เข้าสู่ระบบZaur tetap belum mengizinkan Aliyev masuk ke dalam rumah sebab khawatir bisa saja ini cuma tipuan.
Sementara Emina berbeda. “Saat ini Leila sedang bekerja. Sore nanti baru bisa pulang.” “Bekerja?” Aliyev menaikkan kedua alisnya. “Di mana? Sejak kapan?” Bukankah selama ini Aliyev kerap mengirim uang untuk istrinya? Kenapa istrinya masih bekerja? “Ya bekerja,” balas Emina. “Sudah cukup lama. Dia bekerja sebagai tukang masak di Istana Raja.” Aliyev tersentak. “Tukang masak?” Emina manggut. “Ya benar. Dari pada menganggur, jadi lebih baik dia ke luar rumah.” Bukan ini yang diharapkan oleh Aliyev. Selama lima tahun terakhir dia mengirimkan nafkah berupa uang supaya istrinya tetap berada di rumah. Bukan malah bekerja. Tukang masak pula. Jadi selama ini Zaur dan Emina memaksa putrinya bekerja agar ada pemasukan keluarga. Gaji Leila tak seberapa tapi setidaknya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini dilakukan karena orang satu rumah semuanya pemalas kecuali Leila. Bagaimana dengan Omar? Parah. Jangan mengharapkan apa pun dari bujang pemalas seperti dia. Kalau tidak bermalas-malasan di rumah, biasanya dia cuma nongkrong menghabiskan waktu di pasar, bukan untuk cari uang, tapi malah tidak ada kejelasan. Zaur dan Emina kadang sakit-sakitan. Meski usia mereka belum sampai enam puluh, namun karena pola hidup yang buruk, akhirnya mereka lebih suka berdiam diri di rumah tanpa bekerja. Karena itulah mereka terpaksa mempekerjakan Leila sebagai tulang punggung keluarga demi mencukupi semua kebutuhan yang ada di dalam rumah. Uang yang selama ini dikirim oleh Aliyev? Tentu saja dipakai untuk mencukupi kebutuhan semua orang. Makan, bayar semua tagihan, dan mencicil sebagian utang. Itulah kenapa saat mendengar kabar bahwa Aliyev datang dengan membawa harapan, Emina pun cukup gembira. Dia berkata senang, “Silakan kau bertemu dengan dia nanti setelah dia pulang bekerja. Kau mendapat izin dariku tentu saja.” Karena saat ini Leila tidak ada di rumah, Aliyev pun memutuskan untuk pergi. “Eh, kau mau ke mana, Aliyev?” tanya Emina buru-buru. “Pergi ke kota.” Tanpa ragu Emina berkata. “Bukankah kau punya uang? Aku melihat ada jam tangan keluaran terbaru di postingan media sosial. Harganya cuma lima ratus dolar.” Aliyev meminta nomor rekening Emina lalu mengirimnya uang lima ratus dolar. “Silakan Ibu membelinya. Baiklah, aku pergi dulu.” Melihat ada uang lima ratus dolar benar-benar masuk ke rekeningnya, Emina terbelalak, terus berkata dengan mulut terbuka lebar. “Astaga! Kau baik sekali, Aliyev. Terima kasih. Terima kasih.” Ketika Aliyev pergi, Emina buru-buru mengunci pintu dan segera melompat menghampiri suaminya. Di ruang keluarga dia pun memberi kabar gembira barusan. Wanita yang berusaha melawan penuaan itu berkata dengan sumringah. “Suamiku, kau lihat sendiri tadi dia memberi kita pakaian bagus seharga total dua ribu dolar. Sekarang lihatlah dia mengirimku uang lima ratus dolar.” Namun Zaur tak begitu takjub atas semuanya. Dia memang penasaran, tapi bukan berarti dia bangga terhadap pria menyedihkan itu. Selama ini Aliyev mengirim uang setidaknya seribu dolar, terkadang sampai lima ribu dolar, per enam bulan. Itu angka yang tidak sedikit. Gaji Leila saja sebulan cuma 200 dolar. Jika Aliyev mengirim uang seribu dua ratus dolar, artinya sudah cukup untuk enam bulan ke depan. Tapi piciknya dua orang tua ini malah tetap saja mempekerjakan putrinya sendiri. Dan diperparah oleh Omar masih saja hobi menganggur. Emina melepaskan senyum riang. Dia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi marketplace dan segera memesan jam kesukaannya. Dia bekata pada suaminya. “Apa kau tidak ingin dibelikan sesuatu darinya? Ayolah jangan menolak rezeki, suamiku! Mumpung dia punya uang.” Namun Zaur belum bisa menerima realita dan belum bisa melupakan segala kesalahan pria sampah itu. “Dia tiga tahun menyusahkan keluarga kita. Dia cuma benalu. Jadi apa yang dia berikan tidak akan pernah cukup. Uang dan barang yang dia berikan tidak akan pernah mengobati hatiku. Bagaimana pun dia tetap sampah di mataku.” Benar juga menurut Emina. Selama tiga tahun Aliyev cuma menyusahkan saja. Tidak bisa diandalkan dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Memang sudah berlalu tapi luka itu masih belum sembuh. Tidak lama kemudian Omar pulang dari pasar. Jangan ditanya dia membawa apa karena dia tidak mungkin membawa apa-apa. “Omar, apa kau masih ingat dengan ipar mu yang menyedihkan? Lihatlah dia membelikan mu pakaian mahal!” Emina melempar bungkusan tadi untuk putranya. Omar langsung menangkapnya dengan kedua tangannya. “Wah! Bagus juga! Serius ini dibelikan oleh pria tolol itu?” “Tadi dia ke rumah kita. Entah dia di mana sekarang. Mungkin sore nanti dia ke sini lagi.” Sama seperti ayahnya, Omar tetap memandang Aliyev hina. Penilaian Omar tidak akan pernah berubah selamanya. Kecuali kalau saja waktu itu Aliyev berhasil membawa satu peti emas. Omar pasti bakal membanggakannya. Omar pasti bakal menjadikan Aliyev sebagai salah satu pria terbaik sepanjang masa. Namun nyatanya Aliyev tetaplah sampah tak berguna. “Omar, bukankah sandal mu sudah rusak,” ujar Emina. “Kau bisa minta belikan yang baru sama dia.” Omar memandangi ayahnya. “Bagaimana menurut mu, Ayah? Apa dengan begini kau mau menerima dia kembali sebagai menantu?” Zaur melengos. “Kotoran tetaplah kotoran di mana pun dia berada. Kotoran tetaplah kotoran walaupun dikemas dengan bunga.” Singkat. Padat. Omar lantas duduk di samping ayah dan ibunya. Sekarang dia masih saja menganggur seperti biasanya. Tidak punya uang dan tidak bisa memberikan dampak apa pun di keluarga. Seharusnya Omar bisa menerima kehadiran Aliyev. Logikanya begitu. Sebab Aliyev sudah berubah drastis. Semestinya Omar bisa menjalin hubungan baik bersama iparnya. Hanya saja hatinya masih hitam dan keras. Persis seperti hati ayahnya. Emina berusaha menasehati dua pria itu. Dia memberi saran. “Dulu Aliyev memang pria tolol, lemah, dan tak berguna. Tapi bisa jadi dia berubah sekarang. Lagi pula uang yang dia kirim setiap enam bulan itu bisa jadi bukti bahwa dia memang berubah.” Zaur dan Omar tak menanggapi. Emina ada rasa ingin berupaya menerima kehadiran Aliyev kembali lantaran uang dan barang pemberian tersebut. “Aku rasa sebaiknya kalian berdua berusaha mengubah penilaian padanya. Siapa tahu dia memang benar-benar sudah kaya.” Meskipun Emina berupaya keras membujuk dan merayu suami dan putranya, namun dua pria itu tetap kukuh pada pendirian. Zaur dan Omar tetap keras kepala. Arah hati mereka tetap tak berubah. Jika Emina berusaha meyakinkan diri sendiri untuk menerima kehadiran Aliyev, lantas bagaimana dengan Leila? Apakah wanita cantik itu mau kembali menerima suaminya? Apakah dia masih menyimpan rasa kasih dan sayang di relung batinnya pada Aliyev? Atau mungkin malah justru tidak lagi menganggapnya sama sekali?Aliyev kemudian berjalan bersama Leila menjauh dari sekitaran istana.Leila heran ketika melihat badan pria di sampingnya ini besar dan kekar. ‘Apa ini suamiku?’ batinnya.“Aku memberi mu uang tiap enam bulan supaya kau tidak perlu keluar rumah, tapi malah kau tetap bekerja?” Aliyev tak sampai hati saat melihat istrinya tampak kelelahan setelah setengah hari bekerja.Leila memandangi pepohonan yang berjejer di pinggiran jalan. “Aku rasa kau tidak perlu menanyakannya padaku, Ali. Aku berhak melakukan apa pun.”“Leila, aku masih jadi suami mu, jadi wajar kalau aku menanyakannya. Aku pikir uang yang aku berikan itu sudah cukup untuk keperluan mu sendiri.”Ya memang betul. Tapi masalahnya tiga orang lain di rumah itu juga butuh makan. Karena itulah Leila di sini untuk mencari uang tambahan.Melihat istrinya yang agak kurusan, Aliyev sedih, dan tidak menyangka setelah ditinggal pergi bukannya ada perubahan baik, tetapi justru istrinya sedikit sengsara.Selama lima tahun belakang Leila menj
Karena tidak mau menunggu lama sampai sore hari, akhirnya Aliyev pun memutuskan untuk segera menemui Leila di Istana Raja siang hari itu.Aliyev tiba di pos terdepan istana yang amat megah. Tidak ada yang bisa masuk kecuali dengan izin sepenuhnya.Tidak ada yang bisa masuk istana kecuali memang ada keperluan penting atau mesti mendapat restu dari Raja.Aliyev disambut oleh dua orang penjaga gerbang berbadan besar. “Siapa kau?”“Ada keperluan apa?”Aliyev menjawab dengan sopan. “Aku ingin bertemu dengan seseorang yang bekerja di sini. Izinkan aku masuk.”Tidak semudah itu. Apalagi kalau dilihat dari penampilannya Aliyev tampak biasa-biasa saja.Tidak terlihat seperti bangsawan atau pun orang kaya.Dan parahnya salah seorang pengawal itu pria yang agak antagonis. Dia mengernyit dan membentak. “Pergi kau dari sini! Sebelum aku pukul, sebaiknya kau angkat kaki dari sini.”Pria berkumis itu melanjutkan, “Kemarin ada juga orang seperti mu. Pura-pura jadi orang baik, padahal mau mencuri. Kau
Zaur tetap belum mengizinkan Aliyev masuk ke dalam rumah sebab khawatir bisa saja ini cuma tipuan.Sementara Emina berbeda. “Saat ini Leila sedang bekerja. Sore nanti baru bisa pulang.”“Bekerja?” Aliyev menaikkan kedua alisnya. “Di mana? Sejak kapan?”Bukankah selama ini Aliyev kerap mengirim uang untuk istrinya? Kenapa istrinya masih bekerja?“Ya bekerja,” balas Emina. “Sudah cukup lama. Dia bekerja sebagai tukang masak di Istana Raja.”Aliyev tersentak. “Tukang masak?”Emina manggut. “Ya benar. Dari pada menganggur, jadi lebih baik dia ke luar rumah.”Bukan ini yang diharapkan oleh Aliyev. Selama lima tahun terakhir dia mengirimkan nafkah berupa uang supaya istrinya tetap berada di rumah. Bukan malah bekerja. Tukang masak pula.Jadi selama ini Zaur dan Emina memaksa putrinya bekerja agar ada pemasukan keluarga. Gaji Leila tak seberapa tapi setidaknya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Ini dilakukan karena orang satu rumah semuanya pemalas kecuali Leila.Bagaimana dengan
Lantas Aliyev berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang padat dan sibuk.Menyaksikan banyak orang dengan berbagai urusan masing-masing.Tidak ada yang berubah sejak lima tahun lalu. Kecuali ada beberapa saja.Semua terlihat indah dan memikat. Tapi dari semuanya, tidak ada yang ingin dia temui, kecuali istrinya, Leila.Meskipun dia sudah dicampakkan oleh istri, mertua, dan iparnya, namun dia masih menyimpan harapan untuk kembali lagi bersama istrinya.Rindu itu tidak bisa disembunyikan dan cinta itu tidak bisa dimusnahkan.Leila adalah permata hatinya selama beberapa tahun terakhir. Wanita itu tidak mungkin dia lupakan selama-lamanya.Setelah lebih dari tiga puluh menit berjalan, akhirnya dia pun tiba di sebuah rumah tua dan jelek milik Keluarga Tasumov.Segala kenangan pahit tidak mungkin bisa terlupakan. Semua kejahatan mereka dan perlakuan tak pantas itu jelas masih tersimpan dalam ingatannya.Dulu dia dianggap rendahan dan tidak dipandang sedikit pun, namun sekarang semuanya sudah
“Hadiahnya satu peti emas!”“Musnahlah kemiskinan di keluarga kita!”“Tidak akan pernah melarat selamanya!”Setelah teriakan itu menggema di rumah buruk Keluarga Tasumov, lantas semua anggota keluarga pun melemparkan pandangan menohok ke arah Aliyev. Bergeming, perlahan lirikan mata Aliyev menangkap wajah istrinya, Leila Tasumov. Bukannya membela Aliyev yang terpojok, Leila justru mengernyit dan berkata kasar. “Suamiku! Hadiahnya satu peti emas! Satu peti emas! Apa kau mengerti?”Ada sebuah sayembara besar di Negeri Holystan. Jika ada yang mampu mengalahkan Sang Pengawal Raja dalam oktagon, maka akan mendapatkan hadiah besar : Satu peti emas! Penguasa Holystan ingin menguji seberapa kuat pengawalnya, dan kira-kira apakah ada orang yang lebih kuat lagi di negeri ini. Hadiahnya memang sangat besar, hanya saja itu akan menjadi sangat mustahil, sebab Sang Pengawal Raja adalah petarung terkuat. Maka sore ini Aliyev tertegun saat menyaksikan mertua, ipar, dan bahkan istrinya menyuruhny







