Share

06. Resonansi Keintiman

Author: Tinta Terbang
last update publish date: 2026-08-07 07:46:29

Setelah mengurus seluruh berkas administrasi kepulangan dan menaiki sebuah mobil taksi yang mereka pesan, Han Yu dan Xian Ren akhirnya tiba di depan rumah berlantai dua beberapa menit kemudian. 

Rumah itu adalah rumah yang selama ini mereka tempati—peninggalan dari mendiang suami Han Yu yang juga merupakan ayah kandung Han Lim.

Xian Ren keluar dari taksi dengan tenang. Walau tubuhnya sudah dipulihkan oleh Ramuan Pemulihan Otot dari Sistem Duality kemarin, ia tetap berpura-pura berjalan lemas agar Han Yu tidak mencurigai pemulihan tubuhnya yang mendadak.

"Pelan-pelan saja, Han. Biar Ibu membantumu berjalan," ucap Han Yu lembut seraya merangkul lengan anak tirinya dan menuntunnya berjalan ke pekarangan rumah.

Han Yu memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dari dalam. Wanita itu tak lain adalah Bibi Xue Fang yang berusia 43 tahun.

"Ah, kalian sudah pulang? Ayo masuk," Bibi Xue Fang tersenyum.

Han Yu menuntun Xian Ren berjalan ke dalam rumah. Seorang pria paruh baya sedang duduk santai di sofa ruang keluarga. Pria itu berdiri saat melihat Han Yu dan Xian Ren.

"Syukurlah Han Lim sudah kembali lagi ke rumah," ucap si pria paruh baya yang tak lain adalah Paman Yuze.

Sebagaimana yang dikatakan Han Yu, mereka berdua ini sudah datang dan menginap di rumah sejak semalam.

"Apa Yuan Rin sudah pergi kuliah, Bibi Fang?" tanya Han Yu sambil membantu Xian Ren untuk duduk di sofa.

"Iya. Dia sudah pergi ke kampus sekitar setengah jam lalu," Bibi Fang duduk tak jauh dari Xian Ren.

"Bagaimana kondisimu sekarang, keponakanku? Apa tubuhmu sudah benar-benar pulih?" ucap Paman Yuze yang kini duduk di samping istrinya.

Xian Ren tersenyum menatap pamannya. "Sudah agak mendingan, Paman."

"Dokter bilang kondisi Han sudah membaik dengan cepat. Jadi mulai hari ini dia sudah boleh rawat jalan di rumah," ucap Han Yu yang duduk di samping anak tirinya.

"Baguslah kalau begitu. Biaya rumah sakit sekarang sangat mahal sekali, Yu. Semakin lama Han Lim di rumah sakit, uangmu bisa cepat habis," Bibi Fang melirik ke arah Xian Ren.

Han Yu hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut. Selama ini, ia sudah terbiasa mendengar perkataan-perkataan ketus ataupun sindiran seperti itu dari kerabatnya ini. Dari dulu ia tidak suka berkonflik dan selalu mengalah atau diam setiap kali ditekan oleh mereka.

Xian Ren diam sambil memandangi wajah Bibi Fang dengan wajah yang menahan kekesalan.

Paman Yuze berdehem pelan, lalu menatap Han Yu. "Seperti yang kita bicarakan lewat telepon waktu itu, Yu. Proyek Paman saat ini sedang butuh suntikan dana secepatnya. Jadi... Sertifikat rumah ini kamu pinjamkan dulu pada Paman untuk jaminan di bank. Kamu tidak usah khawatir, nanti kalau bisnis Paman berhasil, Paman akan bagi keuntungannya juga buat kamu."

Han Yu menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak bingung. "Tapi... ini satu-satunya aset yang kami punya saat ini, Paman. Aku akan—"

"Sudahlah, Yu. Kau jangan terlalu khawatir. Pamanmu ini benar-benar sangat membutuhkan dana untuk bisnisnya," sela Bibi Xue Fang dengan suara yang sedikit keras. "Kita ini kan keluarga! Waktu suamimu meninggal dulu, siapa yang membantumu mengurus semuanya? Setidaknya, jangan jadi orang yang tidak tahu terima kasih!"

"Bibimu benar, Yu. Kau juga tenang saja, Paman akan bertanggung jawab membayar cicilannya tiap bulan di bank. Lagian, kalau bisnis Paman ini sukses, kau juga akan kebagian, kan?" ucap Paman Yuze sambil memandangi wajah Han Yu yang masih tertunduk.

Ucapan-ucapan itu membuat dada Han Yu semakin sesak. Ia merasa terpojok dan bingung harus berkata apa saat ini.

"Paman... Bibi. Kalian jangan terus memaksa dan memojokkan ibuku seperti ini. Seharusnya kalian bisa berusaha sendiri tanpa harus mengorbankan orang lain, kan?" Xian Ren menatap ke arah paman dan bibinya. Wajahnya tampak dipenuhi kekesalan yang sejak tadi ia tahan.

Suasana menjadi hening.

Bibi Xue Fang melotot, terkejut luar biasa. Paman Yuze mengernyitkan dahi dengan raut wajah tidak percaya.

Han Lim yang mereka kenal selama ini adalah anak penakut dan selalu diam, tanpa pernah menyela sedikit pun. Tapi saat ini, keponakannya itu justru berani memotong pembicaraan mereka.

"Berani sekali kau menyela pembicaraan kami, Han! Kau ini tahu apa! Kau itu hanya seorang bocah!" bentak Paman Yuze dengan wajah memerah karena tersulut emosi.

Xian Ren tersenyum tipis. Ia menyandarkan punggungnya di sofa dengan santai. "Aku tidak menyela, Paman. Aku hanya tidak suka kalian memojokkan ibuku seperti ini," sahut Xian Ren dingin. "Sertifikat rumah ini hak Ibu dan anak-anaknya. Kalau Paman butuh modal bisnis, datanglah ke bank dengan aset milik Paman sendiri, bukan dengan memaksa menjaminkan aset orang lain."

"Kau...!" Paman Yuze menunjuk Xian Ren dengan jari gemetar akibat amarah yang semakin meledak-ledak.

"Ah iya, satu hal lagi Bibi..." Xian Ren menoleh ke arah Bibi Xue Fang. "Ibu mungkin terlalu baik untuk mengingatkan kalian. Tapi aku tidak. Kalau kalian datang hanya untuk membawa masalah dan memeras orang, silakan kalian keluar saja dari sini."

Han Yu menahan napasnya. Ia menatap anak tirinya dari samping dengan terperangah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Han Lim yang selama ini selalu ia lindungi dari orang lain, saat ini justru berdiri di depannya dan membelanya.

Dada Han Yu berdebar kencang. Rasa haru sekaligus kagum, merayap di hatinya melihat keberanian dari anak tirinya tersebut.

Bibi Xue Fang yang merasa sangat malu dan tersudut langsung menarik lengan suaminya. "Bagus! Sekarang anakmu yang culun ini sudah berani tidak sopan pada kerabat sendiri! Ayo Pak, kita pergi dari rumah ini!"

"Kalian lihat saja nanti!" ancam Paman Yuze melirik ke Han Yu dan Xian Ren.

Mereka berdua berjalan keluar dari rumah dan membanting pintu depan dengan keras.

Han Yu menghela napas panjang, tubuhnya terasa lemas. Ia hampir saja kehilangan kesadarannya, namun dengan cepat Xian Ren merangkul bahu ibu tirinya tersebut.

"Ibu tidak apa-apa?"

Han Yu menatap Xian Ren. Sentuhan tangan Xian Ren di bahunya memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

[DING!]

[Pembaruan Misi Tersembunyi: Langkah Pertama Penguasaan Rumah. Jalur Intimacy Terdeteksi! Target: Han Yu Menunjukkan Ketergantungan Emosional & Rasa Kagum Terhadap Inang. Progres Misi: 70%. Memproses Hadiah Sementara: +20 Poin Duality. Status Energi Duality Saat Ini: 20/100].

Layar transparan biru berkedip di depan mata Xian Ren. Ia membaca notifikasi tersebut lalu tersenyum ke arah Han Yu.

Telepon rumah berbunyi. Han Yu segera berdiri dan buru-buru mengangkat telepon dengan tangan yang masih gemetar.

Panggilan tersebut berasal dari wali kelas Han Lim di sekolah.

"Selamat siang, Pak..." ucap Han Yu menjawab panggilan itu.

Beberapa saat kemudian, raut wajah Han Yu berubah menjadi pucat. Matanya melebar penuh keterkejutan dan ketakutan.

"A-apa, Pak?! Pihak sekolah mengeluarkan Han Lim dari sekolah mulai hari ini?!" ucap Han Yu dengan suara bergetar keras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   60. Mimpi Sang Ibu Tiri

    Xian Ren telah memasuki alam mimpi Han Yu. Ia mendapati dirinya berdiri di dalam rumahnya sendiri. Suasana di sekitarnya terasa sangat sepi dan tenang. Ia melangkah menuju kamar ibu tirinya dan berdiri di depan pintu, menatap Han Yu yang sedang berbaring di atas kasur. Wanita itu hanya mengenakan baju tidur tipis yang mencetak jelas lekuk-lekuk tubuhnya yang mempesona.Han Yu menoleh ke arah Xian Ren. Wajah cantiknya seketika merona dan tampak canggung melihat kedatangan pemuda itu."H-Han. Ada apa malam-malam begini ke kamar Ibu?" ucap Han Yu, suaranya pelan dan sedikit gugup.Xian Ren berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang, menatap ibu tirinya dengan pandangan hangat."Ibu kelihatan capek sekali. Aku cuma mau bantu memijat tubuh Ibu biar rileks."Han Yu dengan cepat menggelengkan kepala. "T-tidak usah, Han... Ibu tidak apa-apa. Kamu kembali saja ke kamarmu dan beristirahatlah.""Sudah, Bu, tidak apa-apa. Biar aku bantu membuat Ibu segar kembali.""T-tapi, Han...""Sudahlah. I

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   59. Menuju Alam Mimpi

    Bibir mereka saling bertaut dalam ciuman panas di sofa ruang tamu. Napas keduanya memburu, saling memagut dengan gairah yang kian memuncak. Tangan pemuda itu bergerak naik dan meremas kedua payudara besar Bibi Hua dari balik dasternya. "Ahhhhhh... Han." Wanita itu mendesah pelan di sela ciuman mereka, sementara tangannya terus mengelus tonjolan batang Xian Ren dari luar celana. Terdengar suara ketukan dan panggilan dari pintu depan secara tiba-tiba. "Lian Hua... Apa kamu di rumah? Lian Hua." suara wanita memanggil dari luar. Xian Ren dan Bibi Hua tersentak kaget. Mereka buru-buru menyudahi permainan panas tersebut. "A-Ada orang datang, Han..." bisik Bibi Hua dengan napas terengah-engah, wajahnya merona merah. Ia langsung berdiri dan merapikan dasternya yang sempat tersingkap serta merapikan rambutnya yang acak-acakan. Xian Ren segera membetulkan celana dan kausnya sambil berusaha mengendalikan debaran dadanya. Bibi Hua melangkah menuju pintu seraya menyahuti panggilan itu.

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   58. Bukti Yang Tidak Terbantahkan

    Yuze duduk di dalam ruang interogasi didampingi seorang pengacara pribadinya. Sementara Xue Fang sedang diperiksa sebagai saksi oleh penyidik di ruang sebelah. Detektif Kang meletakkan sebuah map tebal di seberang meja Yuze."Kita akan mulai interogasinya sekarang, Yuze," ujar Detektif Kang seraya menatap tajam pria itu.Pengacara Yuze langsung memotong pelan. "Detektif Kang, klien saya memilih menggunakan haknya untuk diam sebelum ada kejelasan mengenai bukti yang sah. Kami tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spekulatif."Yuze menatap Detektif Kang seraya tersenyum meremehkan. "Benar, Detektif. Tanpa bukti yang jelas, Anda tidak berhak menahan saya di sini atas dugaan yang tak berdasar."Detektif Kang tertawa pelan, lalu membuka map di tangannya."Hak diam? Tentu saja, itu hak kalian," ucap Detektif Kang santai. Ia mengambil beberapa lembar foto dan dokumen, lalu menyejajarkannya satu per satu di atas meja."Ini rekaman CCTV yang kami dapatkan di dekat rumah Han

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   57. Bukan Kesalahanmu, Kak

    Lampu masih menyala dengan terang di ruang keluarga. Han Yu dan Yuan Rin duduk bersebelahan di sofa sambil menyaksikan tayangan di televisi."Ibu... aku pulang," ucap Xian Ren seraya mendekat.Han Yu menoleh sambil tersenyum. "Kamu sudah pulang, Han? Sini duduk sebentar."Xian Ren lalu duduk di sofa tak jauh dari ibunya. Yuan Rin yang berada di samping ibunya hanya diam, namun matanya sempat melirik sekilas ke arah adik tirinya itu sebelum kembali menatap layar televisi."Seharian ini di rumah Bu Mei ngapain saja, Han?" tanya Han Yu membuka percakapan."Hanya bantu beberes dan angkat-angkat barang, Bu. Lumayan banyak dan berat barang-barangnya.""Oh begitu..." Han Yu mengangguk singkat. "Terus tadi jadi nonton ke bioskop sama Shuling?""Jadi, Bu. Tadi aku dan Shuling juga jalan-jalan sebentar ke taman kota," ujar Xian Ren santai.Xian Ren kemudian merogoh saku celananya. Ia lalu mengeluarkan dua kotak perhiasan kecil dan meletakkannya di atas meja di hadapan mereka."Aku tadi beli ini

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   56. Ramuan Penjelajah Mimpi

    Sekitar pukul enam sore, Xian Ren bersiap untuk pamit dari rumah Bu Mei. Wanita itu mengantarnya hingga ke depan pintu dengan tatapan hangat dan rasa sayang yang membuncah di hatinya."Aku pulang dulu, Bu Mei. Sampai ketemu di sekolah, Senin nanti," ucap Xian Ren pelan seraya mengusap lembut pipi wanita itu.Bu Mei tersenyum manis, memegang tangan Xian Ren di pipinya. "Hati-hati di jalan, Han. Terima kasih untuk hari ini."Xian Ren mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah meninggalkan rumah Bu Mei.Beberapa saat kemudian, Xian Ren sudah tiba di depan rumah Shuling. Ia memencet bel dan disambut oleh Ayah gadis itu."Selamat malam, Paman," ucap Xian Ren dengan hormat."Malam, Han. Masuklah dulu. Shuling sedang bersiap-siap di kamarnya," ujar Ayah Shuling mempersilakan."Baik, Paman. Terima kasih."Xian Ren menunggu di sofa ruang tamu sambil berbincang ringan dengan kedua orang tua Shuling. Tak lama kemudian, gadis itu berjalan mendekati mereka. Ia mengenakan gaun kasual berwarna merah m

  • SISTEM GANDA: KEHIDUPAN KEDUA XIAN REN   55. Misi Yang Tuntas

    Bu Mei menghentikan langkahnya di sisi ranjang. Wajahnya merona, napasnya memburu halus saat memandang wajah Xian Ren yang begitu dekat.Pemuda itu kembali mendaratkan ciuman di bibir Bu Mei dengan gairah yang kembali menyala. Bu Mei membalas ciuman itu seraya melingkarkan kedua tangannya di pundak Xian Ren."Mmph... Han," desah Bu Mei pelan di sela tautan bibir mereka.Xian Ren merebahkan tubuh wanita itu secara perlahan di atas ranjang. Ia membuka daster Bu Mei, menyingkap keindahan lekuk tubuh putih dan mulus yang selama ini tersembunyi.Ia menelan ludah, menyaksikan kemolekan tubuh sang guru di hadapannya. Xian Ren kembali mencium Bu Mei dengan rakus hingga memicu desiran gairah yang membakar dada wanita itu.Kecupan Xian Ren berpindah ke leher jenjang Bu Mei, lalu turun ke payudara besar milik wanita itu."Sssttt... Ahhhh..." bisik Bu Mei dengan mata terpejam, merasakan sensasi hangat saat bibir Xian Ren melumat payudaranya.Xian Ren lalu berdiri dan melepas bajunya. Bu Mei menat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status