Share

Bab 4

Penulis: Yasmin
Setelah kata-kata itu terucap, kamar itu seketika sunyi. Hatiku pun ikut mati bersama kepalsuan yang begitu janggal ini.

Jadi selama ini, saat ayahku meninggal dan Harvey mengaku sedang pergi dinas, sementara Shenia mengatakan dirinya sedang sakit, ternyata mereka sedang bersama.

Tangisanku yang pecah saat itu, yang mengalir tanpa henti seperti gelombang laut, rupanya hanya menjadi bumbu bagi kesenangan mereka. Bahkan pada hari ketujuh setelah kepergian ayahku, Harvey tidak pernah datang menemuiku.

Setelah itu aku hidup dalam kerinduan dan kesedihan yang tak kunjung reda.

Harvey-lah yang memelukku setiap malam, tanpa lelah menghiburku berulang kali.

"Nggak apa-apa. Ayahmu akan jadi bintang di langit dan selalu jagain kamu."

"Aku juga akan gantiin dia untuk jagain kamu."

Kini semua kata-kata itu terasa seperti lelucon yang kejam.

Harvey tampaknya baru menyadari apa yang telah dia ucapkan. Dengan panik dia mengulurkan tangan ke arahku.

"Maaf, Celine, aku …."

"Aku terlalu emosi sampai bicara tanpa berpikir."

Aku menggigit bibir erat-erat hingga terasa darah memenuhi rongga mulutku. Lalu tanpa berkata apa-apa, aku mulai menghancurkan semua benda yang ada di kamar, termasuk foto pernikahan yang baru saja kami ambil.

"Pergi!"

Bingkai foto pecah berkeping-keping. Pecahan kaca yang berserakan di lantai seolah membentuk garis pemisah di antara kami.

Shenia mencoba menghampiriku, tetapi sebuah benda yang kulempar lebih dulu mengenai dirinya.

"Aah!"

Dia menutupi wajah sambil meringis kesakitan.

Rasa bersalah yang sempat muncul di mata Harvey lenyap seketika. Dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku dan merebut benda yang masih kupegang.

Album foto terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai. Foto-foto di dalamnya berhamburan ke segala arah.

Ada foto saat Harvey menyatakan cintanya kepadaku. Ada foto ketika aku memperkenalkan Shenia kepadanya dan kami bertiga resmi saling mengenal. Ada juga foto ulang tahunku, saat mereka berdua tersenyum melihatku memejamkan mata untuk membuat permohonan.

"Celine, apa harapan yang kamu buat tadi?"

"Aku harap kita bertiga bisa selalu bersama."

Tangan Harvey perlahan mengendur. Pandangannya terpaku pada foto-foto yang berserakan itu.

Dia baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika Shenia lebih dulu menyela, "Harvey, dahiku sakit sekali."

"Darah ... ada darah!"

Harvey langsung mengangkat kepala. Tanpa ragu, dia melangkahi foto-foto itu dan berlari menghampiri Shenia.

Kotak perhiasanku tadi mengenai dahinya hingga meninggalkan luka yang cukup dalam dan terus mengeluarkan darah.

Harvey segera menggendongnya dan berjalan keluar tanpa menoleh sedikit pun.

Sesampainya di ambang pintu, langkahnya sempat terhenti. Namun dia tetap tidak menoleh.

"Bagaimanapun juga, dia sahabat terbaikmu."

"Nggak seharusnya kamu perlakukan dia seperti itu. Dia sudah sangat terluka."

Setelah mengatakan itu, dia benar-benar pergi.

Terluka?

Aku dan Shenia tumbuh bersama sejak kecil.

Karena tahu keluarganya hidup pas-pasan, aku selalu memberikan yang terbaik untuknya. Paha ayam di meja makan, alat tulis baru yang dibelikan Ibu, apa pun yang kumiliki selalu kubagi dengannya.

Dan sekarang, bahkan pria yang telah kucintai selama delapan tahun pun harus kuberikan kepadanya.

Aku terduduk di lantai. Air mataku seolah sudah habis. Yang tersisa hanya tatapan kosong ke depan.

Malam itu, Shenia meneleponku. Suaranya dipenuhi tangis dan aroma alkohol.

"Celine, aku benar-benar khilaf."

"Tolong maafin aku. Aku nggak mau kehilangan kamu ...."

"Kita tumbuh bersama sejak kecil. Aku nggak mau hubungan kita berakhir hanya karena seorang pria."

Dia menangis tersedu-sedu hingga hampir kehabisan napas.

Tak lama kemudian, telepon itu diambil alih oleh seorang pelayan.

"Nona, bar kami sebentar lagi tutup."

"Kalau Anda nggak segera datang menjemputnya, kami terpaksa meninggalkannya di luar."

Aku terdiam cukup lama. Namun pada akhirnya, aku tetap mengambil mantel dan keluar rumah.

Sebelum orang tua Shenia meninggal, aku pernah berjanji akan menjaganya dengan baik.

Anggap saja ini yang terakhir kali.

Namun ketika tiba di sana, langkahku langsung terhenti. Harvey sedang mendorong Shenia ke dinding.

Pria itu mencium bibirnya dengan kasar, seolah sedang meluapkan seluruh amarah dan keputusasaannya.

"Shenia, sampai kapan lagi kamu mau terus menjauhkanku?"

"Kamu tahu jelas orang yang paling aku cintai itu kamu. Kenapa kamu terus menolakku?"

Mata Shenia memerah. Air matanya jatuh satu per satu.

"Tapi dia sahabat terbaikku. Aku nggak bisa merebut kebahagiaannya."

"Lalu gimana denganmu sendiri?" bentak Harvey. "Bagaimana dengan kebahagiaanmu?"

Dia mencengkeram bahu Shenia erat-erat.

Pada saat itu, seluruh perasaan yang selama ini mereka tahan akhirnya runtuh.

Shenia langsung memeluknya.

"Aku juga mencintaimu ... tapi bagaimana dengan Celine?"

Di tengah isak tangisnya, aku mendengar jawaban Harvey.

"Kalau dia nggak setuju, aku akan bawa kamu pergi."

Aku berdiri di balik tiang dan tiba-tiba tertawa.

Dalam pandangan yang mulai kabur, kenangan masa lalu bermunculan satu demi satu.

Shenia pernah menghabiskan gaji tiga bulan hanya untuk mengajakku berlibur ke pemandian air panas.

Harvey duduk di samping sambil memotong buah dan menyuapkannya kepadaku.

Mereka berdua berlomba-lomba memperlakukanku dengan baik, bahkan sering bersikap kekanak-kanakan demi menunjukkan siapa yang lebih peduli.

Namun kini semua kenangan itu pecah seperti gelembung sabun dan menghilang tanpa bekas.

Cinta yang pernah kumiliki, dan orang-orang yang pernah memberikannya kepadaku, semuanya telah tertinggal di masa lalu.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka surat penawaran kerja yang tersimpan di kotak masuk email.

Harvey, dulu demi kamu aku memilih untuk tetap tinggal di kota ini.

Sekarang, aku memilih untuk pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 10

    Delapan tahun.Benar, aku sudah menyia-nyiakan delapan tahun hidupku untuknya.Dan dalam hidup ini, berapa banyak delapan tahun yang masih kita punya?Harvey terus bersujud, setiap kali menghantamkan kepalanya semakin keras.Seolah-olah rasa sakit yang kurasakan selama ini bisa dia tebus dengan menyakiti dirinya sendiri.Orang-orang di sekitar kami makin banyak. Mereka berhenti berjalan dan mulai memperhatikan kami.Bisikan-bisikan mulai terdengar, semua orang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.Harvey, yang dulu paling peduli dengan pandangan orang lain, kini seolah tidak peduli siapa pun.Tatapannya kosong, tetapi dia terus bersujud."Bangun."Namun dia menolak. Bahkan kepalanya kembali menghantam lantai lebih keras."Harvey, menurutmu semua ini ada gunanya?""Semuanya sudah terjadi. Ibuku sudah dimakamkan. Apa gunanya kamu lakukan semua ini sekarang?""Celine ...."Bibirnya bergerak, suaranya bergetar."Aku tahu aku seharusnya nggak datang. Aku tahu kamu nggak mau lihat ak

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 9

    Harvey baru mengetahui keberadaanku lebih dari sebulan kemudian.Dia meminta bantuan banyak orang dan bertanya ke sana-sini.Sampai akhirnya, seorang kenalan lama yang dulu tidak terlalu dekat dengannya memberi petunjuk."Aku pernah lihat dia di Kota Handara."Hari itu juga Harvey langsung membeli tiket.Begitu pesawat mendarat, dia berdiri di pintu keluar bandara, menatap kota asing yang tidak dikenalnya.Untuk sesaat dia bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.Kota Handara ini terlalu luas, dengan begitu banyak perusahaan.Dia mencoba mencari satu per satu, menelepon satu per satu.Ada yang mengatakan tidak kenal, ada juga yang langsung menutup teleponnya.Dari sore hingga malam, dia terus menelepon sampai baterai ponselnya habis dan tenggorokannya kering.Keesokan harinya dia mengubah caranya. Dia mendatangi perusahaan satu per satu dan bertanya langsung.Dia membawa fotoku, lalu menanyakan ke resepsionis apakah pernah melihatku.Sebagian besar orang menatapnya seperti oran

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 8

    Harvey mencari ke seluruh rumah duka dan pemakaman di penjuru kota.Satu per satu tempat dia datangi, satu per satu orang dia tanyai.Hingga akhirnya, di sebuah pemakaman yang dipenuhi bunga, dia menemukan nama ibuku.Batu nisannya masih baru. Foto Ibu yang terpasang di sana menampilkan senyum yang cerah.Senyum itu begitu mirip dengan senyum Ibu setiap kali bertemu dengannya.Dulu, Ibu selalu menggenggam tangannya dan berkata dengan mata berbinar, "Harvey, aku titip Celine sama kamu. Kamu harus perlakukan dia dengan baik, ya."Harvey berlutut di depan makam itu. Kedua lututnya menghantam tanah dengan keras hingga terasa sakit.Namun dia sama sekali tidak merasakan apa pun."Tante ...."Dia mulai berbicara, tetapi suaranya sudah serak hingga terdengar asing di telinganya sendiri.Tidak ada satu pun kata yang mampu keluar.Apa yang bisa dia katakan?Haruskah dia mengatakan bahwa saat luka di punggungku dijahit sebanyak tujuh belas jahitan, dia justru sedang mengobati luka Shenia?Harusk

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 7

    Tanpa sadar, Harvey kembali mengingat penyebab penyakit ibuku.Dia teringat saat tiba di rumah sakit. Ibu sudah terbaring lemah di ranjang, menatap kosong ke langit-langit dengan wajah pucat.Saat itu, aku mencengkeram erat tangan Shenia dan berteriak kepadanya dengan perasaan hancur.Ternyata, aku bukan sedang marah tanpa alasan.Shenia-lah yang membuat kondisi ibuku memburuk hingga akhirnya jatuh sakit.Namun saat itu, Harvey justru berpihak padanya dan melawanku. Dia mendorongku menjauh dan memilih membela Shenia.Bahkan ketika melihat luka di punggungku, dia tetap pergi tanpa ragu.Saat menyadari semua itu, Harvey merasa seluruh tenaganya seakan hilang.Dia jatuh terduduk di lantai, tangannya yang menggenggam ponsel bergetar hebat."Maafin aku, Celine. Aku salah ... aku benar-benar salah.""Tolong ... angkat teleponku."Dia terus meneleponku, terus berharap keajaiban akan terjadi.Namun pada akhirnya, nomor yang dulu selalu terhubung dengannya kini sudah tidak aktif.Pada saat itu,

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 6

    Keesokan paginya, Harvey terbangun oleh sinar matahari yang terasa menyilaukan.Dia hendak mengangkat tangan untuk menutupi cahaya, tetapi baru menyadari Shenia masih tertidur dengan kepala bersandar di lengannya.Harvey menatapnya lama, tetapi entah kenapa hatinya justru terasa kosong.Sejak kemarin sampai sekarang, aku sama sekali tidak menghubunginya.Biasanya, aku pasti sudah mengirim pesan berkali-kali. Marah, cemas, lalu memintanya pulang.Tapi kali ini, ponselnya tetap sepi, dan itu justru membuatnya gelisah.Tanpa sadar, pikirannya kembali ke kejadian terakhir saat bertemu denganku.Saat itu aku terjatuh dengan begitu menyedihkan, punggungku berlumuran darah.Aku merangkak keluar kamar sambil memanggil dokter dengan suara yang hampir tak terdengar.Saat itu, dadanya terasa seperti diremas. Dia bahkan sempat ingin menghampiriku.Tapi setelah melihat sikapku terhadap Shenia, dia menahan diri.Dia merasa aku perlu "diberi pelajaran", agar lebih pengertian dan tidak selalu menuntut

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 5

    Hari ini, ketika aku sedang mengurus kepulangan Ibu dari rumah sakit, aku turun sebentar untuk mengambil sesuatu, dan tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari dalam kamar rawat.Begitu kembali, aku melihat Shenia sedang berlutut di depan ranjang Ibu, memohon ampun sambil terus bersujud."Maaf, Tante. Aku sudah nyakitin Celine dan menghancurkan hubungan mereka.""Aku memang nggak tahu malu. Aku yang menggoda Harvey. Tante boleh pukul atau marahin aku!""Jangan khawatir, Tante. Aku akan pergi dengan kemauanku sendiri dan aku akan kembalikan kebahagiaan Celine."Ibu yang baru saja pulih kembali harus menghadapi pukulan yang begitu berat.Dengan wajah penuh amarah, dia menunjuk Shenia lalu berusaha bangkit dari ranjang."Diam kamu!""Aku nggak akan pernah biarkan Celine bersama pria seperti dia!"Namun, baru beberapa langkah keluar, tiba-tiba tubuh Ibu ambruk ke lantai.Tangannya mencengkeram dada erat-erat, seolah kesulitan bernapas."Tante! Tante, kenapa?"Shenia buru-buru hendak men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status