Share

72

Penulis: Tie Sugianto
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 23:23:36

“Tari, tolong beri aku waktu sebentar saja untuk bicara,” kata Mas Tris begitu masuk ke dalam rumah. Dia mencoba menahanku yang langsung berdiri setelah melihatnya masuk.

Aku dan Mas Tris memang diminta pulang oleh Pak Mangun karena dia sendiri yang akan menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya pada Prasetyo. Aku lebih dulu masuk ke rumah sedangkan Mas Tris berhenti dan duduk di teras, kami sama-sama memilih untuk menyendiri dan mencoba kembali menata hati dan pikiran.

“Tolong Tari,” kata Mas Tris mengiba, aku kembali duduk sambil menghela napas panjang. Mas Tris lalu duduk di depanku.

“Tari, aku tahu kalau seribu kata maaf pun tidak akan ada gunanya sekarang. Apa yang aku lakukan padamu memang sudah sangat keterlaluan. Kamu sudah sangat berbaik hati karena dulu kamu masih mau memberiku kesempatan. Kamu sudah memberikan kepercayaan tapi aku kembali gagal menjaganya. Aku tidak mampu memenuhi tugas dan kewajibanku sebagai seorang suami, sebagai seorang bapak. Aku tidak tahan ber
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • SUAMI BERSAMA   79

    “Aku sudah putuskan, aku harus mengakhiri semuanya. Bagiku sudah tidak ada lagi alasan yang membuatku harus bertahan dalam pernikahan ini. Anak-anak sudah mengerti dan keputusan ini justru untuk kebaikan mereka. Aku ingin sembuh dan menyembuhkan anak-anakku dari luka yang dibuat Mas Tris.”“Aku paham Tari dan aku akan selalu mendukungmu.”Setelah jam kantor di hari pertama aku masuk, aku langsung menuju rumah Sika untuk menengoknya. Sekian lama tidak bertemu dengan Sika membuatku sedikit terkejut dengan kondisi Sika, walaupun dia sudah pulang ke rumah tapi wajahnya masih pucat, tubuhnya lebih kurus dari yang terakhir aku melihatnya. Sika juga terlihat masih kurang nyaman duduknya jadi dia sering berpindah posisi dengan bersandar pada bantal dengan kaki berselonjor di kursi panjang.“Berarti sekarang Trisno ikut kakaknya?”“Iya, tapi kadang juga tidur di toko padahal aku sudah minta dia untuk menyerahkan toko dan segala isinya ke perempuan itu.”“Mana mungkin Trisno mau, itu kan

  • SUAMI BERSAMA   78

    “Mereka semua orang-orang suruhan Seno.”Mas Tris duduk bersandar, dia mencoba bicara perlahan sambil menahan sakit, mata dan wajahnya lebam, sekujur tubuhnya pun sama. Mas Tris dikeroyok di gang sepi dekat rumah Mbak Asri, dia baru saja keluar dari rumah dan langsung diikuti oleh empat orang yang kemungkinan besar sudah menunggunya. Beruntung ada tetangga Mbak Asri yang kebetulan lewat dan melihat Mas Tris lemas tak berdaya, dia lalu membawa Mas Tris ke klinik.“Dari mana kamu tahu mereka orang suruhan Seno Mas?”“Karena aku sempat melihat mobil Seno lewat di ujung gang.”“Tapi Pras bilang, dia akan mengawasi Seno supaya dia nggak berulah lagi.”“Apa yang tidak bisa dilakukannya? Toh dia juga tidak dipenjara, dia masih bebas ke mana-mana dan masih bisa menghubungi orang-orang itu. Seno juga tidak perlu mengotori tangannya, dia bisa lakukan dari tempat mana pun yang dia suka.”“Sebaiknya kamu kembalikan apa yang sudah kamu ambil dari mereka, lebih cepat lebih baik.”“Aku sudah

  • SUAMI BERSAMA   77

    “Hen, kalau kamu mau kasih aku SP juga aku terima. Aku udah bener-bener pasrah. Pagi tadi aku udah siap-siap mau berangkat kerja tapi begitu sampai depan rumah aku balik lagi Hen.”“Aman Tar, stok cuti kamu masih ada jadi potong gajinya nggak gede-gede amat.”Siang ini Hendi datang ditemani Mira, mereka menyempatkan diri mampir ke rumah setelah acara di luar kantor untuk mengetahui keadaanku. Hendi khawatir denganku karena teleponnya tidak pernah aku angkat dan pesannya belum aku balas. Aku pun belum bisa menceritakan semuanya secara lengkap, aku memberitahu mereka garis besarnya saja dan itu pun sudah cukup mengejutkan mereka.“Besok mudah-mudahan aku sudah bisa keluar dari bayang-bayang menakutkan itu. Aku juga tidak mau terkurung terus di dalam rumah.”“Mbak, besok biar aku jemput saja ya. Kalau ada temannya kan Mbak bisa merasa lebih tenang,” kata Mira. Dia menawarkan diri untuk menemaniku karena sejak aku tidak masuk temanku menggantikan posisiku dan Mira menggantikan posisi

  • SUAMI BERSAMA   76

    “Apa-apaan kamu Seno?! Main lempar-lempar rumah orang!!”“Trisno harus tanggung jawab!!” teriak Seno. Prasetyo mengambil batu dari tangan Seno lalu membuangnya, sementara anak-anakku langsung berlari menghampiriku dan berdiri di belakangku.“Buka mata kamu lebar-lebar Seno, lihat mereka! Mereka bukan Trisno!!”“Sama saja!!”“Apanya yang sama saja hah? Mereka juga tidak tahu apa yang sudah dilakukan Trisno!!”“Tapi mereka semua bersenang-senang pakai uang kita Mas! Mereka semua sudah menikmati hasil penipuan!!”“Punya kuping nggak kamu Seno? Aku bilang apa tadi hah? Mereka tidak tahu apa-apa Seno!!”“Mas! bukan kuping saya yang bermasalah tapi otak Mas yang harus dipake buat mikir! Mereka bersekongkol Mas, mereka memang berniat merampok kita pelan-pelan!!”“Ya Allah…”Aku mulai cemas karena melihat wajah Seno yang benar-benar berubah karena amarah, saking marahnya dia sampai berani berkata kasar pada Prasetyo.“Mah, kita nggak bisa panggil Eyang Mangun, tadi kita lihat Eyang

  • SUAMI BERSAMA   75

    “Saya sebenarnya juga bingung kenapa saya datang ke sini. Di dalam hati, sebenarnya saya ingin mempercayai cerita versi Ibu, tapi ingatan saya selalu kembali pada video itu. Ibu bilang kalau Mas Tris yang sudah merubahnya menjadi seperti sekarang, Mas Tris yang lebih dulu mengajak Ibu menjalin hubungan. Mas Tris yang memanfaatkan Ibu sampai Ibu rela mengeluarkan banyak uang untuk menuruti semua permintaan Mas Tris. Bujuk rayu Mas Tris yang sudah membuat Ibu lupa daratan,” kata Seno dengan pandangan kosong jauh ke depan."Ibu tidak pernah punya niat dan pikiran jahat untuk merebut suami Mbak. Sama sekali tidak pernah Mbak. Ibu bisa sampai sejauh itu karena Mas Tris sudah melakukan pemaksaan dan juga memberi Ibu macam-macam ancaman yang membuat Ibu ketakutan. Akhirnya lbu terpaksa ikut masuk ke dalam permainan yang dibuat Mas Tris," Seno bicara dengan wajah yang mulai memerah dan tangan mengepal.“Aku juga tidak tahu awalnya gimana Seno, yang aku tahu adalah akhir ceritanya dan itu aku

  • SUAMI BERSAMA   74

    “Bapak sudah meminta maaf sama kita berdua Mah dan menyuruh kita pulang buat nemenin Mamah,” kata Aran memulai ceritanya.Siang menjelang sore sepulang sekolah mereka pulang diantar Mbak Asri setelah aku titipkan menginap beberapa hari. Saat bertemu denganku tadi Mbak Asri tidak banyak bicara, dia langsung memelukku erat dan menangis meminta maaf saat anak-anak sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun masih belum berniat menceritakan semuanya pada Mbak Asri dan dia memahami itu, dia hanya bilang kalau Mas Tris menginap di rumahnya.“Bapak bilang apa sama kalian berdua Nak?”“Bapak minta maaf karena sudah berbuat salah dan sudah mengecewakan kita berdua. Bapak juga bilang kalau tidak ada yang berubah dari Bapak, Bapak tetep sayang ke kita Mah,” jawab Aran.“Maafkan Aran Mah,” kata Aran lagi.“Maksud kamu? Kenapa kamu bilang begitu Nak?”“Sebenernya Aran sudah curiga sama Bapak dan orang itu, tapi Aran selalu meyakinkan diri Aran sendiri kalau apa yang Aran pikirkan nggak bakalan mung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status