Share

Gadis Mini

last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-01 22:47:05

Seperti yang Lucky minta, paruh baya yang sudah bekerja cukup lama di rumah Matteo itu, Marni akhirnya benar-benar menghubungi  Susan, keponakannya di kampung, dan mengatakan jika dia akan pulang kampung besok paginya. Ada yang ingin dia bahasa dengan Susan dan ayahnya Susan.

Marni lebih dulu berangkat ke kampung, dan rencananya Lucky akan menyusul wanita itu setelah meeting dia selesai siang nanti, dan di sinilah Marni berada saat ini, di rumah orang tua Susan, dengan Susan yang juga duduk di sampingnya.

Marni langsung mengutarakan maksud dan tujuan dia pulang dan datang ke rumah orang tua Susan, meskipun Lucky masih belum sampai di kampung itu.

"Namanya Diego Lucky Mateo. Dia orangnya baik, tampan, mengerti cara menghormati orang tua. Bibi tau itu, karena bibi udah mengenal dia sangat lama. Saking lamanya, bibi sampai halal warna pakaian dalamnya, secara bibi kan kerja di rumah dia!" jelas Marni.

"Baik, kaya dan tampan, tapi gak punya cewek... Kok bisa?!" seru Susan sedikit tidak percaya, tapi Marni langsung mengangguk.

"Dia terlalu sibuk nak, jadi gak sempat mikirin pacar, tapi sekarang orang tuanya menuntutnya untuk menikah dalam waktu tujuh hari!" jawab Marni.

"Dih orang tua pemaksa..!" seru Susan lagi.

"Jadi nak Susan mau gak nih!" tegas Marni tapi wanita berlesung pipi itu hanya melirik ke arah ayahnya, seolah keputusan itu ada di tangan ayahnya.

"Susan mah terserah Ayah saja Bik. Kalo Ayah setuju, Susan mah oke oke aja!"

"Gak bisa gitu dong nak. Tetap kamu yang harus memutuskan!" timpal pak Mus , ayah Susan.

"Bibi , kita liat aja nanti. Entar Susan bilang setuju, dia-nya yang gak tertarik ma Susan, kan bikin malu!" ujar Susan, karena dia memang belum tahu tampang anak majikan dari Marni.

Meskipun sang bibi mengatakan jika laki-laki itu tampan , putih, tinggi dan baik hati, nyatanya iklan shampo saja kadang mengatakan meluruskan, tapi faktanya tidak seperti itu, dan iya Susan hanya tidak ingin dia berekspektasi terlalu tinggi, dan pada akhirnya terjatuh karena semua tidak sesuai dengan harapan mereka satu sama lain.

"Bibi yakin dia pasti setuju nak. Bibi yakin Den Lucky pasti suka sama kamu. Kamu kan si manis kembang gula!" ucap Marni, tapi Susan justru terlihat menggeleng karena sebenarnya dia juga belum sepenuhnya yakin untuk menerima tawaran sang bibi. Membantu majikan bibinya yang sedang didesak oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah.

Setelah cukup berbincang-bincang, Marni menemani Susan pergi ke pasar, membeli kue untuk menjamu tamunya nanti, dan saat mereka , Susan dan Marni sampai di rumah lagi, Susan melihat ada mobil terparkir di halaman depan rumah ayahnya.

Marni langsung mengenali mobil putih itu. Itu adalah mobil Lucky, dan Susan mengemudikan sepeda motornya lewat jalur belakang agar dia bisa masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang tanpa harus mengganggu kenyamanan tamu.

Marni sudah langsung membuat tiga cangkir kopi dan Susan menyiapkan kue yang tadi dia beli di pasar sebagai pendamping kopi itu, kemudian Marni dan Susan sama-sama keluar dari arah dapur menuju ruang tamu sederhana rumah Pak Mus.

Untuk sesaat pandangan Susan dan kedua laki-laki asing yang baru pertama kali dia lihat di rumahnya itu bertemu di udara. Susan hanya membagi senyum tipis, begitu juga dengan kedua laki-laki itu.

Lucky tentu saja terkejut ketika melihat wanita muda berjalan di belakang bibi Marni. Dia tentu saja berpikir jika itulah gadis yang kemarin diceritakan oleh asisten rumah tangganya itu.

Gadis yang memang benar-benar manis, hanya saja dia terlalu kecil untuk Lucky. Ukuran tubuhnya benar-benar sangat mini, untuk Lucky yang tinggi badannya seratus delapan puluh delapan sentimeter.

Meski Lucky benar-benar sangat terkeju dan syok ketika melihat gadis itu, nyatanya Lucky tetap menjaga sikap untuk tidak langsung bereaksi dengan ekspresi terkejut yang begitu mendominasi. Dia hanya menarik nafas lalu menghembuskannya pelan , kembali melakukan hal yang sama untuk meredam rasa terkejutnya.

Mereka, Marni dan Susan sama-sama meletakkan kopi dan nampan cemilan itu di atas meja kayu usang yang sudah dilapisi taplak meja, dan iya, Marni yang lebih dulu angkat bicara, memperkenalkan Susan kepada Lucky, putra majikannya.

"Den Lucky... Kenalkan ini Susan keponakan Bibi yang manis seperti gula kapas warna-warni. Bagaimana... Dia benar-benar manis bukan?!" Marni sedikit berseru seraya mengerlingkan sebelah matanya ke arah laki-laki tampan itu, dan Lucky hanya terlihat mengangguk dengan perasaan yang begitu kikuk.

"Susan... Kenalkan, dia Den Lucky. Orang yang sebelumnya kita bahas!" kali ini Marni juga memperkenalkan Lucky secara langsung pada keponakannya, Susan.

Susan tetap menunjukkan senyum ramahnya kemudian mengulurkan tangannya di hadapan kedua laki-laki asing itu untuk secara resmi memperkenalkan dirinya dengan meja sebagai pembatas dan saat itu Lucky justru bangkit dari duduknya kemudian menerima jabat tangan dari Susan.

Pandangan Susan langsung tertuju sempurna ke arah tubuh Lucky yang tinggi menjulang di depannya. Secara reflek mulut Susan langsung menganga, kaget melihat gesture tubuh Lucky.

"Oh my God.... Ini orang atau tiang listrik. Tinggi banget...!" Susan benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak langsung mengutarakan perasaan antara terkejut juga mengagumi.

Di satu sisi Susan tidak menampik jika laki-laki itu memang sangat tampan juga putih seperti yang sebelumnya digambarkan oleh sang bibi, hanya saja Susan benar-benar tidak pernah menyangka jika laki-laki itu akan setinggi itu.

"Susan..." Pak Mus menegur putrinya, tapi Susan tidak begitu mengindahkan suara ayahnya.

"Bik... Apa bibi nggak salah. Ini mah bukan orang Bi, tapi raksasa. Badannya aja gede seperti itu apalagi anu-nya. Pasti gede!"  seru Susan lagi dan Rudy, sahabat Lucky yang datang bersama Lucky tadi langsung terlihat menutup mulutnya untuk menahan tawa saat menyadari kepolosan gadis itu, sementara Lucky sendiri hanya bisa nyengir sembari menggaruk telinganya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, lalu melirik ke arah Marni.

"Susan... Nggak boleh gitu dong nak. Itu namanya nggak sopan!" Marni menegur halus keponakannya, tapi Susan tetap saja menatap tanpa berkedip ke arah Lucky seolah dia memang baru pertama kali melihat laki-laki dengan tinggi badan seperti Lucky.

"Udah gak apa-apa Bi. Itu reaksi alami, ini memang bukan kali pertama seorang wanita mengagumi tinggi badanku!" ucap Lucky.

Bahkan di saat-saat seperti ini Lucky masih sempat menunjukkan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi, sementara Susan benar-benar kesulitan untuk mengalihkan pandangannya pada Lucky.

Lucky kembali duduk, dan Rudy juga langsung memperkenalkan dirinya pada Susan sebagai sahabat sekaligus asisten pribadi Lucky.

"Jadi bagaimana Den Lucky, apa keputusan Aden?" tanya Marni sambil melirik ke arah Susan juga pak Mus, tapi Lucky hanya mengangguk ala kadarnya saja.

"Lucky sih oke-oke aja Bi, tapi bagaimana dengan susu?!"

"Susan Den. Namanya Susan!"

"Oh  iya, Susan!" ralat Lucky sambil nyengir, karena lagi-lagi dia salah menyebut nama Susan.

"Susan... Bagaimana dengan kamu Nak. Apa kamu bersedia menerima Den Lucky seperti apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya?" tanya Marni pada Susan , tapi Susan justru terlihat kesulitan menelan salivanya sendiri, lalu balas nyengir seraya menggaruk pelipisnya.

"Anu Bi... Susan takut!" ucap Susan dengan intonasi suara yang terdengar ragu.

"Takut. Takut kenapa nak?" kutip Marni , dan kembali pandangan Susan tertuju ke arah Lucky.

"Takut itu... itu...!" ucapnya tergugu.

"Takut kenapa Nak...? Kan nanti nak Susan juga akan tinggal sama Bibi, jadi nak Susan gak akan menghadapi keluarga baru Nak Susan sendiri. Ada Bibi yang akan menjaga Nak Susan juga nanti. Lagian kedua orang tua Den Lucky itu orangnya baik. Bibi yakin mereka tidak akan menyakiti Nak Susan!" jelas Marni berusaha meredam ketakutan yang mungkin saja Susan rasakan ketika menghadapi keluarga barunya mengingat ada beberapa kasus menantu dan mertua yang tidak akur.

"Bukan takut itu Bik... tapi Susan takut sama dia...!" ucap Susan seraya menunjuk ke arah Lucky dan Lucky justru kembali menunjuk dirinya sendiri dengan perasaan syok.

"Aku. Kau takut padaku? But why!" seru Lucky, tapi lagi-lagi Susan hanya terlihat bingung karena dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengutarakan apa yang saat ini dia pikirkan.

"Anu Tuan... Itu ... Susan takut kalo nikah sama Tuan!" ucap Susan yang masih belum bisa berterus terang.

"Takut kenapa...? Kamu kalo gak mau nikah sama aku, katakan saja , aku bisa cari wanita lain yang bersedia menikah denganku!" ucap Lucky , merasa harga dirinya direndahkan hanya karena penolakan seorang wanita, karena sejauh ini belum pernah ada seorang wanita yang menolak ajakan apapun dari seorang Lucky Diego Matteo.

"Anu Tuan. Bukan. Bukan begitu maksud Susan. Sungguh...!" tolak Susan dengan sangat cepat. "Susan mau kok menikah sama Tuan, hanya saja anu.... anu.... anu itu Tuan... ih kok sulit kali sih ngomongnya!" Susan justru kesal pada dirinya sendiri karena dia benar-benar tidak bisa mengutarakan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.

"Nak Susan. Katakan saja. Kalo kamu mau, bilang mau, kalo gak mau bilang gak mau... Bibi yakin Den Lucky pasti mengerti!" ujar Marni mencoba menenangkan keponakannya dari rasa gugup atau rasa tidak nyamannya, dan Lucky justru mengangguk menambahkan apa yang baru saja Marni tegaskan kepada gadis itu, tapi  Susan justru langsung menggeleng.

"Bukan begitu Bi. Susan mau kok nikah sama Tuan Lucky... tapi...!" Kembali Susan menjeda kalimatnya , tapi kali ini Susan justru bangkit dari duduknya dan berpindah duduk ke arah kursi yang Marni duduki lantas dia berbisik kepada paruh baya itu alasan dari rasa takut yang sedari tadi terlalu sulit untuk Susan kemukakan, dan Marni hanya terlihat melongo, sambil melirik ke arah Lucky

Ada senyum tipis  yang terbit dari kedua sudut bibir Marni dan detik berikutnya wanita itu lantas mengangguk sambil menatap Lucky, dan setelahnya Susan kembali duduk di tempat duduk sebelumnya, sementara Marni justru bangkit dari duduknya kemudian memberi isyarat pada Lucky untuk mengikuti langkahnya ke arah teras depan karena dia memang harus mengutarakan apa yang sedari tadi membuat keponakannya merasa gelisah, karena itu memang bersifat pribadi, sangat pribadi.

Marni perlahan mengutarakan apa yang tadi Susan bisikkan padanya, dan reaksi Lucky benar-benar di luar prediksi BMKG.

"What... Apa dia sudah gila?"  syok Lucky mendengar apa yang Marni sampaikan, karena itu adalah.........

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (29)
goodnovel comment avatar
Sri Indah
Susan , apa yang kau pikirkan ? Takut sama belutnya Lucky ya.
goodnovel comment avatar
Lola Mareza Lakoca
pasti susan bisikin yg aneh2 kan
goodnovel comment avatar
bian cilla
susan takut sama anunya lucky ini secara dia menjulang xixixi
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • SUSAN... OOH SUSAN   Rasa Mual Lucky

    Wanita cantik, banyak.Wanita baik, juga banyak.Wanita independen, ada.Wanita karier, juga ada.Semua punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.Jika kamu memilih wanita cantik maka kamu harus lebih bekerja keras untuk merawat kecantikannya, termasuk membayar asisten rumah tangga untuk mengurus semua pekerjaan di rumah. Karena katanya cantik butuh modal.Jika kamu memilih wanita independen, kamu harus siap karena sainganmu bukan lagi laki-laki, melainkan ego-nya.Kalau kamu memilih wanita yang biasa saja, tidak bekerja atau tidak berkarir, maka percayalah wanita seperti itu akan sepenuhnya menjaga keluargamu, hanya saja kamu harus menerima kenyataan, dia tidak bisa membantu perekonomian kamu.Semua punya takaran masing-masing, kamu hanya perlu menempatkan dirimu untuk mengimbangi wanita pilihanmu. Namun Lucky tidak memilih kriteria yang bisa dibilang wow. Dia justru memilih seorang Susan yang dari kampung dan butuh banyak bimbingan untuk bisa bersosialisasi dengan keluarganya.P

  • SUSAN... OOH SUSAN   Kurang Kerjaan

    Tiga jam sudah Susan berada di ruang kerja Lucky. Dia duduk santai di sisi jendela dengan kaki yang menjuntai ke arah luar. Benar-benar menikmati pemandangan kota dtsk ketinggian ratusan meter.Tidak ada rasa takut , tidak ada rasa gugup yang dia rasakan ketika harus menunduk ke arah bawah dari ketinggian, saat kebanyakan orang malah akan merasa mual.Susan tidak seperti itu, bahkan nyaris setengah dari buku novel di bacaannya sudah Susan baca, tapi belum ada tanda-tanda Lucky akan kembali ke ruangan itu, dan sekarang perut Susan malah berbunyi. Lapar."Ini Lucky ngapain aja sih di sana. Tadi katanya mau suruh orang anterin makanan... Mana... Susan kan lapar!" Susan medumel sendiri.Susan menghela nafas , serakah mengelus perutnya sendiri. Pagi tadi dia hanya sarapan sedikit, itupun buru-buru. Setelah Lucky malah menggempur nya lagi di dalam mobil, dan energi yang tercipta dari makanan yang sebelumnya Susan makan benar-benar sudah terkuras habis hanya untuk mengimbangi hasrat dan gai

  • SUSAN... OOH SUSAN   Cicilan Ke-dua

    Lift terbuka, Lucky, Susan dan Rudy keluar bersama, dan Rudy berjalan lebih dulu ke ruang kerjanya, karena harus mengambil beberapa file untuk dia serahkan ke Lucky, dan nanti file itulah yang akan mereka persentasikan.Lucky membuka pintu kaca gelap itu, lalu meminta Susan untuk menunggunya."Tunggu aku di sini. Jangan keluyuran kesana-kemari," ucap Lucky. "Meeting mungkin akan berjalan cukup lama, jadi santailah!" sambung Lucky, dan Susan hanya mengangguk.Lucky berjalan ke arah pintu putih di dalam ruangan itu, lalu masuk, dan Susan hanya menjajakan pandangannya ke seluruh ruangan itu, melihat susunan buku yang begitu banyak tersusun rapi pada satu lemari besar di sisi dinding, selalu berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan kota dari arah luar jendela. Susan tidak bisa berkedip, mulutnya sampai terbuka karena kagum. Tempo hari dia memang sempat datang ke perusahaan Lucky, meskipun tidak sampai masuk. Hanya sampai di depan gerbang utama perusahaan itu, karena Lucky meminta

  • SUSAN... OOH SUSAN   Susan Yang Sama

    Tidak ada kata atau kalimat yang lepas dari bibir pak Mus. Dia juga tidak bertanya apa-apa. Namun dari arah kaca di atas dasboard, Pak Mus bisa melihat sedikit bagaimana kacaunya penampilan kedua orang di kursi penumpang, bahkan noda merah di pipi Lucky pun terlihat dari arah kaca itu."Hemm. Kopinya sudah dingin tuan. Jadi saya nikmati minum aja, dari pada hambar!" ucap pak Mus , tapi Lucky tidak begitu menanggapi. Dia hanya terus merapikan dasi dan kemejanya. Juga merapikan celana dan ikat pinggangnya, sementara Susan hanya berdasar lemah di sebelahnya."Apa perlu saya beli lagi kopi untuk Aden?!" tanya pak Mus lagi."Tidak perlu Pak. Aku sudah tidak membutuhkan kopi lagi. Kepalaku sudah agak mendingan!" jawab Lucky dan pak Mus langsung mengangguk.Dari arah kaca di atas dashboard itu Pak Mus juga melihat ketika Lucky merapikan kerah kemeja Susan, lalu menutup tubuh bagian bawah susah menggunakan jasnya. Sementara dia buru-buru memasukkan ujung kemejanya ke dalam lingkar celana bah

  • SUSAN... OOH SUSAN   Baru Selesai

    "Aah... Lucky... Susan...ehm...!"Nafas Susan seperti tercekal di tenggorokannya, tapi bukannya berhenti, Lucky semakin menekan tubuh Susan untuk semakin bergerak.Entah sudah berapa kali Susan bergerak turun naik, hingga lutut dan pinggulnya mulai terasa kebas, dan keram, hingga Susan seperti tidak lagi mampu untuk bergerak.Lucky juga tidak bisa di ajak berkompromi. Meskipun sebelumnya Lucky mengatakan tidak akan lama nyatanya mereka sudah melakukan itu dengan beberapa pose, akan tetapi Lucky masih juga belum menemukan titik klimaks padahal pinggang dan bahu susah sudah mulai kewalahan untuk sekedar menahan dorongan tubuh lihat Lucky."Ooh... Oh... Lucky... Ayo... Susan capek!" keluh Susan saat Lucky tidak kunjung mendapatkan klimaksnya akan tetapi rugi justru menggeleng.Bukannya tidak ingin buru-buru menyelesaikan kesenangannya hanya saja dia benar-benar ingin menikmati setiap hentakan tubuhnya juga setiap balasan dari gerakan Susan yang terasa makin penuh mengendalikan otaknya.

  • SUSAN... OOH SUSAN   Belum Selesai

    Pak Mus masih duduk di sisi trotoar, dengan cap kopi dan beberapa roti di sampingnya. Bukan untuk menikmati kopi pagi dan seperintilan lainnya, tapi karena majikannya sedang melakukan sesuatu yang pak Mus tidak berani pikirkan. Takut salah , meskipun sebenarnya dia yakin dengan sangat yakin jika itulah yang sedang terjadi.Tidak ada siapapun yang menghampiri Pak Mus atau sekedar menyapa Pak Mus ketika mendapati Pak Mus sedang duduk seperti orang linglung, tidak untuk penjaga keamanan tempat itu, tidak juga untuk petugas lalu lintas yang biasanya berjaga di seputaran tempat itu. Tidak seperti sebelumnya ketika Lucky justru kena tilang hanya perkara parkir di pinggir jalan, kali ini sepertinya alam dan jagat raya seolah mendukung apa yang sedang pasangan suami istri itu lakukan di dalam mobil. Dalam hati Pak Mus sempat berpikir, Lucky seperti orang yang kurasanya terganggu. Dia punya banyak uang, punya banyak akses, berpendidikan dan paham bagaimana seharusnya dia bertindak, akan teta

  • SUSAN... OOH SUSAN   Libido Bercinta

    "Aku lupa Susan. Maksudku, aku lupa menyimpannya di rumah. Kemarin aku habis pake untuk buat kartu keluarga baru, dan lupa menyimpannya kembali di rumah, jadinya ikut kebawa sampai sekarang!" jawab Lucky benar-benar tidak terduga. "Buat kartu keluarga...? Untuk apa...?!" seru Susan."Ya... itu san

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • SUSAN... OOH SUSAN   Pemantik Hasrat

    Susan dan Lucky itu ibarat api dan pemantiknya. Yang satu ceroboh dan yang satu agresif. Saat Susan melakukan kecerobohan kecil, Lucky justru mengelolanya menjadi sesuatu yang bisa memantik api hasrat dalam dirinya. Dia benar-benar tidak ingin buru-buru meredam gejolak api yang perlahan membakar d

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • SUSAN... OOH SUSAN   Gairah Yang Tidak Terduga

    Kadang kala kita tidak tahu kapan rasa itu tiba-tiba melebur, menjelma menjadi lebih indah, dan lebih lembut, karena kadang alam bawa sadar kita tidak menyadari, jika kita sudah hanyut dalam buaian kalbu itu, dan hal yang sama juga sedang Lucky dan Susan rasakan."Menggempur...? Menggempur itu bag

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • SUSAN... OOH SUSAN   Menelanjangi

    Susan yang sedang panik tidak bisa berpikir aneh-aneh saat ini, dan iya... Pikirnya dia harus membuat petugas ke keamanan tadi berpikir jika mereka tidak ada di dalam sana, sementara Lucky, Lucky seperti menahan nafasnya sendiri agar tidak berhembus karena bisa jadi suara helaan nafasnya akan terde

    last updateHuling Na-update : 2026-04-01
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status