หน้าหลัก / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 111. NATHAN PERGI, MORGAN NEKAT KE PENTHOUSE NATHAN UNTUK MENEMUI CINDY!

แชร์

111. NATHAN PERGI, MORGAN NEKAT KE PENTHOUSE NATHAN UNTUK MENEMUI CINDY!

ผู้เขียน: Dara Tresna Anjasmara
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-15 16:40:33

Cindy menunduk, mencoba menyembunyikan getar kecil di jarinya.

“Nanti cepet pulang ya,” ucapnya lebih pelan, nyaris memohon. “Aku… nggak mau sendirian. Um.... aku masak banyak.”

Nathan menatapnya, kali ini lebih lama. Senyumnya masih ada, tapi sorot matanya berubah, penuh tanda tanya.

“Kamu kenapa, Sayang?”

Cindy cepat-cepat menggeleng. Ia memaksa tersenyum lagi, meski sudut matanya terasa panas.

“Nggak kenapa-kenapa. Aku cuma pengin kamu cepat pulang. Jangan lama di gym.”

Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Nathan, lalu menyentuh dada Nathan sebentar—gerakan kecil, seolah menenangkan, padahal ia sendiri sedang berusaha bertahan. Lalu Nathan memeluknya sebelum benar-benar pergi.

Nathan akhirnya menghela napas kecil, mengalah.

“Ya udah,” ucapnya lembut. “Tunggu aku pulang.”

“Iya,” jawab Cindy cepat.

Saat Nathan kembali meraih gagang pintu, Cindy mundur setengah langkah tanpa sadar. Begitu pintu tertutup, bahunya langsung turun, seolah baru saja lolos dari s
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   118. YANG SEBENARNYA TERJADI PADA CINDY MALAM ITU

    ​“Ngapain kamu ke sini?!” bentak Cindy pada Morgan. Suaranya tertahan, nyaris berupa bisikan tajam agar seolah bisikan itu bisa terdengar oleh Nathan. ​“Aku cuma mau dateng, Sayang. Cuma mau ngobrol biasa…,” ucap Morgan dengan senyum miring yang meremehkan. Ia menahan daun pintu itu dengan satu tangan, mencegah Cindy menutup aksesnya. ​“Nggak! Nggak bisa! Pergi, Mas! Pergi dari sini atau kamu—” Kalimat Cindy terputus. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong pintu, namun wajahnya kini memerah karena panik dan kelelahan. ​“Atau apa, hmm?” tanya Morgan dengan nada rendah yang menggoda sekaligus mengancam. ​Tanpa perlu banyak tenaga, Morgan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, membuat tubuh Cindy terhuyung mundur. Morgan melangkah masuk dengan leluasa, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang mematikan. Cindy yang mulai terdesak segera mundur, matanya liar mencari benda apa pun yang bisa ia jadikan alat pertahanan diri—atau mungkin senjata. ​“Sayang…” p

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   117. TAKUT SAMA MORGAN, CINDY MINTA PINDAH KE RUKO?

    “Soal apa, Tante?” tanya Nathan penasaran. Di sampingnya, Cindy tampak menegang. Jari-jarinya saling bertaut, napasnya sedikit tertahan, seolah tak siap mendengar lanjutan kalimat itu. “Soal…,” bibinya menggantungkan ucapan, tatapannya meredup sejenak. “Ma, jangan deh,” sela pamannya cepat sambil menggeleng pelan. “Nggak enak sama Cindy…,” lanjutnya, lalu kembali mengunyah makanannya, berusaha mengalihkan suasana. Namun diam yang tersisa justru terasa lebih berat, membuat Cindy semakin gelisah. “Iya sih… maaf ya, Nathan, Cindy,” ucap bibinya pelan. Nada suaranya melunak. “Tante seharusnya mendinginkan suasana, bukan malah membuka hal-hal yang bikin nggak nyaman. Maaf ya…” Ia tersenyum kecil, mencoba menepis sisa kegelisahan yang sempat menggantung di udara. “Ah, sudahlah. Pokoknya fokus aja sama perjalanan kalian ini. Tante doain ke depannya nggak ada lagi masalah yang nggak bisa kalian selesaikan bersama, ya.” Cindy dan Nathan mengangguk pelan. Nathan meremas tangan Cin

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   116. LUKA LAMA YANG AKAN DIBUKA OLEH OM DAN TANTE NATHAN MENGENAI CINDY?

    “Iya, Om, Tante. Jadi… aku ke sini mau minta tolong sama Om dan Tante,” ucap Nathan pelan, namun terdengar mantap. Tangannya masih menggenggam tangan Cindy, seolah memberi kekuatan. “Kami mau menikah lagi dan butuh saksi sekaligus wali. Karena… Papa sama Mama sudah tidak akan memberi respons apa pun.” Senyum tipis masih bertahan di wajah Nathan, meski matanya menyiratkan lelah yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Um…” Paman dan bibinya bersuara hampir bersamaan. Keduanya saling pandang sejenak, lalu mengangguk pelan. Ada jeda sunyi di antara mereka—hening yang sarat makna, seolah masing-masing tengah menimbang beban keputusan yang akan diambil, sekaligus memahami luka yang dibawa Nathan dan Cindy ke hadapan mereka. “Ya sudah, kapan kalian nikah? Di gedung mana? Atau di apartemen?” tanya pamannya sambil tersenyum hangat, menatap Nathan dan Cindy bergantian. “Jadi… Om mau?” tanya Nathan lirih, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar,

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   115. MINTA TOLONG

    “Iya, Bude… masih ingat sama aku?” tanya Cindy sambil tersenyum, nada suaranya sopan namun hangat. “Oalah… ternyata bener toh,” sahut sang Bude sambil menatap Cindy dari ujung kepala hingga kaki. Senyum lebarnya mengembang. “Sekarang makin cantik aja.” Ia lalu bertepuk tangan kecil. “Ayo, ayo… anu… Om sama Tante ada di lantai atas. Ayo.” Tanpa menunggu lama, Bude itu segera memimpin jalan. Tangga melingkar yang elegan mereka naiki bersama hingga tiba di lantai dua. Setibanya di atas, pembantu rumah tangga itu mengetuk pintu ruang keluarga. “Permisi… ada tamu,” ucapnya sopan. “Siapa, Bude?” tanya Anggi—Tante Nathan—dari dalam ruangan. “Mas Nathan sama…” Pembantu itu tersenyum lebar, lalu mengangkat ibu jarinya ke arah mereka berdua. “...mantan istrinya.” “Oh?” Anggi menoleh, lalu matanya membesar saat melihat keduanya. “Nathan? Cindy?” Nada suaranya terdengar campur aduk—terkejut, senang, sekaligus seolah memastikan apa yang dilihatnya nyata. Nathan dan Cindy segera

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   114. NATHAN MENGAJAK CINDY MENEMUI SESEORANG.

    “Kalau kamu masih belum siap buat cerita, seenggaknya jangan buat aku terus penasaran, Sayang,” ucap Nathan pelan sambil berlutut di hadapan Cindy, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. “Aku cuma nggak tahu harus cerita apa, Sayang. Aku bingung…” sahut Cindy lirih. Tangannya terangkat mengusap sisa air mata yang jatuh, napasnya terdengar tak beraturan. “Aku minta maaf kalau sudah bikin kamu khawatir,” lanjut Cindy, suaranya nyaris hilang, seolah rasa bersalah menekan dadanya lebih kuat dari yang bisa ia tahan. Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Ya udah. Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa. Aku ngerti, kok. Mungkin kamu memang butuh waktu,” ucapnya lembut, namun matanya menyimpan kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Tapi… jangan buat aku terus nunggu tanpa kepastian, Sayang.” “Um…” sahut Cindy sambil mengangguk pelan. Ia tak sempat berkata apa-apa lagi ketika Nathan sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan yang erat, seolah tak i

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   113. APA YANG TERJADI DENGAN CINDY?

    “Kamu telepon aku?” tanya Cindy sambil tersenyum canggung, matanya sempat menghindar sebelum kembali menatap Nathan. “Iya, sayang. Aku telepon kamu, tapi kamu nggak jawab,” jawab Nathan sambil terus mengunyah, sorot matanya tak lepas dari wajah Cindy. “Biasanya kamu paling semangat kalau aku telepon,” lanjut Nathan dengan senyum kecil. “Telat dikit aja, kamu udah ngomel.” Tangannya terangkat, mengusap pipi Cindy dengan ibu jari secara lembut—gerakan sederhana, tapi cukup membuat Cindy terdiam sesaat. “Mungkin aku tadi ketiduran, ya, sayang,” ucap Cindy pelan sambil tersenyum. “Maaf ya, aku nggak tahu kamu telepon.” Ia langsung memeluk Nathan, seolah ingin menutup rasa bersalahnya dengan kehangatan itu. Nathan menghela napas kecil, lalu tersenyum pasrah. “Pengen marah,” katanya lirih sambil mengusap wajah Cindy dengan lembut, “tapi ini kamu. Aku nggak bisa.” “Makasih, sayang… maaf ya,” balas Cindy pelan. Senyumnya mengembang tipis saat ia menyandarkan pipinya di lengan Na

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status