MasukSetelah mengurus seluruh berkas administrasi kepulangan dan menaiki sebuah mobil taksi yang mereka pesan, Han Yu dan Xian Ren akhirnya tiba di depan rumah berlantai dua beberapa menit kemudian.
Rumah itu adalah rumah yang selama ini mereka tempati—peninggalan dari mendiang suami Han Yu yang juga merupakan ayah kandung Han Lim.
Xian Ren keluar dari taksi dengan tenang. Walau tubuhnya sudah dipulihkan oleh Ramuan Pemulihan Otot dari Sistem Duality kemarin, ia tetap berpura-pura berjalan lemas agar Han Yu tidak mencurigai pemulihan tubuhnya yang mendadak.
"Pelan-pelan saja, Han. Biar Ibu membantumu berjalan," ucap Han Yu lembut seraya merangkul lengan anak tirinya dan menuntunnya berjalan ke pekarangan rumah.
Han Yu memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dari dalam. Wanita itu tak lain adalah Bibi Xue Fang yang berusia 43 tahun.
"Ah, kalian sudah pulang? Ayo masuk," Bibi Xue Fang tersenyum.
Han Yu menuntun Xian Ren berjalan ke dalam rumah. Seorang pria paruh baya sedang duduk santai di sofa ruang keluarga. Pria itu berdiri saat melihat Han Yu dan Xian Ren.
"Syukurlah Han Lim sudah kembali lagi ke rumah," ucap si pria paruh baya yang tak lain adalah Paman Yuze.
Sebagaimana yang dikatakan Han Yu, mereka berdua ini sudah datang dan menginap di rumah sejak semalam.
"Apa Yuan Rin sudah pergi kuliah, Bibi Fang?" tanya Han Yu sambil membantu Xian Ren untuk duduk di sofa.
"Iya. Dia sudah pergi ke kampus sekitar setengah jam lalu," Bibi Fang duduk tak jauh dari Xian Ren.
"Bagaimana kondisimu sekarang, keponakanku? Apa tubuhmu sudah benar-benar pulih?" ucap Paman Yuze yang kini duduk di samping istrinya.
Xian Ren tersenyum menatap pamannya. "Sudah agak mendingan, Paman."
"Dokter bilang kondisi Han sudah membaik dengan cepat. Jadi mulai hari ini dia sudah boleh rawat jalan di rumah," ucap Han Yu yang duduk di samping anak tirinya.
"Baguslah kalau begitu. Biaya rumah sakit sekarang sangat mahal sekali, Yu. Semakin lama Han Lim di rumah sakit, uangmu bisa cepat habis," Bibi Fang melirik ke arah Xian Ren.
Han Yu hanya tersenyum mendengar ucapan tersebut. Selama ini, ia sudah terbiasa mendengar perkataan-perkataan ketus ataupun sindiran seperti itu dari kerabatnya ini. Dari dulu ia tidak suka berkonflik dan selalu mengalah atau diam setiap kali ditekan oleh mereka.
Xian Ren diam sambil memandangi wajah Bibi Fang dengan wajah yang menahan kekesalan.
Paman Yuze berdehem pelan, lalu menatap Han Yu. "Seperti yang kita bicarakan lewat telepon waktu itu, Yu. Proyek Paman saat ini sedang butuh suntikan dana secepatnya. Jadi... Sertifikat rumah ini kamu pinjamkan dulu pada Paman untuk jaminan di bank. Kamu tidak usah khawatir, nanti kalau bisnis Paman berhasil, Paman akan bagi keuntungannya juga buat kamu."
Han Yu menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak bingung. "Tapi... ini satu-satunya aset yang kami punya saat ini, Paman. Aku akan—"
"Sudahlah, Yu. Kau jangan terlalu khawatir. Pamanmu ini benar-benar sangat membutuhkan dana untuk bisnisnya," sela Bibi Xue Fang dengan suara yang sedikit keras. "Kita ini kan keluarga! Waktu suamimu meninggal dulu, siapa yang membantumu mengurus semuanya? Setidaknya, jangan jadi orang yang tidak tahu terima kasih!"
"Bibimu benar, Yu. Kau juga tenang saja, Paman akan bertanggung jawab membayar cicilannya tiap bulan di bank. Lagian, kalau bisnis Paman ini sukses, kau juga akan kebagian, kan?" ucap Paman Yuze sambil memandangi wajah Han Yu yang masih tertunduk.
Ucapan-ucapan itu membuat dada Han Yu semakin sesak. Ia merasa terpojok dan bingung harus berkata apa saat ini.
"Paman... Bibi. Kalian jangan terus memaksa dan memojokkan ibuku seperti ini. Seharusnya kalian bisa berusaha sendiri tanpa harus mengorbankan orang lain, kan?" Xian Ren menatap ke arah paman dan bibinya. Wajahnya tampak dipenuhi kekesalan yang sejak tadi ia tahan.
Suasana menjadi hening.
Bibi Xue Fang melotot, terkejut luar biasa. Paman Yuze mengernyitkan dahi dengan raut wajah tidak percaya.
Han Lim yang mereka kenal selama ini adalah anak penakut dan selalu diam, tanpa pernah menyela sedikit pun. Tapi saat ini, keponakannya itu justru berani memotong pembicaraan mereka.
"Berani sekali kau menyela pembicaraan kami, Han! Kau ini tahu apa! Kau itu hanya seorang bocah!" bentak Paman Yuze dengan wajah memerah karena tersulut emosi.
Xian Ren tersenyum tipis. Ia menyandarkan punggungnya di sofa dengan santai. "Aku tidak menyela, Paman. Aku hanya tidak suka kalian memojokkan ibuku seperti ini," sahut Xian Ren dingin. "Sertifikat rumah ini hak Ibu dan anak-anaknya. Kalau Paman butuh modal bisnis, datanglah ke bank dengan aset milik Paman sendiri, bukan dengan memaksa menjaminkan aset orang lain."
"Kau...!" Paman Yuze menunjuk Xian Ren dengan jari gemetar akibat amarah yang semakin meledak-ledak.
"Ah iya, satu hal lagi Bibi..." Xian Ren menoleh ke arah Bibi Xue Fang. "Ibu mungkin terlalu baik untuk mengingatkan kalian. Tapi aku tidak. Kalau kalian datang hanya untuk membawa masalah dan memeras orang, silakan kalian keluar saja dari sini."
Han Yu menahan napasnya. Ia menatap anak tirinya dari samping dengan terperangah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Han Lim yang selama ini selalu ia lindungi dari orang lain, saat ini justru berdiri di depannya dan membelanya.
Dada Han Yu berdebar kencang. Rasa haru sekaligus kagum, merayap di hatinya melihat keberanian dari anak tirinya tersebut.
Bibi Xue Fang yang merasa sangat malu dan tersudut langsung menarik lengan suaminya. "Bagus! Sekarang anakmu yang culun ini sudah berani tidak sopan pada kerabat sendiri! Ayo Pak, kita pergi dari rumah ini!"
"Kalian lihat saja nanti!" ancam Paman Yuze melirik ke Han Yu dan Xian Ren.
Mereka berdua berjalan keluar dari rumah dan membanting pintu depan dengan keras.
Han Yu menghela napas panjang, tubuhnya terasa lemas. Ia hampir saja kehilangan kesadarannya, namun dengan cepat Xian Ren merangkul bahu ibu tirinya tersebut.
"Ibu tidak apa-apa?"
Han Yu menatap Xian Ren. Sentuhan tangan Xian Ren di bahunya memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
[DING!]
[Pembaruan Misi Tersembunyi: Langkah Pertama Penguasaan Rumah. Jalur Intimacy Terdeteksi! Target: Han Yu Menunjukkan Ketergantungan Emosional & Rasa Kagum Terhadap Inang. Progres Misi: 70%. Memproses Hadiah Sementara: +20 Poin Duality. Status Energi Duality Saat Ini: 20/100].
Layar transparan biru berkedip di depan mata Xian Ren. Ia membaca notifikasi tersebut lalu tersenyum ke arah Han Yu.
Telepon rumah berbunyi. Han Yu segera berdiri dan buru-buru mengangkat telepon dengan tangan yang masih gemetar.
Panggilan tersebut berasal dari wali kelas Han Lim di sekolah.
"Selamat siang, Pak..." ucap Han Yu menjawab panggilan itu.
Beberapa saat kemudian, raut wajah Han Yu berubah menjadi pucat. Matanya melebar penuh keterkejutan dan ketakutan.
"A-apa, Pak?! Pihak sekolah mengeluarkan Han Lim dari sekolah mulai hari ini?!" ucap Han Yu dengan suara bergetar keras.
"Han Lim... Tante... Ayo ikut aku sekarang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan pada kalian."Han Yu mengusap sisa air matanya di pipi. Ia menatap Shuling dengan bingung."Ada apa, Shuling? Kenapa kita harus ke sana?"Shuling melirik ke arah koridor sekolah yang mulai ramai dan dipenuhi siswa-siswa dan juga para guru."Di sini terlalu banyak orang, Tante. Aku akan menjelaskannya di taman belakang yang sepi. Ayo kita ke sana."Xian Ren memperhatikan raut wajah gadis itu dari dekat. Shuling tampak sangat gugup dan cemas. Ia melihat gadis itu beberapa kali menggigit bibirnya—seolah sedang menyembunyikan sesuatu."Baiklah. Ayo," sahut Xian Ren singkat.Mereka bertiga berjalan dengan tergesa-gesa menuju taman kecil yang letaknya berada di belakang gedung sekolah. Taman itu tampak sepi karena tertutup pepohonan rindang dan jarang dikunjungi para siswa maupun guru.Setelah memastikan tidak ada orang lain yang berada di sekitar tempat itu, Shuling menghentikan langkahnya di dekat sebuah kursi.
Sambungan telepon kemudian berakhir. Han Yu masih berdiri di dekat meja sambil memegang gagang telepon dengan tangan gemetar. Wajahnya menjadi pucat, matanya mulai berkaca-kaca."Ibu, ada apa?" tanya Xian Ren yang memperhatikan perubahan ibunya itu.Han Yu tidak menjawab, air mata mulai menetes di pipinya."Bu?" Xian Ren mulai panik. Ia segera berdiri lalu mendekat ke arah ibunya.Han Yu meletakkan gagang telepon. Napasnya tersengal-sengal. Ia memeluk Xian Ren yang kini berdiri di dekatnya."Pihak sekolah mengeluarkanmu, Han," ucap Han Yu dengan suara bergetar dan terisak-isak."Mengeluarkanku?" Xian Ren mengernyitkan dahinya.Han Yu mendongak, menatap wajah anak tirinya tersebut. "Mereka bilang, keputusan itu dibuat oleh komite sekolah saat rapat kemarin.""Apa alasannya, Bu?""Komite sekolah mengatakan kalau kecelakaan yang kamu alami terjadi karena kamu melanggar beberapa aturan keselamatan sekolah.”Xian Ren terdiam mendengar ucapan itu."Ibu benar-benar tidak percaya pihak sekola
Setelah mengurus seluruh berkas administrasi kepulangan dan menaiki sebuah mobil taksi yang mereka pesan, Han Yu dan Xian Ren akhirnya tiba di depan rumah berlantai dua beberapa menit kemudian. Rumah itu adalah rumah yang selama ini mereka tempati—peninggalan dari mendiang suami Han Yu yang juga merupakan ayah kandung Han Lim.Xian Ren keluar dari taksi dengan tenang. Walau tubuhnya sudah dipulihkan oleh Ramuan Pemulihan Otot dari Sistem Duality kemarin, ia tetap berpura-pura berjalan lemas agar Han Yu tidak mencurigai pemulihan tubuhnya yang mendadak."Pelan-pelan saja, Han. Biar Ibu membantumu berjalan," ucap Han Yu lembut seraya merangkul lengan anak tirinya dan menuntunnya berjalan ke pekarangan rumah.Han Yu memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dari dalam. Wanita itu tak lain adalah Bibi Xue Fang yang berusia 43 tahun."Ah, kalian sudah pulang? Ayo masuk," Bibi Xue Fang tersenyum.Han Yu menuntun Xian Ren berjalan ke dalam rumah. Seor
Shuling—seorang siswi berparas cantik dengan rambut panjang yang terurai—tampak tidak fokus mendengarkan penjelasan dari sang guru di depan kelas.Matanya tertuju ke barisan belakang kelas, menatap ke arah Ryu Wei dan teman-temannya yang tertawa sambil bermain ponsel di tengah jam pelajaran—tanpa menghiraukan gurunya di depan kelas.Raut wajah Shuling dipenuhi amarah yang tertahan sejak ia mendengar percakapan Ryu Wei di belakang sekolah kemarin. Ia ingin sekali mendatangi Han Yu—ibu dari Han Lim—untuk membongkar semua kelakuan busuk Ryu Wei yang menyebabkan Han Lim sampai koma.Namun, jika ia cuma bermodalkan apa yang hanya ia dengar kemarin, pihak sekolah pasti akan menyangkalnya dengan mudah. Shuling butuh bukti lain untuk bisa membongkar semua kejahatan itu.Saat bel istirahat berbunyi, Shuling bergegas keluar kelas—bermaksud mengikuti Ryu Wei dan teman-temannya secara diam-diam. Namun langkahnya terhenti di koridor depan ruang Kepala Sekolah. "Tentu saja, Tuan Wei. Masalah wakt
Beberapa jam kemudian, pintu kamar terbuka dari luar. Han Yu dan Yuan Rin masuk ke dalam ruangan sambil membawa kantong plastik berisi kasur lipat dan beberapa perlengkapan cuci muka yang baru mereka beli dari toko di depan rumah sakit.Xian Ren yang tadi sempat tertidur sebentar, segera membuka matanya. Ia menatap ibu dan kakak tirinya itu."Ah, Han. Maafkan kalau membuatmu terbangun," ucap Han Yu dengan senyum lembutnya. Ia meletakkan kasur lipat itu di dekat dinding, lalu menata perlengkapan mandinya di atas meja."Hei adikku yang bodoh. Apa kau lapar?" Yuan Rin berjalan mendekati meja. Ia mengambil satu apel merah dari sana, lalu menarik kursi ke dekat ranjang.Yuan Rin duduk di tepi ranjang di samping Xian Ren. Ia mengupas kulit apel merah itu dengan perlahan. Sesekali melirik ke arah Xian Ren yang sudah bersandar sambil menatap ke arahnya."Bu. Apa kata dokter tentang kondisi Han?" tanya Yuan Rin, sambil terus mengupas kulit apel di tangannya. "Kapan Han diperbolehkan pulang dar
Yuan Rin perlahan melepaskan pelukannya. Pipinya seketika merona merah membayangkan betapa eratnya ia memeluk adiknya tadi. Selama ini, ia tidak pernah memeluk adik tirinya seperti itu. Dan bahkan, ia sangat tidak suka jika adik tirinya berada di dekatnya. "K-kau jangan salah paham. A-aku bukan tiba-tiba peduli denganmu. Aku cuma tidak mau kamu mati dan membuat ibu semakin sedih," Yuan Rin mendengus dan memalingkan wajahnya dari Xian Ren. Xian Ren hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu. Tatapan matanya yang tenang, semakin membuat Yuan Rin salah tingkah. Han Yu yang memperhatikan mereka, hanya bisa tersenyum kecil. "Rin, mumpung kamu ada di sini, antar Ibu turun sebentar ke toko di depan rumah sakit. Ibu ingin membeli kasur lipat dan beberapa persediaan lain," ucap Han Yu lembut sambil membetulkan selimut Xian Ren. "Baik, Bu." "Sayang, Ibu dan Kakakmu turun sebentar ya. Kamu istirahat saja dulu di sini. Kalau ada apa-apa, tekan saja bel di samping ranjangmu itu agar per







