Share

47. Berkhianat

Author: Qingcheng
last update Last Updated: 2025-11-21 20:00:51

Sofa abu-abu itu berdecit pelan setiap kali tubuh Ervan dan wanita itu bergerak. Kamar remang dengan cahaya lampu kuning, menyorot kulit mereka yang saling menempel.

Ervan menahan pinggul wanita itu dengan kedua tangannya, menariknya ke atas tubuhnya. Wanita itu mendongak, rambut panjangnya terurai berantakan, bibirnya ternganga menahan desah.

“Van … jangan berhenti …,” bisiknya dengan napas terputus.

Ervan menggeram rendah. Suara beratnya bercampur dengan hasrat liarnya.

Tangannya bergerak di sepanjang punggung wanita itu, satu lagi mengangkat pahanya lebih tinggi. Gerakan mereka semakin tak teratur, lebih rakus, lebih lepas.

Wanita itu mendesah lebih keras ketika tubuhnya melengkung.

“Ah … Ervan … lebih cepat!”

Ervan menaruh ciuman panjang dan basah di lehernya, membuatnya semakin menegang dan merintih. Sofa bergeser sedikit karena tekanan tubuh mereka, sementara desahan mereka semakin memenuhi ruangan—Sensual, panas, dan liar.

Di sisi lain, sebu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   120.

    Liora keluar dari mobil begitu mesin dimatikan. Pintu dibanting tanpa sadar, dan dia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah Cassandra yang berdiri kaku di teras rumah. Begitu jarak mereka habis, Liora langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Cassie …,” Tak ada kalimat lanjutan. Hanya panggilan nama itu, lirih namun penuh rasa bersalah, cemas, dan rindu yang tertahan sebulan penuh. Cassandra tak lagi mampu menahan dirinya. Tubuhnya melemas di dalam dekapan Liora. Isaknya pecah, bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkram jaket Liora seolah takut jika dia akan ambruk jika tak menggenggam apapun. “Udah … udah, Cassie,” bisik Liora berulang-ulang sambil mengusap punggung Cassandra pelan, lembut. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Pelukannya mengencang. Liora menundukkan kepala, menyandarkan dagunya di puncak rambut Cassandra. Sementara tangannya bergerak lembut, menepuk-nepuk punggung gadis itu berusaha menenangkan badai dalam diri Cassandra yang

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   119.

    “Kamu benar-benar nggak tahu Cassie ada di mana?” Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Rexandra—pertanyaan yang sama, dengan nada yang nyaris tak berubah, yang dia ulangi hampir setiap hari selama sebulan penuh. Liora, yang berdiri di hadapannya dengan piyama tidurnya, sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Bahkan sebelum Rexa menyelesaikan kalimatnya, dadanya sudah terasa berat. Dengan raut penuh penyesalan, gadis itu menggeleng pelan. “Aku juga belum bisa menghubungi Cassie, Kak Rexa,” ucapnya lirih. “Kalau aku tahu dia di mana, aku pasti langsung kasih tahu Kak Rexa.” Rexandra menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang sama. Rahangnya mengeras, matanya tampak redup karena lelah yang tak bisa dia sembunyikan. “Menurut kamu selama ini Cassie kenapa?” Tanyanya lagi, suaranya lebih rendah. “Dua bulan terakhir ini.” Liora terdiam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, menatap Rexandra dengan sorot yang dalam dan hati-hati. “Yang aku tahu, kondisi Om Alex makin kritis,”

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   118

    | 1 bulan kemudian Cassandra berdiri membungkuk di depan closet dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, bahunya naik-turun pelan, dan tangan kecilnya yang berkeringat dingin memegangi pinggiran closet itu agar tidak terjatuh. Baru saja dia makan sesuap nasi, tapi langsung dimuntahkan lagi. Begitulah yang terjadi sebulan ini. Sehari-harinya, setiap makanan yang masuk ke mulutnya selalu dikeluarkan begitu saja, bukan karena keinginannya, tapi karena perutnya memang menolak itu. Cassandra menunduk dalam, mengelus perutnya yang sudah terlihat lebih buncit dari terakhir kali. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berbarengan dengan suara lembut seseorang. “Non Cassie, boleh saya masuk?” Tanya bi Marni, berdiri tegak di depan kamar yang tidak tertutup rapat itu dengan nampan di tangan. Cassandra yang mendengar suara pembantunya itu perlahan menoleh sambil menegakkan tubuh. “Masuk aja, Bi.” Sahutnya sembari melangkahkan kaki lemahnya keluar kamar mandi. Bi M

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   117.

    Cassandra berjongkok di hadapan makam Alex yang baru saja dikebumikan. Aroma tanah basah sisa hujan bercampur bunga menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Gadis itu menatap nisan bertuliskan Alex Harrison tanpa berkedip. Jemari gemetarnya mengusap papan itu dengan lembut, begitu hati-hati. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya isak lirih yang tertahan di tenggorokannya yang terasa kering itu. Di samping gadis itu, bi Marni setia menemani, memberi usapan pelan di punggungnya. “Non,” ucap perempuan tua itu pelan, menatap majikannya dengan penuh iba. “Ini sudah satu jam non Cassie berada disini. Sepertinya sudah mau hujan, Non.” Lanjutnya sembari mendongak, menatap langit gelap yang diselimuti awan pekat. “Sebaiknya kita segera pulang ya, Non.” Cassandra hanya diam, dengan tatapan yang tak beralih sedetikpun dari nama di papan nisan itu. Pandangannya kosong, wajahnya sudah sangat pucat, bahkan bibir merahnya sekarang tak berwarna. Dia menyandarkan kepalanya ke

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   116.

    Cassandra berdiri kaku di depan ranjang jenazah, menatap ayahnya yang kini terbaring tak bergerak, dengan tubuh yang tertutup seprai putih sampai dada, dan tangan yang terkulai dingin di sisi tubuh. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang menganga. Sakitnya bukan lagi menusuk tapi menghancurkan. Perlahan, kejam, dan tanpa ampun. Perlahan kakinya mendekat. Tangan gemetarnya menyentuh punggung tangan ayahnya yang dingin. “Pa …,” suaranya nyaris tak keluar, hanya hembusan rapuh dari bibir keringnya. “Kenapa Papa dingin banget?” Tak ada jawaban. Tenggorokannya menegang. Matanya perih, tapi air mata justru tak langsung jatuh, seolah tubuhnya menahan tangis agar tak benar-benar runtuh. Drttt! Ponsel di genggamanya bergetar. Cassandra menunduk pelan, sempat melirik layar dengan pandangan kosong. Namun begitu melihat siapa nama penelepon, sorot matanya berubah tajam. Bi Marni, yang berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas.

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   115.

    Mendengar pertanyaan putranya, Lilian terdiam, cukup lama sampai membuat Rexandra mengerutkan keningnya heran, dadanya mulai terasa tak nyaman. Lalu detik berikutnya, bahu wanita itu bergetar pelan. Dari bibirnya lolos suara isak tertahan—lemah, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat hati Rexandra mencelos. “Ma …,” Rexandra melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap wajah ibunya lekat, berusaha menangkap sorot mata yang kini mulai berkaca-kaca. “Kenapa? Ada masalah?” Lilian masih tak menjawab. Sebaliknya isaknya semakin keras, dan air matanya mengalir tanpa bisa dikendalikan, membuat Rexandra semakin khawatir. “Ada apa, Ma? Cerita sama aku? Apa ada masalah sama Papa sama Cassie?” Desaknya lembut, mencecar wanita itu dengan pertanyaan beruntun. “Mama …,” suara Lilian bergetar. Bibirnya tremor, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk dikeluarkan. “Kenapa, Ma?” Rexandra makin gelisah. Tangannya terangkat, mengguncang lembut bahu ibunya. “Papa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status