LOGINKetegangan di ruangan VIP itu kini berada di titik didih. Dealer dengan sarung tangan putih mulai membagikan kartu dengan gerakan yang sangat mekanis, seolah setiap gesekan kartu di atas kain beludru hijau itu adalah bagian dari algoritma yang sudah diprogram. Sret! Sret! Sret! Dua kartu tertutup mendarat di depan Fang Zhe. Luna, yang mencoba menekan rasa takutnya dengan agresi, segera menaruh tumpukan chip buta (blind) dan menatap Fang Zhe dengan tajam. "Tuan, jangan hanya diam. Apa kartu Anda begitu buruk sampai Anda tidak berani menaruh taruhan tambahan? Atau Anda baru sadar bahwa menggertak dua wanita sekaligus adalah kesalahan terbesar dalam hidup Anda?" Ariel menimpali dengan senyum licik, jemarinya sengaja memainkan kartu miliknya agar Fang Zhe teralihkan. "Jangan bilang Anda hanya besar di mulut. Di tebak angka mungkin anda beruntung, tapi di sini... setiap kartu yang keluar adalah takdir yang sudah kami kunci." Fang Zhe hanya menyeringai di balik topengnya. Dengan M
Suasana yang tadinya penuh sorak-sorai mendadak mendingin saat dua sosok wanita berjalan menuruni tangga pualam di ujung aula. Langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang penuh intimidasi. Luna dan Ariel. Dua nama yang sudah cukup untuk membuat nyali para penjudi kelas atas di Paviliun ini menciut. Sebagai orang kepercayaan sang Tuan Besar, kemunculan mereka menandakan bahwa situasi sudah tidak lagi berada di bawah kendali seorang bandar biasa. Luna, dengan gaun merah yang memeluk lekuk tubuhnya, menatap tumpukan chip senilai $30.000.000.000 itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Jelas Ada trauma yang mendalam di balik matanya. Ia teringat kembali pada kehancuran cabang di Kota Shange... Itu sebuah mimpi buruk di mana seorang pemuda misterius meratakan kasinonya hingga ia terpaksa merangkak kembali ke pusat untuk memulihkan reputasinya. "Tukarkan chip? Anda baru main di tebak angka, bagaimana bisa sudah merasa puas?" suara Luna bergema, membawa na
Suasana di sekitar meja Sic Bo berubah menjadi zona turbulensi emosi. Teriakan tak percaya dari penonton saling bersahutan, sementara Irma hanya bisa bersandar pada bahu Fang Zhe, merasa lututnya lemas setelah menyaksikan angka 15 miliar dolar muncul dari sebuah tebakan yang dianggap mustahil. Sang bandar merangkak bangun dengan gemetar, wajahnya yang tadi sombong kini tampak layu seperti sayur basi. Ia tahu, jika Fang Zhe melenggang pergi sekarang, kepalanya akan menjadi jaminan bagi pemilik kasino. "Tuan... tunggu!" seru sang bandar dengan suara parau, menghentikan langkah Fang Zhe yang baru saja hendak menginstruksikan pelayan untuk mengamankan gunungan chip miliknya. Irma, yang sudah mulai sadar dari keterkejutannya, segera menarik ujung jas Fang Zhe. "Fang Zhe, sudah cukup! Kita sudah menang jauh melampaui logika. Ayo ambil uangnya dan pergi dari sini sekarang. Taruhan seratus juta dolar lagi saja sudah terlalu berisiko, biarkan sisa kemenangan ini kita amankan!" Fang Zhe m
Irma menelan ludah melihat betapa santainya Fang Zhe menyerahkan kartu hitamnya di loket penukaran. Dalam hitungan menit, petugas loket yang tadinya bersikap dingin berubah menjadi sangat kaku, keringat dingin membasahi pelipisnya saat melihat angka yang tervalidasi."I-ini chip Anda, Tuan... Total seratus juta dolar dalam pecahan platinum," ucap petugas itu dengan suara gemetar.Beberapa pelayan dengan seragam formal segera menghampiri, membawa nampan perak yang berisi tumpukan chip berkilau. Bobotnya cukup berat, memancarkan cahaya metalik yang menandakan nilai fantastis di baliknya."Ikuti aku .." Fang Zhe memberi isyarat agar mereka membawa nampan itu mengikuti langkahnya.Mereka berdua berjalan membelah kerumunan orang-orang berpakaian mewah yang tengah berteriak histeris di depan meja-meja judi. Aroma cerutu mahal dan alkohol menyerbak di udara, namun bagi Fang Zhe, udara di sini berbau seperti keputusasaan yang dibungkus kemewahan.Langkah Fang Zhe terhenti di sebuah meja besa
Fang Zhe hanya mendengus pelan mendengar pertanyaan Irma, sembari menahan rasa perih di hatinya akibat "perampokan" poin yang baru saja dilakukan sistem lengkap dengan pajak sialannya."Anggap saja begitu, Dokter. Sedikit trik kecepatan tangan yang kupelajari di sela-sela meracik pill," jawab Fang Zhe asal, sambil menyerahkan topeng perak gelap itu kepada Irma. "Pakailah. Jangan dilepas sebelum kita keluar dari gedung itu."Wuuuush!Irma menerima topeng itu dengan ragu. Materialnya terasa dingin dan halus, namun saat ia mengenakannya, topeng itu seolah menyusut dan menyatu sempurna dengan kontur wajahnya. Dalam pantulan spion, Irma terperangah melihat sosok asing yang menatap balik ke arahnya. Ia tetap cantik, namun auranya berubah total menjadi wanita misterius dari kalangan atas."Luar biasa..." gumam Irma takjub.Fang Zhe pun mengenakan topengnya. Seketika, aura pemimpin yang ramah menghilang, berganti dengan aura dingin dan dominan yang mampu membuat siapa pun menundukkan kepala
Setelah beberapa menit mengantar Bibi Mei...Dan memastikan Bibi Mei masuk ke dalam perlindungan Bimo yang berjaga Toko Alkemis Dewa dengan aman, Fang Zhe segera memutar arah kemudinya. Mesin mobil menderu pelan namun bertenaga, membelah jalanan kota menuju kawasan perumahan elit tempat kediaman Dokter Irma beradaNamun pikiran Fang Zhe masih terfokus pada laporan Juliant Gerva, bahkan semua rencana taktis di kepalanya seakan menguap saat ia menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan modern minimalis yang asri.Tak butuh waktu lama bagi pemilik rumah untuk membuka pintu utama."Kau tepat waktu, Fang Zhe..." suara lembut itu menyapa.Fang Zhe yang hendak melangkah keluar dari mobil mendadak terdiam. Untuk pertama kalinya, fokusnya benar-benar pecah tanpa campur tangan misi sistem apa pun. Di ambang pintu, Irma berdiri dengan gaun malam berbahan sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang biasa diikat rapi saat di rumah sakit kini dibiarkan tergerai, membingka
Luna menyesap sisa cairan merah di gelas kristalnya, lalu meletakkannya dengan dentingan halus di atas pagar balkon mezanin.Matanya yang indah namun berbisa mulai menatap Fang Zhe seolah-olah sedang melihat seekor serangga yang sedang menggeliat di bawah mikroskop."Fang Zhe, lihatlah sekelilingmu
Beberapa saat kemudian, rintihan kesakitan mulai terdengar dari balik puing-puing yang terbakar. Berkat perlindungan Qi yang secara tidak sengaja terpancar dari tekanan gravitasi Fang Zhe sebelumnya, sebagian besar anggota Bayangan Hitam tidak tewas seketika.Hal itu membuat Pemimpin mereka merangk
Kini tuan Muda Zhao menatap jari Fang Zhe yang menunjuk ke lantai dengan mata yang memerah karena kebencian yang mendalam. Nafasnya menderu, setiap tarikan oksigen terasa seperti api di paru-parunya. Permintaan Fang Zhe bukan sekadar negosiasi itu adalah eksekusi terhadap martabat keluarga Zhao."M
Wajah Tuan Muda Zhao memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat ia berusaha menahan amarah yang meledak-ledak. Kata-kata Fang Zhe barusan adalah tamparan keras tepat di depan wajahnya, apalagi kini ratusan pasang mata pengunjung toko yang biasanya menunduk ketakutan padanya, kini malah mula







