Partager

Bab 23 Temani?

Auteur: Namorae
last update Date de publication: 2026-09-29 13:37:58

Althea terdiam. Ia menatap Naren yang kini kembali memejamkan mata. Entah mengapa, permintaan sederhana itu justru membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Temani?" ulang Althea memastikan.

Naren mengangguk kecil. "Saya takut kenapa-kenapa kalau sendirian di sini. Tolong temani sebentar saja."

Althea menghela napas. "Bapak ini manja juga kalau sedang sakit."

Naren membuka matanya dan menatap wanita itu datar. "Saya sedang tidak punya tenaga untuk berdebat, Althea Roselyn."

A
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 59 Tidak ingat?

    Althea sontak membeku ketika mendengar suara yang berasal dari balik pintu kamarnya. Matanya membulat, sementara tangannya yang masih menggenggam ponsel perlahan turun ke samping tubuh. Ia mengenali suara itu dengan sangat baik. Suara datar yang biasanya terdengar setiap kali atasannya tersebut memberikan perintah di kantor. 'Ya Tuhan, kenapa dia kembali lagi? Apa masih ada sesuatu yang belum selesai?' batinnya, panik. Althea menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap layar ponselnya. Lisa yang masih berada di seberang telepon rupanya ikut mendengar suara tersebut. Alih-alih merasa prihatin, wanita itu justru mengeluarkan tawa kecil yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Althea. "Astaga, Althea! Jangan bilang Pak Naren sedang berada di depan pintu kamarmu!" Althea hanya mendengus, tanpa pikir panjang ia segera mematikan telepon itu dan berjalan menuju ke arah pintu. Ia menghela napas panjang sebelum memberanikan diri untuk melihat bosnya itu. " Eh, pak Naren. Ada apa ya? "

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 58 Elak

    Naren menatap Althea dengan tatapan datar. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu semalam pulang dalam keadaan mabuk, bahkan hampir tidak mampu berdiri tanpa bantuan Lisa. Belum lagi ocehannya yang tidak berhenti sepanjang perjalanan menuju kamar apartemen. "Kamu benar-benar tidak ingat?" tanyanya, memastikan. Althea menggelengkan kepala dengan ragu. "Saya ingat pergi minum bersama Lisa. Setelah itu, kami mengobrol sebentar, lalu ...." Ia mengerutkan kening, berusaha menggali ingatannya. "Lalu saya tidak ingat lagi, Pak." Naren mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa wanita itu tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah kejadian saat mereka tiba di dalam kamar Althea. Naren akhirnya menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. "Sudahlah kalau kamu tidak ingat, kalau begitu saya ingin kembali tidur," ujarnya, lalu melangkah keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Althea. Althea masih menatap Naren yang tengah keluar dari kamarnya, ia memukul pelan kepa

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 57 Kenapa?

    Naren mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Althea yang masih sibuk memperhatikan wajahnya dengan ekspresi bingung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu hingga berani menyebutnya pria galak, padahal beberapa detik sebelumnya ia masih memujinya setampan itu."Kamu mengatakan saya pria galak?" tanyanya.Althea mengerucutkan bibirnya. Ia kembali mencubit pipi Naren pelan, kemudian menggelengkan kepala dengan ekspresi kesal."Iya iya seperti pak Naren, satu satunya pria galak yang suka marah-marah. Kalau bicara sama aku, mukanya selalu kayak orang mau makan orang. Apalagi wajahnya selalu saja dingin seperti batu es. " Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Naren, menirukan ekspresi pria itu. "Sini, sini, Althea! Kerjakan ini! Althea, masuk ke ruangan saya! Althea, kenapa kamu menghindari saya?"Lisa yang berjalan di samping mereka seketika menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa. Ia tidak menyangka Althea yang biasanya cukup tenang bisa menirukan atasannya dengan

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 56 Memalukan

    Helena menatapnya tidak percaya. "Kamu benar-benar akan menolak pilihan Kakek demi wanita itu?" "Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya akan menikahi Althea." "Kalau begitu, kenapa kamu terus membelanya? Apa pentingnya wanita sepertinya?" Pertanyaan itu membuat Naren terdiam sesaat. Ia sendiri belum pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Althea. Bahkan, beberapa hari terakhir, wanita itu justru terus menghindarinya. Setiap kali Naren mencoba mendekat, Althea selalu berusaha menciptakan jarak di antara mereka, seolah-olah keberadaan dirinya adalah sesuatu yang harus dihindari. Namun, satu hal yang ia yakini adalah bahwa Althea tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Lagi pula wanita itu tidak pernah berbuat nekat untuk mendekatkan dirinya kepadanya, walau wnaita itu begitu cererwt tetapi bersamanya Naren bisa merasa nyaman,setidkanya ia tidak merasakan sepi lagi. "Karena saya tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Ibu," jawabnya. "Dan s

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 55 Tidak akan menjauh!

    Naren terdiam selama beberapa detik. Rahangnya mengeras mendengar bagaimana ibunya kembali merendahkan Althea tanpa sedikit pun merasa bersalah. Bagi Helena, status sosial dan latar belakang keluarga seolah menjadi satu-satunya hal yang menentukan kelayakan seseorang untuk berada di sisi putranya. Padahal, wanita yang terus-menerus direndahkannya itu bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan semenjak kenal wanita itu tidak pernah merayunya. "Jadi, menurut Ibu, seseorang hanya pantas dicintai kalau dia berasal dari keluarga kaya?" tanya Naren dengan suara rendah. Helena mendengus. "Jangan memutarbalikkan ucapan Ibu! Kamu tahu betul apa yang Ibu maksud. Keluarga kita bukan keluarga sembarangan, Naren. Ada nama besar yang harus kita jaga. Ibu tidak akan membiarkan seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya merusak semua yang sudah kita bangun selama ini." "Merusak?" Naren mengulang kata itu dengan senyum sinis. "Apa sebenarny

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 54 Amarah

    Naren dengan langkah tegas segera melangkah memasuki rumah mewah, rumah yang selalu ia benci. Dengan tatapan tajam dan amarah yang membara ia membuka pintu rumah itu dengan kasar. Seorang wanita paruh baya yang tengah menyesap tehnya dan membaca majalah. "Ibu!" teriak Naren.Helena yang tengah menikmati tehnya seketika mengangkat kepala. Suara bentakan yang menggema di seluruh ruangan itu membuatnya terkejut hingga hampir menjatuhkan cangkir yang berada di tangannya. Ia segera meletakkan cangkir tersebut di atas meja, kemudian menoleh ke arah sumber suara.Tatapannya langsung bertemu dengan Naren yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya, tetapi tidak ada sedikit pun ketenangan yang tersisa di wajahnya. Rahangnya mengeras, sementara kedua matanya menatap Helena dengan sorot tajam yang seolah-olah mampu membongkar seluruh kebohongan wanita itu.Helena mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak menyangka putranya akan datang tanpa pemberitahuan, te

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status