Home / Urban / SANG PETARUNG / 3. Apakah Leila masih cinta?

Share

3. Apakah Leila masih cinta?

Author: mic.assekop
last update publish date: 2025-12-22 10:42:48

Zaur tetap belum mengizinkan Aliyev masuk ke dalam rumah sebab khawatir bisa saja ini cuma tipuan.

Sementara Emina berbeda. “Saat ini Leila sedang bekerja. Sore nanti baru bisa pulang.”

“Bekerja?” Aliyev menaikkan kedua alisnya. “Di mana? Sejak kapan?”

Bukankah selama ini Aliyev kerap mengirim uang untuk istrinya? Kenapa istrinya masih bekerja?

“Ya bekerja,” balas Emina. “Sudah cukup lama. Dia bekerja sebagai tukang masak di Istana Raja.”

Aliyev tersentak. “Tukang masak?”

Emina manggut. “Ya benar. Dari pada menganggur, jadi lebih baik dia ke luar rumah.”

Bukan ini yang diharapkan oleh Aliyev. Selama lima tahun terakhir dia mengirimkan nafkah berupa uang supaya istrinya tetap berada di rumah. Bukan malah bekerja. Tukang masak pula.

Jadi selama ini Zaur dan Emina memaksa putrinya bekerja agar ada pemasukan keluarga. Gaji Leila tak seberapa tapi setidaknya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ini dilakukan karena orang satu rumah semuanya pemalas kecuali Leila.

Bagaimana dengan Omar?

Parah. Jangan mengharapkan apa pun dari bujang pemalas seperti dia.

Kalau tidak bermalas-malasan di rumah, biasanya dia cuma nongkrong menghabiskan waktu di pasar, bukan untuk cari uang, tapi malah tidak ada kejelasan.

Zaur dan Emina kadang sakit-sakitan. Meski usia mereka belum sampai enam puluh, namun karena pola hidup yang buruk, akhirnya mereka lebih suka berdiam diri di rumah tanpa bekerja.

Karena itulah mereka terpaksa mempekerjakan Leila sebagai tulang punggung keluarga demi mencukupi semua kebutuhan yang ada di dalam rumah.

Uang yang selama ini dikirim oleh Aliyev?

Tentu saja dipakai untuk mencukupi kebutuhan semua orang. Makan, bayar semua tagihan, dan mencicil sebagian utang.

Itulah kenapa saat mendengar kabar bahwa Aliyev datang dengan membawa harapan, Emina pun cukup gembira. Dia berkata senang, “Silakan kau bertemu dengan dia nanti setelah dia pulang bekerja. Kau mendapat izin dariku tentu saja.”

Karena saat ini Leila tidak ada di rumah, Aliyev pun memutuskan untuk pergi. 

“Eh, kau mau ke mana, Aliyev?” tanya Emina buru-buru.

“Pergi ke kota.”

Tanpa ragu Emina berkata. “Bukankah kau punya uang? Aku melihat ada jam tangan keluaran terbaru di postingan media sosial. Harganya cuma lima ratus dolar.”

Aliyev meminta nomor rekening Emina lalu mengirimnya uang lima ratus dolar. “Silakan Ibu membelinya. Baiklah, aku pergi dulu.”

Melihat ada uang lima ratus  dolar benar-benar masuk ke rekeningnya, Emina terbelalak, terus berkata dengan mulut terbuka lebar. “Astaga! Kau baik sekali, Aliyev. Terima kasih. Terima kasih.”

Ketika Aliyev pergi, Emina buru-buru mengunci pintu dan segera melompat menghampiri suaminya. Di ruang keluarga dia pun memberi kabar gembira barusan.

Wanita yang berusaha melawan penuaan itu berkata dengan sumringah. “Suamiku, kau lihat sendiri tadi dia memberi kita pakaian bagus seharga total dua ribu dolar. Sekarang lihatlah dia mengirimku uang lima ratus dolar.”

Namun Zaur tak begitu takjub atas semuanya. Dia memang penasaran, tapi bukan berarti dia bangga terhadap pria menyedihkan itu.

Selama ini Aliyev mengirim uang setidaknya seribu dolar, terkadang sampai lima ribu dolar, per enam bulan.

Itu angka yang tidak sedikit.

Gaji Leila saja sebulan cuma 200 dolar.

Jika Aliyev mengirim uang seribu dua ratus dolar, artinya sudah cukup untuk enam bulan ke depan.

Tapi piciknya dua orang tua ini malah tetap saja mempekerjakan putrinya sendiri. Dan diperparah oleh Omar masih saja hobi menganggur.

Emina melepaskan senyum riang. Dia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi marketplace dan segera memesan jam kesukaannya.

Dia bekata pada suaminya. “Apa kau tidak ingin dibelikan sesuatu darinya? Ayolah jangan menolak rezeki, suamiku! Mumpung dia punya uang.”

Namun Zaur belum bisa menerima realita dan belum bisa melupakan segala kesalahan pria sampah itu. “Dia tiga tahun menyusahkan keluarga kita. Dia cuma benalu. Jadi apa yang dia berikan tidak akan pernah cukup. Uang dan barang yang dia berikan tidak akan pernah mengobati hatiku. Bagaimana pun dia tetap sampah di mataku.”

Benar juga menurut Emina. Selama tiga tahun Aliyev cuma menyusahkan saja. Tidak bisa diandalkan dan tidak ada yang bisa dibanggakan.

Memang sudah berlalu tapi luka itu masih belum sembuh.

Tidak lama kemudian Omar pulang dari pasar. Jangan ditanya dia membawa apa karena dia tidak mungkin membawa apa-apa.

“Omar, apa kau masih ingat dengan ipar mu yang menyedihkan? Lihatlah dia membelikan mu pakaian mahal!” Emina melempar bungkusan tadi untuk putranya.

Omar langsung menangkapnya dengan kedua tangannya. “Wah! Bagus juga! Serius ini dibelikan oleh pria tolol itu?”

“Tadi dia ke rumah kita. Entah dia di mana sekarang. Mungkin sore nanti dia ke sini lagi.”

Sama seperti ayahnya, Omar tetap memandang Aliyev hina. Penilaian Omar tidak akan pernah berubah selamanya.

Kecuali kalau saja waktu itu Aliyev berhasil membawa satu peti emas.

Omar pasti bakal membanggakannya.

Omar pasti bakal menjadikan Aliyev sebagai salah satu pria terbaik sepanjang masa.

Namun nyatanya Aliyev tetaplah sampah tak berguna.

“Omar, bukankah sandal mu sudah rusak,” ujar Emina. “Kau bisa minta belikan yang baru sama dia.”

Omar memandangi ayahnya. “Bagaimana menurut mu, Ayah? Apa dengan begini kau mau menerima dia kembali sebagai menantu?”

Zaur melengos. “Kotoran tetaplah kotoran di mana pun dia berada. Kotoran tetaplah kotoran walaupun dikemas dengan bunga.”

Singkat. Padat.

Omar lantas duduk di samping ayah dan ibunya. Sekarang dia masih saja menganggur seperti biasanya. Tidak punya uang dan tidak bisa memberikan dampak apa pun di keluarga.

Seharusnya Omar bisa menerima kehadiran Aliyev. Logikanya begitu. Sebab Aliyev sudah berubah drastis.

Semestinya Omar bisa menjalin hubungan baik bersama iparnya. Hanya saja hatinya masih hitam dan keras. Persis seperti hati ayahnya.

Emina berusaha menasehati dua pria itu. Dia memberi saran. “Dulu Aliyev memang pria tolol, lemah, dan tak berguna. Tapi bisa jadi dia berubah sekarang. Lagi pula uang yang dia kirim setiap enam bulan itu bisa jadi bukti bahwa dia memang berubah.”

Zaur dan Omar tak menanggapi.

Emina ada rasa ingin berupaya menerima kehadiran Aliyev kembali lantaran uang dan barang pemberian tersebut. “Aku rasa sebaiknya kalian berdua berusaha mengubah penilaian padanya. Siapa tahu dia memang benar-benar sudah kaya.”

Meskipun Emina berupaya keras membujuk dan merayu suami dan putranya, namun dua pria itu tetap kukuh pada pendirian.

Zaur dan Omar tetap keras kepala. Arah hati mereka tetap tak berubah.

Jika Emina berusaha meyakinkan diri sendiri untuk menerima kehadiran Aliyev, lantas bagaimana dengan Leila?

Apakah wanita cantik itu mau kembali menerima suaminya?

Apakah dia masih menyimpan rasa kasih dan sayang di relung batinnya pada Aliyev?

Atau mungkin malah justru tidak lagi menganggapnya sama sekali?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SANG PETARUNG   50. Klimaks tragedi

    Aula batu Benteng Perbatasan bergetar hebat. Belasan pengawal elit Lembah Hitam yang mengepung Aliyev tumbang satu per satu dalam kurun waktu singkat. Aliyev bergerak bagaikan angin malam yang tak berwujud, melumpuhkan setiap petarung bayaran dengan tangkisan presisi dan pukulan balasan yang terukur. Gerakannya tidak lagi didorong oleh amarah liar, melainkan ketenangan dingin hasil tempaan murni dari almarhum Guru Murad selama lima tahun terakhir.Melihat seluruh pengawalnya tergeletak tak berdaya di atas lantai batu, Gadzi Kusanov melangkah turun dari tahtanya. Mantan Pengawal Raja Tamerlan itu memancarkan kebuasan yang liar seraya menggenggam erat belati beracun di tangan kanan dan sebilah pedang pendek di tangan kiri. Tawa parau meluncur dari tenggorokannya, bergema menakutkan di seluruh ruangan."Kau ingat momen di oktagon sayembara Kerajaan Holystan beberapa tahun lalu, Aliyev?!" bentak Gadzi seraya mengacungkan pedangnya tepat ke arah dada Aliyev. "Saat itu, kau hanyalah pria ku

  • SANG PETARUNG   49. Racun dengki

    Kekalahan memalukan di Akademi Holystan memantik api dendam yang membakar habis sisa rasa kemanusiaan dalam diri Gadzi. Malam demi malam, bayangan wajah Aliyev yang mengulurkan tangan penuh rasa iba terus menghantuinya bagaikan siksaan neraka. Bagi Gadzi, rasa kasihan dari Aliyev jauh lebih menyakitkan daripada patah tulang atau kekalahan fisik. Iri hati yang menumpuk bertahun-tahun kini telah berubah menjadi kebuasan yang membutakan hatinya. Jika ia tidak bisa menjadi murid terbaik dan menguasai Holystan, maka tidak boleh ada seorang pun yang menikmati warisan Guru Murad.Beberapa hari setelah duel tersebut, Aliyev diminta oleh perwakilan dewan olahraga ibu kota untuk menghadiri pertemuan penataan kembali regulasi bela diri di pusat kota Holystan. Tom dan Leila mendampingi Aliyev untuk mengurus administrasi kejuaraan mutlak. Kesempatan itulah yang telah lama ditunggu oleh Gadzi. Dengan kelincahan bagaikan serigala malam, Gadzi menyelinap menuju kawasan pinggiran kota, tempat Guru Mur

  • SANG PETARUNG   48. Duel kehormatan

    Bel tanda dimulainya ronde kedua bergema melintasi Holystan National Arena yang bergemuruh. Vargas keluar dari sudutnya bagaikan binatang buas yang terluka dan murka. Tanpa mengindahkan taktikal pertahanan, monster Lembah Hitam itu meluncurkan kombinasi serangan liar—pukulan atas dan tebasan siku yang membabi buta demi mengintimidasi Aliyev.Namun, Aliyev tidak lagi dapat digoyahkan. Berbekal pengamatan tajam dan ketenangan batin hasil pengasingan di Lembah Sunyi, ia membaca setiap pergerakan Vargas yang kian tidak terkontrol. Aliyev dengan anggun melangkah melingkar, menghindari terjangan-terScoped Vargas dengan perpindahan posisi kaki yang presisi.Saat Vargas melancarkan pukulan kanan penuh tenaga yang menyisakan celah besar pada pertahanan dadanya, Aliyev mengeksekusi momen tersebut. Ia merunduk di bawah ayunan lengan Vargas, lalu melancarkan serangan kombinasi mematikan: pukulan jab cepat ke wajah disusul tendangan lutut melompat (flying knee) yang tepat menghantam ulu hati Varga

  • SANG PETARUNG   47. Tatapan sang monster

    Satu bulan latihan keras di Lembah Sunyi berlalu dengan cepat. Hari yang dinantikan oleh seluruh pecinta olahraga bela diri di Kerajaan Holystan akhirnya tiba. Acara resmi penimbangan badan (official weigh-in) untuk ajang mutlak Grand Apex Championship digelar di aula megah Holystan Grand Hotel dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan gabungan.Ratusan wartawan dari berbagai media internasional memadati ruangan, sorot lampu kamera tak henti-hentinya menyambar ke arah panggung. Ketika nama Aliyev dipanggil, sang juara bertahan melangkah naik ke atas timbangan dengan tenang. Bobot fisiknya berada di angka ideal, tubuhnya tampak kencang dan dipenuhi otot yang padat tanpa ada lemak berlebih.Suasana aula mendadak menjadi dingin dan hening ketika pembawa acara memanggil nama pesaingnya: *Vargas*. Dari balik tirai hitam panggung, melangkah keluar sosok bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa. Vargas memiliki tato motif tengkorak melingkar di lehernya, dengan otot-otot tebal yang tampak m

  • SANG PETARUNG   46. Pertarungan hidup mati

    Sabetan tongkat besi membelah udara malam di dalam gudang tua pelabuhan Holystan. Dengan refleks secepat kilat, Aliyev memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, membuat ayunan tongkat musuh menghantam angin hampa. Tanpa mengulur waktu, Aliyev melancarkan pukulan balasan yang menghantam ulu hati lawan secara telak. Pria pertama mengerang kesakitan dan langsung roboh ke lantai beton.Dua anak buah Kael lainnya menggeram marah. Pria bersenjatakan pisau lipat menerjang melancarkan tusukan ke arah perut Aliyev. Namun Aliyev bergerak tangkas; ia menangkap pergelangan tangan musuh, memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi gemeretak tulang patah, lalu melemparkan tubuh pria itu menghantam tumpukan peti kemas kayu di sampingnya.Melihat anak buahnya ditumbangkan dengan mudah, Kael tidak lagi membuang kesempatan. Algojo Lembah Hitam itu melompat maju melancarkan tendangan melayang yang sangat bertenaga. Aliyev mengangkat kedua tangannya untuk menahan benturan hebat tersebut, namun dorongan t

  • SANG PETARUNG   45. Fajar baru

    Beberapa minggu berlalu sejak malam bersejarah di Holystan National Dome. Euforia kemenangan Aliyev masih terasa kuat di penjuru kota. Pusat pelatihan bela diri baru yang didirikan Aliyev dan Guru Murad mulai dipenuhi oleh ratusan pemuda berbakat yang terinspirasi oleh nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan kerendahan hati yang dipraktikkan sang juara dunia baru.Di tempat latihan, Aliyev tidak mengenakan mahkota kesombongan. Ia kerap turun langsung melatih anak-anak muda, mengajari mereka teknik dasar pertahanan diri dan pentingnya menjaga kehormatan. Tom bertindak sebagai pengelola manajemen yayasan, memastikan setiap fasilitas dapat diakses secara gratis oleh pemuda dari kalangan kurang mampu.Sementara itu, nasib Keluarga Tasumov berada di titik terendah. Rumah megah milik Zaur Tasumov telah disita oleh bank untuk menutupi kebangkrutan total akibat hutang dan skandal yang terbongkar. Zaur yang kini menderita stroke ringan terpaksa pindah ke pinggiran kota bersama Emina. Omar Tasumov

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status