LOGINMataku mengerjap beberapa kali kurasakan hawa sekitarku menjadi lebih dingin dari sebelumnya, tanganku berusaha menghangatkan lenganku, bulan purnama terlihat jelas di mataku seperti memberikan peringatan bahwa hari masih gelap. Aku juga baru menyadari diriku pingsan sebentar, tangan kiriku terangkat ke atas sampai satu kunang-kungan hinggap di telunjukku. Pendengaranku menangkap sesuatu yang tidak jauh dari tempat diriku berbaring."Kita harus mendapatkannya," ucap seseorang.Sial mereka belum juga pergi, batinku. Dengan susah payah aku merangkak mencoba menjauh berharap mereka tidak akan menemukan keberadaanku. Aku mencoba berdiri dan berjalan sambil memegang lenganku yang terkena panah, rasanya sangat sulit berjalan di keadaan seperti ini apalagi cahaya bulan sedikit tertutup awan. Telingaku sayup-sayup masih mendengar prajurit keraton kebingungan mencariku."Harusnya dia mati, mungkin saja terjatuh ke sungai," keluh orang mengendarai kuda putih. "Kita tetap harus me
Kakiku melangkah mundur mencoba dan berlari secepatnya meninggalkan orang-orang keraton yang bisa mengejarku atau lebih tepatnya menangkapku untuk diseret ke keraton. Suara teriakan di gelapnya malam memacu adrenalinku untuk segera menghindari mereka. Sesekali aku menengok ke arah belakang di mana dua di antara mereka menunggang kuda, membuatku memaksakan diri agar cepat berlari. Sialnya, jubah yang ku kenakan basah membuat pergerakanku tidak terlalu lincah."Berhenti! ku perintahkan berhenti sekarang!" ucap salah satu di antara mereka yang tidak menunggang kuda."Beraninya menguping pembicaraan kami!" teriak salah satunya, "Kita harus menangkapnya apapun yang terjadi," timpal temannya yang setia mengejarku."Sialan, kenapa jadi seperti ini?" keluhku sendiri dan aku menyesal keluar sekarang. "Semuanya jangan sampai kehilangan orang itu!" Derap langkah suara kuda seperti ada tepat persis di belakangku, di gelapnya malam dengan cahaya bulan remang-remang dan suara hewan yan
Sudah beberapa hari ini aku menunggu kabar dari Atma yang entah kemana bocah itu pergi dan tidak kunjung kembali, sedangkan Raden Kaningrat juga dua hari ini tidak terlihat. Perasaanku benar-benar tidak bisa tenang, sejak malam kemarin aku gelisah memikirkan mereka. Bayang-bayang buruk menghinggapi pikiranku, tapi ku enyahkan dan berdoa agar tidak terjadi hal-hal buruk menimpa mereka."Mbak, kenapa?" tanya Damar yang melihatku bolak balik di area dapur saat malam. "Aku hanya haus saja," jawabku bohong, dia terlihat masih mengantuk dan mengucek matanya berulang kali."Ah, begitu. Cepatlah istirahat, Mbak hari masih malam," ujarnya yang kembali ke kamarnya meninggalkan diriku sendiri.Aku menggenggam tanganku sendiri erat-erat, "Tidak bisa, sepertinya terjadi sesuatu di sana," gumamku sendiri dan menatap sekelilingku yang sepi ditemani suara jangkrik di luar. Ku lihat Denastri yang tertidur dengan pulas saat diriku mengambil tas dan jubah. Ku yakinkan diriku semuanya akan
Aku menikmati waktuku selama bersama Raden Kaningrat, tanganku tergerak untuk mengelus wajahnya yang mana kepalanya ditidurkan di pangkuanku. Semilir angin menerpa wajah kami, tapi tiba-tiba aku teringat Atma. Laki-laki itu belum kembali sampai sekarang, Raden Kaningrat seperti bisa membaca isi pikiranku.“Aku sudah bertemu dengan Atma beberapa waktu lalu dia baik-baik saja, Danastri.” Mata Atma mengecek sekelilingnya yang sepertinya desa itu baik-baik saja tidak ada penjaga keraton seperti terakhir kali dia lihat. Langkahnya dengan mantap bergerak maju untuk pergi ke rumah, pikirannya hanya ingin sampai di rumah memakan masakan ibunya dan tentu saja jika sempat dia akan pergi menemui gadisnya.“Aa-“ Tubuh Atma diseret dan diperintahkan untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Di balik rumah milik seseorang, Atma diminta untuk mengikuti seseorang.“Masuk... cepat masuk,” pinta orang itu dan Atma menurut memasuki rumah seseorang yang terlihat sangat megah dan dia tahu
Pagi-pagi buta aku mengantarkan Atma ditemani oleh Damar setelah dia dipaksa untuk bangun oleh Atma, cukup berat langkahku untuk melepaskan Atma kembali ke rumah bukan karena aku tidak nyaman di sini, hanya saja aku takut jika terjadi hal-hal buruk di sana karena kami sama sekali tidak tahu kondisi di sana seperti apa. Aku ingin sekali pergi bersamanya, untuk pertama kalinya Atma tidak ada di sisiku. Aku sempat membujuk Atma berulang kali agar aku bisa ikut, tapi laki-laki itu jelas melarangku untuk pergi.“Nah, sudah sampai. Aku harus pergi sekarang,” ucap Atma yang berdiri di pinggir sungai yang kering. Dari raut wajahnya bisa ku lihat dia sangat senang untuk kembali ke rumah.“Tolong jaga adikku, Damar. Pastikan dia aman dan baik-baik saja,” lanjutnya sambil menepuk pelan laki-laki yang ada di sebelahku. “Hahaha, tentu saja dia itu keluargaku tidak mungkin aku membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tenang saja, Mbak Danastri.”Aku mengangguk tapi dengan wajah lesu menatap
Selama aku di sini mereka menceritakan tentang kehidupan bapak yang membuatku kagum padanya, bapak terlahir dari kaum priyayi yang menjunjung tinggi rasa tolong menolong pada orang lain. Bahkan bapak dari umur belasan tahun sudah belajar meracik obat-obatan dan mencoba untuk merantau. Saat bapak tidak ada keluarga ini baru mengetahui kabarnya satu bulan kemudian, dan mereka membujuk ibu untuk ikut tinggal bersama, tetapi ibuku memilih untuk tetap tinggal di desanya. Terkadang aku bahagia bisa di sini menikmati waktu bersama keluargaku sepanjang waktu, tetapi tetap saja ada pikiran yang mengganjal di otakku tentang kehidupan orang-orang di desaku. Jujur saja aku juga merindukan Raden Kaningrat bagaimana keadaan mereka sekarang di sana apakah baik-baik saja.“Mbak, apa yang menganggu pikiranmu itu?” tanya Damar setelah aku ikut membantunya berkeliling mengobati orang-orang.“Ah, tidak ada. Hanya sedikit lelah saja,” jawabku singkat. Jika dilihat disandingkan wajahku, Damar,
“Pakdhe...apa pakdhe pernah mengeluh tentang ini semua? Raden Sembada secara tidak langsung memaksa untuk menjagaku,” ucapku menyender ke tiang rumahnya.“Sepertinya tidak, mau bagaimanapun keluargamu baik, Danastri. Dan aku sangat bersyukur Dharma mau menjagamu secara langsung mengizinkanmu untuk
Aku berdiri mengetuk pintu di depanku, tidak ada suara dari dalam sana. Ku coba menengok ke dalam rumah itu melalui jendela sampai menemukan seseorang yang berjalan ke arah pintu dan menanyai siapa yang datang.“Oh, Danastri. Ada apa datang kemari sepagi ini?” tanya gadis itu sambil menggelung ramb
Raden Airlangga tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, “Astaga Danastri pipimu sangat merah. Ada apa ini? Jujur saja kamu pasti menyukaiku, kan?”“Aku kaget kamu bertanya seperti itu, Airlangga!”“Hahaha...Huh...jika kamu menyukaiku aku harus bertarung melawan Kaningrat,” ujarnya dengan wajah se
Atma melirik ke arahku setelah Barga pulang beberapa saat lalu, sedangkan aku sibuk melahap ikan bakar buatan Barga yang dia masak untukku di sela-sela mereka berdua menginterogasiku macam-macam tadi.“Danastri, apa kamu menyukai Raden Airlangga?” tanyanya tenang.Aku yang mendengarnya langsung ter







