LOGINSore itu ruangan VIP Tivane dan Rigecherta sudah sangat ramai karena semua sahabat serta Risa dan Aliandra ada di sana. River masih mengoceh random untuk mencairkan suasana di sana. Skyler juga akan menambahi dan membuat suasana terasa damai dan hangat. Veros sendiri hanya tersenyum kecil namun sesekali matanya melirik ke arah handphone nya. Milenia, Luci, Ella dan Tivane terlihat berbincang santai sambil cekikikan kecil saat memandangi foto lucu anak mungil Tivane yang terlihat tidur dengan bibir mengerucut, persis seperti bibir Tivane saat tertidur. Risa sendiri masih memandangi Rigecherta yang masih menutup mata. Rasa penyesalan menyelinap di hatinya, saat ia memutuskan membawa Tivane ke rumah nya dan memisahkan mereka. Andai ia lebih percaya pada anaknya dan tidak terlalu terlarut dalam trauma masa lalunya. Aliandra sudah ikut join bersama River dan Skyler yang sudah ngejokes ala bapak-bapak. Mungkin sata muda ia terbilang asik dan sangat exstropetr. Jadi jo
Keesokan harinya, semalaman River dan lainnya menjaga Tivane dan Rigecherta bergantian. Malam para cowo, dan paginya para cewe yang akan menjaga. Mereka selalu ada dan tetap menemani saat Tivane dan Rigecherta tidak sadarkan diri. Kini, ruangan itu hanya berisi Milenia dan Ella. Sedangkan Luci sedang mengecek pasien di ruangan lain. Milenia masih terlihat lelah karena baru pulang pengajar. Ella memang tidak pergi ke kantor, ia memilih membawa berkas dan kerjaannya ke rumah sakit. Saat mereka berdua asik dengan dunia masing-masing, Milenia dengan handphone nya, dan Ella dengan laptop dan setumpuk berkasnya. Di atas ranjang, jari telunjuk Tivane terlihat sedikit bergerak di ikuti dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka. Tivane mengerjap kecil dan menoleh pelan ke arah samping. Ia melihat kedua temannya sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Rasa haus langsung menyerang Tivane membuat ia menoleh ke arah gelas di atas nakas. Tangannya perlahan terulur
Saat ini ruangan itu terasa penuh namun juga terasa berat, dua orang di atas brankar yang berbeda namun bersebelahan itu masih menutup mata dengan nafas teratur. Rigecherta dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya, serta beberapa perban karena luka luka di tubuh serta pelipis nya juga selang infus di tangan kirinya. Tivane dengan wajah pucat dan selang oksigen di hidungnya serta selang infus di tangan kirinya kini wanita itu benar-benar terlihat lemah tak berdaya. Semua orang di dalam ruangan itu diam dengan helaan nafas berat. " Mau di kasih tau sama Tante Risa dulu nggak nih?" Tanya Skyler bersiap menelpon ibu Rigecherta. " Jangan dulu. Nanti kalau terlalu mendadak ia akan syok. Nanti om sendiri yang akan menjemput Risa." Ucap Aliandra membuat mereka mengangguk kecil. Pintu ruangan terbuka menampilkan Veros yang datang dengan Milenia di samping nya. Begitu sampai di dalam ruangan, Milenia langsung merasa lemas saat melihat sahabat baikny
Suasana langsung riuh dan tubuh keduanya di kelilingi. River yang masih berada di sekitar dan karena menunggu Ella ke bank tadi pun merasa terkejut hebat saat melihat Rigecherta di tabrak dengan keras dan tak lama setelah itu Tivane pun ikut pingsan di sana. " ada apa kok ribut?" Tanya Ella yang baru keluar juga langsung menoleh dan tersentak. " ayo kesana dulu. Kita aja yang bawa mereka. Ambulance masih lama banget itu" River langsung menyeruak di kerumunan dan berhasil di depan Rigecherta dan Tivane. "Bawa yang. Pak tolong masukin ke mobil saya saja. Biar cepat. Mereka butuh pertolongan pertama" pinta River pada salah satu warga dan mereka langsung mengangguk. Mereka semua membawa tubuh ke Rigecherta ke dalam mobil River, sementara Tivane ke dalam mobil Rigecherta yang akan di bawa oleh Ella. Mobil keduanya langsung melesat cepat membelah kerumunan. Di dalam mobil, River langsung menyambungkan panggilan dengan Veros juga Skyler. " Satu ikut gue ke rumah sa
Rigecherta yang awalnya diam sambil mengaduk makanannya tersentak saat melihat Tivane yang berdiri di depan pintu masuk warkop itu. Ella yang menyadari raut wajah Tivane yang terlihat salah paham pun juga ikut berdiri. Rigecherta dengan cepat langsung berdiri dan mengejar Tivane yang berbalik pergi. River yang baru datang dari toilet pun terkejut saat Rigecherta berlari melewatinya. Ya cowo itu juga ikut, tapi tadi saat Tivane datang, ia sedang di toilet. Rigecherta meraih tangan Tivane dan menahannya dengan lembut. " Sayang tunggu, kamu salah paham sumpah. River ada di dalam sayang. Sumpah" ucap Rigecherta membuat Tivane berbalik dengan mata memerah. " Kenapa nggak balik ke rumah hah?! Aku nunggu kamu sampe ketiduran tau nggak?!" Sentak Tivane memukul dada Rigecherta dengan keras. " Maaf.. aku nggak tau kalo kamu di rumah. " Rigecherta membiarkan Tivane. " Kamu jahat, dan sekarang aku malah liat kamu berduaan sama cewe lain" Tivane mulai lelah dan
Mobil Rigecherta berhenti di depan gerbang dan mengerutkan kening saat tak melihat mobil biasa ibunya lagi di sana. Rumah pun sudah tertutup dan terlihat tak ada orang. " Mereka pada kemana?" Gumam Rigecherta memutuskan untuk menelpon sopir pribadi ibunya. " Halo den." Suara sang sopir terdengar dari seberang namun hampir tenggelam karena suasana terdengar ramai. " Kalian lagi di mana emang mang? Kok rumah kosong?" Tanya Rigecherta. " Nyonya sama non Tivane lagi di mall. Katanya saya tunggu di sekitar sini saja karena mereka mau quality time katanya." Jawab sang sopir membuat Rigecherta menghela nafas lega. Padahal tadi kepalanya sudah membayangkan hal aneh. " O.. bisa bapak Sherlock? Biar saya saja yang datang kesana" ucap Rigecherta menyalakan kembali mobilnya. " Boleh den. Ini saya Sherlock ya" jawab sang sopir dan Rigecherta langsung memutuskan panggilan. " Pantau aja deh. Takut kenapa-napa" ucap Rigecherta seorang diri dan langsung melajukan mobil
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa
Hari ini kampus trilogi itu terlihat sangat ramai oleh para Maba, juga para orang tua dan dosen yang bertugas berkumpul di lapangan kampus itu. Acara penyambutan mahasiswa baru universitas mengadakan hang out yang vibes nya seperti study tour karena akan di bawa ke daerah terpencil namun indah
Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in







