LOGIN"Hai, apa kabar?”
Albi menatap wanita yang dia sudah kenal. Wanita yang hampir empat tahun tidak bertemu dengannya. Wanita yang dulu selalu ada bersamanya dan sekarang Albi tidak tahu apa yang sedang wanita itu lakukan di rumah orang tuanya. “Baik, kamu apa kabar?” tanya Albi kembali. “Seperti yang kamu lihat, aku baik dan sangat baik. Sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu, aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan kamu,” jawab wanita itu yang ternyata bernama Kharisma. “Sepertinya kita makan siang dulu saja, nanti kalau memang kalian mau ngobrol setelah ini saja. Kasihan Aninda dan calon anaknya yang sudah ingin makan,” sahut Laila sambil terkekeh. “Boleh, maafkan Risma, Bu. Risma terlalu berantusias sehingga lupa kalau kita akan makan siang bersama.” “Tidak apa, nak. Ibu mengerti, sekarang kita makan siang dulu setelah itu kalian bisa lanjutkan mengobrol di ruang keluarga.” Laila tersenyum senang melihat respon putranya yang sepertinya begitu senang melihat kedatangan Kharisma. “Bu, siang ini Albi harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang belum beres dan bagus segera Albi selesaikan,” ujar Albi. “Mas Albi, masa ada tamu malah pamit pergi, sih.” ucap Aninda. “Pekerjaanku masih banyak sekali. Jadi aku harus segera membereskannya sebelum semuanya tambah menumpuk,” jawab Albi. “Tapi kan posisinya mas Albi adalah anak dari perusahan, jadi tidak mungkin tidak ada yang menghandle,” balas Aninda yang terus memaksa. “Aninda, meskipun itu adalah perusahaan keluarga, tapi kita tidak boleh seenaknya begitu saja. Kita juga harus memberikan contoh yang baik untuk para bawahan supaya mereka juga bisa meniru.” Laila mengusap tangan Aninda supaya berhenti bicara. Terlihat jika Kharisma terus mencuri-curi pandang pada pria yang sudah beristri itu. Saat sedang makan siang, ponsel Albi berdering. Albi melihat ternyata Nayra yang menghubunginya. “Bu, aku angkat telpon Nayra dulu.” Albi pergi meninggalkan meja makan setelah melihat Laila mengangguk. Kharisma menatap kepergian Albi sampai punggung pria yang berstatus suami itu menghilang. “Nayra? Istri dari Albi?” tanya Kharisma. “Iya, dia adalah istri dari Albi. Tapi sayangnya di mandul,” jawab Laila dengan berkata bohong. “Mandul? Kasihan sekali Albi,” sahut Kharisma. “Maka dari itu, ibu sangat kasihan sama dia. Selama ini dia selalu menunggu kedatangan seorang anak ditengah mereka. Ibu bisa merasakan bagaimana saat belum mempunyai anak, sekarang Albi harus terus bersabar.” Laila mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. “Maka dari itu, Ninda minta mbak Risma untuk mendekati Mas Albi. Ninda yakin jika mbak Risma pasti diterima oleh Mas Albi.” “Kamu ini ada-ada saja, kalau memang Albi mau dan tidak keberatan, maka mbak tidak masalah. Lalu, bagaimana dengan istrinya sekarang?” tanya Kharisma. “Tenang saja, itu semua sudah menjadi tugas ibu. Kamu fokus dekati Albi dan buat dia mau menikah dengan kamu, urusan Nayra biar ibu yang bereskan. Semua akan terjadi jika kita semua bekerjasama." Laila berkata seperti itu membuat Kharisma yakin jika dia bisa menjadi nyonya Albi. Albi kembali ke meja makan. Namun bukan untuk melanjutkan makan siangnya, melainkan untuk berpamitan pada orang-orang yang ada di meja makan terutama pada Laila. Kharisma tersenyum melihat kedatangan Albi kembali. "Bu, Albi tidak bisa terlalu lama disini, Albi harus kembali ke kantor. Albi juga ada keperluan lain nantinya," pamit Albi. "Kepentingan lain apa? apa istrinya yang meminta kamu segera pulang?" tanya Laila. "Tidak, Bu. Albi memang sudah ada rencana lain dengan Nayra. Jadi, sekarang Albi pamit untuk kembali ke kantor." "Kamu mau ke kantor sekarang, Bi?" tanya Kharisma. "Iya, maaf tidak bisa menemani kamu disini. kamu bisa bicara dengan ibu atau Aninda." "Tidak, kebetulan memang aku juga masih ada urusan lain. Aku harus bertemu dengan klien ayah, jadi aku juga mau pamit," kata Kharisma. "Tapi nak, bukankah mobil kami tadi mogok dan sekarang sedang ada dibengkel?" tanya Laila. "Astaga, aku lupa." Kharisma menepuk jidatnya sendiri. "Bukanya kantor Mas Albi dan Mbak Risma satu arah, bagaimana kalau Mas Albi antar mbak Risma dulu aja?" tanya Aninda seolah memberi jalan supaya Kharisma bisa berdekatan dengan Albi. "Iya, itu ide yang bagus. Kamu antar dulu Risma ke kantornya, setelah itu kamu bisa langsung ke kantor, Albi." "Tapi, Bu-" "Jangan menjadi orang yang pelit, Albi. Kharisma hanya menumpang sampai kantornya saja. Jadi ibu mohon, antarkan dia." Albi akhirnya mengangguk, dia langsung pergi diikuti oleh Kharisma yang tersenyum senang. Albi dan Kharisma berada di mobil yang sama lagi kali ini. Ada rasa canggung pada Albi, namun Kharisma terlihat sangat bahagia. "Aku jadi ingat saat kita dulu masih bersama, rasanya sangat bahagia," ucap Kharisma pada Albi yang kebetulan keduanya sudah berada di mobil. "Jangan bahas masalalu, itu sudah sangat lama sekali. Sekarang aku sudah mempunyai kehidupanku sendiri, jadi aku harap kamu menjauh dariku!" "Kamu membenci aku?" "Tidak, hanya saja tidak ingin mengingat masalalu. apa ada yang salah?" tanya Albi. "Apa kamu mencintai istrimu sekarang?" "Pertanyaan bodoh, tentu saja mu mencintai wanita yang sudah bersamaku sekarang." "Aku juga masih mencintai kamu, jadi, mari kita mulai dari awal lagi." ajak Kharisma. "Jangan gila! aku tidak ingin menyakiti istriku." tegas Albi. "Jika ibumu yang meminta, apa kamu akan menolak?" "Jangan bawa-bawa ibu, aku tidak ingin kamu melibatkan ibu dalam hal ini," ujar Albi. "Kita lihat saja nanti, bahkan aku bisa memberikan apa yang tidak bisa istrimu berikan sekarang."Arkhan membawa Nayra masuk ke ruangan Dokter kandungan. Awalnya Nayra menolak karena ingin mengejar suaminya, namun Arkhan mengatakan jika mereka akan mendapatkan informasi akurat jika mereka bertanya pada Dokter langsung. Ragu Nayra masuk, namun ketika mereka masuk justru Arkhan disambut hangat oleh Dokter itu. “Ada angin apa seorang Arkhan bisa masuk ruangan ku, apakah kamu ingin memeriksa istrimu ini?” tanya Dokter yang bernama Anita itu. “Jangan terus meledek, aku kesini karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.” “Tentu saja aku tahu, kamu masuk kesini pasti akan menanyakan sesuatu. Apakah tentang istrimu ini?” tanya Dokter Anita kembali. “Astaga, kami bukan pasangan suami istri,” sahut Nayra. “Bukan pasangan suami istri, lalu apakah kalian memiliki hubungan tanpa status pernikahan? Ini benar-benar gila, Arkhan!” kata Dokter Anita sambil menatap Arkhan. “Dengarkan aku dulu, jangan memotong perkataan ku begitu saja. Aku belum menanyakan sesuatu sama kamu, tapi kamu malah me
Beberapa bulan kemudian, kandungan Kharisma kini memasuki bulan ke tujuh. Kharisma senang karena sedikit demi sedikit mendapatkan perhatian dari Albi. Bukan hanya perhatian Albi saja, perhatian keluarga Albi pun tercurah padanya. Aninda yang kini sudah melahirkan pun ikut merasakan kebahagiaan itu, apalagi ketika Aninda mendengar jika Albi sekarang lebih perhatian pada Kharisma. Dari dulu memang Aninda tidak terlalu menyukai Nayra, rasa iri yang selalu ada di hati Aninda membuat Aninda sangat puas sekarang. “Mas, kamu mau kemana?” tanya Nayra. “Ada pekerjaan penting, kamu tidak usah nunggu Mas pulang. Mas tidak tahu kapan akan selesai pekerjaan hari ini,” jawab Albi yang membuat Nayra semakin bingung. “Akhir-akhir ini kamu selalu sibuk dan tidak pernah pulang teratur. Kamu juga selalu pulang telat bahkan larut malam, ada apa sebenarnya, Mas?” “Sayang, aku bekerja setiap hari untuk bisa mencukupi semua kebutuhan kamu. Jangan pernah berpikir macam-macam, aku sudah sering mengatakan
Albi benar-benar menemani Kharisma, entah kenapa sikap manja Kharisma justru diterima oleh Albi. Entah Albi sadar atau tidak, kini Albi seperti menerima Kharisma. Sudah hampir satu Minggu Albi pergi dari rumah tengah malam untuk mengikuti keinginan Kharisma, hebatnya Albi pulang ketika jam sudah menunjukan pukul empat pagi. “Mas, kamu mau kemana?” tanya Nayra yang kebetulan membuka matanya ketika Albi masih mengenakan jaket. “Kamu kenapa bangun, sayang?” bukannya menjawab Albi justru melontarkan pertanyaan. “Aku mau ke kamar mandi,” jawab Nayra sambil terburu-buru. Albi segera melepas jaket yang dia kenakan, mengenakan pakaian dengan pakaian yang semalam dia pakai. Albi duduk dengan tenang, walaupun hatinya sebenarnya sangat takut jika Nayra tahu kalau dia baru saja pulang. “Mas, gak jadi pergi? Atau kamu baru pulang?” tanya Nayra menyelidik. “Tadinya aku mau membeli sarapan, entah kenapa terasa lapar sekali,” jawab Albi dengan asal. “Kamu lapar, Mas? Kenapa nggak bangunin aku
“Mas!” panggil Nayra ketika suaminya baru saja keluar dari kamar mandi. “Kenapa? Apa masih kurang?” goda Albi sambil mengerling genit. “Apa sih, kamu ini kalau ngomong pasti ke situ-situ aja.” Albi tersenyum, dia berjalan menuju nakas dan mengambil air minum. “Lalu apa?” “Suami Kharisma itu siapa, sih? Bukannya kemarin kata Anin suami Kharisma itu dari keluarga Hartanto juga?” Mendengar pertanyaan Nayra membuat Albi langsung tersedak karena Albi memang sedang minum. Nayra mendekat dan mengusap punggung suaminya dengan lembut. Albi masih kaget dengan apa yang ditanyakan Nayra. “Kenapa sampai tersedak kek gitu, sih? Kaget banget aku tanya suami dari Kharisma?” “Bukan gitu, aku kaget aja tiba-tiba kamu tanya suami Kharisma. Ada apa?” tanya Albi mencoba bersikap biasa. “Aku bingung aja, Kharisma hamil tapi ibu bilang Kharisma ngidam mangga muda sama kamu. Apa hubungannya, coba?” “Masa sih?” Nayra mengangguk. “Baru saja aku liat ponsel kamu dan ada pesan dari ibu. Kharisma katany
“Mas, lagi liat apa, sih?” tanya Nayra yang berdiri di hadapan Albi. Albi yang sedang terus menatap ponselnya langsung mematikan ponsel itu dan menyimpannya. “Tidak, Mas kebetulan lagi periksa beberapa email yang masuk. Kamu udah darimana?” “Tadi habis dari tetangga sebelah, anaknya baru pulang dari luar negri. Aku yang sedang ada di halaman depan dipanggil dan berkunjung mencicipi beberapa oleh-oleh yang anaknya bawa,” jawab Nayra seraya duduk di samping suaminya. “Selama ini aku selalu diam dirumah, tanpa mengenal para tetangga. Rasanya sangat rugi sekali, ternyata tetangga kita baik-baik, Mas. Katanya mereka sebenarnya ingin mengajak aku untuk gabung ketika sedang berkumpul, tapi mereka agak segan sama kamu, Mas. Ada-ada aja,” imbuh Nayra. “Padahal mereka selalu menyapa Mas kalau Mas pulang atau pergi kerja,” jawab Albi sambil tersenyum. “Kalau sekali-sekali aku undang mereka ke rumah, boleh?” “Tentu saja boleh, kamu juga butuh teman ngobrol dan supaya tidak bosan juga di ruma
“Mas, aku hamil.” Albi terdiam, dia terkejut dengan apa yang dikatakan Kharisma, istri keduanya itu. “Mas, apakah kamu tidak bahagia mendengar kabar ini?” kata Kharisma kembali yang sontak membuat Albi tersadar. Albi menghela nafas panjang. “Apa yang kamu katakan itu benar?” “Apa Mas tidak percaya dengan apa yang aku katakan?” Kharisma berjalan menuju meja rias, dia mengambil alat yang tadi digunakan untuk mengecek kehamilan. Kharisma lalu memberikan alat itu pada Albi. Albi kembali diam, dia menatap benda yang kecil yang terlihat ada garis dua. Entah apa yang harus dia rasakan sekarang, apakah dia harus bahagia karena akan mempunyai anak? Atau dia harus bersedih karena anak yang akan lahir itu bukan dari rahim Nayra. “Kamu yakin ini adalah anakku?” “Apa maksud pertanyaan kamu itu, Mas? Apakah kamu pikir aku melakukan itu dengan pria lain?” Kharisma menatap tajam suaminya. “Apa kamu tidak sadar jika yang pertama kali melakukan itu adalah kamu? Aku tidak pernah tidak menyangka k







