LOGINDevina sudah belajar dan berusaha selama bertahun-tahun, tetapi semuanya telah tidak berguna lagi!Suara bisikan di sekeliling bagaikan ribuan jarum halus yang terus menusuk tubuh Devina.“Astaga, pantas saja pasien itu tiba-tiba mengalami syok waktu itu. Ternyata dia yang sengaja melakukannya! Setelah dipikir-pikir sekarang, benar-benar mengerikan ya!”“Aku nggak nyangka ternyata dia orang seperti itu. Selama ini, dia selalu berpura-pura anggun dan bermoral, ternyata diam-diam hatinya sekejam itu ….”“Apa orang seperti dia juga pantas jadi dokter? Malah menganggap nyawa pasien sebagai permainan!”…Rekan-rekan kerja yang dulu selalu menyambutnya dengan ramah, kini memandangnya dengan tatapan penuh hinaan.Keluarga para pasien bahkan menjauh darinya seolah-olah dia adalah sejenis virus menular. Mereka mundur hingga tanpa disadari membentuk sebuah lingkaran tak kasatmata yang mengisolasinya.Citra yang selama ini dibangun Devina dengan susah payah, serta karier yang dia banggakan, semua
Siapa sangka wanita itu akan bersikap begitu sadis dan lancang! Dia malah duluan mengganggu ketenangan orang tua Shanaya, lalu berani turun tangan terhadap Shanaya di hadapan Stanley.Seandainya … seandainya hari itu Shanaya tidak meninggalkan rumah sakit … entah bagaimana nasib Shanaya sekarang.“Di mana dia sekarang?” Suara Stanley terdengar sangat mengerikan, bahkan terdengar rasa gusar di dalamnya.Begitu kepikiran Shanaya hampir berada dalam bahaya akibat botol obat yang telah ditukar, dan teringat bagaimana hancurnya Shanaya saat melihat batu nisan kedua orang tuanya dirusak, amarah di hati Stanley kembali meluap.“Bu Devina ... seharusnya masih sedang bekerja di rumah sakit,” jawab asisten dengan penuh hati-hati. Dia takut akan menyentuh batas kesabaran Stanley.“Pihak manajemen rumah sakit nggak berani membesarkan masalah ini. Semuanya … lagi menunggu arahanmu.”Stanley memejamkan matanya. Dia sedang memaksa dirinya untuk tidak mencekik Devina. “Kalau berdasarkan peraturan, huk
Matahari bersinar melalui celah antara dahan dan dedaunan. Cahaya itu menciptakan bayangan berbintik pada kemeja putih Darren.Shanaya pun tertegun. Dia tidak menyangka seorang pengacara yang selalu mengenakan jas rapi dan bersikap kalem ternyata juga memiliki sisi yang begitu tidak terduga."Hati-hati!"Berdiri di bawah pohon, Shanaya tidak bisa menahan diri untuk mengingatkan Darren. Tangannya tanpa sadar memegang erat jas Darren."Tangkap baik-baik, ya."Suara Darren terdengar dari atas pohon. Dengan gerakan mantap, dia memetik beberapa buah kesemek yang paling montok dan merah, lalu melemparnya ke bawah dengan pelan.Shanaya buru-buru menadahkan ujung bajunya untuk menampung kesemek-kesemek itu. Kesemeknya berat dan masih terasa hangat akibat disinari matahari. Kehangatan itu seakan-akan juga merasuk ke dalam hatinya.Dalam perjalanan menuruni gunung, Shanaya memeluk erat kesemek-kesemek itu sambil mengamati Darren yang terlihat cuek meskipun ujung kemejanya ternoda debu. Tanpa dis
Saat bencana kelaparan melanda, untuk mencegah adik-adiknya mati kelaparan, Kana menjual dirinya kepada seorang pria tua pada usia 16 tahun. Pria tua itu memang tidak mampu melakukan hubungan intim lagi, tetapi memiliki kecenderungan seksual yang sangat menyimpang dan hampir menyiksanya sampai mati.Setelahnya, Kana beruntung dan berhasil melarikan diri. Dia bertemu dengan suami keduanya, seorang petani yang jujur. Meskipun miskin, dia sangat rajin dan memperlakukan Kana dengan baik.Kana berpikir bahwa semua kesulitannya akan berakhir dan dia dapat menjalani kehidupan yang damai. Sayangnya, masa-masa indah itu tidak berlangsung lama. Suaminya terbunuh saat membangun waduk, bahkan jenazahnya juga tidak ditemukan.Kana membesarkan putranya sendirian, tetapi putranya meninggal muda karena sakit. Yang tersisa hanyalah seorang cucu yang masih sangat kecil. Setelah bersusah payah membesarkan cucunya, tak disangka, cucunya tidak sengaja menyinggung putra dari pemimpin kota kecil ini dan dipu
Namun, rasa rileks yang diharapkan tidak kunjung datang. Shanaya bersandar di kursi dengan sedikit lelah dan memejamkan matanya.Darren menyadari kesunyian dan keletihan Shanaya. Dia memahami bahwa selama periode ini, obsesi untuk membalaskan dendam orang tuanya telah membebani hati Shanaya. Rencana balas dendam yang disusun Shanaya dengan hati-hati bukan hanya menguras energinya, tetapi juga mengikis daya juangnya. Kemenangan sudah berada di depan mata, tetapi sepanjang perjalanan, dia sendiri juga telah dipenuhi luka.Darren melirik ke arah Shanaya. Suaranya melambat, terdengar lembut dan menenangkan. "Sebelum pulang, kamu mau temui seseorang dulu bersamaku?"Shanaya membuka matanya dan bertanya dengan sedikit bingung, "Klienmu?""Emm." Darren memandang jalan di depan dengan fokus sambil menjawab tenang, "Dia seorang wanita tua yang berusia lebih dari 80 tahun. Kasusnya nggak rumit. Itu mungkin bisa mengubah suasana hatimu."Usul ini di luar dugaan Shanaya, tetapi juga memiliki daya
"Kamu menderita di sini, tapi mereka bersenang-senang di luar, bahkan ingin merebut semua yang seharusnya milikmu. Yalina, apa kamu rela?" ujar Shanaya.Yalina tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya dipenuhi kebencian yang membara."Alvin benar-benar bajingan! Aku sudah menanggung segalanya demi dia dan keluarga ini. Beraninya dia melakukan ini padaku! Aku akan cabut pengakuanku! Aku mau dia tahu bagaimana rasanya masuk penjara!""Sekarang, ada cara yang bukan cuma bisa buat dia menanggung akibat perbuatannya, tapi juga bisa beri kamu kesempatan untuk mendapatkan keringanan hukuman.""Cara apa?" tanya Yalina dengan penuh semangat.Shanaya menatap matanya yang merah, lalu mengucapkan setiap kata dengan tegas dan jelas."Kematian orang tuaku dulu sama sekali bukan kecelakaan, melainkan pembunuhan yang direncanakan oleh Alvin! Aku mau kamu ceritakan semua yang kamu ketahui tentang gimana dia membunuh orang tuaku waktu itu! Di pengadilan nanti, bersaksilah melawannya!"Saat rahasia yang t
Tali bahu gaun itu menggantung dengan longgar di lengan Devina dan memperlihatkan sebagian besar kulitnya. Devina berjinjit dan mencoba mencium dagu Stanley. Namun, Stanley secara refleks mundur sedikit dan menghindari wajah Devina yang mendekat."Devi, pakai bajumu dengan benar." Suara Stanley terd
Pada minggu malam, Shanaya memesan tempat di sebuah restoran masakan khas Timur.Zevon langsung pergi ke restoran itu dari bandara. Keduanya mengobrol tentang perkembangan perusahaan baru-baru ini.Pada saat ini, Rafael membuka pintu dan berjalan masuk. "Maaf sudah buat kalian menunggu lama. Jalanan
Devina adalah wanita yang cerdas. Dia tahu bahwa memberi tekanan pada Stanley dengan gencar justru akan membuat Stanley makin tidak senang. Lebih baik dia menenangkan Stanley dulu untuk saat ini. Mengenai Eva .... Devina merasa akan selalu ada cara untuk membuatnya setuju kelak.Stanley terdiam sej
"Halo, Prof Harun. Namaku Devina. Aku bekerja di Rumah Sakit Sentral Medika. Aku seorang dokter spesialis senior," ucap Devina dengan nada hormat dan sedikit membungkuk. Dia bahkan sengaja menekankan posisinya. "Aku sudah banyak mendengar tentang Profesor dan selalu mengagumi Profesor." Harun melir







