FAZER LOGINPOV VANIAPagi-pagi sekali Baby Ankala sudah baangun. Aku menyusuinya sambil menunggu Suster Lani. Wajah kecilnya tampak tenang, tanpa tahu apa pun tentang kejadian besar yang akan dihadapi olehku hari ini.Hari ini sidang terakhir.Hari yang akan menentukan masa depanku.Aku menarik napas dalam, lalu menoleh pada Suster Lani yang sudah berdiri di ambang pintu. “Mbak Lani, hari ini aku titip Ankala ya. Mungkin aku pulang agak siang.”Suster Lani tersenyum lembut. “Tenang saja, Bu Vania. Ankala biar sama saya. Semoga semuanya lancar.”Aku mengangguk. Sebelum menyerahkan Ankala, kucium keningnya pelan. “Doakan Mama, ya, Nak.”Dadaku bergetar, tapi aku memaksa tersenyum.Tak lama kemudian, Siska datang menjemput. Kami berangkat bersama menuju pengadilan agama. Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Pikiranku berkecamuk, tapi hatiku justru terasa lebih tenang, seolah apa pun hasilnya nanti, aku sudah siap menerimanya.Kami tiba lebih awal. Ruang sidang masih lengang ketika aku dan S
POV GALANGSejak ibu datang ke Jakarta, aku sengaja mengambil cuti untuk menemaninya di rumah. Aku tau, saat ini ibu sedang banyak memendam luka, terutama sejak mengetahui apa yang dilakukan Ratna.Pagi itu, aku duduk di ruang tengah sambil membaca berkas kantor di tablet. Namun fokusku buyar ketika ibu keluar dari kamar dengan langkah pelan, dibantu tongkat kecilnya.Ibu duduk di sofa, menatap kosong ke arah jendela.“Ratna tidak pulang lagi, Lang?” tanya ibu lirih. Ternyata ibu masih menanyakan Ratna.Aku mengangkat kepala, menatap ibu beberapa detik sebelum menjawab. “Tidak, Bu.”Ibu menghela napas panjang. “Sudah berapa hari?”“Hampir seminggu.”Ibu menunduk. Jari-jarinya saling meremas di pangkuan. “Lalu … dia tidur di mana?”Aku meletakkan tablet, lalu mendekat dan duduk di seberang ibu. “Ibu tidak usah khawatir. Selama Ratna masih sah istriku, dia tidak pernah kekurangan uang.”Ibu menatapku, sorot matanya penuh rasa khawatir. Bagaimanapun juga, Ibu pasti sudah menganggap Ratna
POV BIMO Pagi itu aku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Tanganku refleks merapikan kerah, meski sebenarnya tidak ada yang salah. Tetapi sejak tadi aku memang gelisah. “Bimo!” panggil Mama dari luar kamar. “Kamu sudah siap belum?” “Iya, Ma,” jawabku cepat. “Sebentar lagi.” Pintu kamar langsung terbuka. Mama sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. “Mama ikut.” Aku mendesah keras. “Ma, sudah kubilang, Mama nggak perlu ikut. Ini urusan aku sama Vania.” “Justru karena itu Mama harus ikut!” Mama melangkah masuk. “Kamu pikir Mama bisa diam di rumah saat menantuku menggugat cerai kamu?” “Ma, ini sidang." Suaraku meninggi. “Bukan arisan keluarga.” “Jadi, kamu pikir Mama ini orang luar?” Mama membalas tak kalah tajam. “Mama ini ibumu! Semua ini juga menyangkut nama baik keluarga!” Aku memijat pelipis. “Ma, tolong jangan bikin ribut di sana.” Mama menyilangkan tangan. “Mama janji akan diam. Tapi Mama ikut.” Aku menatapnya lama. Kami sali
POV BIMOAku mondar-mandir di ruang tamu rumah, kepalaku penuh. Mama duduk di sofa dengan wajah tegang, jemarinya sibuk memutar-mutar tasbih kecil yang sejak tadi tak lepas dari tangannya. Sejak kejadian di restoran itu, suasana rumah terasa tegang. Aku seperti sedang menunggu bom waktu yang siap meledak kapan saja.“Ini nggak bisa dibiarin, Bim.” Suara Mama akhirnya memecah hening. “Perempuan itu makin berani. Masa mau gugat cerai segala?”Aku menghela napas kasar. “Aku juga lagi mikir, Ma.”Kita sama-sama tahu, ancaman paling ampuh sekarang ini adalah bayi itu. Fajar. Tapi pasti sulit. Bayi itu masih butuh ASI. Tidak mungkin kita menariknya paksa tanpa risiko besar. Dan yang lebih menyebalkan, Vania terlihat jauh lebih siap daripada yang kukira.“Kalau pakai cara biasa, susah,” lanjut Mama, suaranya menajam. “Kamu juga jangan kelihatan lemah. Dia itu istrimu. Tanpa persetujuanmu, mana bisa cerai?”Aku mengangguk, meski di dalam dada ada kegelisahan yang sulit ditepis. Selama ini aku
POV VANIAAku tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi antara Bimo dan ibunya di ruang private itu. Suara Bu Marni yang meninggi, atau wajah Bimo yang mungkin sedang pucat ketakutan, sama sekali tidak ingin kupikirkan lagi. Kepalaku terlalu lelah untuk menampung emosi mereka.Aku melangkah cepat menuju paviliun.Begitu pintu tertutup di belakangku, suasana langsung berubah sunyi. Ankala sedang terjaga di ranjang kecilnya, sementara suster Lani baru saja selesai membersihkan botol-botol susu Ankala.Aku mendekat, menggendong Ankala dengan hati-hati, lalu duduk di kursi sofa yang biasa aku gunakan untuk menyusui bayiku itu . Aku menyusui Ankala perlahan, sambil mengelus punggungnya.“Tenang ya, Nak,” bisikku lirih. “Mama nggak akan biarin siapa pun menyakitimu.” Aku menyusui Ankala sampai bayiku puas kekenyangan. Tak lama kemudian, Suster Lani masuk membawa perlengkapan mandi bayi. Ia memandikan Ankala dengan cekatan, penuh kehati-hatian. Setelah selesai, ia mengeringkan tubuh kecil i
POV VANIA“Mana Vania?!”Suara Ratna terdengar lantang dari pintu masuk restoran. Dari dalam ruang private yang sebagian dindingnya terbuat dari kaca, aku bisa melihat Ratna dengan jelas. Wajahnya tegang, matanya menyala penuh emosi. Untungnya, keluarga besar Bimo sedang fokus menikmati hidangan, tertawa kecil dan saling berbincang, sehingga mereka tidak mendengar suara Ratna. Hanya beberapa pelanggan yang duduk dekat pintu masuk yang sempat menoleh sekilas.Dadaku langsung berdegup kencang. Aku tidak bisa membiarkan Ratna membuat keributan di sini.Aku segera bangkit dari kursiku dan melangkah cepat keluar dari ruang private, menghampirinya sebelum suasana menjadi semakin buruk.“Mbak Ratna?” sapaku pelan. “Ada apa, Mbak?”Meski suaraku bergetar, aku berusaha terlihat setenang mungkin. Sebenarnya aku panik. Kedatangan Ratna yang tiba-tiba, dengan ekspresi seperti itu, jelas bukan pertanda baik.Ratna melotot tajam ke arahku. “Heh, Vania! Aku perlu bicara sama kamu. Empat mata.”Aku







