MasukStanley tidak menimpali. Dia hanya menuang alkohol ke dalam gelasnya dengan diam. Saat alkohol kembali diteguk, dia baru berkata dengan perlahan. Suaranya terdengar rendah dan tertekan. “Aku bukan nggak suka sama dia.”Mata Stanley dipenuhi dengan guratan merah. Sepertinya dia sedang mengenang rasa sakit itu. “Saat pertama kali bertemu, aku melihat tatapannya terlalu membara dan terlalu terang-terangan ….”“Saat itu, aku bodoh menganggap dia sebagai wanita munafik yang memiliki motif tersembunyi. Aku pun langsung memiliki prasangka terhadapnya.”“Tapi setelah itu … setelah berhubungan dengannya, entah sejak kapan, hatiku mulai tergerak.” Terdengar rasa penyesalan yang mendalam dari suara Stanley.“Hanya saja, selama ini aku nggak mau mengakuinya dan terus menahan perasaanku. Aku malah melukainya dengan sikap dinginku, alhasil dia pun semakin jauh ….”“Semalam … aku baru tahu, ternyata dia barulah perempuan yang dititipkan mendiang abangku untuk dijaga …. Pada saat itu, aku baru tahu te
Stanley berjalan ke sisi mobil dengan terdiam. Jari dengan lekuk jelas itu memegang gagang pintu. Dia kembali membukakan pintu untuk Shanaya.“Mau ke mana? Biar aku antar.” Suara rendah Stanley terdengar agak serak, seolah-olah sedang ditekan oleh sesuatu saja.“Nggak usah,” jawab Shanaya dengan tegas dan tanpa ragu sama sekali. Shanaya mengangkat tangannya. Jari tangan rampingnya menunjuk ke jalan di sekitar. “Aku bisa naik taksi sendiri. Pak Stanley, semoga kamu bisa memenuhi janjimu. Satu bulan kemudian, datang untuk ambil akta dengan tepat waktu.”Panggilan “Pak Stanley" terdengar sungkan dan dingin, seperti sebuah jurang tak kasatmata yang benar-benar memisahkan batas di antara mereka.Stanley terpaku di tempat. Jari tangannya yang menggenggam pintu mobil memutih karena mencengkeram terlalu kuat. Dia melihat wanita itu berbalik tanpa sedikit pun rasa enggan untuk pergi. Sosok punggungnya terlihat tegas dan penuh keputusan, selangkah demi selangkah mulai menjauhi dunia Stanley.Sta
Sepanjang perjalanan, kecepatan mobil begitu lambat hingga hampir terasa tidak bergerak.Pemandangan jalanan di luar jendela terus berganti, tetapi hati Stanley terasa tenggelam hingga ke dasar jurang.Dulu, tidak peduli seberapa buruk hubungan mereka, surat pernikahan itu seperti sebuah benang tak terlihat yang tetap menghubungkan mereka.Namun setelah bercerai, benang ini akan benar-benar diputuskan. Dia dan wanita itu akan … tidak berhubungan lagi.Di depan pintu kantor catatan sipil, asisten sudah menunggu dalam waktu lama.Ketika melihat mereka menuruni mobil, asisten segera menghampiri mereka, lalu menyerahkan dokumen dengan hormat. “Pak Stanley, surat sudah disusun sesuai permintaanmu.”Stanley mengambil surat, lalu meliriknya sekilas. Setelah itu, dia menyerahkan dokumen dengan tenang kepada Shanaya.“Coba kamu lihat, kalau nggak ada kendala, kamu bisa tanda tangan.”Shanaya mengambil dokumen, lalu membacanya sekilas dengan cepat. Saat tatapannya menyapu ke kolom "pembagian ha
“Iya,” balas Shanaya tanpa ragu sama sekali. “Cerai adalah tebusan terbaik dari kamu untukku.”Stanley terdiam dalam waktu yang sangat panjang. Udara seolah-olah membeku. Setiap detik pun terasa sangat tersiksa.Shanaya mengira Stanley telah menyesal. Dia akan menggunakan kekuatan yang biasa dia gunakan untuk mengikat Shanaya di dalam pernikahan yang sudah tidak ada artinya lagi.Jakun Stanley bergerak dengan susah payah. Dia seperti telah menelan semua rasa sakit dan memelas yang bergejolak. Pada akhirnya, semuanya berubah menjadi suara yang nyaris retak itu. “Oke ….”Stanley mengangkat pandangannya. Tatapannya terlihat sangat pilu. “Aku kabulkan permintaanmu. Mungkin … ini adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan untukmu. Aku akan suruh asisten untuk mengatur waktu.” Shanaya sungguh merasa kaget. Awalnya, dia mengira Stanley akan marah atau terus mengikatnya, dia sungguh tidak menyangka Stanley akan membuat keputusan dengan setegas ini … dia malah memilih untuk merelakannya.Ra
“Mungkin boleh dikatakan, kamu mau menggunakan rumah ini untuk dijadikan transaksi. Kamu mau memintaku untuk melepaskan Alvin?” Shanaya tersenyum sinis. “Sebenarnya itu memang tujuanmu. Kalau begitu, aku beri tahu kamu … nggak mungkin!”“Aku nggak bermaksud seperti itu.” Salah paham Shanaya membuat hati Stanley terasa pilu. “Aku cuma ingin mengembalikan … barang yang seharusnya menjadi milikmu.”Sepertinya Shanaya tidak percaya dia akan tiba-tiba membantunya tanpa sebab. Rasa waspada seketika memenuhi tatapannya. “Aku nggak pernah memiliki perasaan seperti pasangan terhadap Devina,” jelas Stanley dengan susah payah. “Aku melakukannya demi abangku …. Sebelum dia meninggal, dia memintaku untuk menjaga seorang anak perempuan ….”“Aku kira perempuan itu adalah Devina, makanya aku terus melindungi dan memanjakannya …. Sampai semalam, aku baru tahu … orang yang dimaksud abangku adalah … kamu.”Ekspresi gusar dan hina di wajah Shanaya seketika membeku. Dia menatap Stanley dengan kaget. Matan
Stanley menatap kunci dan sertifikat rumah di atas meja. Kunci yang terbuat dari logam itu samar-samar memancarkan cahaya dingin di bawah cahaya lampu.Stanley terdiam beberapa saat. Pada akhirnya, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil barang-barang itu. “Persiapkan mobil.”Setengah jam kemudian, mobil pun berhenti di luar vila Shanaya. Stanley duduk di dalam mobil. Tatapannya tertuju pada map dokumen di atas kursi samping pengemudi. Di dalamnya berisi segala sesuatu yang seharusnya menjadi milik Shanaya pada tujuh tahun silam.Stanley menelepon Shanaya. Dia tidak menyangka ternyata panggilannya malah diputuskan. Beberapa saat kemudian, dia mengirim pesan kepada Shanaya.[ Aku sedang berada di luar rumah. Ada yang ingin aku serahkan kepadamu. ]Di dalam vila, Shanaya sedang duduk di atas karpet sembari bermain dengan Snow. Layar ponselnya menyala. Kata “Stanley" terlihat sangat menusuk di mata.Tatapan Shanaya menjadi dingin. Dia menggeser layar dengan jari tangan, kemudian membal
Rafael telah … menyukai Shanaya!Pemikiran ini bagai petir yang menyambar hati Stanley saja. Devina masih memikirkan acara pertukaran akademik di sore hari, jadi dia tidak tinggal lama dan segera pergi.Saat hanya tersisa Stanley dan Rafael berdua di kamar pasien, udara seolah-olah langsung membeku
Beberapa hari kemudian, Shanaya keluar dari rumah sakit. Dia telah menemukan sebuah rumah di internet dengan harga sewa 100 juta per tahun yang dibayar tahunan. Saat pergi ke ATM untuk menarik uang, dia baru menyadari bahwa hanya tersisa beberapa ratus ribu di rekeningnya.Selina mau tak mau mengump
Shanaya menelepon ambulans dengan tangan gemetar. Ketika mendengar sirene ambulans, dia tidak mampu bertahan lagi dan akhirnya kehilangan kesadarannya.Shanaya baru tersadar lagi keesokan harinya. Di sekujur tubuhnya, tertancap begitu banyak selang.Dokter menegurnya dengan ekspresi kecewa, "Bukanny
Di rumah sakit Kota Himar."Kamu hamil di luar kandungan. Begitu saluran indung telur pecah, itu bisa berakibat fatal! Kenapa kamu datang sendiri untuk lakukan operasi sebesar ini? Di mana suamimu? Cepat suruh dia datang!"Shanaya Wiriandi menahan rasa sakit luar biasa di bagian perutnya dan menelep







