Se connecter"Lakukan sesuai instruksi." Setelah mengucapkan kalimat pendek itu, Kael langsung memutus panggilannya tanpa menunggu balasan dari seberang saluran. Dia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dengan gerakan tenang, namun sorot matanya sempat menegang selama beberapa detik. Kael kemudian melirik ke arah Sabrina yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tampak tegang, jemarinya meremas pinggiran gaun rumahannya dengan pandangan mata yang dipenuhi kecemasan. Menyadari kegelisahan sang istri, Kael segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Dia mengusap punggung Sabrina perlahan."Sayang, Aliz sedang menanti suapanmu."&nbs
Sabrina tidak menjawab dengan kata-kata. Di tengah napasnya yang mulai memburu, dia hanya bisa mengangguk pasrah seraya mengalihkan pandangannya ke arah samping. Detik berikutnya, Kael menarik tubuh istrinya itu tanpa jarak, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang dalam, lembut, dan sarat akan kerinduan yang membakar selama dua minggu ini."Kael, pelan-pelan... anak kita," bisik Sabrina terengah-engah saat kecupan itu terurai sejenak.Kael terkekeh rendah, suaranya terdengar begitu seksi di telinga Sabrina. "Aku tahu, Sayang. Aku akan sangat berhati-hati." Percintaan mereka mengalir dengan lambat dan penuh kelembutan di dalam kamar yang temaram itu. Kael memperlakukan Sabrina layakny
Meski awalnya sempat memukul dada Kael pelan sebagai pelampiasan rasa kesalnya, Sabrina akhirnya menyerah. Tenaganya seolah terkuras habis setelah mengamuk tadi. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kael, menumpahkan sisa tangisnya di sana sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang sangat dirindukannya selama dua minggu ini. Kael mempererat pelukannya, menumpukan dagunya di atas kepala Sabrina sembari mengusap punggung sang istri dengan gerakan naik-turun yang menenangkan."Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," bisik Kael berkali-kali, mengecup pelipis Sabrina dengan penuh perasaan. Setelah beberapa menit berlalu dan tangis Sabrina mulai mereda menjadi sesenggukan kecil, Kael mulai membuka suara. Pria itu
Di sana, di atas kasur yang sama, Kael sedang berbaring miring menghadap ke arahnya. Pria itu masih mengenakan pakaian kasual yang tampak agak kusut, terlelap begitu dalam dengan gurat lelah yang amat pekat di wajah tampannya. Sabrina mengembuskan napas lega begitu tahu bahwa sang suami baik-baik saja. Kekhawatiran, ketakutan, dan bayangan buruk yang menghantuinya selama dua minggu terakhir seketika menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Tak ingin membangunkan Kael yang terlihat sangat membutuhkan istirahat, Sabrina pun hendak bangkit perlahan dari ranjang. Namun, baru saja kedua tangannya bertumpu pada kasur dan hendak menyibak sel
"Apa yang sedang mereka sembunyikan?" Pertanyaan barusan membuat Nyonya Maureen mendesah pelan. Wanita sepuh yang baru saja mengemasi kopernya itu mengangguk singkat. Dia lantas berjalan perlahan dengan bantuan tongkatnya mendekati sang cucu menantu yang saat ini sudah berada di kamarnya."Duduklah dulu, Sayang," ucap Nyonya Maureen dengan suara serak yang tenang, mencoba meredam gelombang emosi yang mulai membakar dada Sabrina. Namun, Sabrina yang keras kepala menggeleng tegas. Tubuhnya menegang, kedua tangannya terkepal di sisi gaun tidurnya, menolak mentah-mentah usaha penenangan tersebut."Jangan bilang kalau Grandma juga sebenarnya sudah tahu," tandas Sabrina dengan tatapan yang menghunjam langsung ke manik mata sang nenek. Nyonya Maureen terdiam. Dia pasrah dengan tatapan menuduh istri Kael tersebut. Kerutan di wajah senjanya tampak semakin mendalam."Apa hanya aku di sini yang tidak tahu apa-apa?" tuding Sabrina lagi. Diamnya Nyonya Maureen
"Coba saja.” Kael berucap dengan nada bariton yang sangat rendah dan berbahaya. "Dan kau akan tahu seberapa cepat aku bisa melenyapkan dirimu juga. Jangan pernah menguji kesabaranku jika itu menyangkut istriku." Rosaleen hanya menaikkan sebelah alisnya, mengulas senyum tipis yang penuh teka-teki tanpa berniat memperpanjang konfrontasi. Kael lantas segera mengalihkan pandangannya, meraih gawai taktisnya untuk mengirimkan pesan kepada Ganda di Singapura. Memberikan lampu hijau agar rencana darurat mereka segera dieksekusi demi mengamankan Sabrina ke wilayah netral sebelum faksi Berlin bergerak lebih jauh. Sementara itu, di kamar utama kediaman O'Shea di Jakarta, Sabrina masih terduduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertautan cemas. Kegelisahannya yang menyiksa mendadak terpecah saat gawai di genggamannya bergetar intens. Layar menampilkan nama sang kakak. Sabrina dengan cepat menggeser tombol hijau ke telinganya."Halo! Bang Ganda? Ada apa
Jarak yang mengikis habis di antara mereka membuat kabin laboratorium steril itu mendadak terasa begitu hangat. Sabrina bisa merasakan deru napas Kael yang menyapu permukaan kulit wajahnya, menghantarkan sengatan listrik halus yan
Apa tadi? Sabrina merindukannya? Apa ini hanya mimpi atau bagaimana? Kael masih sibuk dengan isi pikirannya. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala, melumpuhkan seluruh logika bisnis yang biasanya beroperasi dengan kecepatan tinggi. Seorang Sabrina yang bia
Sabrina : [Kael... besok jam makan siang, apa ...kau sibuk? Aku ingin bertemu.] Kael mematung di tempat duduknya, menatap layar ponsel itu dengan sepasang mata yang membelalak sempurna, sementara jantungnya mendadak berdegu
Setelah mobil sedan hitam itu menghilang sepenuhnya di balik gerbang besi tinggi, Kael kembali melangkah masuk ke dalam rumah. Aura di sekitarnya mendadak berubah dingin dan gusar, membuat para pelayan yang berpapasan dengannya re







