تسجيل الدخول"Benar-benar tidak sopan! Kau pikir aku ini pelayan yang bisa kau suruh pergi begitu saja?" Sabrina mengomel tanpa henti di depan pintu unit apartemen Kael. Suaranya melengking di koridor yang sepi, menunjukkan betapa dongkol perasaannya sejak panggilan telepon tadi diputus sepihak. Setelah beberapa detik penuh keheningan yang menyebalkan, pintu di hadapannya terbuka sedikit. Namun, hanya menampakkan kepala Kael dengan rambut acak-acakan dan mata yang tampak enggan terbuka sempurna."Kau mengganggu saja," gumamnya parau.“Dasar tidak tahu diri!!”Brak! Tanpa aba-aba, Sabrina refleks menendang pintu itu hingga terbuka sempurna, membuat Kael nyaris terjungkal ke belakang. Dengan langkah penuh amarah, Sabrina masuk dan meletak
Keheningan di koridor apartemen itu terasa alot. Bagaimana tidak. Dua pria berdiri berhadapan di depan pintu unit apartemen Sabrina, sama-sama diam, sama-sama menilai. Sabrina menarik napas panjang. Jika mereka tetap berdiri di lorong seperti ini, situasinya pasti akan meledak.“Masuklah,” ucap Sabrina pada akhirnya, mencoba terdengar tenang. “Tidak enak bicara di lorong. Nanti tetangga bisa terganggu.”Daniel mengangguk santai. “Baiklah.” Pria itu melangkah masuk lebih dulu dengan pembawaan yang tetap rileks, seolah tidak ada ketegangan apa pun di udara. Beberapa detik kemudian Kael menyusul. Langkahnya lebih lambat, lebih berat. Kehadirannya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit. Sabrina buru-buru menuju dapur terbuka. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil teko kaca dan mulai menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Ia mencoba terlihat sibuk, tetapi dari sudut matanya ia bisa merasakan satu hal dengan jelas.
“Mama sendirian di sini. Mama akan sangat merindukanmu, Sayang,” rengek Sabrina dengan nada manja yang dibuat-buat.Ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya, membersihkan wajah dengan kapas yang telah dibasahi cairan pembersih. Di layar ponsel yang bersandar di meja rias, wajah mungil Aliz terlihat jelas dari Singapura.“Aku juga kangen, Mama,” jawab Aliz sambil melambai kecil.Sabrina tersenyum, lalu menyipitkan mata. “Oh ya. Papa di mana?”Aliz menoleh ke belakang sebentar, lalu menjawab polos, “Pacalan sama Tante Adis!”Tangan Sabrina langsung berhenti di pipinya. “Apa?” serunya.Dari belakang layar, suara tawa Adrian langsung pecah. “Hahaha! Aduh, cucu Opa ini jujur sekali!”Sabrina lantas mengerang frustrasi.“Ayah! Tolong bilang pada Bang Ganda agar mengajari putrinya dengan benar!” protesnya. “Aku sudah susah payah mendidik Aliz dan… ah. Lihatlah dia sekarang!”Adrian masih terkekeh. “Tenanglah, Sayang. Anak kecil hanya meniru apa yang ia dengar.”“Justru itu masala
Suasana kedai es krim di sudut Jakarta itu terasa tenang, kontras dengan gemuruh yang biasanya menghantui pikiran Sabrina. Aroma vanila dan cokelat yang manis memenuhi udara, memberikan rasa nyaman yang jarang ia rasakan seperti saat ini."Sebenarnya kalau aku boleh jujur, pria keturunan Irlandia itu kurang cocok denganmu." Sabrina yang baru saja memasukkan sendok kecil es krim ke dalam mulutnya berkedip sejenak. Sensasi dingin cokelat di lidahnya seolah membeku sesaat sembari ia memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Daniel barusan."Begitu ya?" gumamnya sambil meringis kecil, mencoba menelan rasa dingin sekaligus keheranan yang muncul. Daniel lantas terkekeh, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sembari menatap Sabrina dengan tatapan teduh seorang saha
Di dalam kabin sedan perak yang hening, aroma maskulin dari parfum Daniel bercampur dengan wangi terapi yang menenangkan, menciptakan ruang kedap yang seolah memisahkan Sabrina dari hiruk-pikuk Jakarta di luar sana. Daniel sedikit memiringkan tubuhnya, memastikan wajahnya tertangkap kamera gawai Sabrina yang masih terhubung dengan Berlin."Halo, Tuan O'Shea. Saya Daniel, teman lama Sabrina sekaligus orang yang bertanggung jawab atas perjalanannya pagi ini..""Aku tidak tanya. Aku hanya ingin melihat Sabrina," potong Kael dengan nada dingin yang begitu tajam, memutus kalimat Daniel bahkan sebelum pria itu sempat menyelesaikan perkenalan formalnya. Daniel tidak terlihat tersinggung. Ia justru terkekeh pelan. Sebagai seorang psikiater, ia sangat mengenali nada
"Seharusnya kau tersanjung karena kau adalah pasienku satu-satunya yang kudatangi senekat ini."Sabrina yang duduk di samping kursi kemudi mobil Daniel saat ini mencebik. "Oh ya? Aku curiga kalau klinikmu hampir bangkrut karena cuma aku yang jadi pasienmu.""Astaga! Kau meledekku?" gumam Daniel sambil terbahak. Tawanya mengisi kabin sedan perak itu, mencairkan sedikit ketegangan yang membeku di bahu Sabrina sejak pagi tadi.Daniel perlahan meredakan tawanya, kembali ke mode profesional yang tenang namun hangat. "Tapi serius, Sab. Aku tidak akan menjemputmu kalau kau tidak menghilang dari radar klinisku selama tiga minggu. Sebagai psikiatermu, aku khawatir. Sebagai teman, aku... sedikit tersinggung."Sabrina menghela napas, menatap jalanan Jakarta yang mulai merayap padat. "Aku hanya sedang mencoba menjadi normal, Dan. Menjalani hidup tanpa harus menganalisis setiap ketakutan yang muncul di kepalaku.""Dan bagaimana hasilnya?" Daniel meliriknya seki
"Pastikan sopirku selamat terlebih dahulu. Cari dia di sekitar parit jalur belakang," ucap Kael dengan nada otoritas yang tak terbantah. Ia berbicara pada pergelangan tangannya, di mana smartwatch miliknya akhirnya menunjukkan tanda kehidupan setelah sempat mati suri. "Aku sedang bersemb
Di sinilah Sabrina sekarang. Ia terseok mengekor langkah lebar Kael menuju lift. Di dalam kotak logam yang tertutup itu, keheningan terasa mencekam. Sabrina masih berusaha menetralkan detak jantungnya sambil terus menunduk, menata
“Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?
Kael melangkah mendekat. Bukannya bertanya siapa yang baru saja keluar dari sana, ia justru melakukan hal yang tak terduga. Ia melepas jas navy mahalnya, lalu dengan gerakan kaku namun tegas, menyampirkannya ke bahu Sabrina yang masih bergetar hebat."Tuan... tidak perlu," bisik Sabrina







