تسجيل الدخولRuang kerja Kael yang biasanya kaku dan dingin mendadak berubah menjadi ruang kedap udara yang memerangkap dua jiwa dalam gravitasi yang tak terelakkan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang jauh lebih berbahaya daripada fluktuasi saham mana pun. Napas Kael yang hangat terasa menyapu permukaan bibir Sabrina, membawa aroma kopi hitam dan sisa ketegangan rapat yang kini mencair menjadi gairah murni yang tak lagi bisa disembunyikan. Jemari Kael yang melingkar di tengkuk Sabrina memberikan tekanan posesif, seolah-olah ia sedang menaruh seluruh sisa tenaganya pada gadis itu, satu-satunya tempat ia bisa melepaskan topeng keangkuhannya. Sabrina memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam debaran jantung Kael yang berdentum keras di balik kemeja mahalnya. Detak itu begitu cepat, sebuah pengakuan fisik yang jujur bahwa pria sedingin es ini pun bisa luluh. Jemari Sabrina yang semula kaku di dada Kael, perlahan meremas
"Maafkan aku karena harus merepotkanmu dengan urusan ini, Sab," bisik Kael. Suaranya begitu rendah, hanya bisa didengar oleh Sabrina. "Selesaikan ini dengan cepat, lalu segera susul aku. Kita bertemu di kantor. Aku tidak suka bekerja sendirian." Sabrina mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Kael yang dalam. Ada kejujuran yang langka di sana, sebuah pengakuan bahwa Kael sebenarnya lebih menghargai keberadaan Sabrina daripada drama yang diciptakan Gladis."Saya mengerti, Tuan," jawab Sabrina lirih, pipinya merona tipis. Kael memberikan anggukan kecil, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah Gladis yang kini sedang mengepalkan tangan karena cemburu buta. Di rumah sakit, Gladis benar-benar menunjukkan sisi ratu yang menyebalkan. Ia sengaja memperlamb
Kael tidak membuang waktu satu detik pun. Ia melompat turun dari anak tangga ketiga, nyaris menabrak bahu Sabrina yang masih mematung di kaki tangga."Gladis!" seru Kael, suaranya sarat akan kepanikan yang mentah. Sabrina tersentak. Insting profesionalnya mengambil alih. Meski hatinya perih melihat reaksi berlebihan Kael, ia tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk benar-benar terjadi di bawah pengawasannya. Ia ikut berlari di belakang Kael, sepatunya mengetuk lantai dengan ritme cepat yang memacu adrenalin. Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam sana tampak kacau. Gladis tersungkur di karpet bulu di samping tempat tidurnya. Lampu meja kristal pecah berkeping-keping di dekat kakinya yang dibebat gips. Wanita itu memegang pergelangan kakinya dengan wajah y
Rumah keluarga O’Shea sudah menyambut ketiganya dengan segala fasilitas yang ada. Kael melangkah masuk ke foyer utama sambil menggendong Gladis. Langkah kakinya yang berat bergema di atas lantai marmer. Gladis, yang sejak di bandara terus mengeluh tentang nyeri yang menusuk, kini menyandarkan wajahnya di ceruk leher Kael dengan tangan yang melingkar erat, seolah-olah ia adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh pria itu. Sabrina berjalan tiga langkah di belakang mereka. Wajahnya tenang, matanya menatap lurus ke depan, sementara tangannya mendekap tablet kerja dengan mantap. Tidak ada lagi bahu yang merosot karena cemburu. Yang ada hanyalah kalkulasi asisten profesional."Kael, tangga itu..." Gladis berbisik manja saat matanya menatap tangga melingkar megah yang menuju ke lantai dua, wilayah privat Kael. "Aku tidak sanggup m
"Kael, bisakah kau bantu aku membenarkan posisi dudukku? Pinggangku rasanya kaku sekali karena tidak boleh menggerakkan kaki kanan ini sama sekali. Sakitnya sampai ke saraf tulang belakang," rintih Gladis dengan suara yang sengaja dilemahkan, serak dan penuh permohonan. Kael mendongak dari tabletnya, menghela napas pendek yang nyaris tak terdengar, lalu meletakkan perangkat elektroniknya di meja lipat. Tanpa sepatah kata pun, ia mengulurkan tangan, menyangga punggung Gladis dengan satu lengan kuatnya, sementara tangan lainnya membantu menggeser bantal penopang di bawah kaki wanita itu yang terbebat gips putih tebal."Terima kasih... kau selalu tahu bagian mana yang paling menyiksa," bisik Gladis. Ia tidak segera melepaskan pegangannya. Malah, ia sengaja membiarkan jemarinya tetap bertengger di lengan kemeja Kael, meremas kain maha
Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma karbol terasa begitu panjang bagi Sabrina. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu flat berbunyi ritmis, menciptakan gema di antara dinding-dinding putih yang pucat. Ia berjalan setengah berlari, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Ada rasa bersalah yang menghimpit dadanya, sekaligus rasa cemas yang tak tertahankan sejak ia mendengar kabar kecelakaan Gladis di dermaga. Sementara di belakangnya, Riko berjalan dengan langkah lebih tenang, namun tetap berusaha menyamai kecepatan Sabrina. Pria itu baru saja hendak mengajak Sabrina menghirup ydara pagi. Saat kabar itu datang, dan tanpa ragu, Riko menawarkan diri untuk mengantar sang gadis ke rumah sakit."Maaf ya, Sab. Aku hanya bisa mengantar sampai sini. Ada pekerjaan di kantor cabang yang harus segera kuselesaikan," ucap Riko saat me







