ANMELDENAku punya pacar yang sangat posesif. Selama tujuh tahun berpacaran, hal yang paling sering dikatakan Aldo adalah, “Pacarku sangat lucu, kamu tahu nggak? Tapi kalau sampai kamu tahu, habislah riwayatmu.” “Sayang, kamu begitu cantik, siapa pun yang melihatmu bakal terpesona. Orang lain hanya melihatmu lebih lama saja, aku bisa cemburu.” Makanya, dia tak pernah mengizinkan aku masuk ke lingkaran pertemanannya sama sekali. Hingga akhirnya, aku melihat postingannya menggunakan akun palsu. Tiga tahun. Lebih dari 600 postingan. Semuanya berisi momen kebersamaannya dengan wanita lain. Mereka jalan-jalan di Istana Potal, berdoa di puncak gunung bersalju dan berciuman di jalanan Siney. Postingan paling barunya adalah foto di pantai. Dia dan wanita itu sedang berciuman di tengah sorak-sorai dan godaan teman-temannya. Keterangan fotonya, [Mencintai seseorang berarti tak bisa menahan diri untuk memamerkannya kepada seluruh dunia.] Jariku gemetar. Aku perlahan keluar dari halaman itu, lalu memesan tiket pesawat menuju Kota Melan. Ternyata, untuk melepaskan hubungan yang sudah berjalan tujuh tahun itu begitu mudah.
Mehr anzeigenSatu bulan kemudian, uang di rekening bersama kami sudah sepenuhnya dilunasi.Aldo mentransfer kembali bagianku dan ada kelebihan sejumlah uang yang katanya sebagai bentuk kompensasi.Aku mengembalikannya.Aku tak butuh kompensasi darinya.Kompensasi artinya rasa bersalah masih bisa diukur dengan angka, padahal tujuh tahunku yang terbuang tidak akan pernah bisa ditebus dengan nominal berapa pun.Setelah itu, Fiona juga datang mencariku.Dia berdiri di lantai bawah rumahku sambil memegang kue kesukaanku dulu, dengan matanya yang sembap.Dia berkata, “Tara, aku benar-benar sudah tahu salah.”Hari itu angin berhembus sangat kencang. Aku menatapnya, lalu teringat pada musim panas saat kami masih SMA dulu.Kami berdesakan di depan kantin sekolah memakan satu es lilin berdua, sambil tertawa bilang kalau nanti siapa pun yang menikah duluan, yang satunya wajib jadi pengiring pengantin.Ketulusannya nyata.Namun, pengkhianatan ini juga nyata adanya.Aku tak menerima kue itu.“Fiona, aku sudah t
Keesokan paginya, aku mengunggah satu postingan.Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun ini, aku menuliskan nama Aldo.Aku tak menangis atau memaki-maki, tapi hanya membeberkan kronologi waktunya dengan sangat jelas.Pernyataan cinta waktu kuliah, pacaran selama tujuh tahun, tinggal bersama, rekening bersama, pertemuan dengan orang tuaku, hingga janji tanggal pernikahan.Serta bagaimana Aldo mulai menjalin hubungan dengan Yuna sejak tiga tahun lalu, mempublikasikan wanita itu di postingannya, membawanya bertemu dengan teman-teman dan ibunya, tapi di saat yang sama terus beralasan padaku sedang perjalanan dinas, sibuk dan menunggu waktu yang tepat.Terakhir, aku mengunggah video yang kuambil di hotel malam itu.Di dalam video tersebut, Aldo bilang sendiri, “Aku bakal menikahimu, tapi juga bakal mengadakan pesta pernikahan dengan dia.”Setelah mengunggahnya, aku mematikan ponsel dan menemani ibu pergi berbelanja ke pasar.Sepanjang jalan ibu terus menggenggam tanganku, sama seperti wakt
Aldo tak langsung pergi.Dia berdiri di lantai bawah sampai siang, lalu mengirim banyak pesan di depan pintu rumahku.Dia bilang kalau dirinya sudah menghapus semua kontak Yuna.Dia bilang kalau dirinya akan membalas semua pengakuan status yang terutang padaku selama ini.Dia bilang asal aku mau memaafkannya, dirinya rela berlutut memohon pada seluruh kerabat dan temanku.Tak ada satu pun pesan yang kubalas.Sore harinya, Fiona meneleponku lagi.Kali ini, nadanya tak seberani kemarin, melainkan terdengar sangat lelah.“Tara, kamu benaran harus sekejam ini?”Aku duduk di dekat jendela, memegang cangkir air hangat yang diberikan ibu, lalu bertanya padanya dengan tenang, “Emangnya apa yang kulakukan?”“Gara-gara kamu, Aldo langsung terbang balik malam-malam. Yuna menangis terpuruk sampai sekarang. Dia nggak tahu kalau kamu dan Aldo masih pacaran. Dia juga korban.”“Jadi?”Di seberang telepon mendadak hening sejenak.Aku melanjutkan, “Jadi aku harus menenangkannya, mengucapkan selamat untu
Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara kegaduhan dari lantai bawah.Ibu berbisik-bisik di luar pintu, suaranya terdengar dingin dan tegas, sesuatu yang jarang sekali terjadi, “Dia nggak mau bertemu denganmu, pergi saja.”Seketika, dadaku terasa sesak. Aku memakai jaket dan berjalan ke arah jendela.Aldo sedang berdiri di lantai bawah. Dia masih memakai kemeja yang sama seperti kemarin, lecek tak beraturan.Saat mendongak dan melihatku, matanya langsung berbinar, seperti menemukan harapan hidupnya yang terakhir.“Sayang, turun sebentar, temui aku.”Aku tak bergerak.Dia terus mendongak, suaranya terdengar sangat serak, “Aku naik penerbangan paling pagi untuk balik ke sini, bahkan nggak sempat membawa koper. Tara, aku benaran sudah tahu salah, tolong jangan buang aku.”Dulu, aku paling tak tahan melihatnya seperti ini.Asalkan dia memanggilku sayang dengan mata berkaca-kaca, hatiku pasti langsung luluh. Aku bakal merasa bahwa perjalanan tujuh tahun itu tak mudah, lalu melupakan semua












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.