Share

Bab 4. Tawaran Gila

Penulis: Rina Novita
last update Tanggal publikasi: 2025-09-19 10:54:14

Aku berjalan pelan di samping Galang, memeluk kantong obat di dadaku seolah itu harta paling berharga. Sebenarnya aku ingin buru-buru pulang, takut kalau ibu terbangun sendirian. Tapi langkahku terus mengikuti Galang, entah kenapa.

“Mas …” aku memberanikan diri memanggil, suaraku lirih. “Sebenarnya nggak usah repot-repot, Mas. Udah banyak bantuan Mas buat keluarga saya. Saya malu …”

Galang melirikku sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Udah, nggak usah mikirin itu. Kamu terlalu banyak mikir. Kalau saya bisa bantu, ya saya bantu. Simple aja."

Aku terdiam. Entah kenapa kata-katanya selalu terdengar gampang, padahal untukku semua terasa rumit.

Kami melewati sebuah restoran kecil. Aroma kuah gurih langsung menyeruak. Aku sempat menoleh, lalu buru-buru memalingkan wajah. Tapi Galang malah berhenti.

“Kamu belum makan siang, kan?” tanyanya datar.

Aku tergagap. “Maaf, Mas … saya harus pulang. Ibu—”

“Kamu makan dulu. Kalau kamu jatuh sakit, siapa yang urus ibumu?” Suaranya tetap datar, tapi kalimatnya tidak bisa kubantah. Tanpa menunggu jawabanku, ia masuk ke dalam restoran.

Aku terbengong di depan pintu. “Mas, saya beneran nggak lapar—”

“Masuk,” potongnya tegas.

Seperti anak kecil, aku akhirnya menuruti. Kami duduk di meja pojok. Pelayan mendekat, tapi Galang langsung bicara tanpa menoleh padaku.

“Sop buntutnya dua porsi.”

Aku menoleh kaget. “Mas, saya—”

“Udah, nggak usah protes. Suka, kan? Sop buntut?”

Aku terdiam. Jujur saja, itu makanan favoritku. Tapi sekarang aku tidak punya selera makan sama sekali.

Tak lama, dua mangkuk sop buntut panas tersaji di depan kami. Aroma kaldu yang harum memenuhi udara. Perutku yang dari tadi kosong tiba-tiba bergejolak, tapi tanganku hanya memegang sendok, tak kunjung menyuap.

"Makanlah,” kata Galang pelan namun dengan gaya khasnya yang tegas.

Aku menunduk, mengaduk-aduk sopku dengan sendok. Uap panasnya naik ke wajahku. Tapi lidahku terasa kaku. Sementara dia sudah mulai menikmati sop buntutnya.

“Kamu nggak bakal kuat ngomongin masalah ini kalau belum makan,” katanya lagi, kali ini menatapku tajam.

Aku masih diam. Air mataku sudah menumpuk di pelupuk. Tangan ini gemetar, suara sendok beradu dengan piring terdengar lebih jelas.

Akhirnya Galang meletakkan sendoknya dengan keras. “Vania. Stop. Sekarang kamu cerita.”

Aku tersentak. Nafasku tercekat. “Saya … saya takut, Mas.”

“Takut apa?”

“Takut kalau saya cerita, malah bikin Mas tambah repot.” Suaraku pecah. “Saya malu. Saya malu banget.”

Galang menghela napas panjang, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Kamu nggak usah mikir macam-macam. Kamu butuh pertolongan, Vania. Dan kebetulan saya ada di sini. Jadi, ceritain aja.”

Air mataku akhirnya tumpah. Aku menutup wajahku dengan tangan. “Mas Bimo … dia punya banyak hutang. Saya nggak tahu jumlah pastinya. Tapi hampir tiap hari ada penagih datang ke rumah. Mereka marah-marah, maki-maki saya, bahkan mengancam akan hancurin rumah kalau nggak dibayar.”

Galang mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras. “Bajingan.”

Aku spontan mendongak, menatapnya. Baru kali ini aku mendengar Galang bicara kasar. Baru kali ini juga aku lihat matanya membara. Galang dan Bimo sudah berteman sejak SMA. Banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama. Meski nasib Galang jauh lebih beruntung, dia banyak membantu kami selama ini. Tapi, hari ini dia memaki Bimo, temannya sendiri.

“Suami macam apa dia, malah nyeret kamu ke masalah kayak gini?”

Sadar kalimatnya terlewat kasar, Galang berdeham. Lalu, dia kembali bertanya, “Untuk apa dia berutang sebanyak itu?”

Aku buru-buru mengusap air mata dengan punggung tangan. “Saya nggak tahu uang itu dipakai buat apa. Tapi orang-orang bilang dia sering main judi online, mabuk-mabukan….”

Galang menatapku lama. Seakan sedang menimbang-nimbang sesuatu. Tapi sebelum ia bicara, ponselku berdering. Nomor tak dikenal, tapi aku tahu betul siapa.

Dengan tangan gemetar, aku mengangkat. “H-halo?”

Suara di seberang langsung membentak. “Hei, lu! Jangan sampai lu kabur, ya! Besok pagi duit tujuh puluh lima juta itu harus ada! Kalau nggak, lu siap-siap aja gue bikin nyesel seumur hidup!”

Aku pucat. Tubuhku lunglai seketika. “T-tolong, Bang … saya butuh waktu lagi …”

“Nggak bisa. Pokoknya besok pagi!” telepon diputus sepihak. Tanganku gemetar hebat. Ponsel nyaris jatuh.

Galang menatapku tajam, wajahnya mengeras. “Penagih hutang itu lagi?”

Aku menunduk, bahuku bergetar. “Iya … mereka … mereka cuma kasih waktu sampai besok pagi. Tujuh puluh lima juta, Mas. Saya … saya nggak tahu harus gimana.”

Air mataku tumpah, deras mengalir di pipi. Aku menunduk, menutup wajahku dengan tangan. Suaraku bergetar. “Saya nggak punya siapa-siapa lagi, Mas. Saya cuma bisa nangis.”

Beberapa saat, hanya ada suara sendok beradu dengan mangkuk dari meja lain. Galang tidak bicara. Ia hanya menatapku, lama, dengan rahang mengeras.

Lalu tiba-tiba, suaranya yang khas berat dan tegas itu kembali terdengar. “Vania.”

Aku mengangkat wajah dengan mata terasa bengkak.

“Aku akan bayar semua hutang-hutang Bimo. Semuanya. Termasuk yang tujuh puluh lima juta besok pagi.”

Dunia seakan berhenti berputar. Dengan mata membesar, aku menatap Galang tak percaya. “Mas Galang … tadi bilang apa?”

Galang tidak berkedip. Tatapannya sangat dalam. “Aku akan selesaikan semua utang Bimo.”

Mataku membesar, tidak menyangka Galang akan menawarkan jalan keluar.

Namun, aku merasa lega terlalu awal. Karena … Galang belum selesai.

“Tapi…” suara Galang kembali terdengar, tepat seiring dia menatapku lurus dan dalam “Kamu harus bisa memenuhi permintaanku.”

“A-apa pun! Saya akan penuhi semua permintaan Mas Galang selama—”

“Temani aku setiap aku minta.”

Hah?

Aku terperangah sesaat, lalu sedikit tertawa. Aku yakin aku salah dengar.

“Maaf, Mas … saya sepertinya terlalu senang, jadi … saya kurang dengar ucapan Mas Galang. Tadi, permintaan Mas Galang apa?”

Galang tak bergeming, matanya masih memandangku tajam. “Kubilang, Temani aku setiap aku membutuhkanmu, Vania.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Hanum Layla
aduh mulai merinding dangdut ini....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 167. Milikmu Seutuhnya

    Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan sampai di titik ini. Berdiri di depan cermin besar ruang rias ballroom Hotel Vania – Bandung, mengenakan gaun pengantin putih dengan taburan kristal yang berkilau setiap kali terkena cahaya lampu. Jantungku berdegup cepat, bukan karena gugup semata, tetapi karena rasa tak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Riasan di wajahku tampak natural, tidak berlebihan, namun cukup berkelas hingga pantulan diriku di cermin tampak seperti orang lain. Rambutku disanggul elegan, dihiasi hiasan perak kecil berbentuk bunga. Di belakangku, beberapa perias masih sibuk merapikan ujung gaun yang menjuntai panjang di lantai. Dari balik pintu tertutup, samar-samar terdengar alunan musik lembut dari dalam ballroom. Harum bunga segar bahkan sudah sampai ke ruang rias. Mawar putih dan lily menjadi dekorasi utama. Semuanya terlihat mewah, elegan, dan ... hangat. “Cantik sekali,” bisik Siska yang berdiri di sampingku sejak tadi. Matanya berkaca-kaca. Aku

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 166. Janji Galang

    “Vania sudah banyak terluka. Saya tidak mau anak saya kembali disakiti.” Ibu bicara cukup tegas pada Galang. Baru kali ini aku melihat ibu bicara setegas dan seserius itu. Aku terpaku di tempatku berdiri. Suara ibu terdengar penuh tekanan. Ruangan sederhana itu tiba-tiba terasa sempit. Bahkan suara kipas angin di sudut ruang tamu pun seperti ikut berhenti berputar. Galang tidak tampak tersinggung. Ia justru melangkah maju satu langkah. Tatapannya lurus ke arah ibu, penuh kesungguhan yang tidak dibuat-buat. Ia mendekat, lalu berlutut di hadapan ibu.“Saya Galang, Bu. Saya janji akan membuat Vania dan Ankala bahagia meski harus mempertaruhkan nyawa saya sekalipun.”Dadaku langsung sesak. Ucapan itu bukan hanya terdengar seperti janji, tetapi seperti sumpah yang keluar dari lubuk hati paling dalam. Aku menoleh sekilas ke arah ibu Galang. Wanita itu berdiri tenang, wajahnya lembut namun tegas, seolah mendukung setiap kata putranya. Mata ibu tampak berkaca-kaca. Garis-garis halus di

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 165. Kejutan

    POV VANIA “Aku mau ajak kamu jalan-jalan malam ini,” kata Galang tiba-tiba setelah aku selesai menidurkan Ankala di kamar tamu. “Ankala aman sama Suster Lany.” Aku menoleh kaget. “Sekarang?” Galang mengangguk. “Iya. Cuma sebentar.” Aku ragu. “Tapi Ankala—” “Suster Lany sudah biasa jaga dia,” potong Galang lembut. “Ibu juga ada. Kamu tenang saja.” Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu mengangguk. Entah kenapa, aku tidak ingin menolak ajakan Galang malam ini. Kami keluar sekitar pukul delapan malam. Udara Bandung terasa dingin, berbeda dengan Jakarta yang padat. Galang menyetir sendiri. Mobil melaju tenang, tanpa musik. Aku memperhatikan jalan yang kami lewati. Saat berbelok, aku merasa familiar dengan tempat ini. “Mas,?" Aku menoleh. “Ini arah ke—” “Iya,” jawabnya singkat. “Kamu nggak salah.” Mobil berhenti di depan sebuah hotel. Aku tertegun. Aku ingat Galang pernah membawaku ke sini. Waktu itu Hotel ini masih tahap pembangunan. Masih banyak pekerja proyek. Tapi sekarang

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 164. Aku disambut dengan ...

    POV VANIA Aku berdiri terpaku di tempatku.Tatapan Ibu Galang yang semula tajam perlahan berubah. Sorot matanya melembut saat menatap Ankala yang berada di gendongan Galang. Bibirnya bergetar tipis, seolah sedang menahan sesuatu yang mengalir dari dalam dadanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu melangkah mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti takut membuat Ankala terbangun. Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu berhenti beberapa senti dari pipi Ankala. “Apa boleh … Ibu menggendongnya?” tanyanya lirih. Aku refleks menoleh ke Galang. Galang tersenyum. Anggukan kecil darinya terasa seperti jawaban atas ribuan kecemasanku sejak di mobil tadi. “Tentu, Bu,” kata Galang. "Tapi ... ibu kuat?" tanya Galang ragu. "Ibu ingin memeluknya sebentar," jawab Ibu Galang yang masih memandang Ankala. Galang menyerahkan Ankala ke pelukan ibunya.Dan saat itu juga, sesuatu di dadaku runtuh.Ibu Galang memeluk Ankala dengan sangat hati-hati, seolah sedang memeluk benda paling

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 163. Ke Bandung

    POV VANIASejak kejadian di restoran sore itu, Bimo tidak pernah lagi datang. Tidak lagi ada teror seperti waktu itu.Hari-hariku terasa jauh lebih tenang. Aku bisa fokus bekerja, menata pikiran, dan menikmati waktu bersama Ankala tanpa bayang-bayang suara bentakan Bimo yang selalu menuntut ini dan itu.Sampai akhirnya, di hari minggu pagi itu, ponselku bergetar saat aku baru saja selesai menyusui Ankala. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan.Nama Galang muncul di layar.Jantungku langsung berdetak lebih cepat.“Hai, Nia.” Suaranya terdengar berbeda. Sepertinya Galang sedang bahagia."Hai, Mas,"jawabku pelan. “Ada kabar apa?”“Aku mau jemput kamu sama Ankala jam sepuluh,” katanya to the point. “Kita pergi hari ini. Pulang besok.”Aku terdiam.“Pergi ke mana?” tanyaku hati-hati.“Ajak suster Lani juga, ya,” lanjutnya, seolah menghindari pertanyaanku. “Bawa baju ganti secukupnya.”“Mas Galang …” Aku menghela napas. “Aku perlu tahu kita mau ke mana.”Di seberang sana, terden

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 162. menuntut Hak

    BAB 162POV VANIA “Apa mau kamu sebenarnya?”Suaraku meninggi tanpa bisa kutahan saat melihat Bimo berdiri di tengah restoran, membuat beberapa pengunjung menoleh. Sore itu restoran sedang ramai. Hampir semua meja terisi. Beberapa pelayan tampak ragu mendekat. Bimo berdiri dengan dada dibusungkan. “Aku mau menuntut hakku!” Aku menarik napas cepat. Tatapanku menyapu ruangan. Beberapa pelanggan mulai berbisik. Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut. “Kita bicara di ruanganku saja,” kataku menahan emosi. “Ikut aku.” Aku berbalik lebih dulu, melangkah cepat ke ruang kerjaku. Bimo mengikuti. Langkahnya santai, angkuh, seolah-olah restoran ini miliknya. Tanganku mengepal ketika meliriknya sekilas. Begitu masuk ke ruanganku, aku menutup pintu setengah tertutup. “Duduk,” kataku pendek. “Sekarang silakan bicara.” Bimo tidak duduk. Ia bertolak pinggang, menatapku dari atas ke bawah. Suaranya sengaja dikeraskan. “Kamu ini memang nggak tahu terima kasih, Vania! Ingat! Kamu bisa begini gar

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 72. USG

    Wajah Galang tampak menggelap, tetapi ia tidak memperpanjang pembicaraan. Aku tahu Galang tidak ingin terlihat terlalu ikut campur di depan Bimo. Ia hanya berdiri di sana dengan rahang mengeras, seperti menahan sesuatu yang ingin ia katakan.Bimo merapatkan jaketnya, lalu berkata cepat, “Lang, aku

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 71. Selalu Bikin Malu

    Aku terkejut saat tahu tubuhku kini berada di tangan Galang. Aku bisa merasakan tangannya yang kokoh menahan lenganku, seolah memastikan aku tidak terjatuh. Tapi kepalaku masih berputar. Pandanganku terasa kabur, membuatku tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah.“Kamu baik-baik aja, kan?” Suara

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 69. Aku Lelah

    Adrian mengantarku dengan mobil sampai depan Gang. Sementara Bimo mengikuti dengan motornya dari belakang. Setelah turun dari mobil, Adrian tidak langsung pulang, ia ikut mengantarku sampai ke rumah. Kemudian ia pamit."Selamat istirahat, Mbak Vania."Aku mengangguk. “Makasih, Mas Adrian.”Bimo ti

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 68. Dimana ATMku

    Aku perlahan membuka mata. Tubuhku terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Aku mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan. Refleks, mataku langsung mencari seseorang. “Mas Galang …? Apa dia sudah pergi?” Sunyi. Aku menarik napas pelan, lalu mengusap perutku yang masih data

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status