登入"Jangan terkejut. Itu pemandangan yang biasa, Sab."
Kalimat yang dilontarkan oleh Riko memecah keheningan balkon di kamar tersebut. Suaranya rendah, nyaris teredam oleh deru angin laut yang membawa aroma garam dari Selat Madura.
Riko tetap tenang, menyandarkan punggungnya pada pagar balkon sambil menyesap sisa kopi hitam yang
"Seharusnya kau tersanjung karena kau adalah pasienku satu-satunya yang kudatangi senekat ini."Sabrina yang duduk di samping kursi kemudi mobil Daniel saat ini mencebik. "Oh ya? Aku curiga kalau klinikmu hampir bangkrut karena cuma aku yang jadi pasienmu.""Astaga! Kau meledekku?" gumam Daniel sambil terbahak. Tawanya mengisi kabin sedan perak itu, mencairkan sedikit ketegangan yang membeku di bahu Sabrina sejak pagi tadi.Daniel perlahan meredakan tawanya, kembali ke mode profesional yang tenang namun hangat. "Tapi serius, Sab. Aku tidak akan menjemputmu kalau kau tidak menghilang dari radar klinisku selama tiga minggu. Sebagai psikiatermu, aku khawatir. Sebagai teman, aku... sedikit tersinggung."Sabrina menghela napas, menatap jalanan Jakarta yang mulai merayap padat. "Aku hanya sedang mencoba menjadi normal, Dan. Menjalani hidup tanpa harus menganalisis setiap ketakutan yang muncul di kepalaku.""Dan bagaimana hasilnya?" Daniel meliriknya seki
"Tolong pastikan semua dokumen kerja sama dengan Grup Müller sudah siap di meja ruang kerja saya besok pagi pukul tujuh," suara bariton Kael memecah keheningan lobi apartemen mewahnya di Berlin. Ya. Berlin menyambutnya dengan suhu yang jauh lebih rendah daripada kelembapan Jakarta yang biasa ia hirup. Pukul sembilan malam waktu setempat, ia melangkah masuk ke dalam unit pribadinya yang terletak di jantung kota."Baik, Tuan O'Shea. Semua sudah diatur," jawab anak buahnya, sembari mengambil mantel wol milik Kael. "Apakah ada tambahan lain untuk pertemuan makan malam besok?"Kael menghela napas, langkahnya terasa berat di atas lantai marmer yang dingin. "Batalkan agenda tambahan. Saya ingin istirahat total. Dan, pastikan tidak ada panggilan masuk kecuali itu masalah hidup dan mati.""Tuan tampak sangat lelah," Pria yang membersamainya itu memberanikan diri berujar. "Apa penerbangannya ti
Mobil yang dikemudikan Sabrina membelah jalanan Jakarta dengan ritme yang tenang, sangat kontras dengan dentum jantung di balik dadanya yang masih belum mau mereda. Ketika lampu merah menyala, Sabrina menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin, menatap deretan bangunan yang tampak buram. Pikirannya melayang kembali ke kabin jet pribadi beberapa menit yang lalu, ke arah sepasang mata abu-abu yang membelalak kaget dan rasa hangat pipi Kael yang sempat bersentuhan dengan bibirnya.“Bodoh, Sab. Kau ini benar-benar bodoh,” bisiknya pada diri sendiri, menutupi wajahnya yang memanas dengan kedua telapak tangan. Ya. Sabrina merutuki aksi dadakannya tadi. Bagaimana bisa ia melakukan hal seberani itu? Ia adalah gadis yang biasanya lebih suka berdebat dengan logika daripada menyerah pada perasaan. Namun tadi, di depan pria yang p
"Apa kau marah?" Sabrina bertanya sambil menyipitkan matanya, menatap lekat pada pria di hadapannya dengan perasaan waswas. Kael mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan wibawa kepemimpinan O’Shea yang biasa tak tergoyahkan."Kenapa kau tanya begitu?" ia malah balik bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. "Bukankah barusan kau marah-marah tidak jelas padaku?"Dengan bibir yang sedikit mengerucut, Sabrina menjawab, "Kita ’kan baru baikan. Jadi... aku merasa tidak enak jika harus menolak tawaranmu." Kael menghela napas panjang, sorot matanya melembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memberikan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya."Hei, tidak masalah kalau kau tidak bisa ikut den
Sabrina terdiam, dadanya bergemuruh hebat hingga terasa menyakitkan. Di detik itu, kesadarannya menghantam keras. Kemarahannya yang meledak-ledak bukan karena ego yang terusik, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan pria tua bangka yang paling menyebalkan dalam hidupnya ini.“Sudahlah. Sana pergi!” Kael kembali duduk lalu memalingkan wajahnya, seolah benar-benar akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Hingga kemudian...,"Aku peduli, bodoh! Aku tidak ingin kau pergi!" teriak Sabrina akhirnya, mengakui kejujurannya dengan cara yang masih penuh amarah dan sisa tangis. Kael cepat menoleh, kini tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Sabrina. Ia tetap berge
Setengah jam kemudian, suasana di dalam kamar Ganda terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang baru saja melanda meja makan. Pria itu baru saja merebahkan tubuhnya, berniat memejamkan mata setelah hari yang melelahkan. Namun, getaran dari gawainya di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk dari Gladis.[Rencana kita sepertinya berhasil. Tadi Sabrina bertanya padaku.] Ganda mengulas senyum tipis yang penuh arti. Ia meletakkan kembali ponselnya, menarik selimut, dan akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata, provokasi kecilnya di telepon tadi adalah bagian dari skenario yang jauh lebih besar. Keesokan paginya, Sabrina sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor. Ia telah mengirimkan seluruh laporan dan daftar tuga
"Kalian lama sekali," desis Kael dengan suara rendah yang mengiris udara. Matanya yang keabuan menatap tajam ke arah komandan tim keamanan yang baru saja melompat turun dari mobil taktis. "Satu menit lebih lambat, dan kalian hanya akan menemukan tumpukan abu di gedung ini."
"Pastikan sopirku selamat terlebih dahulu. Cari dia di sekitar parit jalur belakang," ucap Kael dengan nada otoritas yang tak terbantah. Ia berbicara pada pergelangan tangannya, di mana smartwatch miliknya akhirnya menunjukkan tanda kehidupan setelah sempat mati suri. "Aku sedang bersemb
Di sinilah Sabrina sekarang. Ia terseok mengekor langkah lebar Kael menuju lift. Di dalam kotak logam yang tertutup itu, keheningan terasa mencekam. Sabrina masih berusaha menetralkan detak jantungnya sambil terus menunduk, menata
“Sadar, Sabrina Sableng! Sabrina gendeng!” Sabrina terus merutuki diri. Entah sudah berapa kali gadis itu menepuk pipinya kanan dan kiri. Berharap yang barusan hanyalah mimpi, tetapi kenapa rasanya panas ya?







