Home / Romansa / SEDIKIT LAGI, SAYANG! / 88. MENDADAK KE HOTEL?

Share

88. MENDADAK KE HOTEL?

last update Last Updated: 2026-01-04 15:33:21

Usai melakukan transaksi dan mendapatkan surat jual beli serta bukti kepemilikan tunggal, kini keduanya resmi memiliki ruko mewah tersebut. Kepemilikan itu menjadi tonggak awal kebangkitan mereka setelah badai besar yang sempat menghantam.

“Sayang... aku nggak sabar melihat ruko ini penuh dengan barang-barang yang mau aku jual nanti,” ucap Cindy sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

Keduanya duduk berdampingan di atas sofa yang merupakan bonus eksklusif dari pembelian ruko tersebut. Nathan merangkul bahu Cindy, membiarkan wanita itu menikmati kemenangannya sejenak.

“Iya, Sayang. Kita pasti bakal punya kesibukan luar biasa setiap hari habis ini. Tapi... oh iya, kamu juga harus janji untuk nggak salah memilih supplier lagi. Kamu ingat, kan, dulu kamu pernah ditipu oleh teman kamu sendiri?” ucap Nathan, mengingatkan dengan nada yang lembut namun sarat akan ketegasan.

Cindy mengangguk pelan, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Nathan, mencari kenyamanan di sana. “Iya,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   94. JANJI APA YANG MELIBATKAN CINDY?

    ​“Apa kabar?” tanya Morgan saat melihat Nathan menghampirinya. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya, namun tatapannya seolah sedang memindai setiap gerak-gerik sang adik. ​Mereka berjabat tangan erat, sebuah gestur formalitas keluarga yang kaku. “Kabar baik,” jawab Nathan singkat, membalas senyuman itu dengan keramahan yang dijaga. ​“Jadi... lo di sini juga?” tanya Morgan lagi. Ia tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata, sambil melirik penuh arti ke arah mobil Nathan di mana ia tahu ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik kaca film yang gelap. ​“Kebetulan aja,” sahut Nathan santai. ​“Iya, ya... kebetulan yang bikin happy,” gumam Morgan. ​Nathan menghela napas panjang, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Ia berdiri santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celana. “Kapan lo sampai di Indonesia?” ​Tak jauh berbeda dengan sang adik, Morgan tampak sangat tenang. Ia memainkan pemantik api di satu tangannya, sementara tangan lai

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   93. NATHAN DAN MORGAN BERTEMU DI TEMPAT PARKIR

    “Aku nggak nolak, Sayang. Aku cuma menunda aja,” jawab Nathan tenang. Ia menelan makanannya terlebih dahulu, lalu kembali menyuap potongan daging berikutnya dengan santai.Cindy memperhatikannya sambil tersenyum simpul, ada binar jahil di matanya. “Tapi... kamu nggak sebal, kan, kita berakhir di hotel ini?” tanya Cindy, lalu tertawa kecil saat melihat ekspresi Nathan.Nathan tertawa singkat, kepalanya menggeleng pelan menanggapi keusilan wanitanya itu. “Jahil banget, sih. Ya jelas aja nggak, Sayang. Lagian kan... tujuan utama kita ke sini karena memang buat seks, terus kita lanjut sayang-sayangan sampai puas,” bisik Nathan dengan suara rendah yang menggoda.Ia menjangkau tangan Cindy di atas meja, menggenggamnya erat dengan ibu jari yang mengusap punggung tangan wanita itu secara perlahan. Tatapannya mendalam, seolah menegaskan bahwa tidak ada pertemuan bisnis atau panggilan telepon dari kakaknya yang lebih penting daripada momen mereka berdua saat ini.“Dan menurut aku, tujuan itu ud

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   92. MORGAN MENAGIH JANJI PADA NATHAN? JANJI APA?

    ​“Sayang? Itu kakak kamu, kan? Jawab saja, siapa tahu ada hal penting,” ucap Cindy lembut, mencoba memberikan dukungan pada Nathan. ​“Um...” Nathan bergumam pendek. ​Tepat saat pintu lift berdenting terbuka di lantai restoran, Nathan menggeser layar ponselnya dan menerima panggilan tersebut. “Halo,” sahutnya pelan. Tangannya menggenggam jemari Cindy dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia fokus pada pembicaraan telepon tersebut. ​“Nathan, um... apa lo lagi sibuk?” tanya Morgan di seberang sana. Suaranya terdengar kaku, sarat akan beban rasa bersalah. ​“Ya, nggak juga,” jawab Nathan singkat. Ia menatap wajah Cindy yang kini tengah sibuk membuka buku menu dengan antusias di bawah bimbingan seorang pelayan restoran. ​Nathan hendak menanyakan sesuatu, namun kalimatnya tertahan. Matanya tanpa sengaja menangkap sebuah X-banner berukuran besar yang terpampang di pintu masuk restoran. Di sana tertulis pengumuman mengenai pertemuan besar perusahaan keluarg

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   91. MORGAN MENGHUBUNGI NATHAN?

    Suasana ballroom hotel mewah itu begitu gemerlap, namun terasa mencekik bagi Morgan. Aroma hidangan mahal dan denting gelas kristal tidak mampu menenangkan hatinya yang gundah. ​“Morgan, ini Pak Frans dan Pak Nico. Mereka mau berfoto sama kamu,” bisik ibunya dengan nada memerintah, menarik Morgan kembali ke realitas di tengah hiruk pikuk pertemuan besar itu. ​“Oh... iya, Ma,” sahut Morgan patuh. ​Ia memaksakan sebuah senyum formal, melayani para klien raksasa yang masih memilih setia pada perusahaan keluarganya. Meskipun ia kini menduduki kursi CEO, Morgan sadar betul bahwa kestabilan ini sangat rapuh. Kabar mundurnya Nathan telah mengguncang kepercayaan pasar; sebagian besar kolega lama mulai menarik kerja sama mereka karena tidak yakin pada kemampuan Morgan menggantikan posisi adiknya yang telah memimpin selama delapan tahun dengan tangan dingin. ​“Semoga kerja sama kita bisa berlangsung lebih awet dan keuntungannya melimpah di bawah kepemimpinanmu,” ucap salah seorang tamu

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   90. TERIAK LAGI, SAYANG. LEBIH KERAS.

    ​Kedua tangannya kini mencengkeram sprei dengan kuat hingga kain itu kusut dalam genggamannya. Kenikmatan yang diberikan Cindy kali ini terasa begitu luar biasa dan langka, membuat seluruh saraf di tubuh Nathan bergetar hebat. Setiap sedotan dan lilitan lidah Cindy seakan menarik seluruh kesadarannya menuju puncak yang memabukkan. ​“Ngggh... sedikit lagi, Sayang... jangan berhenti...” rintih Nathan dengan suara serak yang nyaris habis, membiarkan dirinya hanyut dalam permainan panas yang diciptakan oleh wanita di ​“Teriak lagi, Sayang... lebih keras lagi!” perintah Nathan dengan suara serak yang penuh kuasa, sembari terus menghantam tubuh Cindy dengan gerak pinggul yang cepat dan bertenaga. ​“Aaah... Nathan... Aaah... Sayang... iya... terus! Ah... ah... Sayang!” Cindy menjerit histeris. Nathan seolah kehilangan kendali, semakin kuat menghajar titik terdalam Cindy di atas ranjang yang kini berderit mengikuti irama mereka. ​Napas Nathan memburu hebat. Ia tiba-tiba menarik miliknya

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   89. HOTEL YANG SAMA DENGAN PERKENALAN MORGAN SEBAGAI CEO

    Setelah transaksi pembelian ruko mewah itu selesai, ketegangan di antara Nathan dan Cindy justru semakin memuncak. Di dalam mobil yang melaju membelah lalu lintas pagi, suasana terasa begitu panas dan menyesakkan oleh gairah yang tertahan. ​“Hotel mana, Sayang?” tanya Nathan dengan suara serak. Sesekali ia melirik Cindy yang duduk di sampingnya, tampak begitu menggoda dengan pakaian yang sedikit berantakan. ​Cindy tidak menjawab dengan kata-kata biasa. Ia justru menggeser duduknya mendekat, lalu memeluk lengan kiri Nathan dengan manja. Kepalanya bersandar di bahu pria itu, sementara jemarinya mulai menari nakal di atas paha Nathan. ​“Um... hotel yang paling dekat aja. Sakura Hotel, Sayang. Ke sana aja, ya? Aku... aku udah nggak tahan lagi,” bisik Cindy dengan nada manja yang sangat provokatif, sengaja memberikan hembusan napas hangat di leher Nathan. ​Nathan menggeram rendah, tangannya yang memegang kemudi semakin erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Sentuhan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status