Short
Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh

Setelah Dia Pergi, Aku Tak Menoleh

By:  SteveKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Mga Kabanata
2views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Saat hamil tiga bulan, aku menemukan bahwa satu-satunya kontak yang disematkan Agus di ponselnya adalah mahasiswinya. Stiker-stiker lucu yang akhir-akhir ini dia kirim waktu kami ngobrol akhirnya ada penjelasannya. Aku tidak larut dalam kegalauan. Aku memberi Agus dua pilihan. “Aku gugurkan kandungan dan kita cerai atau kamu putus hubungan dengannya.” Agus tak menjawab. Dia mengurung diri di ruang kerja semalaman. Begitu keluar, matanya merah dan dia berlutut di dekat kakiku. “Dia nggak tahu apa-apa. Aku yang punya perasaan padanya. Hal seperti itu nggak akan terjadi lagi.” Enam tahun pacaran dengan penuh perjuangan, masa harus hancur gara-gara hal sepele begini. Aku tidak rela. Hingga saat aku mengalami kesulitan dalam persalinan dan Agus menerima sebuah telepon. “Agus, orang tuaku memaksaku menikah. Cepat datang, selamatkan aku.” Genggamannya di tanganku langsung terlepas dan Agus langsung berlari ke arah pintu. Dari bawah tubuhku terasa nyeri menusuk. Sambil menggertakkan gigi, aku berteriak, “Agus, kalau hari ini kamu melangkah keluar dari ruang operasi ini, begitu kembali kita cerai.” Langkahnya sempat terhenti, tapi dia tetap pergi. Tangisan bayi pun terdengar dan Agus tetap tidak menoleh. Saat itu, barulah aku sadar pernikahan tiga tahun ini sudah seharusnya berakhir sejak awal.

view more

Kabanata 1

Bab 1

Tangan perawat yang memegang gunting menggantung canggung di udara.

Sambil menahan rasa sakit, aku menggantikan Agus memotong tali pusar bayi kami.

Aku menatap wajah mungil yang asing itu, hatiku terasa begitu hampa.

Enam tahun saling mencintai, tiga tahun menjalani pernikahan, ternyata tetap tidak sebanding dengan gadis yang baru dikenalnya selama setengah tahun.

Saat aku didorong keluar dari ruang operasi, Ibu langsung menghampiriku dengan wajah cemas.

Awalnya, dia menanyakan keadaanku. Tapi setelah itu, dia mulai mengomel.

“Agus selama ini kelihatannya cukup bisa diandalkan. Kenapa begitu kamu melahirkan, dia malah pergi setelah menerima telepon?”

“Memangnya ada urusan sebesar apa sampai nggak bisa menemani istrinya melahirkan?”

Aku menajamkan sudut bibirku, “Ibu, sudah ada perempuan lain di dalam hati Agus.”

“Aku mau cerai dengannya.”

Seketika, kemarahan di wajah Ibu langsung membeku.

Dia terdiam cukup lama. Matanya berkaca-kaca, lalu hanya mengusap keringat di dahiku dengan penuh kasih.

“Apa pun yang ingin kamu lakukan, Ibu akan mendukungmu.”

Mendengar kalimat itu, aku tak mampu lagi berpura-pura kuat. Aku langsung memeluk Ibu dan menangis sepuas-puasnya.

Saat berusia delapan belas tahun, Agus pernah berani menghadapi puluhan berandalan demi membelaku.

Bahkan ketika tenaganya sudah terkuras habis, dia masih berusaha memelukku untuk menenangkanku.

Pria yang dulu bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untukku itu, kini telah mengalihkan pandangannya kepada perempuan lain.

Seharusnya sejak mengetahui Agus berubah hati, aku langsung menceraikannya.

Tapi aku tidak tega meninggalkan anak yang ada di dalam kandunganku.

Usianya sudah tiga bulan. Dari hasil USG pun, bentuk wajahnya sudah mulai bisa terlihat.

Jadi, begitu Agus keluar dari kamar mandi, aku langsung mengungkapkan semuanya kepadanya.

Malam ketika dia mengurung diri di ruang kerja, aku juga menghabiskan semalaman di balkon, membiarkan tubuhku diterpa angin dingin.

Pada akhirnya, Agus tetap memilihku.

Di hadapanku, dia mengajukan permohonan kepada pihak kampus untuk memindahkan mahasiswinya dan menyerahkan Melia kepada rekan kerjanya.

Pisah ranjang saat malam itu seolah hanyalah sebuah mimpi.

Namun, aku tahu sudah ada retakan dalam hubungan antara aku dan Agus.

Cepat atau lambat, retakan itu akan membuat hubungan kami hancur berantakan.

Hanya saja, aku tidak menyangka hari itu akan datang secepat ini.

Sehari setelah melahirkan, akhirnya aku bertemu lagi dengan Agus.

Dia datang bersama Melia.

Sepertinya gadis itu baru saja mengalami sesuatu yang menakutkan. Dia terus mengikuti di sisi Agus dan tangan mungilnya mencengkeram ujung pakaian Agus.

Melia ditinggalkan di depan pintu kamar rawat.

Agus berlutut di hadapanku dengan wajah penuh rasa bersalah sekaligus penuh harapan.

“Bayi kita laki-laki atau perempuan?”

Pemandangan ini terasa begitu familiar.

Malam itu, dia juga berlutut dekat kakiku seperti ini, berjanji bahwa dia tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Melia.

Aku menepis tangannya, lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk menampar Agus.

“Pergi kamu!”

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
10 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status