LOGINShe was meant to marry Kaelen, the heir of the white pack, that would unite their clans in peace. But she defiles tradition and enters the Pack tournament as a male and one mistake changes everything. Her mask falls…and her fate is claimed by Draven, the ruthless Alpha heir of Duskbane Pack. Bound by the mate bond she never wanted, Liora finds herself torn between loyalty and desire, between the boy who once promised her forever and the wolf who marks her as his. But her secret hides something far greater than the tournament—inside her lies a dormant power the Moon Goddess herself has kept bound. A power that could cure or destroy. As war brews between packs, betrayals fracture the people she thought she could trust. Liora must decide: follow the path the Goddess carved for her… or burn it all to the ground to claim her own destiny.
View MorePenyejuk ruangan menyala, namun suasana tetap terasa panas di dalam ruangan Presiden Direktur. Seorang wanita dengan pakaian minim tampak tengkurap di atas meja, di belakangnya berdiri seorang lelaki tinggi kekar berpakaian rapi. Suara-suara tidak pantas keluar dari bibir merah si wanita.
"Betul. Suruh dia membuat surat pernyataan bahwa tidak akan menuntut ganti rugi atas semua proses penyitaan." Lelaki itu, Nathaniel, tidak berhenti berbicara di telepon meskipun tengah melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Terdengar suara ketukan. Pintu terbuka dan terdengar suara seseorang menarik nafas tajam. Nathan menoleh sekilas dan melihat sekretarisnya bersama seorang wanita muda berwajah manis. Wanita itulah yang mengeluarkan suara terkejut. "Maaf Pak, kami akan kembali nanti," kata Cindy, si sekretaris. Segera kedua wanita itu menghilang di balik pintu. Nathan menyelesaikan urusannya dan melepaskan diri dari wanita yang berada di atas meja. Tangannya mengetikkan sesuatu di handphone sementara wanita itu membenahi make up dan pakaiannya yang berantakan. "Bayaranmu sudah kutransfer," ucap Nathan dingin. "Panggil aku kapan pun kamu butuh, Sayang," desah si wanita yang rupanya adalah wanita panggilan. Nathan mengabaikan dan duduk di belakang meja. Wanita itu melangkah keluar dari ruangan Presiden Direktur. Tidak lama Cindy kembali bersama wanita muda berwajah manis tadi. "Pak, ini sekretaris dari perusahaan lama yang diakuisisi," info Cindy. "Silakan duduk." Nathan mengamati wanita berambut panjang itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cindy meninggalkan mereka berdua dalam ruangan. Wanita itu menoleh gelisah. Nathan menahan senyum. "Duduklah," kata Nathan sekali lagi. Biasanya dia tidak akan sesabar itu menghadapi wanita, tapi ada sesuatu yang menarik dengan wanita berambut panjang ini. Wanita itu duduk tanpa bersuara. Tampaknya dia shock karena melihat adegan tidak pantas yang baru saja berlangsung di atas meja. "Siapa namamu?" tanya Nathan. "Angeline." Nathan membatin, nama yang indah. "Sudah berapa lama kamu bekerja sebagai sekretaris?" Nathan bertopang dagu. "Empat tahun." Angeline menelan ludah. Lelaki di hadapannya tampan namun memberi kesan berbahaya, terutama karena ada bekas luka yang membelah alis kirinya dari dahi hingga ke sudut mata. Beberapa saat mereka saling mengamati lawan bicara. Nathan menyayangkan gaya berpakaian Angeline yang sangat tertutup—kemeja hitam yang terkancing sampai leher dan celana panjang hitam—sehingga dirinya tidak dapat menilai tubuh wanita tersebut. Sementara Angeline tetap memasang wajah datar meskipun melihat bayangan hitam di dalam lengan kiri kemeja putih Nathan. Mungkin sebuah tato? "Sudah baca kontrak yang harus ditandatangani?" tanya Nathan. "Sudah. Hanya saja ada poin yang saya merasa terlalu berat." Angeline mengembalikan fokusnya pada wajah Nathan. "Oh ya? Di bagian mana?" Seulas senyum tipis menggantung di bibir Nathan. "Penalti jika karyawan mengajukan resign sebelum habis kontrak. Tidak bisakah direvisi? Saya tidak mau tanda tangan jika dibebani penalti sebesar dua belas bulan gaji." Angeline berterus terang. "Tidak bisa. Semua karyawan menandatangani kontrak yang sama. Apa yang membuat saya harus membedakan kamu? Lagipula kontrak tersebut hanya berjangka waktu tiga tahun, dan nominal gaji yang ditawarkan jauh lebih baik dibanding bos lamamu, bukan?" Nathan bersandar santai seolah sedang membicarakan cuaca hari ini. Angeline terdiam sesaat, "Akan saya pikirkan terlebih dulu." Nathan memicingkan mata. Wanita ini tidak tertarik dengan jumlah gaji yang ditawarkan? Apakah dia sedang memainkan trik jual mahal? Meskipun wajahnya terlihat tenang, tapi kedua tangan Angeline saling meremas dengan gelisah. Gaji yang ditawarkan Wayne Group, perusahaan di bawah pimpinan Nathaniel Wayne, memang sangat menggiurkan. Angeline berharap Nathan mau mengurangi besaran penalti dalam kontrak kerja. "Begini saja, bekerjalah dahulu selama tiga bulan. Kamu akan menerima gaji sesuai kontrak tanpa penalti. Hanya tiga bulan, setelah itu kamu bisa memutuskan akan lanjut atau tidak." Nathan memberikan penawaran menarik lainnya. Dia terlalu penasaran dengan apa yang ada di balik kemeja hitam Angeline yang tertutup rapat itu. "Tiga bulan percobaan? Tidak perlu tanda tangan kontrak?" Angeline memastikan. "Saya akan merubah surat kontraknya, khusus untuk kamu." Nathan tidak menyembunyikan senyumnya yang menawan. "Baiklah kalau begitu. Saya bisa menerima kondisi tersebut," ujar Angeline. "Mulailah hari ini," kata Nathan dengan nada yang tidak dapat diganggu gugat. Angeline mengernyit, "Apa?" "Mulailah bekerja hari ini, Angeline." "Hari ini saya belum siap. Besok saja, Pak," tawar Angeline. "Tempat tinggalmu dekat?" tanya Nathan. "Tidak terlalu jauh." "Pulanglah untuk bersiap-siap, lalu kembali kemari. Nanti siang ada meeting di luar dan saya butuh kamu." "Tapi—" "Saya tidak akan memotong gajimu hari ini," imbuh Nathan. Hening sesaat. Angeline menghitung berapa besar pemotongan gaji satu hari dalam sebulan. Setelah menyadari bahwa jumlahnya cukup besar dia memutuskan untuk menurut. "Baik, kalau begitu saya pulang dulu. Saya akan kembali secepat—" "Terlalu lama! Saya akan mengantarmu pulang, setelah itu kita pergi bersama." Nathan berdiri mendadak. Angeline tersentak kaget, matanya terbelalak, "A—apa?" "Kubilang saya akan mengantarmu pulang. Ayo." Nathan memakai jas dan berjalan mendahului ke pintu. Otak Angeline nyaris membeku dengan tindakan Nathan. Dia sangat keberatan lelaki ini berada di dekat ruang pribadinya. Nathan sudah kehilangan rasa hormat Angeline karena adegan panas yang dia pertontonkan tadi. "Kenapa masih duduk? Kamu tidak paham kalau waktu sangat berharga?" sergah Nathan. "Tidak usah diantar, saya bisa naik ojek motor, lebih cepat daripada mobil," ketus Angeline. Nathan tersenyum, "Siapa bilang kita naik mobil?" "Apa?" Angeline melongo. Langkah kaki Nathan yang panjang membuat Angeline harus berjalan cepat mengejar. Siapa suruh kakinya tidak sepanjang bos baru ini? Nathan memperhatikan bahwa Angeline tidak terengah meskipun harus berjalan cepat hingga hampir berlari. Tampaknya wanita ini memiliki fisik yang kuat. "Kamu tinggal di mana?" Nathan memberikan helm untuk Angeline. Dengan sangat terpaksa Angeline memberitahukan apartemen tempatnya tinggal. "Oke. Saya tahu tempatnya." Nathan naik ke motor dan menstarter. Lelaki berjas ternyata terlihat keren jika dipadukan dengan motor racing. Pasrah, Angeline memakai helm dan naik ke boncengan tanpa menyentuh Nathan. "Pegangan," ucap Nathan. "Sudah," sahut Angeline. Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi. Nathan penasaran karena wanita di belakangnya tidak berpegangan sama sekali. Dia tidak tahu Angeline berpegangan pada bagian belakang motor, jadi secepat apa pun dia ngebut atau mengerem posisi Angeline tetap aman. Tiba di apartemen Nathan memarkir motor di parkiran gedung. Angeline meluncur turun dari boncengan dan mengembalikan helm. Dia melirik curiga saat Nathan membuntutinya masuk ke dalam. Jangan-jangan lelaki ini mau ikut sampai ke atas? "Pak, tunggu di lobby saja. Saya tidak lama kok," kata Angeline sebelum masuk ke lift penghuni yang dibatasi dinding kaca dari lobby. "Tempat tinggalmu steril dari lelaki?" ejek Nathan. "Ya." Angeline memberikan jawaban yang tidak disangka. "Bosmu pun tidak boleh bertamu?" Nathan mengangkat alis. "Ya." Angeline bersikukuh. Mana mungkin dia membiarkan lelaki berbahaya ini masuk ke dalam ruang pribadinya? "Baiklah. Saya tunggu lima menit," tukas Nathan. Sedikit kesal karena wanita ini menolaknya. Angeline memperhatikan Nathan berjalan menjauh. Setelah lelaki itu mencapai jarak aman barulah Angeline masuk ke area lift dengan kartu akses. Sepasang mata tajam Nathan memperhatikan sosok Angeline masuk ke lift. Lelaki sepertinya yang tidak pernah ditolak wanita merasa tertantang oleh penolakan Angeline. Dia bertekad akan mendapatkan wanita itu bagaimanapun caranya. Lift berhenti di lantai sembilan belas. Angeline berlari menuju unitnya. Dia hanya perlu mengambil tas yang lebih besar untuk memuat pakaian ganti dan jaket tipis. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal Angeline bergegas turun. "Enam menit," ucap Nathan begitu Angeline tiba di hadapannya. "Lima setengah menit, Pak," koreksi Angeline. Nathan tidak mendebat lagi. Dia berjalan mendahului ke tempat parkir. Mereka pun melaju ke sebuah hotel bintang lima tempat janji meeting diadakan. Meeting berjalan berat sebelah. Angeline mengamati bahwa Nathan tidak pernah memberikan kesempatan pada rekan bisnisnya untuk menegosiasikan perjanjian yang dibuat. Lelaki itu bahkan tampak memaksakan kehendak seperti yang dilakukannya terhadap kontrak kerja Angeline. Selesai meeting Nathan dan asisten barunya kembali ke kantor. Nathan memperhatikan tas besar yang tersampir di bahu Angeline, "Apa yang kamu bawa? Pakaian ganti?" "Iya," jawab Angeline sesingkat mungkin. "Oh, ada kegiatan setelah jam kantor?" Nathan tersenyum. Angeline tidak menjawab, hanya membalas tersenyum tipis. Menurutnya hal yang ditanyakan adalah urusan pribadi dan dia tidak wajib menjawab. "Angeline. Kalau saya bertanya, kamu harus menjawab. Saya tidak mau ada karyawan terlibat dalam aktivitas yang dapat merugikan perusahaan," tegas Nathan. "Saya bisa menjamin bahwa tidak ada aktivitas yang merugikan perusahaan, Pak." Angeline menyembunyikan ketidaksenangannya atas keingintahuan Nathan. "Harus dirahasiakan?" Angeline mengulum bibir. Betapa sulitnya menghadapi lelaki ini! "Sudahlah. Kamu boleh pergi. Cindy akan memberitahu di mana ruanganmu." Nathan memutus kontak mata terhadap Angeline. "Baik, Pak." Angeline bernafas lega dan keluar dari ruangan luas yang terasa menyesakkan itu. Melihat Angeline keluar dari ruangan Nathan, Cindy cepat-cepat menghampiri. Sebelumnya Nathan telah memberi instruksi yang spesifik mengenai Angeline. "Hai, ayo kutunjukkan ruanganmu." Cindy tersenyum manis. Angeline mengangguk. Menghadapi Nathan selama setengah hari telah menguras energinya sehingga dia terlalu lelah untuk bicara. Mereka masuk ke sebuah ruangan tepat di sebelah ruangan Presiden Direktur. Tidak terlalu luas tapi memiliki jendela teramat besar yang memperlihatkan pemandangan kota metropolitan. Angeline langsung menyukai ruangan yang berbau baru ini. "Ada pintu yang terhubung langsung dengan ruangan Presdir, jadi sewaktu-waktu dipanggil kamu bisa lewat sini." Cindy menunjuk ke arah sebuah pintu geser besar di dinding. "Oh." Angeline langsung merasa terancam. Sementara itu di ruangan sebelah Nathan sedang mengamati layar LCD di meja yang memperlihatkan ruangan tempat Angeline berada. Mata setajam elang mengawasi gerak-gerik kedua wanita. Nathan tersenyum saat Angeline memandang tepat ke arah CCTV. Wanita itu menatap cukup lama sebelum kembali memperhatikan Cindy. "Menarik sekali ...," gumam Nathan. Dalam pikirannya terlintas berbagai rencana untuk menundukkan asisten barunya.The city moved, but differently.Not slower. Not faster. Just… lighter in the spaces that mattered. Varenth’s rhythm had changed imperceptibly, like the first breaths after a storm, when the wind has passed but the air itself is altered. People still acted, still fulfilled tasks. The trains ran. Deliveries arrived. Signals flickered across the network. But between each action, there was a pause—subtle, personal, unmeasurable by any algorithm Kaelith had designed.Draven noticed it first in the quiet relay chambers below the northern districts. Operators no longer answered immediately. Supervisors no longer confirmed instantly. The ledger still expected compliance—but what it received was choice wrapped in reflection.“They’re leaving spaces,” Silver said, eyes tracing the anomalies. “Gaps between signal and response. Gaps the ledger can’t anticipate.”Draven leaned against a console, watching the live feeds of human micro-decisions—the small hesitations, the considered breaths, the si
The stories did not spread evenly.They did not flood the city in waves or spark visible movements that the ledger could chart. They moved instead along trust lines—quiet channels, shared shifts, pauses between tasks where people leaned closer than protocol allowed and spoke just softly enough to matter.They were not speeches.They were not demands.They were confessions.Most began the same way.I waited.I acted.I chose wrong.I’d choose again.No names followed. No dates. No metrics.The ledger registered none of it.But Varenth did.In a logistics hub near the river arc, conveyors slowed as two operators paused mid-cycle. A junior technician stood frozen at a console, amber lights pulsing in steady cadence. No alert had triggered. No escalation window had opened. Everything was within tolerance.Still, his hands trembled.“I froze last week,” he said suddenly.The words landed without warning, heavy in the air—like something forbidden by custom rather than law.“I did everything
The first fracture did not look like defiance.It looked like fatigue.Across Varenth, people continued to move, continued to choose, continued to comply just enough to remain functional—but the effort began to show in places the ledger had never been trained to read. Voices flattened. Humor dulled. Decisions took longer, not because of fear, but because every option now carried an aftertaste.Memory had weight.And the weight changed posture.In the lower transit ring, a supervisor stared at a maintenance request blinking amber on her console. The fix was simple. She had done it a hundred times without escalation. Her hand hovered over the confirmation field.Then she opened the context pane.Past discretionary actions unfurled—nothing incriminating, nothing heroic. Just patterns. A tendency to act early. A habit of trusting her judgment. A subtle statistical fingerprint of initiative.She imagined the ledger watching—not judging, not accusing. Remembering.She closed the pane withou
The morning after the forum did not arrive with panic.That was the most dangerous part.Varenth woke as it always did—transport lanes breathing open in measured pulses, towers bleeding light into low cloud, schedules sliding into place with mathematical grace. The city moved with the confidence of something that had survived worse than unease. There were no riots, no mass refusals, no visible fracture lines for the city to rally around.Nothing dramatic enough to resist.But people hesitated.Not long enough to trigger alerts.Not long enough to be named fear.Just long enough to be felt.A pause before confirming a request.A recalculation before speaking aloud.A moment of silence where instinct used to live.The ledger registered it as noise—statistical variance well within acceptable bounds.Draven felt it as pressure.He stood at the edge of the old relay chamber, boots planted on scarred metal, watching Silver strip nonessential signal paths from the underground network. The ro
The first objection did not come from the council.It came from the streets.Not as protest—not as defiance—but as hesitation. A pause where certainty should have been. A moment of friction so subtle that most missed it entirely, but for those attuned, it whispered of something fragile cracking ben
Morning came without ceremony.No bells rang from the council towers. No summons echoed through the districts. The city woke as it always had—vendors lifting shutters with stiff fingers, apprentices blinking sleep from their eyes over half-written sigils, river-fog curling through alleys like somet
The city did not celebrate its survival.That, perhaps, was the clearest sign of how deeply Varenth had changed.Morning arrived muted and deliberate, as if the city itself were testing the weight of the day before allowing it to settle. Ash from the western quarter still clung to stone and window
“The city wants answers.”The words fell into the council chamber like a measured strike.Councilor Teyr Lin stood near the tall windows, hands clasped behind his back, gazing out over Varenth as if it were a map only he could read. Morning light cut across the floor in pale bands, illuminating dus






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.