Share

281. RASA CEMAS

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-05-23 15:21:39

"Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat," tanya Kael lembut, memecah keheningan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Ia melangkah mendekat, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap lekat sepasang mata Sabrina yang tampak kosong.

Sabrina tersentak, buru-buru menarik napas dalam demi menguasai gemuruh di dadanya. "Aku... aku tidak apa-apa, Kael. Hanya mendadak merasa sangat lelah."

Ganda yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera mendekat sembari menggendong

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   283. APA INI MIMPI?

    Apa tadi? Sabrina merindukannya? Apa ini hanya mimpi atau bagaimana? Kael masih sibuk dengan isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala, melumpuhkan seluruh logika bisnis yang biasanya beroperasi dengan kecepatan tinggi. Seorang Sabrina yang biasanya menutup diri di balik dinding pertahanan yang tebal, barusan merengek manja dan mengaku merindukannya di depan layar ponsel. Hingga suara deheman dari Teguh dan decakan pelan Sabrina di seberang panggilan membuat pria berwajah tegas itu berkedip cepat, tersadar dari lamunan instannya."Kalau kau sibuk ya sudah. Aku pulang saja," kata Sabrina kemudian, nada suaranya mendadak berubah gengsi karena menyadari atmosfer canggung di ruangan Kael."Tunggu aku di sana." Itulah balasan Kael yang lekas mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Dalam hitungan detik, pipinya terasa panas. Jangan tanyakan bagaimana penampilan atau ekspresi sang Direktur Utama O'Shea

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   282. BELAJAR MENGENDALIKAN DIRI

    Ponsel di tangan Sabrina terasa begitu dingin, berbanding terbalik dengan darahnya yang mendadak berdesir panas akibat foto provokatif yang baru saja diterimanya. Selama beberapa detik, napasnya tertahan di tenggorokan. Rasa cemas dan cemburu yang paling primitif nyaris saja menariknya kembali ke dalam cangkang pertahanan diri yang membuatnya ingin mematikan ponsel, mengunci diri di laboratorium, dan mungkin saja akan mengabaikan Kael seperti yang biasa ia lakukan jika menghadapi konflik emosional sebelumnya. Namun, Sabrina menarik napas sedalam mungkin. Ia mencengkeram pinggiran meja laboratorium, memaksa logikanya untuk mengambil alih kendali. Tidak. Ia menolak menjadi wanita lemah yang langsung hancur hanya karena foto dari nomor asing. Setelah apa yang terjadi di bahu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   281. RASA CEMAS

    "Hei, kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat," tanya Kael lembut, memecah keheningan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Ia melangkah mendekat, menyimpan ponselnya ke dalam saku jas, lalu menatap lekat sepasang mata Sabrina yang tampak kosong.Sabrina tersentak, buru-buru menarik napas dalam demi menguasai gemuruh di dadanya. "Aku... aku tidak apa-apa, Kael. Hanya mendadak merasa sangat lelah."Ganda yang berdiri tidak jauh dari mereka, segera mendekat sembari menggendong Aliz yang sudah kembali memejamkan mata di ceruk lehernya. "Lebih baik kau segera istirahat, Sabi. Biar Aliz tidur denganku di kamar sebelah malam ini. Dan Kael, sepertinya kau juga harus pulang.""Terima kasih, Ganda," ucap Kael tulus. Setelah Ganda melangkah masuk ke dalam kamar, Kael beralih sepenuhnya pada Sabrina. Ia meraih kedua tangan gadis itu, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Jangan pikirkan u

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   280. MINTA MAAF

    Kehangatan romantis yang baru saja mereka bawa dari jalanan seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh atmosfer yang mendadak mencekam dan menegangkan begitu pintu apartemen terbuka lebar. Pemandangan di dalam ruang tengah yang luas itu membuat Kael langsung menegang sempurna dengan rahang mengeras kokoh, sementara Sabrina refleks melangkah mundur satu tapak dengan jantung yang mencelos. Di atas sofa ruang tamu, Ganda sedang duduk sembari memangku Aliz yang masih menyesuaikan diri lantaran baru saja bangun dari tidur siangnya. Namun, keberadaan mereka berdua bukanlah alasan di balik perubahan drastis ekspresi Kael. Di tengah ruangan itu, duduk sosok Nyonya Maureen yang memancarkan aura wibawa yang teramat kuat. Dan tepat di sebelah sang nenek, Rosaleen melemparkan senyu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   279. DIA BEGITU SEMPURNA

    “Ayo katakan!” Itu dikatakan Sabrina sembari memandang Kael dengan tatapan berapi-api penuh emosi yang tertahan. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya masih mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Di dalam kabin mobil yang mendadak sunyi setelah sentakan rem mendadak di bahu jalan itu, Sabrina menuntut jawaban. Kael tidak langsung membalas dengan bentakan. Menghadapi kobaran amarah dan kecemburuan yang meletup-letup dari kekasihnya, sepasang mata elang pria itu justru melunak. Ada gurat kelelahan yang nyata di sana, berbaur dengan rasa takut yang teramat besar akan kehilangan. Secara perlahan, Kael mengulurkan kedua tangannya. Ia meraih jemari Sabrina, melepaskan cengkeraman erat gadis itu dari setir mobil, lalu menggenggamnya dengan lembut namun penuh penekanan."Aku mau kau melihatku saja. Hanya fokus pada kita berdua. Bukan Rosaleen, bukan juga Daniel," ucap Kael, nadanya berangsur rendah dan teramat dalam.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   278. KENAPA HARUS BERBOHONG?

    Sabrina memaku pandangannya pada sosok Rosaleen yang baru saja melangkah masuk tanpa permisi tadi. Wanita itu memiliki garis wajah bule keturunan Irlandia yang sangat kental. Kulitnya seputih porselen, rambut pirang madu yang bergelombang alami, serta sepasang mata hijau jernih yang tampak berkilau percaya diri. Pakaian yang dikenakannya merupakan setelan blazer desainer ternama berwarna krem yang melekat sempurna di tubuh tingginya, memancarkan aura kemewahan yang teramat intimidatif. Sungguh sebuah perpaduan visual yang nyaris sempurna. Kenyataan bahwa Rosaleen adalah sosok wanita asing yang begitu memesona seketika memicu rasa minder yang halus di lubuk hati Sabrina, membuat dinding pertahanan dirinya yang sempat runtuh semalam kini kembali merapat dengan begitu kokoh."Sepertinya kalian punya urusan keluarga yang harus diselesaikan. Aku harus kembali ke laboratorium sekarang," ucap Sabrina memotong dengan nada suara yang teramat tenang dan formal. Ia segera

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   105. SANGAT CANTIK

    "Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   104. AKU HANYA INGIN IKUT

    Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   99. TIDURLAH

    Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   97. KITA BERTEMU DI KANTOR

    "Maafkan aku karena harus merepotkanmu dengan urusan ini, Sab," bisik Kael. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Sabrina. "Selesaikan ini dengan cepat, lalu segera susul aku. Kita bertemu di kantor. Aku tidak suka bekerja sendirian."&n

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status