Share

81. UPIK ABU

Penulis: A mum to be
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 15:52:41

"Aku tidak bilang apapun," jawab Kael datar. Suaranya rendah dan sangat tenang, jenis ketenangan yang biasanya ia gunakan untuk memutus negosiasi bisnis bernilai miliaran.

Namun, jawaban barusan tidak membuat Sabrina percaya begitu saja. Ia masih bisa merasakan sisa-sisa getaran sarkasme yang menggantung di udara kabin mobil itu.

"Mas Teguh dengar 'kan? Tadi Tuan Kael sepertinya bilang sesuatu," desak Sabrina. Ia memajukan tubuhnya, mencoba menangkap pantulan ekspresi Kael dari spio
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   240. CINTA MONYET

    "Apa kau marah?" Sabrina bertanya sambil menyipitkan matanya, menatap lekat pada pria di hadapannya dengan perasaan waswas. Kael mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan wibawa kepemimpinan O’Shea yang biasa tak tergoyahkan."Kenapa kau tanya begitu?" ia malah balik bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. "Bukankah barusan kau marah-marah tidak jelas padaku?"Dengan bibir yang sedikit mengerucut, Sabrina menjawab, "Kita ’kan baru baikan. Jadi... aku merasa tidak enak jika harus menolak tawaranmu." Kael menghela napas panjang, sorot matanya melembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memberikan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya."Hei, tidak masalah kalau kau tidak bisa ikut den

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   239. SEBUAH PENGAKUAN

    Sabrina terdiam, dadanya bergemuruh hebat hingga terasa menyakitkan. Di detik itu, kesadarannya menghantam keras. Kemarahannya yang meledak-ledak bukan karena ego yang terusik, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan pria tua bangka yang paling menyebalkan dalam hidupnya ini.“Sudahlah. Sana pergi!” Kael kembali duduk lalu memalingkan wajahnya, seolah benar-benar akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Hingga kemudian...,"Aku peduli, bodoh! Aku tidak ingin kau pergi!" teriak Sabrina akhirnya, mengakui kejujurannya dengan cara yang masih penuh amarah dan sisa tangis. Kael cepat menoleh, kini tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Sabrina. Ia tetap berge

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   238. CINTA ITU BOHONG

    Setengah jam kemudian, suasana di dalam kamar Ganda terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang baru saja melanda meja makan. Pria itu baru saja merebahkan tubuhnya, berniat memejamkan mata setelah hari yang melelahkan. Namun, getaran dari gawainya di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk dari Gladis.[Rencana kita sepertinya berhasil. Tadi Sabrina bertanya padaku.] Ganda mengulas senyum tipis yang penuh arti. Ia meletakkan kembali ponselnya, menarik selimut, dan akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata, provokasi kecilnya di telepon tadi adalah bagian dari skenario yang jauh lebih besar. Keesokan paginya, Sabrina sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor. Ia telah mengirimkan seluruh laporan dan daftar tuga

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   237. TANYAKAN SAJA PADANYA

    Pesan ketus itu muncul di layar gawai Ganda tepat saat ia baru saja hendak menyuap nasi gorengnya.Kael:[Tanyakan saja padanya, adikmu yang masih sangat muda dan sok bijak itu. Kau 'kan kakaknya!] Ganda langsung meringis, nyaris tersedak. Jawaban itu lebih dari cukup untuk mengonfirmasi dugaannya. Atmosfer ruang makan yang mendadak beku dan semprotan Sabrina tadi bukanlah tanpa alasan. Dua orang keras kepala itu jelas sedang terlibat perang dingin yang cukup hebat. Ganda segera meletakkan sendoknya dan bergegas bangkit, mencoba mengejar Sabrina yang sudah melangkah cepat menuju pintu depan. Ia berniat meminta penjelasan yang lebih manusiawi daripada pesan teks Kael yang tajam. Namun, belum sempat dirinya bersuara, Sabrina sudah memberikan isyarat t

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   236. BENAR-BENAR KETERLALUAN

    Deru mesin mobil mewah itu membelah jalanan malam dengan kecepatan yang tidak wajar. Di dalam kabin, suasana yang beberapa jam lalu terasa hangat oleh sisa aroma gula kapas kini berubah mencekam. Kael mencengkeram kemudi dengan rahang yang mengeras sempurna, tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh. Sabrina duduk mematung di sampingnya. Ia berkali-kali menoleh, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan, namun setiap kali melihat profil wajah Kael yang kaku, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang mengganjal, namun di saat yang sama, harga dirinya juga terusik. Setiap kali lampu jalan menyinari kabin, mata Kael menangkap sepasang sandal karakter kucing konyol yang masih mereka kenakan. Alih-alih lucu, itu justru menjadi tamparan bagi eg

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   235. KAU TUA SEKALI YA

    Asap tipis mengepul dari panggangan jagung di pinggir jalan, membawa aroma mentega yang gurih dan bumbu pedas manis yang menggugah selera. Di atas kursi plastik biru yang sedikit goyang, Kael kini duduk dengan posisi yang sangat tidak biasa bagi pria sekelasnya. Jas mahalnya tersampir di sandaran kursi, kemeja putihnya yang masih digulung tadi tampak kontras dengan suasana pasar malam yang berdebu. Sabrina tidak bisa berhenti tertawa. Ia memegang jagung bakarnya dengan santai, sementara di sampingnya, Kael menatap tongkol jagung itu seolah sedang menghadapi dokumen audit yang paling rumit. Kael memegang jagung itu dengan ujung jarinya, sangat berhati-hati seolah satu tetes bumbu saja bisa meruntuhkan harga diri yang ia sandang."Pegang yang benar. Jangan kaku begit

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   36. SERANGAN TERENCANA??

    Lampu rotator dari mobil patroli keamanan yang berhenti di depan lobi utama berpendar merah-biru, memantul di pilar-pilar marmer yang dingin. Kael tidak menunggu petugas itu turun untuk membukakan pintu. Dengan urat leher yang men

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   35. KEHABISAN NAPAS

    "Grandma!" raungan Kael pecah. Ia tidak mengejar penyusup itu. Fokusnya tunggal. Di samping tempat tidur jati yang megah, Nyonya Maureen tergeletak tak berdaya di atas karpet Persia yang mahal. Vas bunga porselen di dekatny

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   34. SIAPA ITU?

    Suara desis dari lubang ventilasi di langit-langit ruang kerja itu mendadak berubah nada. Bukan lagi hembusan udara sejuk yang keluar, melainkan bunyi sedotan mekanis yang berat dan konstan.&n

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   33. KENAPA TANGAN TUAN GEMETAR?

    Bunyi klik kunci yang diputar Kael terasa seperti dentuman palu hakim di telinga Sabrina. Gadis itu mematung, kapas beralkohol masih menempel di lehernya, sementara matanya membelalak menatap punggung lebar Kael yang kini bersanda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status