LOGIN"Menjauh dari pintu, Sabi! Sekarang!" teriak Adrian, suaranya parau menembus deru angin laut Pelabuhan Merak. Tanpa menunggu jawaban putrinya, Adrian menghantamkan alat override manual universal itu ke panel kontrol elektronik di samping pintu besi. Seketika, bunyi mekanis klik yang berat terdengar, disusul oleh suara desis hidrolik yang memekakkan telinga. Pintu magnetik itu terlempar terbuka akibat tekanan udara dari dalam, menyemburkan sisa cadangan gas kuning pekat secara masif ke arah luar."Tahan maskermu, Nona!" pekik Teguh yang langsung melompat mundur bersama Adrian untuk menghindari paparan langsung. Semburan gas bertekanan tinggi itu menghantam tubuh Sabrina dengan keras. Sesuai peringatan ayahnya, dorongan udara tersebut nyaris merenggut masker respirator industrinya. Dengan sigap, Sabrina menggunakan tangan kirinya untuk menekan kuat-kuat bingkai karet maskernya ke wajah, memastikan segelnya tidak bocor oleh konsentrasi Sarin yang mematikan, sement
Kabut kuning pekat dari pelepasan cadangan gas kedua mulai bergulung liar, mengaburkan pandangan di sekitar dermaga tua Pelabuhan Merak. Aroma tajam sulfur yang bercampur dengan senyawa zat kimia lain terasa begitu pekat, mengalahkan bau amis air laut. Sabrina bergegas menarik tali masker respirator industrinya hingga menempel ketat di wajah, mengisolasi pernapasannya dari udara luar yang kini telah berubah menjadi racun mematikan. Di sampingnya, Victor dan Teguh terbatuk hebat, terpaksa mundur beberapa langkah karena hanya mengenakan masker standar anti-huru-hara yang tak mampu menyaring partikel Sarin dosis tinggi. Di tengah kepulan uap kuning itu, sesosok pria melangkah maju dari balik deretan kontainer logistik pelabuhan. Ia berjalan dengan tenang, sama sekali tidak t
Sabrina mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang tajam memindai layar monitor. Ia memperbesar gambar CCTV pada area pintu masuk gudang pelabuhan utara yang ternyata berlokasi di area dermaga tua Pelabuhan Merak. Di sana, ia tidak hanya melihat struktur bangunan tua yang kusam, melainkan sebuah anomali atmosferik yang luput dari pandangan mata awam. Ada distorsi udara yang samar, sebuah efek pelangi tipis yang membiaskan cahaya matahari pagi di sekitar ventilasi gudang."Bukan... itu bukan uap air," bisik Sabrina dengan napas tertahan. Sebagai ahli kimia murni, ia mengenali fenomena itu sebagai refractive index yang tidak wajar akibat pelepasan uap kimia korosif dalam konsentrasi tinggi.
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar Nyonya Maureen, menyapu lembut wajah Sabrina yang masih terlelap. Di atas ranjang besar dengan seprai sutra itu, Sabrina tampak begitu tenang, wajahnya yang damai membuat siapa pun akan teringat pada sosok putri tidur dalam dongeng lama. Tidak ada sisa kemarahan atau isakan pilu yang tadi malam menghancurkan jiwanya; yang tersisa hanyalah kecantikan yang rapuh di tengah badai yang belum usai. Di sudut ruangan, Nyonya Maureen berdiri memperhatikan cucunya dan gadis itu dengan tatapan sayu."Kasihan sekali. Gadis itu pasti selalu merasa terancam," kata sang nenek, suaranya parau oleh usia dan rasa prihatin. Kael hanya diam. Ia
“Victor, dengar aku baik-baik.” Suara Kael terdengar rendah namun tajam, memotong keheningan di dalam panic room yang dipenuhi deretan monitor keamanan. Ia berdiri di dekat meja kontrol sambil memegang telepon satelit dengan erat.“Tarik semua tim Alpha dari sektor timur,” lanjutnya tegas. “Pindahkan mereka ke jalur utama sekarang juga. Aku tidak ingin ada celah sekecil apa pun di area ini.” Dari seberang sambungan terdengar suara samar sang kepala keamanan. Kael melanjutkan tanpa memberi jeda.“Pantau setiap pergerakan. Jika ada kendaraan atau orang asing yang mendekat, laporkan padaku sebelum mereka melewati pagar kedua.”Ia berhenti sebentar, menatap layar yang menampilkan halaman rumah besar itu.“Dan Victor,” tambahnya dingin. &l
"Apa maksud Bang Ganda tentang operasi pembersihan itu?" Suara Sabrina memecah keheningan yang menyesakkan, matanya menatap tajam ke arah Kael yang masih menggenggam ponselnya yang sudah gelap. Kael tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan jemarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu ek seolah sedang menimbang beban rahasia yang selama ini ia pikul sendiri."Ada bagian dari sejarah keluarga kita yang sengaja dikubur agar kau bisa tidur dengan nyenyak setiap malam.""Jangan gunakan kalimat klise itu lagi," potong Sabrina cepat, nada suaranya meninggi. "Ayahku tertahan di perbatasan, dan musuhmu menggunakan namanya sebagai senjata. Aku bukan seperti Aliz, anak kecil yang hanya bisa kau beri dongeng sebelum tidur. Katakan yang sebenarnya!"
Suasana di dalam kabin sedan mewah itu berubah drastis, seolah oksigen di dalamnya mendadak tersedot habis. Cengkeraman tangan Kael pada pergelangan tangan Sabrina tidak lagi terasa seperti bentuk kecemburuan, melainkan sebuah peringatan mati yang kaku. Sabrina bisa merasakan suhu tubuh
"Maksudku... itu... bau mulutmu," kilah Kael cepat, suaranya sedikit serak. Ia membuang muka, menatap deretan buku di belakang Sabrina seolah itu benda paling menarik di dunia. "Bau cabainya tercium sampai sini. Penciumanku sangat tajam."&nb
Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Namun, lambung Sabrina masih terasa seperti disayat sembilu. Efek seblak sialan itu belum sepenuhnya hilang, meninggalkan rasa perih yang membuatnya menyerah pada kantuk. Dengan langkah gontai
"Awas kau ya!!" Suara Sabrina melengking, memecah keheningan jalanan perumahan yang mulai gelap. Ia tidak lari. Tangannya merogoh tas, menarik keluar payung lipat besi, lalu berbalik dengan cepat. Amarah yang tersisa dari k







