Home / Romansa / SUSAN... OOH SUSAN / Lucky Oh Lucky

Share

SUSAN... OOH SUSAN
SUSAN... OOH SUSAN
Author: Danny Fabiano

Lucky Oh Lucky

last update Last Updated: 2025-11-01 22:44:35

"Lucky..."

Matteo berteriak dari arah tangga saat melihat putranya hanya bermalas-malasan di atas sofa, padahal sebelumnya Wenda selaku ibunya Diego sudah menyiapkan kencan buta dengan dua orang gadis cantik, punya karier bagus , dan pastinya sudah jelas bibit bebet, bobot, juga pendidikannya.

"Apa sih Pa... berisik!" Lucky menarik bantal, lalu meletakkan bantal itu di sisi telinganya guna menghambat suara sang ayah tembus ke gendang telinganya.

"Lucky... Bukannya kemarin kamu sudah setuju untuk kencan buta yang sudah mamamu siapkan! Kenapa sekarang kamu malah bermalas-malasan seperti ini?!" tanya Matteo. Dia lantas menarik bantal yang putranya gunakan untuk menutup sisi telinganya karena dia masih ingin menceramahi laki-laki dewasa itu panjang kali lebar.

Diego Lucky Matteo. Putra satu-satunya dari pasangan Matteo dan Wenda. Usianya tahun ini genap tiga puluh tiga tahun , tapi laki-laki yang kini menjabat menjadi CEO , dan sempat menjadi dosen di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta itu masih terlihat betah dengan kesendiriannya.

Paras tampan, didukung kekayaan yang cukup berlimpah. Jabatan dan popularitas tinggi tidak melulu membuat laki-laki tampan itu cepat mendapat jodoh.

Bukan tidak ada wanita yang tertarik padanya, hanya saja Lucky sendiri yang terbilang sulit untuk yang namanya jatuh cinta, dan hal yang sangat wajar jika Matteo dan Wenda merasa tidak sabar untuk melihat putra satu-satunya itu menikah dan memiliki anak.

Pasalnya, di luar sana sedang beredar kabar miring tentang Lucky yang diduga memiliki kelainan dengan suka sesama jenis, dalam kata lain GAY, dan Matteo juga Wenda sama-sama ingin mematahkan tuduhan itu dengan membuktikan bahwasanya putra mereka normal. Putra mereka tidak seperti kabar yang beredar, dan iya, karena alasan itulah Wenda gencar mencari calon istri untuk putranya, meskipun dari sembilan puluh sembilan wanita yang sempat Wenda jadwalkan untuk kencan buta dengan putranya selalu berakhir dengan kegagalan.

"Apa sih Papa. Lucky itu capek. Papa bisa nggak jangan ikutan bawel kayak Mama!"

"Bagaimana Papa tidak akan ikut bawel Lucky, usiamu tahun ini genap tiga puluh tiga tahun, tapi kamu bahkan belum sekalipun membawa calon menantu untuk Papa dan Mama. Apa kamu tidak lihat jika Papa dan Mama sudah bertambah tua..? Apa sesulit itu mengabulkan keinginan kami yang ingin memiliki seorang cucu...? Oh ayolah Lucky... Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?" kesal Matteo pada putranya.

Dia lantas menarik satu bantal sofa kemudian melemparnya ke arah Lucky dan setelahnya Lucky langsung bangkit dan duduk bersandar dengan gaya malas di sofa seraya menyalakan layar televisi di depannya.

Lucky tidak menjawab, akan tetapi dia justru mengucek telinganya karena merasa bising dengan ocehan ayah dan ibunya yang tidak akan pernah jauh-jauh dari perkara itu lagi itu lagi. Wanita, calon menantu dan cucu impian.

Oh Lucky benar-benar stress dengan hidupnya yang seperti ini. Dia masih ingin menikmati masa kesendirian nya, tapi sepertinya kedua orang tuanya seolah tidak sabar untuk melihatnya bertambah tua dengan memintanya untuk menikah dan membangun rumah tangganya sendiri.

"Apa sih Pa. Lucky tu masih nyaman dengan status lajang Lucky... kan enak, ke mana-mana nggak ada yang urusin, pulang telat nggak ada yang ngomelin, mau nongkrong sama teman-teman enggak ada yang telponin, mau apapun juga nggak ada yang ngatur!" jawab Lucky plat, karena pembelaan Lucky selalu saja dengan kalimat itu lagi itu lagi.

"Oh Lucky putra Papa yang paling ganteng sejagat raya. Apa kamu pikir menikah itu tidak enak. Kamu tidak hanya mendapat wanita yang akan mengurusmu, tapi kamu juga mendapat teman tidur. Kamu pasti belum tahu kan bagaimana rasanya milikmu dijepit nikmat oleh lembah surgawi seorang wanita. Oooh... Papa ini hanya ingin kau bisa menikmati keindahan surga dunia yang sesungguhnya dengan menikah dan memberikan Papa seorang cucu!" ujar Matteo, tapi Lucky yang sengklek sepertinya tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja ayahnya serukan.

"Lima tahun kamu menjadi dosen, kamu bahkan tidak tertarik pada salah satu mahasiswi mu, apa kamu merasa itu sangat wajar?!" sarkas Mateo, tapi lagi-lagi Lucky hanya terlihat mengucek telinganya seolah ingin mengenyahkan kalimat kalimat yang lepas dari bibir ayahnya dan masuk ke dalam telinganya itu. Masuk yang hanya sekedar lewat.

"Papa. Menikah itu satu kali seumur hidup, dan ini bukan lagi tentang nafsu atau berhubungan badan. Bukan! Lagi pula, jika memang sudah waktunya, nanti Lucky juga bakal nikah. Hanya saja sampai saat ini Lucky masih benar-benar belum menemukan wanita yang tepat, untuk menjadi menantu Papa dan Mama!" bela Lucky lagi.

"Terus kapan? Kapan kamu akan menikah? Apa kamu akan menunggu Papa dan Mama mati dulu baru akan menikah? Kejam kamu Ky...!" balas Matteo tapi Lucky lagi-lagi hanya bisa menggeleng karena tentu saja bukan seperti itu yang Lucky rencanakan.

"Pa... Ayolah. Dengan Papa menanyakan kapan Lucky akan menikah, itu sama saja dengan Papa menanyakan kapan bumi akan runtuh. Kalo Lucky boleh balik bertanya sama Papa, Lucky mau bertanya, kira-kira kapan Papa dan Mama akan memberikan Lucky seorang adik yang lahir dari rahim Mama langsung?!" ucap Lucky terdengar sangat konyol.

Wenda, ibunya sudah berumur lima puluh lima tahun, sedang ayahnya, Matteo sudah berusia 60 tahun, tapi lihatlah Lucky justru balik bertanya kapan ayahnya akan kembali menghamili ibunya, padahal jelas usia Wenda sudah tidak akan memungkinkan untuk bisa hamil lagi, dan sepertinya Lucky hanya mempertanyakan itu karena menurut Lucky itu mustahil, sama seperti cara ayahnya yang terus mengeluhkan perkara dia yang masih belum menikah, padahal sejatinya Lucky hanya masih selektif dalam memilih calon istri yang menurutnya murni dan tidak melihat dirinya berdasarkan materi ataupun jabatan, karena jika Lucky mau, hari ini pun dia bisa menikah dengan wanita manapun yang dia inginkan, hanya saja itu tadi, resiko mendapatkan istri yang salah atau tidak sesuai dengan kriterianya pun sangat besar.

"Lucky...!" Matteo merasa geram, tapi Lucky hanya terlihat mengedipkan bahunya acuh seolah ingin mengejek kekalahan ayahnya ketika berdebat perkara jodoh.

"Kenapa. Papa gak bisa jawab kan...! Lah sama itu sama Lucky!" balas Lucky merasa sudah menang dari ayahnya, tapi detik berikutnya Matteo justru bangkit dari duduknya seraya menatap putranya dengan tatapan tajam, dan penuh kemarahan.

"Oh my god... Kenapa aku bisa punya anak sebebal kamu, Lucky..." Matteo meremas rambutnya, merasa sangat frustasi. "Apa Papa perlu membuka sayembara untuk mencari istri yang tepat untuk kamu dengan hadiah fantastic, Papa akan memberikan lima puluh persen saham perusahaan Papa pada wanita itu hanya saat wanita itu bisa melahirkan cucu untuk Papa?!" sambung Matteo lagi dan Lucky hanya menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja laki-laki yang rambutnya setengah memutih itu ucapkan.

'Sayembara dengan hadiah fantastis. Oh apa-apaan ini'.

"Papa...!"

"No Lucky. Papa benar-benar akan membuka sayembara bagi siapa saja yang mau menikah dengan kamu. Papa tidak keberatan untuk memberikan lima puluh persen saham perusahaan Papa pada wanita itu jika kamu tidak segera membawa calon istri kamu dalam waktu tujuh hari saja. Titik nggak pakai koma." Tegas Matteo benar-benar tidak bisa di ganggu gugat , dan membayangkan ayahnya yang akan memberikan lima puluh persen saham perusahaan yang dia pimpin saat ini benar-benar menambah tingkat stress Lucky, dan Lucky tahu jika ayahnya tidak pernah main-main dengan apa yang dia ucapkan.

Oh sungguh Lucky benar-benar tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan.

Setelah mengatakan itu Matteo juga langsung meninggalkan putranya, memberikan nya ruang untuk memikirkan apa yang dari kemarin dan kemarinnya lagi dia keluhkan.

Sederhana. Matteo ingin putranya menikah, karena selain Matteo dan Wenda yang mendambakan seorang cucu, sebenarnya tujuan utama mereka ingin putranya secepatnya menikah adalah untuk mematahkan isu miring terkait Lucky yang di katakan gay itu, hoax.

Lucky meremas rambutnya. Sungguh dia benar-benar stress dan rasanya sekarang dia benar-benar tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kedua orang tuanya atau resikonya ayahnya benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan sebelumnya.

"Kopinya Den...!" tiba-tiba suara hangat wanita paruh baya yang sudah sangat lama bekerja pada keluarga Matteo mengalihkan pikiran Lucky.

"Terima kasih Bik!" jawab Lucky.

"Bertengkar lagi ya , Den?!" tanya wanita itu dan Lucky hanya terlihat menghela nafas.

"Ya begitulah Bik. Tau sendiri Papa dan Mama kek gimana. Mereka masih aja maksa Uky nikah. Bahkan sekarang Papa pake ngancem segala . Oooh capek dah ngadepin mereka!" keluh Lucky , tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum menanggapi keluhan anak majikannya.

"Tuan dan Nyonya benar lho Den. Usia Den Lucky emang udah lebih dari kata cukup untuk sebuah pernikahan!" ucap wanita itu lembut, tapi lagi-lagi Lucky hanya terdengar menghela nafas.

"Tapi Bik..."

"Nggak baik lho nunda sesuatu yang baik. Akan lebih baik memang Den Lucky segera menikah!" potong paruh baya itu lagi. Lucky meraih cangkir kopinya kemudian menyeruputnya sedikit berharap panasnya kopi itu bisa sedikit menenangkan rasa penat di kepalanya.

"Iya, tapi mau bagaimana lagi, Lucky memang belum menemukan wanita yang tepat. Itu aja Biiiii!" balas Lucky, dan kali ini paruh baya itu justru tersenyum seraya menepuk paha Lucky.

"Emang Den Lucky cari wanitanya yang kayak gimana? Masa iya dari sembilan puluh sembilan wanita yang ditawarkan Nyonya, tidak ada satupun yang membuat Aden tertarik?!" ucap bibi lagi, tapi Lucky benar-benar menggeleng karena memang begitulah faktanya.

"Lucky itu cari cewek yang kalem. Gak neko-neko, gak banyak nuntut, gak banyak ngatur, pokonya yang sederhana aja Bi!" jawab Lucky asal dan bibi hanya terlihat mencerbikkan bibirnya.

Jika kebanyakan laki-laki memimpikan wanita yang cantik , putih, dengan tubuh yang aduhai, karir bagus dan bisa menyaingi superstar, Lucky justru mengatakan menginginkan wanita yang sederhana, jauh dari kata glamour.

"Aden itu aneh dah. Di kasih wanita cantik, kaya, dan punya karier bagus malah gak mau!" ucap bibi sambil menggeleng.

"Please Bi... Bibi jangan ikut-ikutan kek Mama dan Papa. Lucky lagi stress Bi," ucap Lucky seraya menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. "Mending Bibi bantuin Lucky cari cewek seperti yang barusan Lucky bilang. Paling tidak yang bisa Lucky jadikan istri kontrak kek dulu. Biar Mama dan Papa gak ribut lagi! Capek Lucky Bi!" sambung Lucky lagi dan bibi diam sejenak, memikirkan wanita-wanita yang sempat di datangkan nyonya Wenda untuk Lucky, putranya, dan semuanya memang rata-rata cantik dan menawan juga berkelas.

"Bibi gak ada kenal cewek seperti yang Nyonya datangkan untuk Aden, tapi kalo Aden cuma butuh istri kontrak, sepertinya Aden kudu cari cewek yang bisa di ajak bernegosiasi," ucap bibi yang sudah seperti biro jodoh.

"Nah itu maksud Lucky Bi. Bibi punya kenalan gak? Gak perlu cantik , tapi bisa di ajak negosiasi!" ucap Lucky terdengar sedikit memiliki harapan, dan bibi terlihat berpikir sejenak, sampai akhirnya dia menemukan wanita yang tepat untuk membantu anak majikannya ini.

"Bibi ada kenal satu Den, tapi dia dari kampung. Aden mau gak cewek kampung!" ujar bibi dan Lucky diam sejenak memikirkannya.

"Dia gak cantik-cantik amet Den, tapi dia manis, juga tipe wanita ceria. Bibi yakin dia bisa di ajak negosiasi. Namanya Susan. Dia keponakan Bibi di kampung. Dia tinggal cuma sama bapaknya, ibunya sudah meninggal pas dia masih kecil. Dia tamat SMA tahun lalu, dan gak lanjut kuliah karena keterbatasan ekonomi, padahal dia anaknya pinter lho Den!" ucap bibi menjelaskan.

"Usianya...?" Lucky menimpali.

"Mendekati dua puluh tahun... tapi serius dia itu manis lagi imut Den!" jawab bibi lagi dan Lucky terlihat diam sejenak.

Pikir Lucky, wanita dari kampung pasti akan lebih mudah di ajak negosiasi. Gak akan cerewet, gak akan banyak nuntut, gak akan ini dan itu, intinya gak akan minta macam-macam.

"Oke deal. Besok kita temui susususu... siapa tadi namanya Bik?"

"Susan Den...!" jawab sang bibi. "Giliran susu aja ingat Den...!" cibir bibi sambil terkekeh.

"Ah iya. Itu Susan," ucap Lucky. "Bibi telpon saja dia. Bilang kalo besok kita akan datang ke tempat nya untuk membicarakan rencana ini. Pernikahan!" sambung Lucky dan bibi langsung melotot tidak percaya.

"What... Aden udah langsung mau bahas pernikahan...?" Syok bibi.

"Lucky gak punya waktu Bi... Papa cuma ngasi Lucky waktu tujuh hari untuk bawa calon istri, atau Papa akan berubah jadi zombie gila!" jawab Lucky.

"Edah Den... Aden mau ngajakin bibi stress juga...!" keluh paruh baya itu tapi Lucky hanya terlihat menghela nafas, karena sungguh dia benar-benar tidak punya pilihan lain saat ini.

Dia butuh gadis yang bisa diajak bernegosiasi juga bisa dia kendalikan, dan pilihannya adalah gadis kampung, padahal ni ya (...........) juga mau jika penawarannya menggiurkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (36)
goodnovel comment avatar
Sri Indah
wehhh, seru sekali nich , bagaimana reaksi Susan terhadap lucky ya ?
goodnovel comment avatar
Lola Mareza Lakoca
kayknya susan bakalan susah di ajak bernegosiasi nih
goodnovel comment avatar
bian cilla
lucky mau nawarin Susan apa nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • SUSAN... OOH SUSAN   Mari Bercinta

    ~~~Jika kamu tersenyum hanya karena mengingat namanya, maka itu artinya kamu mencintainya. Namun jika kamu menangis ketika mengingat namanya, artinya dia mencintaimu. Bukan namanya yang menciptakan senyum di kedua sudut bibirmu, tapi segala yang baik dan menyangkut dirinya lah yang menarik kedua sudut bibir itu. Dan bukan namanya yang membuat air di netramu jatuh, akan tetapi kamu menyadari bagaimana perjuangan juga pengorbanannya terhadapmu.~~~Lucky lebih dulu menutup bagian paha dan lutut Susan dengan jas itu , karena tentu saja tubuh bagian bawah Susan akan terekspos jika Lucky mengangkatnya karena saat ini Susan menggunakan rok sepaha dengan model berlipat-lipat dan mengembung. Namun baru saja Lucky akan mengangkat tubuh Susan, saat tiba-tiba justru terjaga dan langsung histeris mencari ponsel barunya."Hape Susan. Mana hape Susan... Mana!" panik Susan saat tiba-tiba dia tersentak dari tidurnya dan Lucky yang sudah terlanjur mengangkatnya pun sampai kejedor badan mobil."Aduh.

  • SUSAN... OOH SUSAN   Libido Bercinta

    "Aku lupa Susan. Maksudku, aku lupa menyimpannya di rumah. Kemarin aku habis pake untuk buat kartu keluarga baru, dan lupa menyimpannya kembali di rumah, jadinya ikut kebawa sampai sekarang!" jawab Lucky benar-benar tidak terduga. "Buat kartu keluarga...? Untuk apa...?!" seru Susan."Ya... itu sangat penting Susan. Kita kan sekarang sudah menikah dan kita akan membangun keluarga kita sendiri. Aku tentu saja tidak bisa terus mengandalkan kartu keluarga milik papaku, lagian hal ini memang penting untuk aku dan kamu ke depannya. Aku tidak bisa menunda untuk membuat kartu keluarga itu, karena bisa jadi nanti pernikahan kita yang kemarin justru dianggap tidak sah!" ucap Lucky yang mana jawaban tadi justru membuat Susan menggaruk kepala karena sungguh dia tidak mengerti apa yang sedang ingin Lucky katakan. Tentu saja Susan tahu mengenai kartu keluarga, hanya saja Susan tidak pernah menyangka jika Lucky akan membuat kartu keluarga secepat ini. Pikir Susan mungkin kartu keluarga baru bisa d

  • SUSAN... OOH SUSAN   Menginginkan Kamu, Susan

    Hasrat dan libido seorang laki-laki kadang memang tidak bisa diprediksikan kapan harus bangkit dan kapan harus menahannya untuk tidak menjerumuskan mereka dalam masalah, dan hal yang sama juga sedang terjadi pada Lucky, di mana Lucky yang semakin kesulitan mengendalikan hasrat yang belakangan ini mulai terasa memenuhi imajinasi dan setiap saraf dalam tubuhnya."Aku menginginkan kamu , Susan. Sangat menginginkan kamu!" ucap Lucky dengan sangat lirih , tapi Susan hanya terlihat menarik nafasnya dalam dada, lalu mengangguk. Namun saat Lucky ingin melakukan sentuhan lebih, tiba-tiba pintu kaca mobil itu di ketuk dari arah luar, dan spontan Lucky dan Susan menoleh ke arah kaca mobil itu dan melihat dua orang laki-laki sedang menempelkan wajahnya, menajamkan indra penglihatannya untuk melihat ke arah dalam mobil dan sontak Susan menutup dadanya, menyembunyikan buah dadanya dari pandangan kedua orang itu, tapi Lucky hanya terlihat santai, seolah tidak begitu khawatir jika ada yang sedang ber

  • SUSAN... OOH SUSAN   Pemantik Hasrat

    Susan dan Lucky itu ibarat api dan pemantiknya. Yang satu ceroboh dan yang satu agresif. Saat Susan melakukan kecerobohan kecil, Lucky justru mengelolanya menjadi sesuatu yang bisa memantik api hasrat dalam dirinya. Dia benar-benar tidak ingin buru-buru meredam gejolak api yang perlahan membakar dan menghanguskan perasaan damai dalam tubuhnya, terlebih lagi di sini jelas Susan lah pemantiknya, dan sekarang Susan harus menanggung konsekuensi dari apa yang dia lakukan.Entahlah... Belakangan ini Lucky sering sekali merasakan sesak itu di bawah sana, di tambah lagi Susan sering kali bertindak ceroboh hingga membangunkan HASRAT nya , dan sekarang Lucky seperti hilang kendali. Saat gestur tubuhnya berusaha dia tahan untuk tidak melakukan lebih, logika dan pikirannya justru berkata sebaliknya. Terlebih lagi saat ini Susan tidak menolak, tapi lebih ke menawarkan diri.Susan semakin kesulitan mendapatkan nafasnya, rasa sesak dan terengah-engah pun kini memenuhi pikiran Susan, terlebih lagi t

  • SUSAN... OOH SUSAN   Gairah Yang Tidak Terduga

    Kadang kala kita tidak tahu kapan rasa itu tiba-tiba melebur, menjelma menjadi lebih indah, dan lebih lembut, karena kadang alam bawa sadar kita tidak menyadari, jika kita sudah hanyut dalam buaian kalbu itu, dan hal yang sama juga sedang Lucky dan Susan rasakan."Menggempur...? Menggempur itu bagaimana ya maksudnya Ky?" kutip Susan dan Lucky menghentikan langkahnya. Otaknya mendadak konslet karena kepolosan Susan lagi, akan tetapi belum sempat dia mengatakan apapun untuk menjawab atau menjelaskan kalimat menggempur itu pada Susan saat tiba-tiba pandangan Susan justru terpaku pada etalase di belakang punggung Lucky."Ky...!" suaranya sangat lirih tapi syarat akan sebuah permohonan dan perlahan Lucky membalikkan badannya untuk melihat apa yang saat ini Susan lihat. "Bolehkah Susan punya yang ini satu!" Telunjuknya langsung menunjuk ke arah boneka Dora dengan ukuran besar, sama besarnya dengan tinggi badan Susan sendiri, dan Lucky kembali menghela nafas dengan sangat dalam kemudian men

  • SUSAN... OOH SUSAN   Menggempur...!

    Rasa kesal Adelia masih begitu kuat. Pasalnya, ini adalah kali kesekian dia menggoda dosen tampan berkaca mata tipis itu, dan baru tadi rencananya akan nyaris berhasil, tapi pada akhirnya dia gagal lagi karena dering ponsel Lucky di saku celananya."Ooh sial. Kalian tahu, gua hampir aja berhasil menggoda pak Diego, tapi kalian tahu, dia malah mendorong gua," ujar Adelia penuh emosi. Dia sedang bercerita sama cewek-cewek gengnya."Emang kek mana reaksi pak Diego...? Apa dia ...!""Dia udah nyentuh dada gua, bahkan dia tadi juga meremasnya . Gua baru bersiap untuk menggoda bibirnya, tapi tiba-tiba ponsel dia berdering, dan dia malah mendorong gua. Asem gak sih!" jawab Adelia."Sumpah demi apa lu...?!" seru temannya dan Adelia langsung mengangguk."Iya. Lu gak liat sih bagaimana reaksi dia ketika dia melihat kencing kemeja gua yang terbuka, dia sampai kesulitan menelan salivanya karena ingin menyentuh buah dadaku yang segar dan montok. Bahkan beberapa kali gua lihat dia menelan ludah den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status