LOGINPutra Bawikha Arsa--Sang Dewa Perang dari kerajaan langit yang turun ke bumi demi mengumpulkan pecahan arwah Dewi Hara. Sebab dengan hanya cara seperti itu ia bisa menguasai kerajaan langit lagi.
View MoreLangit memerah seperti luka yang menganga lebar. Awan-awan berputar dengan cepat lalu memantulkan cahaya ungu yang seolah meneteskan darah dari bekas luka.Di bawahnya, dua sosok muda berdiri saling berhadapan. Banu, dengan mata membara dan tombak bercahaya gelap di tangannya. Indurasmi, berbalut kabut hitam, rambutnya melayang seperti bara api yang panas. Dewi muda itu seperti mewarisi kekuatan dari ibunya.Keduanya tidak lagi berbicara dengan kata-kata, melainkan dengan kebencian yang memantul di mata masing-masing. Keduanya terpengaruh oleh kata-kata beracun Amara dan Ukrat.“Kau tak pantas disebut penjaga langit,” desis Indurasmi dingin, nyaris tanpa emosi.“Dan kau tak pernah tahu artinya menjadi anak dari dewa perang,” balas Banu, menghentakkan tombaknya ke tanah.Ledakan cahaya ungu memecah udara. Langit pun berguncang.Mereka bukan lagi saudara, melainkan dua bayangan yang dikurung oleh luka masa lalu. Bisikan Amara dan Ukrat menembus hati dua saudara kembar itu begitu dalam.
Langit terlihat semakin terluka. Bintang tua bersinar redup, sedangkan bintang-bintang muda pengkhianat bersinar terang dengan warna keunguan, dan memancarkan gema kegelapan yang mengganggu keseimbangan siang dan malam.Di tengah kekacauan itu, langit lapis kedua menjadi medan tempur, tempat di mana kesetiaan diuji dan kepercayaan direnggut oleh tipu daya.Dewi Hara, kini menjelma menjadi nyala api merah. Ia menatap tajam ke arah Ukrat dan Amara yang mulai menyusup ke dalam dan kesadaran Banu serta Indurasmi.“Aku tak akan membiarkan kalian mempengaruhi anak-anakku,” ucap Hara.Ia berubah menjadi rubah ekor tujuh yang masing-masing menyala dengan zodiak yang berbeda.Rubah ekor tujuh itu menggeram. Suaranya menggetarkan pilar yang menopang langit. Dewi Hara dalam wujud aslinya membaca jalan takdir lewat indra hewannya yang tajam.Amara tersenyum penuh siasat. “Kau pikir kekuatan kuno bisa menahan kegelapan ini?”Ukrat mendesis, sayap kristalnya terbuka lebar. “Rubah terlalu banyak ek
Ranjang megah berlapis tirai-tirai halus dari benang bintang tampak bergetar pelan, bukan oleh badai atau gempa langit, tapi oleh energi magis yang berasal dari tubuh sang ratu.Mahadewi Sahasika, dengan jubah ungu muda dan mahkota cahaya palsunya, membaringkan tubuhnya di atas Wanudara, raja langit yang matanya kini kosong dan dingin, seperti cermin tanpa pantulan.Di bawah tirai bintang itu, Arsa bersembunyi, tubuhnya berubah menjadi debu perang yang melekat di serat sutra angin. Ia menyaksikan tanpa suara, tanpa bisa berbuat apa-apa.Hatinya berkata-kata tetapi ia tahu, setiap satu gerakan gegabah akan membangunkan sihir pemutus waktu yang diletakkan Sahasika di setiap sudut kamar kerajaan.“Sayangku, ” bisik Sahasika lembut, sembari mencium pelipis Wanudara. “Kau pernah berkata langit ini akan runtuh tanpamu. Tapi lihat, aku bisa membuat langit bersinar dengan warna yang kupilih.”Tangan Sahasika menyusuri dada Wanudara, bukan dengan kelembutan cinta, melainkan dengan mantra kegel
Di antara lorong-lorong yang bergetar, terdapat dinding tempat lukisan para dewa dipajang dan memancarkan detak kehidupan dari peristiwa yang telah dilupakan. Lukisan-lukisan di sana bukan sekadar gambar. Mereka hidup, dan bernafas bersama kenangan para dewa.Hara berjalan mendampingi Senandika yang masih lemah, tangannya sesekali menyentuh tiang langit yang berdiri dengan kokoh. Banu dan Indurasmi mengikuti dari belakang, dua dewa kembar itu merasakan aura yang membungkus jiwa mereka dengan kenangan masa lalu.“Tempat ini tahu siapa kau, bahkan jika kau lupa, Mahadewi,” bisik Hara.Senandika berhenti di depan satu lukisan. Di dalamnya tampak seorang gadis berambut hitam legam, berlari di antara hujan meteor untuk menyelamatkan seekor rubah yang terluka.Gadis itu memeluk rubah dengan erat, lalu memanggil penjaga langit yang akhirnya membawa kisahnya menjadi mahadewi.“Aku ingat.” Senandika menyentuh lukisan itu, dan gadis di dalam lukisan menoleh padanya sejenak. Mata mereka bertaut,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews