Share

Tidur Bareng

last update publish date: 2025-11-03 22:49:05

"Menikmati Susan...! Maksud Papa apa?!" heran Lucky.

"Aaah itu lho Ky... anu itu...?" ujar Matteo yang justru terdengar semakin ambigu di telinga Lucky juga Susan yang memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan laki-laki beruban itu.

"Anu...anu apaan sih pa...?!" Lucky masih tidak mengerti.

"Papa jangan gitu dong. Gak enak. Malu sama Susan!" bisik Wenda lagi , tapi Matteo benar-benar gendeng.

"Is kamu ini. Itu lho. Anu itu!" ucap Matteo sambil menepuk-nepuk tangannya dengan posisi tangan kiri di bawah tangan kanan di atas lalu menggerakkannya turun naik, tapi baik Lucky ataupun Susan benar-benar tidak mengerti apa maksud Matteo.

"Apa...?!" Lucky bingung, tapi detik berikutnya Wenda justru menyumpal bibir suaminya untuk tidak berbicara, apalagi menanyakan perkara itu lagi.

"Sudah. Jangan di dengarkan. Papa kamu kehabisan obat. Jadi agak ngaco kalo ngomongnya!" ucap Wenda menengahi, dan meminta Susan untuk melanjutkan menikmati kue-kue yang dia suguhkan, jangan sampai wanita itu justru merasa tidak mendapat sambutan baik di hari pertama dia datang di rumah itu, dan iya lagi-lagi Susan hanya bisa mengangguk dengan senyum kaku meskipun Susan juga langsung menyadari jika kedua paruh baya di depannya adalah orang yang baik, persis seperti apa yang dikatakan oleh bibi Marni.

Susan mulai mencoba satu persatu kue kue di piring cantik itu, dan benar saja, semuanya sangat enak. Susan belum pernah makan kue seenak ini. Pernah, pernah menikmati kue serupa hanya saja rasanya tidak sama dan jelas kue-kue di hadapannya ini rasanya jauh lebih enak dari kue yang sebelumnya dia nikmati di kampungnya.

"Bagaimana Sayang. Bagaimana kue kuenya. Apa ...!"

"Ini enak Nyonya. Ini , ini dan ini juga enak!" jawab Susan menunjuk ke kue-kue yang sudah dia coba tadi. "Ayo. Tuan Lucky juga harus mencobanya!" ucap Susan lagi, meraih satu potong kue warna - warni untuk dia berikan pada Lucky.

"Eeeh kok manggilnya Nyonya sih. Panggil Mama dong. Kan sekarang kamu udah jadi putri menantu Mama, gimana sih!" tegur Wenda untuk panggilan nyonya yang masih Susan serukan untuknya. "Terus tadi apa... Kamu masih manggil suami kamu dengan panggilan Tuan...oooh mana bisa kek gitu Susan. Panggil dengan panggilan sayang dong!"

"Aaah iya Mama. Susan lupa. Mungkin karena tadi Susan gugup... Jadi lupa panggilan Mama nya!" ralat Susan dan Wenda mengangguk sumringah.

"Jangan lupa. Kau juga masih harus memanggilku, Papa!" Matteo tidak ingin ketinggalan , dia ikut menimpali dan lagi-lagi Susan hanya bisa mengangguk seraya memamerkan barisan giginya yang rapi hingga membentuk sebuah senyuman kelegaan.

"Iya Tuan Papa!" jawab Susan dan suasana di ruang tengah itu langsung terasa hangat juga ramai karena obrolan Wenda, Matteo dan Susan, karena hanya mereka bertiga yang berbicara a sampai z sementara Lucky sendiri hanya terlihat diam sambil menopang kepalanya yang pusing dengan sikap kedua orang tuanya juga wanita yang baru hari ini resmi menjadi istrinya. Bukan istri kontrak ataupun istri di atas kertas, karena Lucky memang tidak menawarkan perjanjian apapun secara tertulis kepada Susan, karena Lucky memang tidak menginginkan itu.

Meskipun iya, Lucky memang menyetujui beberapa syarat yang Susan minta sebelumnya untuk bisa menikahi wanita berbadan mini itu.

Meskipun saat ini tidak ada cinta dari kedua belah pihak, akan tetapi Lucky sadar dan mengenal betul bagaimana karakter kedua orang tuanya. Jika kemarin-kemarin mereka tidak sabar untuk melihat Lucky menikahi seorang wanita, tidak menutup kemungkinan setelah ini mereka akan kembali ricuh dengan menginginkan sesuatu yang lebih.

Maka dari itu Lucky memang tidak menyampaikan syarat dan poin-poin penting pernikahan mereka, karena dengan cara itulah Lucky sedikit bisa menekan Susan untuk tetap bertahan dengan kesepakatan mereka.

Marni hanya mengintip dari sisi dinding, kemudian menghela nafas lega seraya menahan dadanya penuh rasa haru karena apa yang dia khawatirkan sebelumnya tidak benar-benar terjadi.  Iya, Marni sempat khawatir jika Susan tidak akan diterima oleh kedua orang tua Lucky mengingat Susan hanya gadis kampung, ditambah ukuran badannya yang terbilang sangat mini dengan tinggi hanya seratus lima puluh sentimeter, kontras sangat jauh jika dibanding dengan tinggi badan Lucky yang  seratus delapan puluh delapan sentimeter.

Ibarat kata Susan itu jari kelingking, sedangkan Lucky itu jari tengah, jadi sangat wajar jika sebelumnya Susan sangat syok melihat tinggi badan Lucky, bahkan Susan langsung mengatakan jika Lucky adalah tiang listrik, karena Lucky memang sangat tinggi untuk ukuran laki-laki Indonesia.

Setelah mengobrol banyak, akhirnya Lucky dan Susan beranjak ke kamar, dan entah sejak kapan kamar Lucky di hias seperti itu. Benar-benar menyerupai kamar pengantin, hingga membuat Susan berpikir jika sebenarnya Lucky memang  sudah menyiapkan ini jauh hari sebelumnya, padahal itu semua murni Wenda yang melakukannya, dan Lucky sama sekali tidak tahu menahu.

"Jadi sekarang aku akan tidur di mana Tuan?" tanya Susan setelah kaluar dari kamar mandi dan berganti baju dengan baju tidur motif hello Kitty, sementara Lucky masih mengunakan celana bahannya, juga kemeja yang dia pakai sebelumnya.

"Tidur di kasur lah. Emang di mana lagi!"  jawab Lucky santai, tapi Susan langsung bergidik ngeri sambil menahan kerah bajunya.

"Terus Tuan tidurnya di mana?!" tanya Susan lagi,

"Ya di kasur juga lah. Kan kita sekarang suami istri, Susan?!" sarkas Lucky yang sudah mengambil tempat di sini sebelah ranjang itu.

"Eeeeh gak bisa gitu dong Tuan. Kan sebelumnya Tuan udah setuju agar kita tidak melakukan itu, tapi kenapa sekarang Tuan malah ingkar!" Susan syok, merasa di bohongi, tapi Lucky justru hanya terlihat menghela nafas lalu membuangnya dengan enteng.

"Iya. Aku memang mengatakan untuk tidak akan melakukan itu sama kamu, Susan, tapi kan aku tidak mengatakan jika kita akan tidur di kamar atau ranjang terpisah!" balas Lucky dengan sangat jelas dan lugas, dan Susan langsung beranjak lebih dekat ke arah ranjang itu.

"Tapi Tuan..."

Belum selesai kalimat yang ingin Susan katakan untuk menyanggahi  semua argumen Lucky, saat tiba-tiba Lucky justru menarik tangan Susan hingga Susan jatuh ke atas tubuhnya dan detik berikutnya...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (25)
goodnovel comment avatar
Sri Indah
syukurlah mertua Susan baik sekali . Mempunyai menantu sepolos Susan pasti sekali nich.
goodnovel comment avatar
kafihadyan Gultom
udah bobo bareng jg gpp,udah halal susan
goodnovel comment avatar
Lola Mareza Lakoca
terjadilah yg di inginkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • SUSAN... OOH SUSAN   Negosiasi 1

    Susan masih ingin protes , tapi Lucky justru menariknya lebih dekat, memeluknya dengan lembut. Bukan lagi gerakan tergesa atau canda yang berisik, melainkan pelukan yang menenangkan, seolah ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja."Kau keterlaluan Lucky. Bisa-bisanya kau begitu serakah seperti ini. Kalo kamu tetap seperti ini, mungkin besok Susan bisa mati. Capek!" Susan terisak lirih , saat Lucky selesai dengan aktifitasnya. Benar-benar sangat melelahkan, tapi juga sangat menyenangkan."Bukankah kau yang minta jatah tujuh kali sehari. Aku hanya menuruti keinginanmu, Susan!" jawab Lucky seraya menyadarkan punggungnya di sisi bathtub besar itu, tapi Susan justru mencipratkan air ke arah Lucky."Enggak. Susan gak pernah bilang mau tujuh kali , kamu salah faham !" tolak Susan, tapi Lucky hanya terlihat menghela nafas."Terus kamu maunya bagaimana, Susan sayang. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu... Dan...!""Yang terbaik apanya...? Yang ada kalo kamu terus seperti ini, aku bis

  • SUSAN... OOH SUSAN   Wanita Unik

    "Kau liat itu... Pak Lucky sama cewek... Eeehm siapa tadi namanya...? Sus... Sus...!""Susan. Namanya Susan. Dia menyebut namanya Susan?" "Apa itu ceweknya Tuan Lucky...? Wah.. pasti cewek itu spesial banget. Ampe di gotong gitu sama Tuan Lucky!" ucap wanita berbadan gemuk itu."Hooh. Jarang banget Tuan Lucky bersikap seperti itu!" "Bukan jarang, anjirrr, tapi nyaris gak pernah. Emang kamu pernah liat Tuan Lucky dekat sama cewek. Orang di gosupkan aja gek pernah!" sarkas si gemuk dan wanita satunya lagi langsung mengangguk."Kamu benar. Aku yakin tu cewek pasti sangat spesial... Aah kalo kek gini, artinya akan datang kabar baik nih dari Tuan Lucky. Sepertinya Tuan Lucky akan segera mengakhiri masa lajangnya!" balas Mirna , wanita berbadan lebih kurus dan tinggi ."Kau benar Mir. Dan itu artinya, kita akan patah hati berjamaah!" bales si gemuk ."Aaah gak juga sih. Mungkin yang patah hati itu cuma kariawan cewek yang masih lajang, dan sedang curi-curi kesempatan dekat sama Tuan Lucky

  • SUSAN... OOH SUSAN   Ujian Kesabaran

    Kadang kala kita tidak sadar, tindakan yang menurut kita biasa, bisa jadi sangat tidak masuk akal oleh orang lain, dan lah yang sama juga terjadi dengan Susan dan Lucky.Hanya perkara Susan duduk sambil mengayunkan kakinya di luar jendela perusahaan lucu yang katanya sangat tinggi, justru membuat Lucky naik pitam dan nyaris serangan jantung, padahal Susan tidak merasakan apa-apa ketika duduk di jendela itu, selain angin sepoi-sepoi yang begitu menenangkan. Iya... Kadang orang bosan bisa melakukan sesuatu di luar nalar, tapi Susan justru menganggap itu biasa.Lucky benar-benar kehabisan kata untuk mendebat Susan , tapi Susan seolah tidak paham jika Lucky mengkhawatirkan nya. Lucky hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan Susan, karena resikonya akan berdampak pada kedua orang tuanya, dan paling parah neneknya bisa saja ikut campur dalam masalah itu, tapi lihatlah... Apa alasan yang Susan berikan untuk membenarkan tindakannya."Itu karena Susan benar-benar bosan Lucky. Hp Su

  • SUSAN... OOH SUSAN   Rasa Mual Lucky

    Wanita cantik, banyak.Wanita baik, juga banyak.Wanita independen, ada.Wanita karier, juga ada.Semua punya kelemahan dan kelebihan masing-masing.Jika kamu memilih wanita cantik maka kamu harus lebih bekerja keras untuk merawat kecantikannya, termasuk membayar asisten rumah tangga untuk mengurus semua pekerjaan di rumah. Karena katanya cantik butuh modal.Jika kamu memilih wanita independen, kamu harus siap karena sainganmu bukan lagi laki-laki, melainkan ego-nya.Kalau kamu memilih wanita yang biasa saja, tidak bekerja atau tidak berkarir, maka percayalah wanita seperti itu akan sepenuhnya menjaga keluargamu, hanya saja kamu harus menerima kenyataan, dia tidak bisa membantu perekonomian kamu.Semua punya takaran masing-masing, kamu hanya perlu menempatkan dirimu untuk mengimbangi wanita pilihanmu. Namun Lucky tidak memilih kriteria yang bisa dibilang wow. Dia justru memilih seorang Susan yang dari kampung dan butuh banyak bimbingan untuk bisa bersosialisasi dengan keluarganya.P

  • SUSAN... OOH SUSAN   Kurang Kerjaan

    Tiga jam sudah Susan berada di ruang kerja Lucky. Dia duduk santai di sisi jendela dengan kaki yang menjuntai ke arah luar. Benar-benar menikmati pemandangan kota dtsk ketinggian ratusan meter.Tidak ada rasa takut , tidak ada rasa gugup yang dia rasakan ketika harus menunduk ke arah bawah dari ketinggian, saat kebanyakan orang malah akan merasa mual.Susan tidak seperti itu, bahkan nyaris setengah dari buku novel di bacaannya sudah Susan baca, tapi belum ada tanda-tanda Lucky akan kembali ke ruangan itu, dan sekarang perut Susan malah berbunyi. Lapar."Ini Lucky ngapain aja sih di sana. Tadi katanya mau suruh orang anterin makanan... Mana... Susan kan lapar!" Susan medumel sendiri.Susan menghela nafas , serakah mengelus perutnya sendiri. Pagi tadi dia hanya sarapan sedikit, itupun buru-buru. Setelah Lucky malah menggempur nya lagi di dalam mobil, dan energi yang tercipta dari makanan yang sebelumnya Susan makan benar-benar sudah terkuras habis hanya untuk mengimbangi hasrat dan gai

  • SUSAN... OOH SUSAN   Cicilan Ke-dua

    Lift terbuka, Lucky, Susan dan Rudy keluar bersama, dan Rudy berjalan lebih dulu ke ruang kerjanya, karena harus mengambil beberapa file untuk dia serahkan ke Lucky, dan nanti file itulah yang akan mereka persentasikan.Lucky membuka pintu kaca gelap itu, lalu meminta Susan untuk menunggunya."Tunggu aku di sini. Jangan keluyuran kesana-kemari," ucap Lucky. "Meeting mungkin akan berjalan cukup lama, jadi santailah!" sambung Lucky, dan Susan hanya mengangguk.Lucky berjalan ke arah pintu putih di dalam ruangan itu, lalu masuk, dan Susan hanya menjajakan pandangannya ke seluruh ruangan itu, melihat susunan buku yang begitu banyak tersusun rapi pada satu lemari besar di sisi dinding, selalu berjalan ke arah jendela dan melihat pemandangan kota dari arah luar jendela. Susan tidak bisa berkedip, mulutnya sampai terbuka karena kagum. Tempo hari dia memang sempat datang ke perusahaan Lucky, meskipun tidak sampai masuk. Hanya sampai di depan gerbang utama perusahaan itu, karena Lucky meminta

  • SUSAN... OOH SUSAN   Basah Bersama

    Tidak ada kata yang terucap dari bibir keduanya, akan tetapi isyarat yang Lucky tunjukkan seperti sudah diketahui oleh Susan. Susan tidak siap jika harus ditenggelami Lucky saat ini, akan tetapi pernyataan Lucky sebelumnya juga seperti sarkasme bagi Susan bahwasanya sekarang dia adalah milik Lucky,

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • SUSAN... OOH SUSAN   Basah Yang Nikmat

    Setelah Susan dan Lucky menghilang dari pandangannya, Wenda dan Matteo sama-sama saling menatap satu sama lain. Ada tanya yang tersirat dari sorot mata mereka masing-masing, akan tetapi mereka seperti enggan mengemukakan apa itu , dan justru larut dalam pikiran mereka masing-masing. Matteo merasa

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • SUSAN... OOH SUSAN   Mari Bercinta

    ~~~Jika kamu tersenyum hanya karena mengingat namanya, maka itu artinya kamu mencintainya. Namun jika kamu menangis ketika mengingat namanya, artinya dia mencintaimu. Bukan namanya yang menciptakan senyum di kedua sudut bibirmu, tapi segala yang baik dan menyangkut dirinya lah yang menarik kedua s

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • SUSAN... OOH SUSAN   Kau Milikku, Susan

    Tidak ada niat sedikit di hati Lucky untuk menggangu mandi Susan, tapi alunan merdu Susan yang terdengar seksi dan membangkitkan gairah Lucky seolah menjadi magnet bagi Lucky hingga Lucky kesulitan mengendalikan perasaan yang perlahan merayap seperti sebuah virus."Mari semua dansa denganku , dekap

    last updateLast Updated : 2026-04-03
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status