Mag-log in“Aku sudah putuskan, aku harus mengakhiri semuanya. Bagiku sudah tidak ada lagi alasan yang membuatku harus bertahan dalam pernikahan ini. Anak-anak sudah mengerti dan keputusan ini justru untuk kebaikan mereka. Aku ingin sembuh dan menyembuhkan anak-anakku dari luka yang dibuat Mas Tris.”“Aku paham Tari dan aku akan selalu mendukungmu.”Setelah jam kantor di hari pertama aku masuk, aku langsung menuju rumah Sika untuk menengoknya. Sekian lama tidak bertemu dengan Sika membuatku sedikit terkejut dengan kondisi Sika, walaupun dia sudah pulang ke rumah tapi wajahnya masih pucat, tubuhnya lebih kurus dari yang terakhir aku melihatnya. Sika juga terlihat masih kurang nyaman duduknya jadi dia sering berpindah posisi dengan bersandar pada bantal dengan kaki berselonjor di kursi panjang.“Berarti sekarang Trisno ikut kakaknya?”“Iya, tapi kadang juga tidur di toko padahal aku sudah minta dia untuk menyerahkan toko dan segala isinya ke perempuan itu.”“Mana mungkin Trisno mau, itu kan
“Mereka semua orang-orang suruhan Seno.”Mas Tris duduk bersandar, dia mencoba bicara perlahan sambil menahan sakit, mata dan wajahnya lebam, sekujur tubuhnya pun sama. Mas Tris dikeroyok di gang sepi dekat rumah Mbak Asri, dia baru saja keluar dari rumah dan langsung diikuti oleh empat orang yang kemungkinan besar sudah menunggunya. Beruntung ada tetangga Mbak Asri yang kebetulan lewat dan melihat Mas Tris lemas tak berdaya, dia lalu membawa Mas Tris ke klinik.“Dari mana kamu tahu mereka orang suruhan Seno Mas?”“Karena aku sempat melihat mobil Seno lewat di ujung gang.”“Tapi Pras bilang, dia akan mengawasi Seno supaya dia nggak berulah lagi.”“Apa yang tidak bisa dilakukannya? Toh dia juga tidak dipenjara, dia masih bebas ke mana-mana dan masih bisa menghubungi orang-orang itu. Seno juga tidak perlu mengotori tangannya, dia bisa lakukan dari tempat mana pun yang dia suka.”“Sebaiknya kamu kembalikan apa yang sudah kamu ambil dari mereka, lebih cepat lebih baik.”“Aku sudah
“Hen, kalau kamu mau kasih aku SP juga aku terima. Aku udah bener-bener pasrah. Pagi tadi aku udah siap-siap mau berangkat kerja tapi begitu sampai depan rumah aku balik lagi Hen.”“Aman Tar, stok cuti kamu masih ada jadi potong gajinya nggak gede-gede amat.”Siang ini Hendi datang ditemani Mira, mereka menyempatkan diri mampir ke rumah setelah acara di luar kantor untuk mengetahui keadaanku. Hendi khawatir denganku karena teleponnya tidak pernah aku angkat dan pesannya belum aku balas. Aku pun belum bisa menceritakan semuanya secara lengkap, aku memberitahu mereka garis besarnya saja dan itu pun sudah cukup mengejutkan mereka.“Besok mudah-mudahan aku sudah bisa keluar dari bayang-bayang menakutkan itu. Aku juga tidak mau terkurung terus di dalam rumah.”“Mbak, besok biar aku jemput saja ya. Kalau ada temannya kan Mbak bisa merasa lebih tenang,” kata Mira. Dia menawarkan diri untuk menemaniku karena sejak aku tidak masuk temanku menggantikan posisiku dan Mira menggantikan posisi
“Apa-apaan kamu Seno?! Main lempar-lempar rumah orang!!”“Trisno harus tanggung jawab!!” teriak Seno. Prasetyo mengambil batu dari tangan Seno lalu membuangnya, sementara anak-anakku langsung berlari menghampiriku dan berdiri di belakangku.“Buka mata kamu lebar-lebar Seno, lihat mereka! Mereka bukan Trisno!!”“Sama saja!!”“Apanya yang sama saja hah? Mereka juga tidak tahu apa yang sudah dilakukan Trisno!!”“Tapi mereka semua bersenang-senang pakai uang kita Mas! Mereka semua sudah menikmati hasil penipuan!!”“Punya kuping nggak kamu Seno? Aku bilang apa tadi hah? Mereka tidak tahu apa-apa Seno!!”“Mas! bukan kuping saya yang bermasalah tapi otak Mas yang harus dipake buat mikir! Mereka bersekongkol Mas, mereka memang berniat merampok kita pelan-pelan!!”“Ya Allah…”Aku mulai cemas karena melihat wajah Seno yang benar-benar berubah karena amarah, saking marahnya dia sampai berani berkata kasar pada Prasetyo.“Mah, kita nggak bisa panggil Eyang Mangun, tadi kita lihat Eyang
“Saya sebenarnya juga bingung kenapa saya datang ke sini. Di dalam hati, sebenarnya saya ingin mempercayai cerita versi Ibu, tapi ingatan saya selalu kembali pada video itu. Ibu bilang kalau Mas Tris yang sudah merubahnya menjadi seperti sekarang, Mas Tris yang lebih dulu mengajak Ibu menjalin hubungan. Mas Tris yang memanfaatkan Ibu sampai Ibu rela mengeluarkan banyak uang untuk menuruti semua permintaan Mas Tris. Bujuk rayu Mas Tris yang sudah membuat Ibu lupa daratan,” kata Seno dengan pandangan kosong jauh ke depan."Ibu tidak pernah punya niat dan pikiran jahat untuk merebut suami Mbak. Sama sekali tidak pernah Mbak. Ibu bisa sampai sejauh itu karena Mas Tris sudah melakukan pemaksaan dan juga memberi Ibu macam-macam ancaman yang membuat Ibu ketakutan. Akhirnya lbu terpaksa ikut masuk ke dalam permainan yang dibuat Mas Tris," Seno bicara dengan wajah yang mulai memerah dan tangan mengepal.“Aku juga tidak tahu awalnya gimana Seno, yang aku tahu adalah akhir ceritanya dan itu aku
“Bapak sudah meminta maaf sama kita berdua Mah dan menyuruh kita pulang buat nemenin Mamah,” kata Aran memulai ceritanya.Siang menjelang sore sepulang sekolah mereka pulang diantar Mbak Asri setelah aku titipkan menginap beberapa hari. Saat bertemu denganku tadi Mbak Asri tidak banyak bicara, dia langsung memelukku erat dan menangis meminta maaf saat anak-anak sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun masih belum berniat menceritakan semuanya pada Mbak Asri dan dia memahami itu, dia hanya bilang kalau Mas Tris menginap di rumahnya.“Bapak bilang apa sama kalian berdua Nak?”“Bapak minta maaf karena sudah berbuat salah dan sudah mengecewakan kita berdua. Bapak juga bilang kalau tidak ada yang berubah dari Bapak, Bapak tetep sayang ke kita Mah,” jawab Aran.“Maafkan Aran Mah,” kata Aran lagi.“Maksud kamu? Kenapa kamu bilang begitu Nak?”“Sebenernya Aran sudah curiga sama Bapak dan orang itu, tapi Aran selalu meyakinkan diri Aran sendiri kalau apa yang Aran pikirkan nggak bakalan mung







