Share

141. MAMA??

Author: A mum to be
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-07 18:03:11

"Gladis," suara Kael terdengar parau saat ia menghubungi sekretarisnya lewat sambungan internal kamar hotel. "Cari tahu di mana lokasi laboratorium utama mereka. Aku tahu mereka berbasis di Berlin, tapi mereka pasti punya kantor perwakilan di Zurich ini selama pameran berlangsung. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Aku ingin tahu siapa orang di balik formula ini."

Keesokan paginya, di dalam limosin mewah yang membelah jalanan Zurich yang tertutup salju tipis, Glad
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Goodnovel Awesomegirl
hahahaha kael oh kael...penasaran nih
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   370. DIA BISA HIDUP TANPAKU

    Adrian menyentak tangan Kael dengan kasar hingga terlepas. Pria paruh baya itu berjalan lebar dengan langkah kokoh menuju mobil taktis yang mesinnya sudah menderu keras di depan pintu hanggar. Kael mengepalkan tangan kuat-kuat. Menyadari keras kepala mertuanya tidak akan bisa dipatahkan, dia tidak punya pilihan lain."Sialan!" umpat Kael, lalu berlari menyusul dan melompat masuk ke dalam mobil yang sama. Malam itu, serangan membabi buta tidak lagi bisa dihindari di sektor utara Berlin. Suasana gudang yang menjadi markas sayap burung perak langsung pecah oleh rentetan tembakan. Kael akhirnya mendampingi Adrian di garis paling depan. Keduanya be

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   369. TERLALU BERISIKO

    Udara dingin Berlin yang menusuk tulang langsung menyambut kedatangan Kael begitu dia menapakkan kakinya turun dari tangga jet pribadi. Di dalam sebuah hanggar tua yang terisolasi jauh di pinggiran kota, atmosfer terasa begitu mencekam. Cahaya lampu yang temaram berkedip sesekali, hanya mampu menerangi beberapa sudut ruangan yang luas, memantulkan bayangan hitam dari deretan mobil taktis antipeluru yang sudah bersiaga sejak beberapa jam lalu. Di sudut hanggar yang paling gelap, sesosok pria paruh baya dengan setelan mantel wol tebal berwarna gelap berdiri tegak. Adrian sudah menunggunya di sana dengan ekspresi wajah yang luar biasa dingin. Gurat kelelahan yang sempat terlihat saat mereka melakukan panggilan video di Singapura kini telah menguap sepen

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   368. AKAN JADI YANG TERAKHIR

    Suasana di dalam ruang tengah penthouse mendadak berubah hening. Gelak tawa yang beberapa menit lalu meramaikan ruangan kini hilang total. Semua orang terdiam di posisinya masing-masing, tidak ada yang berani bergerak atau bersuara. Hanya suara berat Kael yang terdengar menyahuti orang di seberang telepon dengan nada yang sangat dingin dan tegas. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar begitu serius. Di seberang sana, Adrian sudah menunggunya di Berlin untuk menghadapi masalah besar yang kembali melanda klan mereka. Setelah memutus panggilan telepon, Kael terdiam sejenak di dekat pintu balkon dengan rahang mengeras. Tak lama kemudian, dia melangkah menghampiri sang nenek yang duduk di sofa."Grandma..." panggil Kael lirih. Nyonya Maureen mendongak, menatap cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Wanita tua itu tersenyum getir seolah sudah memahami situasi tanpa perlu penjelasan."Aku tidak tahu, Sayang. Kalau takdir bisa

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   367. KAPAN BERAKHIRNYA?

    "Ck. Yang benar saja. Kalau kau mati, adikku otomatis jadi janda dong. Begitu anak kalian lahir, dia akan balas dendam lagi. Kapan berakhirnya ini?" Begitulah. Ganda mengomel dengan wajah yang tampak sangat frustrasi, jemarinya berulang kali menyisir rambutnya dengan kasar. Kael tidak langsung menjawab. Pria itu menatap lurus ke depan, memperhatikan siluet kota Singapura yang mulai benderang di bawah terik siang."Aku dan ayahmu sedang berusaha memutus mata rantainya," jawab Kael kemudian dengan wajah yang teramat serius, suaranya terdengar berat dan dalam."Sampai kapan?" tanya Ganda lagi, menuntut kepastian yang selama ini tidak ada habisnya. "Aku harus turun tangan.""Jangan gegabah!" sergah Kael cepat. Sorot matanya menajam, mengunci pandangan Ganda dengan aura intimidasi yang kuat. "Jangan menambah masalah baru, Ganda." Obrolan berat di ruang tengah itu akhirnya menguap begitu saja, tidak mencapai akhir yang memuaskan bagi kedua belah pihak.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   366. SUAP-SUAPAN

    "Lakukan sesuai instruksi." Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, Kael langsung memutus panggilannya tanpa menunggu balasan dari seberang saluran. Dia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dengan gerakan tenang, namun sorot matanya sempat menegang selama beberapa detik. Kael kemudian melirik ke arah Sabrina yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tampak tegang, jemarinya meremas pinggiran gaun rumahannya dengan pandangan mata yang dipenuhi kecemasan. Menyadari kegelisahan sang istri, Kael segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Dia mengusap punggung Sabrina perlahan."Sayang, Aliz sedang menanti suapanmu."&nbs

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   365. PELAN-PELAN, KAEL

    Sabrina tidak menjawab dengan kata-kata. Di tengah napasnya yang mulai memburu, dia hanya bisa mengangguk pasrah seraya mengalihkan pandangannya ke arah samping. Detik berikutnya, Kael menarik tubuh istrinya itu tanpa jarak, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang dalam, lembut, dan sarat akan kerinduan yang membakar selama dua minggu ini."Kael, pelan-pelan... anak kita," bisik Sabrina terengah-engah saat kecupan itu terurai sejenak.Kael terkekeh rendah, suaranya terdengar begitu seksi di telinga Sabrina. "Aku tahu, Sayang. Aku akan sangat berhati-hati." Percintaan mereka mengalir dengan lambat dan penuh kelembutan di dalam kamar yang temaram itu. Kael memperlakukan Sabrina layakny

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   344. MARI KITA COBA

    “Kael?”“Eh, ya?” gumam Kael dengan suaranya yang terdengar gugup.“Kau kenapa sih sebenarnya?” tanya Sabrina mulai cemberut. “Kalau kau tidak mau, ya sudah. Kita istirahat saja.”

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   343. MAU RASA APA?

    “Apa kau marah?” Kael tidak menjawab. Pria tegap itu hanya meremas lembut tangan Sabrina yang sedari tadi berada di dalam genggamannya. Ya. Mereka tidak jadi bercinta karena memang tak punya alat pengaman yang dipinta Sabrina. Jelas saja begitu, mengingat baru tadi mereka me

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   342. TIDAK PERCAYA DIRI

    Keheningan mendadak menyergap kamar tidur bernuansa kayu estetis itu setelah pertanyaan Sabrina terlontar. Gerakan ibu jari Kael yang semula mengusap pipi Sabrina langsung terhenti selama beberapa detik. Sepasang manik mata elangnya yang tadi menatap teduh kini berubah menjadi intens, seolah sedang

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   341. APA KAU INGIN...?

    “Ahhh...Kael,” desah Sabrina lirih. Suaranya menggema pelan di dalam kamar mandi berukuran raksasa tersebut. Uap hangat mengepul tipis dari bathtub besar berbahan batu alam yang menghadap l

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status