Share

Bab 3

Author: Yasmin
Setelah mengurus semua prosedur rawat inap untuk Ibu, aku pulang untuk mengambil beberapa barang yang diperlukan selama menemani beliau di rumah sakit.

Di dinding rumah, hiasan pernikahan berwarna merah masih menempel. Warnanya menyilaukan mata.

Dulu, karena aku tidak cukup tinggi untuk menempelkannya, Harvey yang menggendongku. Seprai merah di atas ranjang pun kami pilih bersama. Kebahagiaan yang kami bangun sedikit demi sedikit, hari ini hancur dalam sekejap.

Baru saja aku membuka koper, Harvey pulang.

Dia langsung berjalan menuju kamar, mengira aku hanya sedang marah seperti sebelumnya.

"Rumah ini milikmu, kamu nggak perlu pindah. Aku yang akan pergi."

"Uang yang pernah aku kasih juga nggak perlu dikembalikan. Anggap saja itu sebagai kompensasiku buat kamu."

"Asalkan kamu nggak cari masalah lagi dengan Shenia. Dia juga nggak mudah menjalani semua ini."

Kalimat terakhirnya membuat emosi yang selama ini kutahan akhirnya meledak.

"Harvey, dia nggak mudah menjalani ini, lalu bagaimana denganku?"

"Aku sudah sama kamu sejak kamu nggak punya apa-apa ...."

"Cukup."

Harvey memotong ucapanku dengan tidak sabar. Lalu dia berkata dengan nada datar, "Aku tahu dulu kamu sudah banyak berkorban untuk bersamaku. Aku tahu semuanya. Justru karena aku tahu kamu menderita, aku kasih kamu pilihan."

"Celine, sebagai manusia, kamu harus belajar bersyukur."

Aku langsung terdiam. Rasa perih memenuhi sudut mataku.

Delapan tahun kami saling mencintai. Kami pernah tinggal bersama di rumah kontrakan yang bocor, pernah makan satu mangkuk mi instan berdua, bahkan menambahkan telur saja kami tidak tega. Di usia ketika kebanyakan perempuan ingin tampil cantik, aku bahkan tidak memiliki satu pun gaun yang layak.

Orang tuaku bilang aku bodoh. Shenia juga pernah bilang aku bodoh.

Namun pada akhirnya, Harvey malah mengatakan aku tidak tahu bersyukur.

Melihat mataku yang mulai memerah, Harvey tertegun. Dia membungkuk dan memelukku, menenangkanku seperti dulu.

"Celine, aku sudah bilang. Pilihan ada di tanganmu."

"Kalau kamu masih ingin menikah denganku, aku akan adakan lagi pernikahan buat kamu."

"Tapi Shenia benar-benar sudah ngalamin banyak hal yang menyakitkan. Setiap kali kamu peluk aku, tatapan penuh harap di matanya selalu bikin hatiku seperti tertusuk."

"Kamu bisa cium aku tanpa peduli sekitar, tapi dia nggak bisa. Dia cuma bisa nangis sendirian di tempat yang gelap."

Harvey mengatakannya dengan begitu ringan, tetapi setiap kata yang keluar justru menusuk hatiku.

Sebenarnya, bukan berarti aku tidak pernah menyadarinya.

Setiap kali kami bertiga pergi bersama, aku selalu merasa tidak bisa masuk dalam percakapan mereka. Saat Shenia memakai sepatu hak tinggi dan kakinya terluka, Harvey selalu refleks memberikan plester kepadanya. Bahkan ketika kami bertiga muntah karena naik wahana roller coaster, dia justru melewatiku dan mengulurkan tangan untuk menepuk punggung Shenia.

Setelah itu, Shenia selalu tersenyum sambil berusaha menjelaskan.

"Ternyata orang yang benar-benar mencintaimu juga akan memperhatikan temanmu."

"Celine, pria sebaik ini nggak banyak. Kalian harus jaga hubungan kalian baik-baik!"

Saat itu, aku jelas melihat kekecewaan di mata Harvey.

Dulu aku tidak mengerti alasannya, tetapi sekarang aku mengerti.

"Harvey, sebenarnya kamu suka apa sih dari dia?"

Dengan air mata yang masih menggenang di sudut mata, aku tersenyum.

"Dia bilang, pada malam ketika kalian berdua sedang paling tergila-gila satu sama lain, kalian melakukannya sampai delapan kali."

"Bagaimana? Dia memang begitu menggoda sampai membuatmu nggak tahan, atau sebenarnya kamu memang sudah terlalu lama menahan diri ...."

Begitu kalimat itu keluar, pintu tiba-tiba terbuka.

Shenia masuk dengan ekspresi seolah harga dirinya telah terluka. Wajahnya penuh kesedihan.

"Celine, bagaimana kamu bisa bilang hal seperti itu tentang aku?"

Di tangannya ada kue nanas kesukaanku, yang mengharuskannya antre panjang setiap kali ingin membelinya.

"Aku sudah bilang, aku hanya khilaf. Kenapa kamu harus menghina aku seperti ini?"

Air matanya jatuh terus-menerus, seperti mutiara yang terlepas dari talinya.

Jika ini terjadi sebelumnya, aku pasti sudah luluh. Aku akan memeluknya dan memaafkan semua yang telah dia lakukan.

Namun sekarang, aku hanya duduk lelah di atas ranjang, menatap sandiwara yang dia mainkan.

Mati rasa setelah terluka justru dianggap Harvey sebagai sikap tidak berperasaan.

Dia mengusap air mata di sudut mata Shenia, lalu berbalik dan membentakku.

"Benar! Kami memang sama-sama nggak bisa menahan diri."

"Jadi, waktu ayahmu meninggal dan aku menelepon untuk menghiburmu, suara tercekatku waktu itu bukan karena aku ikut merasakan kesedihanmu."

"Tapi karena Shenia terlalu pandai menggoda. Dia mencengkeramku kencang sekali sampai aku nggak bisa menahan suara napasku ...."

"Harvey!"

Shenia buru-buru memotong ucapannya, lalu mengulurkan tangan untuk menutup mulutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 10

    Delapan tahun.Benar, aku sudah menyia-nyiakan delapan tahun hidupku untuknya.Dan dalam hidup ini, berapa banyak delapan tahun yang masih kita punya?Harvey terus bersujud, setiap kali menghantamkan kepalanya semakin keras.Seolah-olah rasa sakit yang kurasakan selama ini bisa dia tebus dengan menyakiti dirinya sendiri.Orang-orang di sekitar kami makin banyak. Mereka berhenti berjalan dan mulai memperhatikan kami.Bisikan-bisikan mulai terdengar, semua orang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.Harvey, yang dulu paling peduli dengan pandangan orang lain, kini seolah tidak peduli siapa pun.Tatapannya kosong, tetapi dia terus bersujud."Bangun."Namun dia menolak. Bahkan kepalanya kembali menghantam lantai lebih keras."Harvey, menurutmu semua ini ada gunanya?""Semuanya sudah terjadi. Ibuku sudah dimakamkan. Apa gunanya kamu lakukan semua ini sekarang?""Celine ...."Bibirnya bergerak, suaranya bergetar."Aku tahu aku seharusnya nggak datang. Aku tahu kamu nggak mau lihat ak

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 9

    Harvey baru mengetahui keberadaanku lebih dari sebulan kemudian.Dia meminta bantuan banyak orang dan bertanya ke sana-sini.Sampai akhirnya, seorang kenalan lama yang dulu tidak terlalu dekat dengannya memberi petunjuk."Aku pernah lihat dia di Kota Handara."Hari itu juga Harvey langsung membeli tiket.Begitu pesawat mendarat, dia berdiri di pintu keluar bandara, menatap kota asing yang tidak dikenalnya.Untuk sesaat dia bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.Kota Handara ini terlalu luas, dengan begitu banyak perusahaan.Dia mencoba mencari satu per satu, menelepon satu per satu.Ada yang mengatakan tidak kenal, ada juga yang langsung menutup teleponnya.Dari sore hingga malam, dia terus menelepon sampai baterai ponselnya habis dan tenggorokannya kering.Keesokan harinya dia mengubah caranya. Dia mendatangi perusahaan satu per satu dan bertanya langsung.Dia membawa fotoku, lalu menanyakan ke resepsionis apakah pernah melihatku.Sebagian besar orang menatapnya seperti oran

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 8

    Harvey mencari ke seluruh rumah duka dan pemakaman di penjuru kota.Satu per satu tempat dia datangi, satu per satu orang dia tanyai.Hingga akhirnya, di sebuah pemakaman yang dipenuhi bunga, dia menemukan nama ibuku.Batu nisannya masih baru. Foto Ibu yang terpasang di sana menampilkan senyum yang cerah.Senyum itu begitu mirip dengan senyum Ibu setiap kali bertemu dengannya.Dulu, Ibu selalu menggenggam tangannya dan berkata dengan mata berbinar, "Harvey, aku titip Celine sama kamu. Kamu harus perlakukan dia dengan baik, ya."Harvey berlutut di depan makam itu. Kedua lututnya menghantam tanah dengan keras hingga terasa sakit.Namun dia sama sekali tidak merasakan apa pun."Tante ...."Dia mulai berbicara, tetapi suaranya sudah serak hingga terdengar asing di telinganya sendiri.Tidak ada satu pun kata yang mampu keluar.Apa yang bisa dia katakan?Haruskah dia mengatakan bahwa saat luka di punggungku dijahit sebanyak tujuh belas jahitan, dia justru sedang mengobati luka Shenia?Harusk

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 7

    Tanpa sadar, Harvey kembali mengingat penyebab penyakit ibuku.Dia teringat saat tiba di rumah sakit. Ibu sudah terbaring lemah di ranjang, menatap kosong ke langit-langit dengan wajah pucat.Saat itu, aku mencengkeram erat tangan Shenia dan berteriak kepadanya dengan perasaan hancur.Ternyata, aku bukan sedang marah tanpa alasan.Shenia-lah yang membuat kondisi ibuku memburuk hingga akhirnya jatuh sakit.Namun saat itu, Harvey justru berpihak padanya dan melawanku. Dia mendorongku menjauh dan memilih membela Shenia.Bahkan ketika melihat luka di punggungku, dia tetap pergi tanpa ragu.Saat menyadari semua itu, Harvey merasa seluruh tenaganya seakan hilang.Dia jatuh terduduk di lantai, tangannya yang menggenggam ponsel bergetar hebat."Maafin aku, Celine. Aku salah ... aku benar-benar salah.""Tolong ... angkat teleponku."Dia terus meneleponku, terus berharap keajaiban akan terjadi.Namun pada akhirnya, nomor yang dulu selalu terhubung dengannya kini sudah tidak aktif.Pada saat itu,

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 6

    Keesokan paginya, Harvey terbangun oleh sinar matahari yang terasa menyilaukan.Dia hendak mengangkat tangan untuk menutupi cahaya, tetapi baru menyadari Shenia masih tertidur dengan kepala bersandar di lengannya.Harvey menatapnya lama, tetapi entah kenapa hatinya justru terasa kosong.Sejak kemarin sampai sekarang, aku sama sekali tidak menghubunginya.Biasanya, aku pasti sudah mengirim pesan berkali-kali. Marah, cemas, lalu memintanya pulang.Tapi kali ini, ponselnya tetap sepi, dan itu justru membuatnya gelisah.Tanpa sadar, pikirannya kembali ke kejadian terakhir saat bertemu denganku.Saat itu aku terjatuh dengan begitu menyedihkan, punggungku berlumuran darah.Aku merangkak keluar kamar sambil memanggil dokter dengan suara yang hampir tak terdengar.Saat itu, dadanya terasa seperti diremas. Dia bahkan sempat ingin menghampiriku.Tapi setelah melihat sikapku terhadap Shenia, dia menahan diri.Dia merasa aku perlu "diberi pelajaran", agar lebih pengertian dan tidak selalu menuntut

  • Saat Aku Berhenti Mencintaimu   Bab 5

    Hari ini, ketika aku sedang mengurus kepulangan Ibu dari rumah sakit, aku turun sebentar untuk mengambil sesuatu, dan tiba-tiba terdengar suara jeritan keras dari dalam kamar rawat.Begitu kembali, aku melihat Shenia sedang berlutut di depan ranjang Ibu, memohon ampun sambil terus bersujud."Maaf, Tante. Aku sudah nyakitin Celine dan menghancurkan hubungan mereka.""Aku memang nggak tahu malu. Aku yang menggoda Harvey. Tante boleh pukul atau marahin aku!""Jangan khawatir, Tante. Aku akan pergi dengan kemauanku sendiri dan aku akan kembalikan kebahagiaan Celine."Ibu yang baru saja pulih kembali harus menghadapi pukulan yang begitu berat.Dengan wajah penuh amarah, dia menunjuk Shenia lalu berusaha bangkit dari ranjang."Diam kamu!""Aku nggak akan pernah biarkan Celine bersama pria seperti dia!"Namun, baru beberapa langkah keluar, tiba-tiba tubuh Ibu ambruk ke lantai.Tangannya mencengkeram dada erat-erat, seolah kesulitan bernapas."Tante! Tante, kenapa?"Shenia buru-buru hendak men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status