Share

PEREBUTAN HAK ASUH

Kegugupan menyelimuti Syma. Hatinya berdebar, dia sangat khawatir jika dia tidak berhasil mengambil hak asuh anaknya. Syma tidak bisa membayangkan bagaimana jauh dari anaknya.

Hanya dengan Dzikir dan sholawat tidak hentinya dia rapalkan didalam hatinya. Memohon kepada sang Maha kuasa agar memudahkan segala urusannya.

Berbeda dengan Ersad yang duduk dengan tenang, seakan sudah dipastikan bahwa dia akan berhasil.

Tatapan mereka beralih pada kedatangan Refan yang menggendong Zea, diikuti oleh Mia dibelakangnya dengan tidak tahu malu malah sengaja bergelayut ditangan Refan. Syma tidak lagi memperdulikan kemesraan mereka, apalagi tatapan membunuh dari Refan yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Pandangan Syma hanya tertuju pada sosok putri kecilnya itu. Syma tidak kuasa menahan kerinduannya, dia ingin sekali berlari dan memeluk erat Zea. Namun dia harus menahannya, jika tidak ... semuanya akan kacau. Syma ingat bahwa sebelumnya Ersad telah memerintahkan dia untuk menjaga sikapnya.

Ketika Refan hampir mendekati mereka, pria itu menyerahkan Zea pada Mia untuk dibawa sedikit menjauh dari Syma. Tentu hal itu membuat Syma semakin gusar. Refan meneruskan langkahnya sampai berhenti tepat dihadapan Syma. Pria itu benar-benar terlihat geram dengannya. Syma sendiri memberanikan diri mengangkat wajahnya dihadapan mantan suaminya itu.

"Wanita munafik ! tidak tahu malu ! berani-beraninya kau menggugat hak asuh Zea. Kau tidak akan memenangkannya Syma." pandangan Refan beralih kearah Ersad dengan sengaja mencelanya. "Apa dia pelangganmu yang selanjutnya? hah ! tidak kusangka aku pernah menikahi wanita keji sepertimu ... apa kau tidak malu dengan jilbab yang kau kenakkan ! penampilan dan akhlakmu sangatlah berlawanan.

Aku bahkan malu mengakuimu sebagai mantan istriku !" sarkasnya dengan penghinaan dan cacian yang kental. Begitu sakit yang Syma rasakan. Namun sakit itu tidak seberapa dibandingkan harus terpisah jauh dari anaknya. Sekuat tenaga Syma menguasai dirinya agar tidak terlihat lemah.

"Jaga ucapan anda ! apa anda pikir, anda ini manusia suci yang jauh lebih baik dari Syma? kita ini sama-sama pendosa. Hanya saja ... cara kita melakukannya yang berbeda.

Dan lagi ... wanita yang anda anggap hina ini, belum tentu hina dihadapan orang lain. Anda  hanya sedang dibutakan oleh amarah dan mempercayai orang yang salah !

Memang sulit meyakinkan lalat bahwa bunga jauh lebih harum dari pada sampah !" ucap Ersad sembari melirik kearah Mia. Refan mengikuti arah pandangan Ersad yang sengaja mencemooh mereka. Rupanya maksud Ersad dengan sebutan sampah adalah Mia. Tapi apa maksudnya? pikir Refan.

"Apa maksudmu !!" bentak Refan dengan geramnya. Sementara Ersad sendiri hanya tersenyum sinis dengan santainya.

"Anda akan segera mengetahuinya. Lebih baik sekarang anda duduk manis sembari mendengarkan hakim memberi keputusan siapa yang layak untuk mendapatkan hak asuh," ucap Ersad setenang mungkin. Namun Refan merasa ada nada ejekan disana.

"Jangan bermimpi untuk merebut Zea dariku !" ucap Refan sebelum pergi mengambil tempat duduk yang telah disediakan.

Tubuh Syma bergetar mendengar hal itu. Dia sangat takut kehilangan anaknya. Melihat raut wajah Syma yang berubah, secara refleks Ersad menyentuh bahu wanita itu agar sedikit tenang. Syma sendiri terkejut dengan Ersad yang tiba-tiba menyentuhnya.

Sadar akan perbuatannya, Ersad pun segera menjauhkan tangannya. "Em ... maaf," cicitnya.

Ketika Hakim telah memasuki ruangan persidangan, mereka semua berdiri untuk memberi hormat. Dan tidak menunggu waktu lama sidang pun dimulai.

Ersad membawa pengacara terbaik untuk segera membacakan gugatannya. Memberikan penjelasan bahwa hak asuh seorang anak yang berada dibawah umur adalah hak ibunya. Dan beberapa penjelasan lainnya bahwa ibunya lebih berhak mendapatkan hak asuh dibandingkan ayahnya.

Ketika pembacaan gugatan selesai. Hakim memberi perintah pada  Pengacara Refan untuk memberikan jawaban sebagai pembelaan terhadap Refan. Dengan menyatakan bahwa Syma sebagai ibu tidaklah pantas mendapatkan hak asuh anaknya karena dinilai memiliki perilaku yang tidak baik. Tidak lupa pula pengacara Refan dengan sengaja menambah-nambahi kesalahan Syma agar memberatkannya. Tentu hal itu membuat Syma semakin cemas.

Namun dengan keahliannya, pengacara Ersad tidak tinggal diam. Dia memberikan beberapa pernyataan pembelaan terhadap Syma dengan cukup logis dan membuat semua yang hadir disana tercengang. Termasuk Refan sendiri yang mulai terlihat tegang.

Sampailah pada akhirnya Hakim memutuskan

bahwa hak asuh Zea Almira jatuh ke tangan Syma.

Syma sangat terkejut. Wanita itu tidak kuasa membendung air mata bahagia karena telah berhasil mendapatkan kembali putrinya.

ALLAHHU AKBAR

ALLAHHU AKBAR

ALHAMDULILLAH ....

Gema takbir selalu Syma ucapkan sebagai rasa syukurnya.

Sementara Refan ...

Sudah pasti pria itu sangat syok. Tidak terima dengan keputusan Hakim yang dengan mudah memenangkan Syma. Meski berkali-kali Refan berusaha mengajukan banding, namun ditolak mentah-mentah. Refan yakin, bahwa Ersad bukanlah orang sembarangan. Pria itu pasti memiliki kedudukan tinggi hingga Syma bisa memenangkan kasus ini dengan mudah, batinnya.

Meski begitu, Refan tidak bisa melakukan apapun. Syma telah berhasil membawa pergi Zea darinya. Mia sendiri langsung memeluk Refan. Mencoba menenangkan pria yang sedang dilanda kekalutan itu.

"Sudahlah Mas .... kamu yang sabar. Ikhlaskan Zea bersama Syma. Aku bisa memberikan anak yang banyak untukmu," ucap Mia dengan entengnya.

"Zea adalah anakku, Mia. Bagaimana bisa aku mengikhlaskannya ! aku sangat menyayanginya."

"Mau bagaimana lagi? Syma berhasil merebutnya ! lebih baik kita pulang dulu sekarang. Aku yakin Mas pasti lelah," ucap Mia dengan lembutnya.

Refan tidak menolak. Pria itu mengikuti Mia, namun ketidakrelaan masih menyelimutinya. Refan benar-benar tidak menduga bahwa Syma berhasil mengalahkannya.

*******

Ersad tersenyum samar, melihat kebahagiaan menyelimuti Syma dari pantulan kaca mobilnya. Kali ini wanita itu terlihat lebih hidup. Dan entah mengapa semua kebahagiaan Syma seakan ditransferkan padanya. Sehingga Ersad juga bisa merasakan kebahagiaan itu.

Meski Zea telah tertidur karena kelelahan. Namun Syma seakan tidak ingin jauh-jauh dari putrinya itu. Mungkin karena kerinduan yang meluap-luap yang selama ini terpendam.  Sehingga Syma tanpa ada rasa pegal sedikitpun membiarkan Zea tidur dipelukannya. Padahal bangku dimobil itu masih cukup luas untuk membaringkan Zea.

"Kita sudah sampai," ucap Ersad menghentikan mobilnya.

Karena terlalu senang, Syma sampai tidak sadar bahwa dia telah dibawa ketempat yang asing baginya. Bukan kontrakan yang biasa dia tempati.

"Kita dimana?" ucap Syma menatap bangunan besar yang ada dihadapannya.

"Mulai sekarang kalian akan tinggal di apartemen ini."

"Tapi kenapa?" tanya Syma tidak terima dengan keputusan Ersad tanpa membicarakannya dulu.

"Karena mantan suamimu pastinya tidak akan terima dengan kekalahannya. Aku hanya khawatir dia akan menyakiti kalian. Jadi akan lebih baik kalian tinggal disini.

Dan aku harap ... kau tidak lupa dengan perjanjian kita. Tidak ada yang gratis didunia ini, Syma." bisik Ersad ditelinga Syma. Membuat sekujur tubuh Syma menegang. Sadar bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah. Menjadi wanita simpanan yang tentunya akan menyakiti hati wanita lainnya.

AMPUNI AKU YA ROBB

To be continue.....

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status