LOGINSeperti yang Lucky minta, paruh baya yang sudah bekerja cukup lama di rumah Matteo itu, Marni akhirnya benar-benar menghubungi Susan, keponakannya di kampung, dan mengatakan jika dia akan pulang kampung besok paginya. Ada yang ingin dia bahasa dengan Susan dan ayahnya Susan.
Marni lebih dulu berangkat ke kampung, dan rencananya Lucky akan menyusul wanita itu setelah meeting dia selesai siang nanti, dan di sinilah Marni berada saat ini, di rumah orang tua Susan, dengan Susan yang juga duduk di sampingnya. Marni langsung mengutarakan maksud dan tujuan dia pulang dan datang ke rumah orang tua Susan, meskipun Lucky masih belum sampai di kampung itu. "Namanya Diego Lucky Mateo. Dia orangnya baik, tampan, mengerti cara menghormati orang tua. Bibi tau itu, karena bibi udah mengenal dia sangat lama. Saking lamanya, bibi sampai halal warna pakaian dalamnya, secara bibi kan kerja di rumah dia!" jelas Marni. "Baik, kaya dan tampan, tapi gak punya cewek... Kok bisa?!" seru Susan sedikit tidak percaya, tapi Marni langsung mengangguk. "Dia terlalu sibuk nak, jadi gak sempat mikirin pacar, tapi sekarang orang tuanya menuntutnya untuk menikah dalam waktu tujuh hari!" jawab Marni. "Dih orang tua pemaksa..!" seru Susan lagi. "Jadi nak Susan mau gak nih!" tegas Marni tapi wanita berlesung pipi itu hanya melirik ke arah ayahnya, seolah keputusan itu ada di tangan ayahnya. "Susan mah terserah Ayah saja Bik. Kalo Ayah setuju, Susan mah oke oke aja!" "Gak bisa gitu dong nak. Tetap kamu yang harus memutuskan!" timpal pak Mus , ayah Susan. "Bibi , kita liat aja nanti. Entar Susan bilang setuju, dia-nya yang gak tertarik ma Susan, kan bikin malu!" ujar Susan, karena dia memang belum tahu tampang anak majikan dari Marni. Meskipun sang bibi mengatakan jika laki-laki itu tampan , putih, tinggi dan baik hati, nyatanya iklan shampo saja kadang mengatakan meluruskan, tapi faktanya tidak seperti itu, dan iya Susan hanya tidak ingin dia berekspektasi terlalu tinggi, dan pada akhirnya terjatuh karena semua tidak sesuai dengan harapan mereka satu sama lain. "Bibi yakin dia pasti setuju nak. Bibi yakin Den Lucky pasti suka sama kamu. Kamu kan si manis kembang gula!" ucap Marni, tapi Susan justru terlihat menggeleng karena sebenarnya dia juga belum sepenuhnya yakin untuk menerima tawaran sang bibi. Membantu majikan bibinya yang sedang didesak oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah. Setelah cukup berbincang-bincang, Marni menemani Susan pergi ke pasar, membeli kue untuk menjamu tamunya nanti, dan saat mereka , Susan dan Marni sampai di rumah lagi, Susan melihat ada mobil terparkir di halaman depan rumah ayahnya. Marni langsung mengenali mobil putih itu. Itu adalah mobil Lucky, dan Susan mengemudikan sepeda motornya lewat jalur belakang agar dia bisa masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang tanpa harus mengganggu kenyamanan tamu. Marni sudah langsung membuat tiga cangkir kopi dan Susan menyiapkan kue yang tadi dia beli di pasar sebagai pendamping kopi itu, kemudian Marni dan Susan sama-sama keluar dari arah dapur menuju ruang tamu sederhana rumah Pak Mus. Untuk sesaat pandangan Susan dan kedua laki-laki asing yang baru pertama kali dia lihat di rumahnya itu bertemu di udara. Susan hanya membagi senyum tipis, begitu juga dengan kedua laki-laki itu. Lucky tentu saja terkejut ketika melihat wanita muda berjalan di belakang bibi Marni. Dia tentu saja berpikir jika itulah gadis yang kemarin diceritakan oleh asisten rumah tangganya itu. Gadis yang memang benar-benar manis, hanya saja dia terlalu kecil untuk Lucky. Ukuran tubuhnya benar-benar sangat mini, untuk Lucky yang tinggi badannya seratus delapan puluh delapan sentimeter. Meski Lucky benar-benar sangat terkeju dan syok ketika melihat gadis itu, nyatanya Lucky tetap menjaga sikap untuk tidak langsung bereaksi dengan ekspresi terkejut yang begitu mendominasi. Dia hanya menarik nafas lalu menghembuskannya pelan , kembali melakukan hal yang sama untuk meredam rasa terkejutnya. Mereka, Marni dan Susan sama-sama meletakkan kopi dan nampan cemilan itu di atas meja kayu usang yang sudah dilapisi taplak meja, dan iya, Marni yang lebih dulu angkat bicara, memperkenalkan Susan kepada Lucky, putra majikannya. "Den Lucky... Kenalkan ini Susan keponakan Bibi yang manis seperti gula kapas warna-warni. Bagaimana... Dia benar-benar manis bukan?!" Marni sedikit berseru seraya mengerlingkan sebelah matanya ke arah laki-laki tampan itu, dan Lucky hanya terlihat mengangguk dengan perasaan yang begitu kikuk. "Susan... Kenalkan, dia Den Lucky. Orang yang sebelumnya kita bahas!" kali ini Marni juga memperkenalkan Lucky secara langsung pada keponakannya, Susan. Susan tetap menunjukkan senyum ramahnya kemudian mengulurkan tangannya di hadapan kedua laki-laki asing itu untuk secara resmi memperkenalkan dirinya dengan meja sebagai pembatas dan saat itu Lucky justru bangkit dari duduknya kemudian menerima jabat tangan dari Susan. Pandangan Susan langsung tertuju sempurna ke arah tubuh Lucky yang tinggi menjulang di depannya. Secara reflek mulut Susan langsung menganga, kaget melihat gesture tubuh Lucky. "Oh my God.... Ini orang atau tiang listrik. Tinggi banget...!" Susan benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak langsung mengutarakan perasaan antara terkejut juga mengagumi. Di satu sisi Susan tidak menampik jika laki-laki itu memang sangat tampan juga putih seperti yang sebelumnya digambarkan oleh sang bibi, hanya saja Susan benar-benar tidak pernah menyangka jika laki-laki itu akan setinggi itu. "Susan..." Pak Mus menegur putrinya, tapi Susan tidak begitu mengindahkan suara ayahnya. "Bik... Apa bibi nggak salah. Ini mah bukan orang Bi, tapi raksasa. Badannya aja gede seperti itu apalagi anu-nya. Pasti gede!" seru Susan lagi dan Rudy, sahabat Lucky yang datang bersama Lucky tadi langsung terlihat menutup mulutnya untuk menahan tawa saat menyadari kepolosan gadis itu, sementara Lucky sendiri hanya bisa nyengir sembari menggaruk telinganya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali, lalu melirik ke arah Marni. "Susan... Nggak boleh gitu dong nak. Itu namanya nggak sopan!" Marni menegur halus keponakannya, tapi Susan tetap saja menatap tanpa berkedip ke arah Lucky seolah dia memang baru pertama kali melihat laki-laki dengan tinggi badan seperti Lucky. "Udah gak apa-apa Bi. Itu reaksi alami, ini memang bukan kali pertama seorang wanita mengagumi tinggi badanku!" ucap Lucky. Bahkan di saat-saat seperti ini Lucky masih sempat menunjukkan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi, sementara Susan benar-benar kesulitan untuk mengalihkan pandangannya pada Lucky. Lucky kembali duduk, dan Rudy juga langsung memperkenalkan dirinya pada Susan sebagai sahabat sekaligus asisten pribadi Lucky. "Jadi bagaimana Den Lucky, apa keputusan Aden?" tanya Marni sambil melirik ke arah Susan juga pak Mus, tapi Lucky hanya mengangguk ala kadarnya saja. "Lucky sih oke-oke aja Bi, tapi bagaimana dengan susu?!" "Susan Den. Namanya Susan!" "Oh iya, Susan!" ralat Lucky sambil nyengir, karena lagi-lagi dia salah menyebut nama Susan. "Susan... Bagaimana dengan kamu Nak. Apa kamu bersedia menerima Den Lucky seperti apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya?" tanya Marni pada Susan , tapi Susan justru terlihat kesulitan menelan salivanya sendiri, lalu balas nyengir seraya menggaruk pelipisnya. "Anu Bi... Susan takut!" ucap Susan dengan intonasi suara yang terdengar ragu. "Takut. Takut kenapa nak?" kutip Marni , dan kembali pandangan Susan tertuju ke arah Lucky. "Takut itu... itu...!" ucapnya tergugu. "Takut kenapa Nak...? Kan nanti nak Susan juga akan tinggal sama Bibi, jadi nak Susan gak akan menghadapi keluarga baru Nak Susan sendiri. Ada Bibi yang akan menjaga Nak Susan juga nanti. Lagian kedua orang tua Den Lucky itu orangnya baik. Bibi yakin mereka tidak akan menyakiti Nak Susan!" jelas Marni berusaha meredam ketakutan yang mungkin saja Susan rasakan ketika menghadapi keluarga barunya mengingat ada beberapa kasus menantu dan mertua yang tidak akur. "Bukan takut itu Bik... tapi Susan takut sama dia...!" ucap Susan seraya menunjuk ke arah Lucky dan Lucky justru kembali menunjuk dirinya sendiri dengan perasaan syok. "Aku. Kau takut padaku? But why!" seru Lucky, tapi lagi-lagi Susan hanya terlihat bingung karena dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengutarakan apa yang saat ini dia pikirkan. "Anu Tuan... Itu ... Susan takut kalo nikah sama Tuan!" ucap Susan yang masih belum bisa berterus terang. "Takut kenapa...? Kamu kalo gak mau nikah sama aku, katakan saja , aku bisa cari wanita lain yang bersedia menikah denganku!" ucap Lucky , merasa harga dirinya direndahkan hanya karena penolakan seorang wanita, karena sejauh ini belum pernah ada seorang wanita yang menolak ajakan apapun dari seorang Lucky Diego Matteo. "Anu Tuan. Bukan. Bukan begitu maksud Susan. Sungguh...!" tolak Susan dengan sangat cepat. "Susan mau kok menikah sama Tuan, hanya saja anu.... anu.... anu itu Tuan... ih kok sulit kali sih ngomongnya!" Susan justru kesal pada dirinya sendiri karena dia benar-benar tidak bisa mengutarakan apa yang sedang dia pikirkan saat ini. "Nak Susan. Katakan saja. Kalo kamu mau, bilang mau, kalo gak mau bilang gak mau... Bibi yakin Den Lucky pasti mengerti!" ujar Marni mencoba menenangkan keponakannya dari rasa gugup atau rasa tidak nyamannya, dan Lucky justru mengangguk menambahkan apa yang baru saja Marni tegaskan kepada gadis itu, tapi Susan justru langsung menggeleng. "Bukan begitu Bi. Susan mau kok nikah sama Tuan Lucky... tapi...!" Kembali Susan menjeda kalimatnya , tapi kali ini Susan justru bangkit dari duduknya dan berpindah duduk ke arah kursi yang Marni duduki lantas dia berbisik kepada paruh baya itu alasan dari rasa takut yang sedari tadi terlalu sulit untuk Susan kemukakan, dan Marni hanya terlihat melongo, sambil melirik ke arah Lucky Ada senyum tipis yang terbit dari kedua sudut bibir Marni dan detik berikutnya wanita itu lantas mengangguk sambil menatap Lucky, dan setelahnya Susan kembali duduk di tempat duduk sebelumnya, sementara Marni justru bangkit dari duduknya kemudian memberi isyarat pada Lucky untuk mengikuti langkahnya ke arah teras depan karena dia memang harus mengutarakan apa yang sedari tadi membuat keponakannya merasa gelisah, karena itu memang bersifat pribadi, sangat pribadi. Marni perlahan mengutarakan apa yang tadi Susan bisikkan padanya, dan reaksi Lucky benar-benar di luar prediksi BMKG. "What... Apa dia sudah gila?" syok Lucky mendengar apa yang Marni sampaikan, karena itu adalah........."Susan dengarkan aku. Dua kali itu sudah sesuai dengan kebutuhan, kalo tujuh kali sih lebih ke nafsuan!" jelas Lucky dengan cara sederhana, tapi detik berikutnya Susan justru hanya mencerbikkan bibirnya."Tapi di novel yang aku baca, gak ada tu bilang kalo melakukan tujuh kali ini nafsuan. Yang ada malah...!""Stop membaca sesuatu yang tidak penting , Susan. Itu bisa mencemari pikiran kamu. Akan lebih baik jika kamu fokus saja dengan mata kuliah kamu, dengan desain-desain kamu, jangan malah membaca novel aneh-aneh kek gitu!" potong Lucky sebelum Susan benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Lucky lantas merapikan rambut sebahu Susan, juga merapikan poni tebal di keningnya, poni yang justru membuat Susan terlihat seperti bocah SD, tapi juga sangat menggemaskan, sementara Susan sendiri justru terus mengedipkan matanya dengan gerak cepat , takut ujung rambutnya masuk ke mata, padahal poni itu hanya sebatas alisnya."Eeeh gak bisa gitu Lucky. Baca novel itu seru lho... Bisa bikin senyum-se
"Semoga pak supir bisa ngebut, dan Susan gak terlambat. Semoga mobil pak dosen mogok, jadi dia datang terlambat, dan Susan gak jadi telat. Amen!" Susan melirihkan doa yang agak aneh, dan Lucky mendengarnya , tapi dia tidak menegur Susan , justru Lucky menggelengkan kepala , heran dengan doa yang baru saja Susan ucapkan."Kalo sampai Susan benar-benar terlambat... Susan akan buat perhitungan dengan , kamu, Lucky. Si tiang listrik mesum!" ucapnya lagi dan mendadak Lucky tersedak dengan kopinya.Baru saja dia merasa plong dengan hangatnya kopi paginya, tiba-tiba dia mendengar doa Susan yang kembali mengatainya mesum.Lucky langsung menoleh ke arah Susan, tapi saat itu Susan justru menghela nafas setelah mengakhiri doanya, dan dengan gerakan cepat Susan justru berbalik ke arah Lucky , seolah dia tidak pernah mengumpati Lucky dengan kalimat mesum."Lucky... Apa kau punya uang...? Tolong pinjamkan Susan dua ratus saja. Ada yang harus Susan poto kopi nanti. Boleh ya Ky...?!" ucap Susan tib
Satu bulan berlalu. Semakin kesini, hubungan Susan dan Lucky semakin hari semakin menunjukkan sisi positif.Tidak ada lagi kecanggungan yang Susan rasakan , yang ada hanya rasa semakin dekat dan semakin mengenal satu sama lain. Bahkan dua Minggu yang lalu , Wenda kembali mengajaknya pergi ke salon langganannya , guna melakukan perawatan tubuh, mulai dari ujung kaki hingga ke ujung rambut, mulai dari meni pedi sampai lulur dan treatment khusus wajah. Wenda benar-benar mengubah Susan sepenuhnya, memanjakannya seperti putrinya sendiri , dan di rumah itu Susan kembali merasakan pigur seorang ibu yang sudah lama dia rindukan, bahkan merasakan lebih.Pagi itu, Susan buru-buru keluar dan turun dari lantai tiga dimana kamarnya berada, dan langsung duduk anteng di meja makan, sementara Lucky masih berada di ruang kerjanya, tapi sudah siap dengan setelan berangkat ke kantor.Susan langsung mengambil piring sarapannya, dan buru-buru menyelesaikan sarapannya. Wenda menatap sikap Susan yang buru-
Setelah drama kejar-kejaran dan bersembunyi ala Angelina Jolie pas main Film, akhirnya sore menjelang malam itu Susan benar-benar sampai di rumah dan berhasil membersihkan diri, mandi dan bersiap berganti pakaian, meskipun sebelum semua itu benar-benar terjadi, Susan harus kembali menahan nafas karena hasrat Lucky yang tiba-tiba ingin di tenangkan. Susan seperti tidak punya kalimat untuk menolak ajakan bercinta Lucky, terlebih lagi Lucky selalu menggunakan kalimat hak dan kewajiban untuk Susan, dan tentu saja Susan yang tidak ingin ayahnya kecewa berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik, meskipun sebenarnya jika boleh menolak, Susan tidak sanggup menampung tubuh Lucky yang besar dan panjang, meskipun beberapa kali Lucky bahkan bibi Marni mengatakan semua hanya butuh proses, jika Susan sudah terbiasa dengan tubuh Lucky, maka cepat atau lambat rasa sakit itu tidak akan lagi terasa. Susan duduk di depan meja riasnya, dengan handuk kimono yang membungkus tubuh mini nya. Rambut ba
Setelah Susan dan Lucky menghilang dari pandangannya, Wenda dan Matteo sama-sama saling menatap satu sama lain. Ada tanya yang tersirat dari sorot mata mereka masing-masing, akan tetapi mereka seperti enggan mengemukakan apa itu , dan justru larut dalam pikiran mereka masing-masing. Matteo merasa putranya perlahan berubah, berubah menjadi lebih manis, lebih hangat lebih lugas ketika berucap, tidak seperti ketika dia belum menikah kemarin, setiap kali Matteo mengajak putranya untuk membicarakan perihal wanita, Lucky selalu saja menghindar , bahkan tidak sekalipun Lucky pernah menyebut Susan di hadapan mereka, dan wajar jika di awal kedatangan Susan, mereka sempat tidak percaya jika Lucky dan Susan benar-benar menikah seperti yang Lucky jelaskan, bahkan mereka tidak percaya ketika Lucky menunjukkan buku nikah mereka dengan logo burung garuda dan berstempel emas di balik sampulnya."Papa liat itu... Ooh apa dia benar-benar Lucky, putra kita...? Kenapa Mama justru merasa melihat orang la
Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya, akan tetapi isyarat yang Lucky tunjukkan seperti sudah diketahui oleh Susan. Susan tidak siap jika harus ditenggelami Lucky saat ini, akan tetapi pernyataan Lucky sebelumnya juga seperti sarkasme bagi Susan bahwasanya sekarang dia adalah milik Lucky, istri Lucky, dan dia memang harus siap kapanpun Lucky menginginkannya, terlebih lagi Susan sudah mendapatkan manfaat yang sangat banyak dari Lucky. Tidak hanya uang dan segala kebutuhan Susan secara finansial, akan tetapi Susan juga mendapatkan harkat dan martabat sebagai seorang istri yang memang dihormati, meskipun sampai detik ini tidak banyak yang tahu jika Susan adalah istri sah seorang Lucky Diego Matteo, bahkan tidak sedikit orang justru menganggap Susan adalah adik perempuan Lucky dari ibu yang berbeda. Terdengar sangat tidak masuk akal, akan tetapi perbedaan usia dan gestur tubuh lah yang menggiring persepsi orang bahwasanya mereka adalah saudara, bukan suami istri. Namun lebih d







