Compartilhar

89. MARTABAK MANIS SPESIAL

Autor: A mum to be
last update Data de publicação: 2026-03-19 18:45:38

            Sabrina menatap kemeja putihnya di cermin. Kerah kemeja itu sedikit menekuk, bekas debu proyek di pinggiran Surabaya tadi siang masih menyisakan aroma lelah. Ia baru saja menyadari sebuah kenyataan pahit. Di dalam koper kecilnya, tidak ada satu pun pakaian yang layak untuk bersanding dengan kemewahan restoran terapung di Suramadu.

            Hadir di sana hanya aka

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   144. KAU SENGAJA YA?

    "Aku tidak heran sebenarnya. Sabrina itu cukup pintar," celetuk Gladis memecah keheningan di dalam Presidential Suite yang temaram. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Kael yang masih mematung menatap kerlap-kerlip lampu Zurich. "Dia bukan lagi karyawan rendahan yang dulu selalu menunduk padamu. Bisa jadi di Berlin sana dia bertemu dan menikah dengan pebisnis handal sepertimu. Apalagi dia ternyata cinderella yang berasal dari keluarga yang terpandang. Wajar bukan?” Kael tidak menyahut, namun rahangnya mengeras. Kata-kata Gladis barusan seperti menyiramkan bensin ke api cemburu yang sejak tadi membakar dadanya. Bayangan Sabrina didekap pria lain. Entah itu pria yang mungkin jauh lebih tampan, kaya atau berada di atasnya dalam hal apapun membuat ulu hati Kael terasa nyeri. Gladis melirik profil wajah Kael dari sa

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   143. SUAMINYA

    "Kenapa tidak bilang sih kalau kalian berurusan dengan O'Shea?" Sabrina menggerutu. Tangannya bergerak ritmis, mengusap pelan puncak kepala si kecil yang mulai mengantuk.Adrian yang duduk di kursi depan, menoleh sedikit dengan senyum kebapakan yang tenang. "Memangnya kenapa, Nak? Ini masalah bisnis. Apapun akan diterima selama membawa keuntungan bagi perusahaan kita," jawabnya dengan nada berwibawa namun lembut.Ganda, yang duduk di samping Sabrina, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Kalian mengobrol apa saja tadi? Aku lihat kau cukup lama berdiri di sana bersamanya.""Mana ada begitu," jawab Sabrina ketus. Ia memalingkan wajah, enggan memperpanjang bahasan tentang tatapan Kael yang tadi seolah ingin menguliti rahasianya.Ganda terkekeh, sengaja ingin memancing emosi adiknya. "Jangan marah begitu dong. Kau ini 'kan sudah jadi mama-mama, dan..." ia melirik jahil ke arah Sabrin

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   142. DIA SUDAH MENIKAH?

    Angin musim dingin Zurich berdesis tajam, menyapu butiran salju halus yang mendarat di atas karpet rumput sintetis taman atap gedung Pratama Group. Di sana, di bawah langit abu-abu yang menggantung rendah, waktu seolah kehilangan detaknya. Kael Mahendra O’Shea berdiri mematung, tubuhnya yang tegap terasa kaku seperti pilar batu yang tertanam di tengah badai. Beberapa meter di depannya, seorang wanita sedang berlutut di atas lantai yang dingin. Wanita itu bukan lagi bayangan rapuh yang dulu sering ia lihat dalam balutan seragam asisten yang kusam. Kini, dalam balutan long coat kasmir berwarna krem yang elegan, Sabrina tampak memancarkan otoritas yang tenang sekaligus kelembutan yang menyakitkan untuk dipandang. 

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   141. MAMA??

    "Gladis," suara Kael terdengar parau saat ia menghubungi sekretarisnya lewat sambungan internal kamar hotel. "Cari tahu di mana lokasi laboratorium utama mereka. Aku tahu mereka berbasis di Berlin, tapi mereka pasti punya kantor perwakilan di Zurich ini selama pameran berlangsung. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Aku ingin tahu siapa orang di balik formula ini." Keesokan paginya, di dalam limosin mewah yang membelah jalanan Zurich yang tertutup salju tipis, Gladis duduk dengan wajah tegang. Ia masih merasakan panas di pipinya setiap kali mengingat hinaan Ganda di malam gala. Sebagai bentuk pembalasan, ia bekerja dua kali lebih keras untuk menguliti rahasia Pratama Group."Kael, akses menuju sang inovator dijaga ketat oleh firma hukum elit," lapor Gladis sambil menyerahkan tabletnya saat mereka menuju kantor sementara Pratama di pusat kota. "Data pribadinya dikunci rapat. Bahkan para peneliti senior tidak pernah menyebut namanya. Mereka hanya memanggiln

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   140. TIGA TAHUN KEMUDIAN

    Lampu kristal raksasa di Grand Ballroom Zurich memantulkan kemewahan yang menyesakkan. Di tengah denting gelas sampanye, paviliun Pratama Group berdiri angkuh. Ganda memegang sebuah tabung kecil berisi cairan polimer bening yang berkilau di bawah lampu sorot."Material ini bukan sekadar penemuan, ini adalah masa depan industri otomotif dunia," suara Ganda bergema penuh otoritas. Kael O’Shea melangkah maju, membelah kerumunan dengan auranya yang mengintimidasi."Presentasi yang cukup dramatis, Ganda. Aku ingin spesifikasi teknisnya. Jika material ini sehebat klaimmu, O’Shea Corp siap membicarakan kontrak eksklusif." Ganda menoleh, senyum tipis yang menghina tersungging di bibirnya. Ia melirik jam tangan Patek Philippe edisi terbatas di pergelangan tangannya, sebuah simbol kesuksesan yang mustahil ia miliki saat perusahaannya nyaris kolaps beberapa musim lalu."Eksklusif? Kau terlambat, Kael. Slot untuk Asia sudah hampir habis dipesan oleh konsorsium

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   139. GARIS CINTA DAN BENCI

    "Saya bisa jalan sendiri." Suara Sabrina serak, nyaris habis, namun ada sisa harga diri yang tajam saat para pelayan O’Shea hendak menyentuh lengannya. Ia melangkah keluar dari ruang medis dengan tungkai yang bergetar hebat. Victor yang berdiri di ujung koridor, menunduk dalam tanpa berani menatap matanya. Sabrina tidak menoleh. Matanya terus mencuri pandang ke lantai dua, tertuju pada jendela ruang kerja Kael. Tirai itu tertutup rapat. Pria itu tidak muncul. Hingga kaki Sabrina menginjak helipad di halaman belakang untuk transit menuju bandara, jendela itu tetap bisu."Nona, jet pribadi sudah menunggu di Halim. Semuanya sudah siap," ujar Victor sembari membukakan pintu kabin helikopter. Sabrina berhenti di anak tangga terakhir. Ia menatap rumah megah yang selama beberapa bulan ini menjadi penjara sekaligus tempat hatinya hancur. Di balik jendela lantai dua, ia menangkap bayangan siluet yang berdiri kaku."Dia ada di sana ‘kan?" bisik Sabrina entah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status