تسجيل الدخولPada hari pernikahanku, tepat ketika pembawa acara mengumumkan sesi pertukaran cincin, Harvey Sentosa yang berdiri di hadapanku tiba-tiba angkat bicara. "Sejujurnya, aku pernah 'berhubungan' sama sahabat baikmu." Aku terpaku di tempat. Melihat ekspresiku yang penuh rasa tidak percaya, dia bahkan tidak berkedip sedikit pun. Sikapnya begitu tenang, seolah hanya sedang membicarakan sesuatu yang biasa. "Waktu kamu pergi nyobain gaun pengantin, kami bermesraan di ruang ganti sebelahmu." "Dia sempat beberapa kali mengeluarkan suara. Kamu malah mengira dia sedang sakit dan terus khawatir dengan keadaannya." "Sesudahnya, waktu dia berdiri di sebelahmu, kakinya bahkan masih gemetar." Dalam sekejap, seluruh darah di tubuhku terasa membeku. Aku menoleh dengan kaku ke arah bawah panggung dan menatap sahabatku, Shenia Tandri, yang sedang tersenyum cerah. Dia mengangkat buket bunga di tangannya sambil berteriak memanggil namaku. Satu jam yang lalu, dia masih meneteskan air mata haru sambil membantuku merapikan ujung gaun pengantin, berulang kali mengatakan bahwa aku harus hidup bahagia. "Bahkan tadi, waktu kamu sedang dirias, dia masih duduk di pangkuanku." "Karena terlalu tegang, punggungku sampai tercakar sama dia." Sambil berkata demikian, Harvey menatap cincin pernikahan yang masih berada di tangannya dengan ekspresi santai. "Celine, aku sudah kasih tahu kamu semuanya." "Mau tetap menikah atau nggak, itu terserah kamu."
عرض المزيدDelapan tahun.Benar, aku sudah menyia-nyiakan delapan tahun hidupku untuknya.Dan dalam hidup ini, berapa banyak delapan tahun yang masih kita punya?Harvey terus bersujud, setiap kali menghantamkan kepalanya semakin keras.Seolah-olah rasa sakit yang kurasakan selama ini bisa dia tebus dengan menyakiti dirinya sendiri.Orang-orang di sekitar kami makin banyak. Mereka berhenti berjalan dan mulai memperhatikan kami.Bisikan-bisikan mulai terdengar, semua orang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.Harvey, yang dulu paling peduli dengan pandangan orang lain, kini seolah tidak peduli siapa pun.Tatapannya kosong, tetapi dia terus bersujud."Bangun."Namun dia menolak. Bahkan kepalanya kembali menghantam lantai lebih keras."Harvey, menurutmu semua ini ada gunanya?""Semuanya sudah terjadi. Ibuku sudah dimakamkan. Apa gunanya kamu lakukan semua ini sekarang?""Celine ...."Bibirnya bergerak, suaranya bergetar."Aku tahu aku seharusnya nggak datang. Aku tahu kamu nggak mau lihat ak
Harvey baru mengetahui keberadaanku lebih dari sebulan kemudian.Dia meminta bantuan banyak orang dan bertanya ke sana-sini.Sampai akhirnya, seorang kenalan lama yang dulu tidak terlalu dekat dengannya memberi petunjuk."Aku pernah lihat dia di Kota Handara."Hari itu juga Harvey langsung membeli tiket.Begitu pesawat mendarat, dia berdiri di pintu keluar bandara, menatap kota asing yang tidak dikenalnya.Untuk sesaat dia bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.Kota Handara ini terlalu luas, dengan begitu banyak perusahaan.Dia mencoba mencari satu per satu, menelepon satu per satu.Ada yang mengatakan tidak kenal, ada juga yang langsung menutup teleponnya.Dari sore hingga malam, dia terus menelepon sampai baterai ponselnya habis dan tenggorokannya kering.Keesokan harinya dia mengubah caranya. Dia mendatangi perusahaan satu per satu dan bertanya langsung.Dia membawa fotoku, lalu menanyakan ke resepsionis apakah pernah melihatku.Sebagian besar orang menatapnya seperti oran
Harvey mencari ke seluruh rumah duka dan pemakaman di penjuru kota.Satu per satu tempat dia datangi, satu per satu orang dia tanyai.Hingga akhirnya, di sebuah pemakaman yang dipenuhi bunga, dia menemukan nama ibuku.Batu nisannya masih baru. Foto Ibu yang terpasang di sana menampilkan senyum yang cerah.Senyum itu begitu mirip dengan senyum Ibu setiap kali bertemu dengannya.Dulu, Ibu selalu menggenggam tangannya dan berkata dengan mata berbinar, "Harvey, aku titip Celine sama kamu. Kamu harus perlakukan dia dengan baik, ya."Harvey berlutut di depan makam itu. Kedua lututnya menghantam tanah dengan keras hingga terasa sakit.Namun dia sama sekali tidak merasakan apa pun."Tante ...."Dia mulai berbicara, tetapi suaranya sudah serak hingga terdengar asing di telinganya sendiri.Tidak ada satu pun kata yang mampu keluar.Apa yang bisa dia katakan?Haruskah dia mengatakan bahwa saat luka di punggungku dijahit sebanyak tujuh belas jahitan, dia justru sedang mengobati luka Shenia?Harusk
Tanpa sadar, Harvey kembali mengingat penyebab penyakit ibuku.Dia teringat saat tiba di rumah sakit. Ibu sudah terbaring lemah di ranjang, menatap kosong ke langit-langit dengan wajah pucat.Saat itu, aku mencengkeram erat tangan Shenia dan berteriak kepadanya dengan perasaan hancur.Ternyata, aku bukan sedang marah tanpa alasan.Shenia-lah yang membuat kondisi ibuku memburuk hingga akhirnya jatuh sakit.Namun saat itu, Harvey justru berpihak padanya dan melawanku. Dia mendorongku menjauh dan memilih membela Shenia.Bahkan ketika melihat luka di punggungku, dia tetap pergi tanpa ragu.Saat menyadari semua itu, Harvey merasa seluruh tenaganya seakan hilang.Dia jatuh terduduk di lantai, tangannya yang menggenggam ponsel bergetar hebat."Maafin aku, Celine. Aku salah ... aku benar-benar salah.""Tolong ... angkat teleponku."Dia terus meneleponku, terus berharap keajaiban akan terjadi.Namun pada akhirnya, nomor yang dulu selalu terhubung dengannya kini sudah tidak aktif.Pada saat itu,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.