로그인Pagi itu terasa hangat dan damai. Tivane masih betah di atas ranjangnya karena Chesia tidak rewel pagi ini. Bayi lucu itu malah sibuk dengan dunianya sendiri sambil memainkan kerincing di tangannya. Rigecherta baru terbangun juga tersenyum tipis saya melihat Chesia anteng, tidak rewel seperti biasanya. Tatapan Rigecherta berpindah pada Tivane yang terlihat berbaring dengan mata tertutup namun sesekali tetap membuka mata untuk memastikan Chesia di sampingnya aman. " Morning sayang!" Sapa Rigecherta melingkarkan tangannya di pinggang Tivane dan mengecup pipi Tivane dengan lembut. " Morning! udah bangun ya?" Tivane berbalik badan sedikit hanya untuk melihat wajah berantakan suaminya yang baru bangun itu. Rigecherta mengangguk kecil dan endusel ke leher Tivane. " Tumben Chesia nggak rewel. Biasanya udah nangis pagi-pagi" ucap Rigecherta mengelus pelan pipi anaknya yang asik sendiri itu. " Nggak tau juga, lagi kesambet mungkin" jawab Tivane terkekeh kecil saya an
Setelah acara selesai. Kini tinggal Tivane Rigecherta dan para teman mereka serta Aliandra dan Risa di sana. Ruangan masih berantakan dan terlihat bekas yang mungkin akan sangat melelahkan untuk membersihkannya. Piring-piring berserakan, juga beberapa cangkir dan bekas makan terlihat jelas di karpet itu. Melihatnya saja sudah membuat Tivane sakit pinggang apalagi harus membersihkan semuanya. " Lega nyaa.. akhirnya acaranya selesai juga" gumam River meregangkan tubuhnya. " Kayak nenek-nenek aja lo. Sini bantuin kita beresin" ucap Skyler yang sudah menyusun dan menaruh beberapa piring ke dalam ember besar. " Aduh.. bisa istirahat bentar dulu nggak? Sok rajin banget sih" decak River yang merasa tubuhnya mau rontok. " Suami gue mah emang rajin ya. Beda sama lo" ucap Luci membela membuat River mendelik dan mencibir. " Idih? Rajin? Sejak kapan tuh orang rajin? Biasanya di basecamp juga kerjaannya cuma Mabar sambil ketawa-ketawa nggak jelas liat video lucu" d
Dua hari kemudian Pagi itu terasa lebih heboh dan lebih ramai dari pada pagi sebelum nya. Rigecherta terlihat bingung untuk bersikap seperti sekarang. Lihat ke kiri ada Tivane yang menekuk wajah dengan bibir manyun lima centi. Lihat ke kanan ada Chesia yang terlihat habis menangis dengan wajah dan hidung memerah. Jika Rigecherta bergerak sedikit saja ke arah Tivane, maka Chesia di pastikan akan menangis lagi. Tapi jika Rigecherta bergerak ke arah Chesia, bisa di pastikan Tivane akan semakin menyeramkan wajahnya. Rigecherta kini di hadapkan dengan kedua pilihan sulit antara anaknya yang selalu ingin menempel padanya atau istrinya yang terlihat sudah melirik dengan mata mengilat tajam. " Sayang ini kenapa sih? Aku baru keluar dari kamar mandi loh.. nggak tau apa-apa" ucap Rigecherta lembut berusaha menenangkan suasana. " Nggak tau. Tanya aja sama putri kesayangan kamu itu. Selama kamu di kamar mandi aja dia nangis kejer nggak bisa di bujuk. Ehh pas kamu keluar
Tivane dan Rigecherta sedang makan malam santai karena Chesia sudah tidur, habis mandi nyusu sampe kenyang terus lanjut ngorok di ruang tengah. Karena bayi mereka sudah tidur, waktunya untuk Rigecherta dan Tivane bermesraan bedua. Kalau Chesia masih bangun, dia pasti rewel dan tidak mau di pisahkan dari mereka. Tapi jika sudah tertidur, barulah Rigecherta dan Tivane bisa bernafas tanpa di tempelin Chesia. " Chesia nggak rewel loh di sini, dia malah anteng banget dari tadi. Padahal biasanya jam segini dia masih nangis kalau di rumah sakit" ucap Tivane sambil menyuapkan makanan dengan tenang. " Mungkin dia tau aroma rumah kita, jadi dia tenang" jawab Rigecherta juga makan dengan santai di samping Tivane. " Iya sih.. dari tadi juga aku perhatiin dia tenang banget. Pas di mandiin pun dia masih santai, biasanya pasti nangis kejer" ucap Tivane mengambil tambahan sayur untuknya. " Kamu suka sayur ya sekarang?" Tanya Rigecherta memperhatikan. " Yaa lumayan, kata Luci s
Setelah seminggu di rumah sakit itu akhirnya Rigecherta dan Tivane sudah bisa pulang dan di anjurkan untuk beristirahat di rumah. Jangan terlalu banyak aktivitas dan kegiatan dulu. Chesia, anak mereka juga sudah keluar dari ruang inkubator beberapa hari lalu. Bayi mungil itu terlihat sangat lucu apalagi saat sedang manyun seolah mencari asi Tivane. Namun jangan salah, tangisan chesia sangat keras bahkan bisa membangunkan Milenia yang tidur sudah seperti orang mati. Beberapa malam juga mereka di buat begadang karena kerewelan Chesia. " Yey.. kita bakal pulang ke rumah sayang.. sehat-sehat ya anak mami" ucap Tivane girang sambil menggendong Chesia sementara Rigecherta membawa barang mereka ke mobil Aliandra yang sudah terparkir rapi di parkiran. " Kalian beneran nggak mau nginap di rumah mama dulu? Nanti kalian kerepotan nggak ada yang bantu. Ke rumah mama dulu ya?" Bujuk Risa khawatir jika Tivane dan Rigecherta tak sanggup merawat Chesia. " It's oke ma. Sebelumny
Pernikahan River dan Ella terlihat sangat mewah dan ceria, sama persis seperti keduanya yang selalu cerah dan ceria. Bunga-bunga yang di pajang juga terlihat sangat lembut namun juga terlihat semarak. meja meja di hiasi dengan dekorasi yang megah namun tetap terasa nyaman. lampu kristal di tengah tengah ruangan itu semakin mempercantik dan semakin membuat suasana terasa hangat. milenia dan Luci terlihat sudah memakai baju Bridesmaids yang cantik berwarna ungu lilac. padahal warna baju itu adalah yang di tunggu tunggu oleh Tivane. tapi malah tidak bisa ikut dan tidak bisa menjadi Bridesmaids sahabatnya itu. milenia dan Luci perlahan naik ke atas panggung bersama pasangan masing-masing dan memberi sahabat kepada Ella dan River " Selamat atas pernikahan nya" ucap Skyler di samping Luci yang berpelukan dengan Ella dengan wajah ceria. " Makasih bro." Jawab River menjabat tangan Skyler dan memeluk singkat sahabatnya itu. " Selamat yaa.. langgeng kalian" ucap Luci
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa
Hari ini kampus trilogi itu terlihat sangat ramai oleh para Maba, juga para orang tua dan dosen yang bertugas berkumpul di lapangan kampus itu. Acara penyambutan mahasiswa baru universitas mengadakan hang out yang vibes nya seperti study tour karena akan di bawa ke daerah terpencil namun indah
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan







