Short
Perpisahan dari Cinta Terdalam

Perpisahan dari Cinta Terdalam

By:  MuriazCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku membatalkan pembelian rumah yang semula kami siapkan untuk pernikahan. Agen properti pun terkejut. “Uang mukanya sudah dibayar. Kenapa tidak menunggu tunanganmu pulang untuk menandatanganinya bersama?” Aku tersenyum dan meletakkan kunci rumah itu di atas meja. “Tidak perlu menunggu. Dia masih harus menemani cinta pertamanya bermain ski.” Selama lima tahun berpacaran, dia selalu pergi ke Jepang setiap musim dingin. Katanya pergi untuk dinas, tapi foto yang diunggahnya di media sosial justru selalu memperlihatkan puncak Gunung Fuji yang diselimuti salju. Ketika kutanya kapan dia akan membawaku pergi berbulan madu, jawabannya selalu, “Lain kali.” Hingga kemarin, aku menemukan ratusan foto di kamera lama miliknya yang tertinggal di rumah. Wanita yang sama, sudut pengambilan gambar yang sama, latar belakang yang sama. Bunga sakura, salju putih, dan Gunung Fuji. Sementara satu-satunya perjalanan jauh yang pernah kulakukan bersamanya adalah pergi ke kota sebelah untuk melihat rumah yang akan kami tempati setelah menikah. Saat itu dia menggandeng tanganku dan berkata, “Kita berdua tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan. Jalani saja kehidupan ini dengan tenang.” Ketika memandang rumah pernikahan yang kurenovasi sendiri, aku tiba-tiba menangis tersedu-sedu tanpa bisa kukendalikan. Agen properti itu dengan hati-hati menyodorkan pena kepadaku. “Rumah ini masih mau dibatalkan?” “Ya.” Aku tersenyum seraya menghapus air mata. Surat pengunduran diriku sudah disetujui. Ini adalah malam terakhirku di kota ini. Gunung Fuji yang jauh itu tidak akan pernah datang, tetapi aku bisa pergi menjauh.

View More

Chapter 1

BAB 1

“Sheila Amanjiva, kamu benar-benar membatalkannya?”

Telepon Nana Kayandra masuk tepat ketika aku baru saja melangkah keluar dari kantor agen properti.

“Ya, aku sudah membatalkannya.”

“Uang mukanya enam ratus juta, lho. Kamu bisa membatalkannya sendirian seperti itu? Apa Oscar tahu?”

“Dia lagi di Jepang.”

“Dinas?”

Aku tidak menjawab.

Nana terdiam sesaat.

“Sheila, sekalipun kalian lagi bertengkar, rumah itu tidak bisa ....”

“Aku menemukan ratusan foto di kamera lamanya. Perempuan yang sama, gunung yang sama, selama lima tahun.”

Suasana di seberang telepon mendadak hening.

“Foto-foto itu bersama Zizy Moreto?”

Nana tidak melanjutkan ucapannya lagi.

Dalam perjalanan pulang, Oscar Sebastian mengirimiku sebuah foto.

Cokelat panas dalam cangkir keramik putih, dengan gambar seekor rusa kecil di sisi cangkir.

Keterangan fotonya tertulis, [Tokyo turun salju. Dingin sekali.]

Aku mengenali cangkir itu.

Musim dingin tahun lalu, dia juga pernah mengunggah foto yang sama. Sudut pengambilan foto, komposisinya pun sama.

Saat itu aku bertanya, dari kedai mana dia mendapatkannya. Dia bilang hanya masuk ke kedai secara acak dan sudah lupa namanya.

Namun, di dalam kamera lamanya, ada sebuah foto.

Zizy duduk di kedai yang sama. Di samping tangannya terdapat secangkir cokelat panas dengan cangkir yang persis sama. Dia tersenyum menghadap kamera.

Syal yang dikenakannya berwarna merah anggur. Aku belum pernah melihatnya.

Lima tahun.

Setiap musim dingin, kedai yang sama, secangkir cokelat panas yang sama, dan orang yang sama. Sementara yang selalu dikirimnya kepadaku hanyalah makanan dan pemandangan. Tidak pernah ada sosok siapa pun di dalamnya.

Sesampainya di apartemen, aku menunduk saat melepas sepatu dan tanpa sengaja melirik rak sepatu.

Di samping sepatu olahraga Oscar, ada sepasang sepatu kanvas putih.

Ukuran 35.

Sedangkan kakiku berukuran 37.

Aku membungkuk dan memeriksa bagian dalam sepatu. Terselip selembar kertas kecil di bawah sol.

[Ossy, sepatu yang terakhir buat kakiku lecet.]

Ossy.

Selama lima tahun berpacaran, aku tidak pernah tahu Oscar memiliki panggilan seperti itu. Dia tidak pernah menyuruhku memanggilnya begitu.

Aku mengembalikan sepatu itu ke tempatnya, lalu masuk ke kamar.

Layar laptopnya masih menyala. Terbuka sebuah halaman pesanan dari situs perjalanan.

Hokkaido, keberangkatan 14 Februari, paket pemandian air panas untuk dua orang, termasuk onsen pribadi dan hidangan kaiseki. Pada kolom catatan tertulis:

[Ulang tahun Zizy.]

Ulang tahunku 9 Maret.

Ulang tahun Zizy 15 Februari.

Tahun lalu, pada 9 Maret, aku bertanya kepadanya apakah malam itu dia bisa makan malam bersamaku. Katanya, ada jamuan kantor.

Aku menunggunya sampai pukul sebelas malam. Yang kuterima hanya sebuah pesan:

[Baru sampai rumah. Kamu sudah tidur? Selamat ulang tahun. Nanti kita rayakan.]

Nanti.

Itu sama seperti “lain kali”. Keduanya selalu menjadi janji yang tidak pernah ditepati.

Aku membuka album foto di penyimpanan awan ponselnya. Lebih dari tiga ribu foto. Foto yang berkaitan denganku hanya sebelas. Tujuh di antaranya diambil pada tahun pertama kami berpacaran. Empat tahun berikutnya, hanya empat foto.

Ada sebuah folder bernama "Salju di Tokyo". Saat kubuka, isinya penuh dengan foto Zizy.

Ada foto saat mengenakan kimono, menginjak salju, dan berdiri di depan kuil dengan kedua tangan terkatup dalam doa.

Setiap foto ditata dengan begitu apik. Pencahayaannya lembut, seolah-olah diambil untuk sampul majalah.

Sementara ketika memotretku, dia selalu asal menekan tombol. Tidak mengatur sudut, tidak memperhatikan pencahayaan.

Aku pernah berkata, “Bisakah kamu memotretku sedikit lebih bagus?”

Dia menjawab, “Cuma foto biasa, bukan pemotretan profesional. Sudahlah, jangan berlebihan.”

“Sudahlah, jangan berlebihan.”

Kata itulah yang paling sering dia ucapkan kepadaku.

Ponselku berdering. Panggilan video dari Oscar.

Aku mengangkatnya. Di layar, dia mengenakan mantel abu-abu dengan latar belakang lorong hotel.

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Aku lusa pulang. Penerbanganku jam tiga sore.”

“Oke.”

“Suaramu terdengar agak aneh.”

“Agak lelah.”

“Tidurlah lebih awal.”

Saat dia hendak mengakhiri panggilan, terdengar suara dari belakangnya.

“Ossy, mobilnya sudah datang.”

Dia menoleh dan menjawab, lalu kembali menatapku.

“Zizy memanggilku. Sudah dulu, ya.”

“Kenapa dia ada di hotelmu?”

“Kamarnya di sebelah. Kami mau keluar makan bersama.”

“Setiap tahun selalu bersama?”

“Kebetulan saja waktunya bersamaan. Jangan berpikir macam-macam.”

Dia tersenyum. Begitu santainya, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak perlu dijelaskan.

“Oh, ya. Aku membawakanmu magnet kulkas. Kali ini aku lama memilihnya.”

Panggilan pun berakhir.

Aku berjalan ke dapur dan membuka pintu kulkas. Di pintunya tertempel lima buah magnet kulkas.

Semuanya bergambar Gunung Fuji, dengan ukuran yang berbeda-beda dan berasal dari tahun yang berbeda.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status