共有

Jurang Neraka

作者: Rosa Rasyidin
last update 最終更新日: 2023-09-22 23:04:54

Tubuh Nira terlepas dari genggaman Arsa. Mata gadis itu kian memerah bak bibit api. Kemudian semua yang ada di sekitar mereka terbakar dan hangus menjadi abu.

Bukan hanya itu saja, tempat di mana sang dewa berpijak perlahan-lahan berubah menjadi … tempat yang tidak asing lagi.

“Putra Bhawika Arsa, kau terlalu berani untuk lari dari jurang neraka,” ucap Nira sambil tubuhnya melayang di udara. Baju kuning terangnya berganti menjadi warna hitam batu dihiasi dengan bara api.

“Jadi, ini kau yang sebenarnya? Mana Nira yang asli?” tanya Arsa yang kini kembali ke jurang neraka tanpa ia sadari. Kali ini sang dewa perang tertipu mentah-mentah.

“Dewa Arsa, dia tetaplah Nira. Salah satu pecahan arwah tertiup angin dan berakhir di jurang neraka. Dia menjadi salah satu kaki tangan untuk menangkap tawanan yang kabur. Kau salah satunya.” Bisikan Rogu terdengar di telinga Arsa.

“Tidak adakah cara untuk menyelamatkannya?”

“Lihat di bagian bawah tulang lehernya. Dia menelan buah api neraka. Kelua
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Roh Dewa Perang   118. Bayangan Darah

    Langit memerah seperti luka yang menganga lebar. Awan-awan berputar dengan cepat lalu memantulkan cahaya ungu yang seolah meneteskan darah dari bekas luka.Di bawahnya, dua sosok muda berdiri saling berhadapan. Banu, dengan mata membara dan tombak bercahaya gelap di tangannya. Indurasmi, berbalut kabut hitam, rambutnya melayang seperti bara api yang panas. Dewi muda itu seperti mewarisi kekuatan dari ibunya.Keduanya tidak lagi berbicara dengan kata-kata, melainkan dengan kebencian yang memantul di mata masing-masing. Keduanya terpengaruh oleh kata-kata beracun Amara dan Ukrat.“Kau tak pantas disebut penjaga langit,” desis Indurasmi dingin, nyaris tanpa emosi.“Dan kau tak pernah tahu artinya menjadi anak dari dewa perang,” balas Banu, menghentakkan tombaknya ke tanah.Ledakan cahaya ungu memecah udara. Langit pun berguncang.Mereka bukan lagi saudara, melainkan dua bayangan yang dikurung oleh luka masa lalu. Bisikan Amara dan Ukrat menembus hati dua saudara kembar itu begitu dalam.

  • Roh Dewa Perang   117. Bisikan Kegelapan

    Langit terlihat semakin terluka. Bintang tua bersinar redup, sedangkan bintang-bintang muda pengkhianat bersinar terang dengan warna keunguan, dan memancarkan gema kegelapan yang mengganggu keseimbangan siang dan malam.Di tengah kekacauan itu, langit lapis kedua menjadi medan tempur, tempat di mana kesetiaan diuji dan kepercayaan direnggut oleh tipu daya.Dewi Hara, kini menjelma menjadi nyala api merah. Ia menatap tajam ke arah Ukrat dan Amara yang mulai menyusup ke dalam dan kesadaran Banu serta Indurasmi.“Aku tak akan membiarkan kalian mempengaruhi anak-anakku,” ucap Hara.Ia berubah menjadi rubah ekor tujuh yang masing-masing menyala dengan zodiak yang berbeda.Rubah ekor tujuh itu menggeram. Suaranya menggetarkan pilar yang menopang langit. Dewi Hara dalam wujud aslinya membaca jalan takdir lewat indra hewannya yang tajam.Amara tersenyum penuh siasat. “Kau pikir kekuatan kuno bisa menahan kegelapan ini?”Ukrat mendesis, sayap kristalnya terbuka lebar. “Rubah terlalu banyak ek

  • Roh Dewa Perang    116 Jiwa yang Terkurung

    Ranjang megah berlapis tirai-tirai halus dari benang bintang tampak bergetar pelan, bukan oleh badai atau gempa langit, tapi oleh energi magis yang berasal dari tubuh sang ratu.Mahadewi Sahasika, dengan jubah ungu muda dan mahkota cahaya palsunya, membaringkan tubuhnya di atas Wanudara, raja langit yang matanya kini kosong dan dingin, seperti cermin tanpa pantulan.Di bawah tirai bintang itu, Arsa bersembunyi, tubuhnya berubah menjadi debu perang yang melekat di serat sutra angin. Ia menyaksikan tanpa suara, tanpa bisa berbuat apa-apa.Hatinya berkata-kata tetapi ia tahu, setiap satu gerakan gegabah akan membangunkan sihir pemutus waktu yang diletakkan Sahasika di setiap sudut kamar kerajaan.“Sayangku, ” bisik Sahasika lembut, sembari mencium pelipis Wanudara. “Kau pernah berkata langit ini akan runtuh tanpamu. Tapi lihat, aku bisa membuat langit bersinar dengan warna yang kupilih.”Tangan Sahasika menyusuri dada Wanudara, bukan dengan kelembutan cinta, melainkan dengan mantra kegel

  • Roh Dewa Perang   115 Kenangan Dalam Lukisan

    Di antara lorong-lorong yang bergetar, terdapat dinding tempat lukisan para dewa dipajang dan memancarkan detak kehidupan dari peristiwa yang telah dilupakan. Lukisan-lukisan di sana bukan sekadar gambar. Mereka hidup, dan bernafas bersama kenangan para dewa.Hara berjalan mendampingi Senandika yang masih lemah, tangannya sesekali menyentuh tiang langit yang berdiri dengan kokoh. Banu dan Indurasmi mengikuti dari belakang, dua dewa kembar itu merasakan aura yang membungkus jiwa mereka dengan kenangan masa lalu.“Tempat ini tahu siapa kau, bahkan jika kau lupa, Mahadewi,” bisik Hara.Senandika berhenti di depan satu lukisan. Di dalamnya tampak seorang gadis berambut hitam legam, berlari di antara hujan meteor untuk menyelamatkan seekor rubah yang terluka.Gadis itu memeluk rubah dengan erat, lalu memanggil penjaga langit yang akhirnya membawa kisahnya menjadi mahadewi.“Aku ingat.” Senandika menyentuh lukisan itu, dan gadis di dalam lukisan menoleh padanya sejenak. Mata mereka bertaut,

  • Roh Dewa Perang   114. Bintang Tua

    Langit tidak bersinar seperti biasa. Bintang-bintang tampak letih, sinarnya redup seolah mereka enggan menyaksikan ketidakadilan yang menggantung di takhta langit.Kabut tipis menggulung perlahan, menyelimuti menara-menara awan tempat para penjaga bintang biasa bermeditasi.Di antara mereka, Hara berdiri di tepi jurang langit, matanya menatap ke arah cakrawala yang pernah menjanjikan kedamaian.Tiba-tiba, udara bergetar perlahan. Sebuah simbol kuno terbentuk di udara, nyaris tak terlihat oleh mata biasa. Hanya jiwa yang pernah kembali dari kematian yang bisa membacanya.Hara membuka telapak tangannya, dan aksara itu menyatu dengan cahaya jiwanya.“Aksara Senandika,” bisiknya. Matanya mulai memerah oleh rasa haru yang tak bisa ia tunjukkan. Ia pernah berjanji untuk menyelamatkan sang mahadewi.Tanar, bintang tua yang tergantung di langit timur juga mengenali aksara Senandika.“Kau mengenali panggilannya, kau dewi yang terlahir dari keberanian?” Bintang tua Tanar mengeluarkan suara.“Ak

  • Roh Dewa Perang   113. Ramalan yang Membingungkan

    Kitab-kitab beterbangan seperti burung yang tahu sejarah, lalu bersiul pelan saat Arsa melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Rogu meneliti silsilah para dewa.Arsa melangkah pelan di lantai cahaya yang berdetak seiring pikirannya yang simpang siur. Jubahnya menyentuh kelopak-kelopak cahaya yang jatuh seperti embun dari langit-langit.Di depan sebuah meja marmer berukiran emas, Rogu pelayan Dewa Rama itu terlihat seperti pelupa tapi menyimpan ribuan rahasia, sedang membuka gulungan yang bersinar.“Kau tahu kenapa aku datang.” Arsa datang mengganggu konsentrasi Rogu. Suaranya menggetarkan rak-rak yang menggantung, beberapa kitab bergetar lalu diam kembali.“Aku hanya tahu bahwa saat ramalan berpindah tangan, takdir mulai mencari pemilik baru,” jawab Rogu tanpa menoleh.“Aku membaca tulisan itu dan membuatku berpikir begitu keras. Dewa Rama menyebutku sebagai calon raja langit. Tapi tak ada penjelasan. Apakah kau yang menulisnya?”“Aku? Tidak. Gulungan itu datang padaku dalam kotak seg

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status