LOGINSuara desis dari lubang ventilasi di langit-langit ruang kerja itu mendadak berubah nada. Bukan lagi hembusan udara sejuk yang keluar, melainkan bunyi sedotan mekanis yang berat dan konstan.
Kael yang baru saja hendak memeriksa ponselnya, tertegun sejenak. Ia adalah pria yang membangun sistem keamanan rumah ini dengan standar militer, dan ia tahu persis
Kael baru saja bangkit untuk mendekati monitor interkom ketika rahangnya mendadak mengeras. Di layar digital yang berpendar itu, sosok Teguh berdiri dengan raut wajah tenang sekaligus misterius."Tuan Kael," suara Teguh terdengar tertahan dan sedikit parau melalui speaker interkom. "Maaf mengganggu Anda sepagi ini, tapi ini benar-benar darurat. Saya baru saja mendapat kabar krusial dari Berlin dan ada dokumen fisik yang harus Anda lihat sekarang juga secara langsung. Ini terlalu berisiko untuk dibicarakan melalui sambungan telepon." Sabrina yang masih berdiri mematung di dekat meja makan dengan sisa sandwich di tangannya, merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melihat perubahan drastis pada Kael. Binar jahil y
Dalam hitungan detik Kael membalikkan posisi. Kini tubuhnya berada di atas Sabrina. Gadis itu pun mendengus kesal, mencoba menggerakkan bahunya yang terhimpit."Kael, lepas! Ini tidak lucu. Aku bisa mati sesak napas kalau kau terus begini!" Namun, bukannya menjauh, Kael justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sabrina, menggunakan berat tubuhnya untuk mengunci pergerakan gadis itu di atas ranjang. "Diamlah sebentar, Sab. Kau sendiri yang menerobos masuk ke kamarku dan menjatuhkan diri di sini," bisik Kael dengan suara serak khas orang bangun tidur yang terdengar begitu provokatif."Aku tidak menjatuhkan diri! Aku tersandung karpetmu yang berantakan itu!" protes Sabrina, meski fokusnya mulai buyar. Aroma parfum cedarwood yang maskulin bercampur dengan hangatnya aroma tubuh Kael benar-benar mengacaukan sistem sarafnya.Kael terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa jel
"Benar-benar tidak sopan! Kau pikir aku ini pelayan yang bisa kau suruh pergi begitu saja?" Sabrina mengomel tanpa henti di depan pintu unit apartemen Kael. Suaranya melengking di koridor yang sepi, menunjukkan betapa dongkol perasaannya sejak panggilan telepon tadi diputus sepihak. Setelah beberapa detik penuh keheningan yang menyebalkan, pintu di hadapannya terbuka sedikit. Namun, hanya menampakkan kepala Kael dengan rambut acak-acakan dan mata yang tampak enggan terbuka sempurna."Kau mengganggu saja," gumamnya parau.“Dasar tidak tahu diri!!”Brak! Tanpa aba-aba, Sabrina refleks menendang pintu itu hingga terbuka sempurna, membuat Kael nyaris terjungkal ke belakang. Dengan langkah penuh amarah, Sabrina masuk dan meletak
Keheningan di koridor apartemen itu terasa alot. Bagaimana tidak. Dua pria berdiri berhadapan di depan pintu unit apartemen Sabrina, sama-sama diam, sama-sama menilai. Sabrina menarik napas panjang. Jika mereka tetap berdiri di lorong seperti ini, situasinya pasti akan meledak.“Masuklah,” ucap Sabrina pada akhirnya, mencoba terdengar tenang. “Tidak enak bicara di lorong. Nanti tetangga bisa terganggu.”Daniel mengangguk santai. “Baiklah.” Pria itu melangkah masuk lebih dulu dengan pembawaan yang tetap rileks, seolah tidak ada ketegangan apa pun di udara. Beberapa detik kemudian Kael menyusul. Langkahnya lebih lambat, lebih berat. Kehadirannya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit. Sabrina buru-buru menuju dapur terbuka. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil teko kaca dan mulai menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Ia mencoba terlihat sibuk, tetapi dari sudut matanya ia bisa merasakan satu hal dengan jelas.
“Mama sendirian di sini. Mama akan sangat merindukanmu, Sayang,” rengek Sabrina dengan nada manja yang dibuat-buat.Ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya, membersihkan wajah dengan kapas yang telah dibasahi cairan pembersih. Di layar ponsel yang bersandar di meja rias, wajah mungil Aliz terlihat jelas dari Singapura.“Aku juga kangen, Mama,” jawab Aliz sambil melambai kecil.Sabrina tersenyum, lalu menyipitkan mata. “Oh ya. Papa di mana?”Aliz menoleh ke belakang sebentar, lalu menjawab polos, “Pacalan sama Tante Adis!”Tangan Sabrina langsung berhenti di pipinya. “Apa?” serunya.Dari belakang layar, suara tawa Adrian langsung pecah. “Hahaha! Aduh, cucu Opa ini jujur sekali!”Sabrina lantas mengerang frustrasi.“Ayah! Tolong bilang pada Bang Ganda agar mengajari putrinya dengan benar!” protesnya. “Aku sudah susah payah mendidik Aliz dan… ah. Lihatlah dia sekarang!”Adrian masih terkekeh. “Tenanglah, Sayang. Anak kecil hanya meniru apa yang ia dengar.”“Justru itu masala
Suasana kedai es krim di sudut Jakarta itu terasa tenang, kontras dengan gemuruh yang biasanya menghantui pikiran Sabrina. Aroma vanila dan cokelat yang manis memenuhi udara, memberikan rasa nyaman yang jarang ia rasakan seperti saat ini."Sebenarnya kalau aku boleh jujur, pria keturunan Irlandia itu kurang cocok denganmu." Sabrina yang baru saja memasukkan sendok kecil es krim ke dalam mulutnya berkedip sejenak. Sensasi dingin cokelat di lidahnya seolah membeku sesaat sembari ia memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Daniel barusan."Begitu ya?" gumamnya sambil meringis kecil, mencoba menelan rasa dingin sekaligus keheranan yang muncul. Daniel lantas terkekeh, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu sembari menatap Sabrina dengan tatapan teduh seorang saha
Jantung Sabrina berdegup liar, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Sosok pria di bawah lampu jalan itu, siluet yang menyalakan rokok dengan kemiringan kepala yang begitu spesifik, terlalu identik dengan han
"Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek
Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera
Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut







