya bergantian antara wajahku dan Ankala. Seperti ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi ia menahannya.“Mbak Lani,” aku menarik napas panjang, lalu menatapnya lurus, “karena Mbak sudah tahu sejak awal … saya akan jelaskan yang sebenarnya. Tapi tolong, simpan dulu rahasia ini rapat-rapat.”Wajah Lani langsung berubah serius. Ia mengangguk cepat. “Iya, Bu. Saya janji.”Aku menelan ludah. Sebenarnya aku ragu, tapi aku memaksakan diri untuk bicara.“Ankala memang anak Mas Galang,” ucapku akhirnya. Kalimat itu keluar lirih. “Dan … saya akan segera mengurus perceraian saya dengan Bimo.”Lani menghela napas lega. Bahkan terlihat seperti beban di dadanya i

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status