共有

Bab 53

作者: Calla Widjaja
"Rafael, apa yang kamu lihat sampai termenung?" Suara Damian tiba-tiba terdengar dari belakang.

Rafael berbalik dan melihat kelompok Stanley yang baru saja keluar dari lift.

"Nggak ada." Rafael mengalihkan pandangannya.

"Berhubung semua orang sudah sampai, gimana kalau kita balapan jet ski?" usul Damian dengan antusias sambil mengamati semua orang.

"Yang kalah harus sumbangkan 2 miliar ke yayasan amal atas nama pemenangnya," jawab Stanley dengan santai.

"Boleh." Rafael mengambil kopi baru yang
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 451

    [ 10 Agustus, cerah. Aku tidak sengaja menemukan sepetak ladang bunga matahari di dekat pemakaman. Bunga berwarna keemasan itu sedang mekar-mekarnya. Hari ini, aku membawa gadis itu bersamaku. Senyum yang langka akhirnya menghiasi wajahnya. ][ Dia memiliki senyum yang indah, secerah matahari. Dia juga diam-diam mengambil fotoku. Aku sangat menyukainya. Ini mungkin adalah foto terakhir dalam hidupku. Namun, melihat senyum cerahnya, aku mau tak mau merasa agak sedih. Aku bahkan tidak tahu berapa kali lagi aku bisa menemani gadis bodoh itu. ][ 15 Agustus, cerah. Kondisiku memburuk lagi. Kini, aku bahkan kesulitan bernapas. Dokter menyarankan aku untuk dirawat di rumah sakit, tapi aku masih memaksakan diri pergi menemui gadis itu untuk yang terakhir kalinya. ][ Aku memberitahunya bahwa aku akan melakukan perjalanan jauh. Jika berjodoh, kami akan bertemu lagi. Saat berbalik, aku tahu kami tidak akan pernah bertemu lagi. ][ Gadis itu menanyakan siapa namaku, tapi aku hanya memberitahunya

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 450

    Tak ada yang berubah di kamar Stanford. Dulu, Stanley selalu sengaja menghindari tempat ini. Setiap kali menginjakkan kaki di sini, kenangan menyedihkan tentang kematian kakaknya selalu membanjiri pikirannya.Namun, hari ini, Stanley harus mencari jawabannya sendiri. Dia memandang ke sekeliling ruangan. Pada akhirnya, pandangannya mendarat di sebuah kotak kayu yang tidak mencolok di sudut meja. Ada lapisan debu tipis yang menutupi kotak itu karena sudah lama tidak disentuh.Stanley mengeluarkan kotak kayu itu dengan hati-hati. Setelah membukanya, terlihat sebuah buku harian bersampul kulit di dalamnya. Dia membuka buku harian itu. Isinya merekam saat-saat terakhir kakaknya setelah jatuh sakit.[ 15 Juli, berawan. Hari ini benar-benar buruk. Kondisiku makin memburuk. Pagi tadi, aku batuk parah, sampai bernapas juga terasa sulit. ][ Saat melakukan pemeriksaan di rumah sakit, aku tidak sengaja mendengar percakapan dokter. Penyakitku sudah mencapai stadium akhir dan tidak mungkin disembuh

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 449

    Kemudian, Shanaya berjalan ke makam Stanford dan meletakkan buket bunga matahari itu. Dia berdiri lama di depan makam pria yang telah memberinya kehangatan di tahun-tahun terkelamnya, tetapi meninggal muda.Debaran cinta pertama di tahun itu hanya sesingkat kembang api. Sekarang, hanya ini satu-satunya cara Shanaya mengingat Stanford. Berhubung tidak ingin membuat Darren menunggu lama, Shanaya segera meninggalkan pemakaman. Dalam perjalanan meninggalkan pemakaman, mobil mereka kebetulan berpapasan dengan sebuah mobil berwarna hitam yang sedang melaju kencang.Stanley hanya berpikir untuk bertemu Shanaya sesegera mungkin agar bisa memverifikasi kebenarannya. Dia sama sekali tidak memperhatikan mobil yang lewat.Sesampainya di pemakaman, Stanley terlihat terengah-engah. Dia hanya melihat buket bunga krisan segar di depan batu nisan orang tua Shanaya, dan buket bunga matahari yang familiar di depan batu nisan kakaknya.Stanley mengambil buket bunga matahari itu dengan gemetar. Tiba-tiba,

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 448

    Saat menemukan alamat itu dan melihat Devina keluar dari vila, Stanley langsung menyimpulkan bahwa Devina adalah gadis yang dipercayakan oleh mendiang kakaknya kepadanya. Sekarang, setelah mengetahui bahwa Shanaya adalah pemilik vila yang sebenarnya, orang yang benar-benar dipercayakan mendiang kakaknya kepadanya sebelum meninggal ... kemungkinan besar adalah Shanaya!Kesadaran ini membuat sekujur tubuh Stanley mendingin, seolah-olah sudah jatuh ke gua es. Jari-jarinya tanpa sadar menegang dan dia hampir meremukkan dokumen di tangannya. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Shanaya untuk memverifikasi semua ini.Saat ini, Shanaya baru saja tiba di pintu masuk pemakaman. Ketika menerima panggilan dari Stanley, dia mengerutkan kening dan menolak tanpa ragu."Pak Darren, tunggu saja aku di dalam mobil. Aku akan segera kembali."Darren mengangguk. "Santai saja. Hubungi aku kapan pun kamu butuh sesuatu."Shanaya berjalan masuk ke pemakaman sendirian. Ponselnya berdering lagi. Yang

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 447

    "Semuanya masih belum berakhir .... Jangan harap aku lepaskan kamu!" geram Devina.Dalam perjalanan kembali, Shanaya melihat ke luar jendela dan terdiam sepanjang waktu. Saat ini, dia tidak punya banyak tenaga untuk berbicara.Darren mengemudikan mobil dengan fokus dan juga diam sepanjang jalan. Dia memberi Shanaya ruang untuk mencerna emosinya.Saat melewati toko bunga, Shanaya baru berkata dengan lembut, "Pak Darren, tolong berhenti sebentar."Meskipun sedikit bingung, Darren tetap memarkir mobilnya di pinggir jalan. "Ada apa?""Aku mau beli bunga dan pergi ke makam orang tuaku." Shanaya terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Kamu lakukan saja pekerjaanmu. Aku bisa pergi sendiri."Darren mengikuti pandangan Shanaya dan melihat memang ada toko bunga di pinggir jalan. Dia menyahut dengan lembut, "Aku nggak sibuk. Aku temani kamu saja."Setelah tertegun sejenak, Shanaya mengangguk. "Oke."Darren menemani Shanaya yang memilih dua buket bunga dengan sepenuh hati, lalu pergi ke pemakaman di

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 446

    Shanaya yang masih syok mengatur napasnya dan berjalan ke hadapan Devina. Melihat Devina yang keadaannya begitu menyedihkan, emosi yang menumpuk dalam hatinya selama bertahun-tahun akhirnya meledak."Aku kejam? Yang kalian sekeluarga lakukan jauh lebih kejam daripada yang kulakukan!" Suara Shanaya bergetar, tetapi kata-katanya terdengar jelas."Orang tuaku itu kakak kandung dan kakak ipar ayahmu! Gimana kehidupan kalian di desa dulu? Orang tuaku yang bawa kalian ke kota, lalu aturkan rumah dan pekerjaan untuk orang tuamu! Tapi, apa yang kalian lakukan? Demi menguasai perusahaan dan properti keluargaku, kalian bahkan kerja sama dengan orang luar untuk celakai orang tuaku! Kok bisa kalian setega itu?"Makin berbicara, Shanaya makin marah. Dia menampar Devina dengan kuat."Kamu juga sama! Waktu ayahku bilang ada seorang kakak perempuan dari desa yang akan datang, aku keluarkan semua mainan dan camilanku untukmu! Tapi, apa yang kamu lakukan? Waktu aku keluar rumah, kamu hancurkan boneka k

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 51 

    Dalam foto itu, tangan Stanley sedang menempel di perut bagian bawah Devina. Mata Stanley yang menunduk terlihat sangat lembut di bawah cahaya hangat.Shanaya baru saja berganti pakaian tidur dan bersiap untuk tidur ketika ponselnya bergetar. Dia mengklik layar ponsel dan foto hangat nan ambigu itu

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 46

    Stanley melihat dengan jelas tangan Zevon menyentuh pinggang Shanaya selama tiga detik. Dia juga melihat bagaimana Zevon menyampirkan jaket UV itu ke bahu Shanaya, tetapi Shanaya tidak menolak."Lagi lihat apa kamu sampai bengong?"Damian tiba-tiba mencondongkan tubuh dari belakang dan langsung mere

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 37

    Shanaya menggeleng. "Kamu perlu kendalikan situasi di perusahaan. Aku bisa tangani masalah kecil ini sendiri." Setelah rapat berakhir, Shanaya pergi ke rumah sakit. Dia bertemu dengan Lestya, salah satu keluarga pasien pertama yang bersedia bersuara. Suaminya adalah seorang penderita kanker paru st

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 35

    Shanaya secara refleks ingin mundur. Namun, sepatu hak tingginya tiba-tiba menginjak sesuatu yang berbulu. Dia pun terpeleset dan jatuh ke belakang. Kemudian, dia secara naluriah mengulurkan tangan untuk meraih sesuatu, tetapi hanya berhasil meraih dasi Stanley."Meong!" Anak kucing jingga itu seger

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status