LOGINErlang pura-pura membuka kulkas besar ketika Sasmita datang dan melewatinya sembari membawa nampan berisi obat.
"Cari apa, Tuan?" Sasmita menegur Erlang. "Tidak ada ...," Erlang sedikit gugup. "Maksudku ... aku sudah menemukannya," ucapnya sembari menunjukkan sebuah minuman kaleng. Sasmita mengangguk ramah dan segera berjalan menuju ruang belakang. Dia duduk bersebelahan dengan Zoya dan mulai menyentuh leher yang dipenuhi dengan bekas cengkraman itu. Sementara itu, Erlang tidak langsung pergi. Seperti detektif, dia mengintai dan mendengarkan dengan seksama obrolan dua wanita beda usia itu. "Apa lagi masalahnya? Apa Arsya yang melakukan ini?" Sasmita bertanya lesu. Zoya menganggukkan kepala. Tubuhnya sudah seperti kebal dengan setiap perlakuan kasar Arsya. Setiap pria itu merasa kesal, dia akan melampiaskan amarahnya pada Zoya. "Makanlah, ibu bantu obati setelah kamu selesai sarapan!" Erlang mencengkram kaleng minuman di tangannya hingga pecah. Duka yang diperlihatkan Zoya telah menyesakkan dadanya. Dia harus segera tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Zoya? Hari cuti telah berakhir. Erlang diajak oleh Rasputin menuju perusahaan. Setelah beberapa hari memperhatikan Erlang, dia berencana memberikan menantu barunya posisi yang bagus dalam perusahaan raksasa miliknya. "Aku hanya seorang koki sebelumnya, Dad, keahlian yang aku miliki hanya memasak dan membuat hidangan di atas meja, tentu saja aku tidak berani sembarang menerima jabatan ini," Erlang menolak dengan halus tawaran ayah mertuanya. Rasputin merangkul pundak Erlang, membawanya berjalan menuju ruangan pribadinya. Di sana, dia pun mulai menunjukkan kekuasaannya yang tidak terbatas. "Jangan pikir aku tidak mengetahui kemampuanmu yang lain, aku tidak sembarangan memilih orang. Aku mendapat informasi bahwa kamu ahli dalam memimpin suatu tim. Kamu mampu memotivasi, membangun dan mengarahkan sebuah tim dalam setiap pekerjaan." Rasputin kemudian menuangkan segelas anggur dan menyerahkannya pada Erlang. Erlang menerimanya dengan dahi mengernyit. Seorang pemimpin besar dalam dunia bisnis melayaninya, bukankah ini adalah awal yang baik untuk karirnya karena telah dipercaya oleh sang ayah mertua? "Pemikiran dan ketajaman finansial seperti itu yang aku inginkan dari seseorang, dan aku telah melihatnya dalam dirimu, Erlang." Rasputin mendentingkan gelasnya pada Erlang, bersulang untuk kemajuan perusahaan yang lebih baik. * Pada siang hari, Erlang sedang makan siang. Erlang duduk berhadapan dengan rekannya dan di belakangnya terdapat beberapa karyawan yang mulai bergosip tentang Arsya dan juga pengangkatan jabatannya. "Kali ini Arsya tertinggal banyak sejak kehadiran menantu baru itu, apa menurut kalian dia akan terima begitu saja?" "Berharap diangkat jadi CEO tahun ini, ternyata iparnya langsung melangkahinya, aku rasa dia tidak akan tinggal diam." "Arsya sedang dalam perjalanan bisnis sekarang, begitu dia kembali, aku yakin akan terjadi keributan besar dalam keluarga Bagaskara." Dua pria itu berbicara tentang Arsya, lalu seorang karyawan baru bernama Mikhayla menimpali obrolan itu. "Aku justru lebih khawatir dengan istrinya Arsya." Mikhayla adalah teman baru Zoya setelah menikah. "Jika mood Arsya sedang tidak baik, istrinya adalah sasaran kemarahannya. Aku tidak bisa bayangkan siksaan seperti apalagi yang akan didapatkan Zoya setelah ini." "Memang psyco si Arsya itu, istri cantik, baik, dan penurut seperti Zoya selalu disiksa, apa dia tidak memiliki sesuatu yang lain selain menghukum istrinya sepanjang waktu?" Selera makan Erlang seketika menghilang. Dia meletakkan peralatan makannya dengan kasar hingga pria di depannya terheran-heran. "Ada apa, apa kamu terganggu dengan obrolan mereka?" Pria itu bertanya. "Jika iya, aku akan membereskan mereka sekarang juga." "Tidak perlu." Erlang sedang berpikir tentang Zoya yang kerap disiksa oleh Arsya. Sudah banyak bukti yang mengarahkan bahwa Zoya tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam pernikahannya. Saat pulang kerja, Erlang menerima sebuah pesan dari istrinya. Arsyila mengatakan jika dia akan berangkat ke sebuah daerah untuk acara amal dan dia berharap Erlang akan menyusul dan mereka bisa menghabiskan waktu di tempat tersebut. Namun Erlang memberi balasan dengan tegas. {Aku juga sedang sibuk. Restoran yang baru aku buka belum berjalan dengan semestinya, aku harus turun tangan langsung untuk menghandlenya.} Begitu tiba di rumah, Erlang tidak menuju kamarnya, tapi mencari keberadaan Zoya. Ketika tidak menemukan Zoya di tempat yang biasa, Erlang tidak berpikir panjang, dia langsung mendatangi kamar wanita itu dengan berani. Erlang mengetuk pintu berulang kali. Di dalam kamarnya, Zoya sedang melakukan panggilan video dengan Mikhayla. Kedua wanita itu membahas pengangkatan Erlang sebagai wakil presiden yang baru. "Mikha, tunggu sebentar, ada yang mengetuk pintu, aku akan memeriksanya." [Apa Arsya sudah pulang dari perjalanannya?] Mikhayla terlihat resah. Terakhir kali mereka melakukan panggilan video, Arsya muncul sembari menendang pintu kamar. "Aku kurang tahu." Ketakutan sudah melanda. Itu sebabnya Zoya tidak berniat untuk menutup panggilan videonya. Bahkan dia sengaja mengarahkan kamera ponsel agar bisa merekam bukti jikalau Arsya datang membawa angkara murkanya. Dengan penuh kehati-hatian, Zoya membukakan pintu. Dia tersentak tatkala melihat Erlang sudah berdiri tegang di depan pintu kamarnya. Perasaan keduanya campur aduk. Cukup lama mereka terdiam dan saling memandang satu sama lain, hingga Zoya yang lebih dulu bertanya. "Ada apa, Lang, apa kamu butuh sesuatu?" Zoya tidak membukakan pintu sepenuhnya, tapi suaranya masih lembut dan memanjakan telinga yang mendengarnya. "Ya, aku butuh penjelasan." Tanpa basa-basi lagi, Erlang mendorong pintu agar terbuka untuknya. Dia melesak masuk ke kamar Zoya dan mengunci pintu setelahnya.Sembari mengeluarkan dokumen dari dalam tas yang dibawanya, Zoya tersenyum dengan percaya diri. "Sebenarnya, aku memiliki dua toko roti sendiri dan sama-sama baru dibuka. Dan ini adalah bukti kepemilikannya," kata Zoya dengan bangga. "Satu toko mengalami kebangkrutan total karena ada seseorang yang dengan sengaja menjebakku, tapi untungnya toko yang mengalami kebangkrutan itu hanya cadangan saja, toko yang sesungguhnya mengalami kemajuan yang signifikan dalam beberapa bulan ini dan cukup memberikan keuntungan yang banyak."Arsya tercengang kaget, matanya melebar karena tidak menyangka Zoya masih memiliki toko roti yang lain. "Apa ... ini tidak mungkin," gumamnya seperti orang linglung. Dia tidak sabar untuk melihat usaha baru istrinya itu.Untuk membuktikan dirinya mampu, Zoya lebih dulu menyerahkan dokumen tersebut kepada Arsya. "Ini adalah sertifikat kepemilikan toko roti yang sah. Rencananya, aku juga akan mengembangkan beberapa cabang di beberapa tempat lain."Ketika memeriksa k
Erlang membelai rambut Zoya dengan lembut, sedangkan Zoya membenamkan kepalanya di dada telanjang Erlang. Sepasang kekasih itu saling menikmati sentuhan dengan penuh kasih. "Kamu tahu, aku sempat mengalami kesulitan tidur saat berpisah denganmu, Zoya," ucap Erlang dengan suara yang lembut. Merasa bersalah, Zoya segera mendongakkan kepala dan menatap Erlang dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku minta maaf, Lang. Aku sudah membuatmu menderita saat itu." "Aku tidak pernah menyalahkanmu." Erlang tersenyum sembari menikmati keindahan di wajah kekasihnya. "Itu hanya masa lalu, dan sekarang aku tidak ingin kamu meninggalkan aku lagi, jangan coba-coba untuk berpisah dariku!" Bibir Zoya mengerucut manja. "Aku senang dicintai oleh pria sepertimu, Lang, tapi kata-katamu tadi membuatku sedikit takut. Aku seperti mendapat ancaman cinta dari kekasihku sendiri.""Memang benar ini sebuah ancaman." Tanpa ragu, Erlang mempertegas. "Cukup sekali saja kamu boleh menyakitiku, aku tidak akan tinggal diam
Di dalam Mansion Bagaskara, Suzy berdiri di tengah ruangan dengan wajah yang merah karena marah. Dia menatap Rasputin dengan mata yang berapi-api. "Lihat ini jam berapa, Zoya dan Erlang tidak kembali selarut ini, aku yakin mereka sedang bersama, mereka berdua pasti berselingkuh di belakang kita semua," Suzy akhirnya mengungkapkan kecurigaannya pada sang suami.Akan tetapi Rasputin tidak langsung terpengaruh. Cara berpikirnya lebih rasional. "Apa yang kamu pikirkan tentang Erlang dan Zoya? Mereka sudah biasa seperti ini. Zoya sibuk dengan bisnis barunya, apalagi Erlang yang memiliki banyak urusan, kenapa kamu harus menyangkut pautkan semua masalah dengan Zoya dan Erlang seolah-olah mereka berselingkuh.""Jadi kamu tidak percaya padaku? Kamu lebih membela kedua menantumu itu daripada pendapat istrimu sendiri?" tuduh Suzy dengan nada yang keras.Rasputin yang sedang duduk di sofa, menatap Suzy dengan mata yang tenang, "Apa yang kamu maksudkan, Suzy? Aku bicara apa adanya, sejauh ini aku
Selain Zoya, Barbara adalah sosok wanita yang sempat membuat Erlang terpana dan memandangnya tanpa berkedip. Tentu saja Zoya tidak bisa melupakan momen pertemuan dengan wanita itu. "Dia... wanita itu?" Zoya langsung berpikiran yang bukan-bukan. "Kamu bahkan sengaja menyiapkan hadiah untuknya, selain itu apa lagi? Apa kalian juga sering bertemu di belakangku?" Zoya bertanya dengan nada yang keras dan penuh kecurigaan.Erlang sedikit panik dengan raungan keras Zoya, dia segera menepikan mobilnya ke bahu jalan. "Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Erlang dengan nada yang lembut, mencoba menenangkan Zoya.Barbara, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat mempesona dengan kecantikan yang elegan dan aura yang kuat. Zoya tidak bisa menepis rasa curiganya ketika Erlang menyebut kembali nama wanita itu.Zoya butuh penjelasan. "Jawab aku, Lang! Apa yang terjadi antara kamu dan dia?" Zoya menuntut jawaban dengan mata yang berkaca-kaca karena kesal dan cemburu.Erlang menarik napas dalam-
81.Begitu tiba di teras rumah, Erlang langsung meraih tubuh Zoya dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Tanpa menghiraukan perasaan Tazkia, dia memeluk Zoya dengan erat, lalu mencoba untuk menenangkan sang kekasih. "Kamu tidak apa-apa kan?" Erlang terlihat khawatir melihat keadaan Zoya yang sempat menangis sesenggukan. "Harusnya aku tidak membawamu ke sini, kita pulang sekarang!" kata Erlang dengan nada yang lembut.Tazkia yang menyaksikannya merasa tersinggung. Dia langsung berdiri dan berusaha untuk memisahkan keduanya. "Apa yang kamu lakukan, Erlang? Apakah kamu tidak melihat aku ada di sini?" kata Tazkia dengan nada yang kasar, sambil melangkah maju dengan wajah yang merah karena marah.Erlang tidak peduli dengan Tazkia, dia terus memeluk Zoya dan mencoba untuk menenangkannya. "Jangan khawatir, aku ada di sini, kamu tidak salah," kata Erlang dengan nada yang lembut, sambil membelai rambut Zoya. Anak-anak panti asuhan yang sempat mengekor berada di sekitar mereka mulai mena
80."Tapi lihat buktinya, sampai sekarang tidak ada yang kembali," Suzy lebih percaya pada pemikirannya sendiri. "Vano juga sudah memantau Barbara setiap waktu, tidak ada anak yang disebutkan oleh Jack mori.""Apa kamu lupa kecerdasan Richard?" Kembali Rasputin mengingatkan bahwa mereka harus selalu waspada. "Aku yakin dia pasti menurunkan kecerdasan itu pada keturunannya dan Barbara sengaja menyembunyikan putra mereka agar kita terkecoh. Kelak kalau anak itu kembali, aku tidak bisa berbuat banyak. Sekarang jika hanya memanfaatkan kemapuan Arsya, aku tidak akan pernah berhasil melampaui Richard. Karena Erlang cukup jenius dalam mengembangkan usaha, aku membutuhkannya untuk menguasai banyak aspek.""Apa menurutmu Erlang tidak akan menuntut apapun?" Suzy meragukan menantunya itu. Terlebih setelah mencurigai Erlang dan Zoya, dia tidak terlalu percaya lagi dengan pria itu. "Aku hanya perlu memberinya bagian kecil saja. Aku sudah mempelajari kehidupan Erlang yang cukup keras, dia hanya be







