Share

Bab 53

Penulis: Calla Widjaja
"Rafael, apa yang kamu lihat sampai termenung?" Suara Damian tiba-tiba terdengar dari belakang.

Rafael berbalik dan melihat kelompok Stanley yang baru saja keluar dari lift.

"Nggak ada." Rafael mengalihkan pandangannya.

"Berhubung semua orang sudah sampai, gimana kalau kita balapan jet ski?" usul Damian dengan antusias sambil mengamati semua orang.

"Yang kalah harus sumbangkan 2 miliar ke yayasan amal atas nama pemenangnya," jawab Stanley dengan santai.

"Boleh." Rafael mengambil kopi baru yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 100

    Shanaya bisa merasakan permusuhan di mata Damian. Dia jelas memiliki niat buruk.Awalnya, Shanaya berpikir bahwa Rafael tidak akan menolak. Bagaimanapun juga, mereka adalah teman dekat yang tumbuh bersama. Tak disangka, Rafael tersenyum tipis dan menyahut, "Nggak usah. Pasangan dansa sebaik ini lebih cocok untuk sosok karismatik sepertimu." Damian memanyunkan bibir dan tidak mendesak lebih lanjut. Namun, ejekan di matanya makin jelas. Pasangan dansanya adalah wanita yang jeli. Dia mampu merasakan permusuhan dalam nada bicara Damian. Dengan gerakan yang terlihat tidak disengaja, dia menyiku sisi tubuh Shanaya. Gerakannya secepat bayangan sehingga tidak sempat dihindari."Ugh ...." Shanaya langsung terhuyung ke depan. Rasa sakit yang tajam menjalar di pergelangan kakinya dan dia hampir jatuh."Hati-hati!" Rafael bereaksi cepat dan menangkap Shanaya. Telapak tangannya menekan punggung Shanaya. Dia dapat dengan jelas merasakan tubuh Shanaya yang menegang seketika."Pergelangan kakimu t

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 99

    "I ... iya," jawab Leona.Devina tersenyum, lalu berkata dengan suara yang terdengar terlalu manis, "Kebetulan sekali." Dia melangkah maju sedikit dan melanjutkan, "Aku nggak pernah melihatmu lagi sejak lulus SMA. Kupikir kamu sudah meninggalkan Kota Himar. Ayo tukaran informasi kontak. Aku akan ajak kamu keluar lain hari." Secercah kepanikan melintas di mata Leona. "A ... aku nggak bawa ponsel ...." Devina sepertinya tahu bahwa Leona sedang berbohong. Dia berujar sambil tersenyum, "Nggak apa-apa, aku akan simpan kontakmu dulu. Berapa nomor WhatsApp-mu?"Tubuh Leona langsung gemetar. Di bawah tatapan Devina, dia menyebutkan serangkaian angka dengan tergagap.Devina melambaikan ponselnya. "Aku sudah chat kamu. Jangan lupa simpan nomorku juga. Nanti, aku akan ajak kamu kumpul di kafe." Setelah Devina pergi, Leona masih terpaku di tempat, seolah-olah semua darah di tubuhnya telah membeku.Shanaya dan Rafael baru saja selesai membicarakan detail kerja sama. Begitu mendongak, Shanaya me

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 98

    Stanley berdiri diam di tempat. Dia menghabiskan wiski di gelasnya dalam sekali teguk. Cairan pedas itu meluncur ke tenggorokannya, tetapi dia tetap tidak dapat menekan kegelisahan aneh yang merayap dalam hatinya.Jari-jari Devina mencengkeram gaunnya. Kehadiran Shanaya merupakan ancaman baginya. Shanaya telah mencuri perhatian yang seharusnya menjadi miliknya sejak tiba di aula. Hal ini membuatnya sangat tidak senang.Devina memaksakan senyum, lalu berujar dengan nada yang sengaja dibuat santai, "Grup Senata dan Lumina lagi bahas kerja sama yang lebih dalam. Wajar saja Rafael bersikap sopan kepada rekannya." Damian mengejek, "Benar juga. Dulu, Rafael begitu membenci Shanaya. Kalau bukan karena kerja sama ini, dia mungkin nggak akan melirik Shanaya." Ketika Rafael mengobrol dengan Shanaya, Arwan, tokoh senior Grup Senata juga tiba."Permisi, aku pergi sapa kakekku dulu." Seusai berpamitan, Rafael berjalan ke arah Arwan. Orang lainnya juga pergi menyapa Arwan, termasuk Stanley dan Da

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 97 

    Saat Stanley masuk bergandengan tangan dengan Devina, mereka langsung menjadi pusat perhatian."Pak Stanley, Bu Devina, akhirnya kalian tiba juga!" Seorang rekan bisnis menghampiri mereka sambil mengangkat gelas anggur. "Penampilan Bu Devina hari ini sangat menakjubkan! Dengan berdiri di samping Pak Stanley, kalian kelihatan seperti pasangan yang serasi!" Pipi Devina memerah. Dia bersandar lebih dekat ke Stanley. "Terima kasih atas pujiannya. Stanley punya selera yang bagus. Ini gaun yang dipesannya secara khusus untukku." Stanley mengangguk pelan untuk menanggapi basa-basi orang di sekitarnya.Semua orang di industri tahu bahwa Stanley sangat memanjakan Devina dan membawanya ke setiap acara. Perlakuan istimewa ini sangatlah jelas. Jadi, tentu saja ada banyak orang yang juga berbondong-bondong menyanjung dan memuji Devina.Damian berjalan mendekat sambil menggoyang-goyangkan segelas sampanye."Devi benar-benar bersinar hari ini. Kamu pakai gaun seharga satu unit mobil sport lagi?" Da

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 96 

    Shanaya yang sudah berganti pakaian keluar dari ruang ganti. "Leona, menurutmu ...." Sebelum menyelesaikan kata-katanya, Shanaya tiba-tiba berhenti berbicara. Dia tidak melihat Leona. Sebaliknya, dia bertemu pandang dengan sepasang mata gelap yang dalam. Stanley berdiri beberapa meter jauhnya dari Shanaya. Tatapannya tertuju pada wanita itu.Pada saat ini, Shanaya mengenakan gaun model duyung berwarna biru tua. Desain bagian atas yang tanpa tali menonjolkan tulang selangkanya yang indah. Dengan bagian pinggang yang ramping, lekuk dadanya terlihat lebih penuh. Bagian roknya mengalir anggun di tubuhnya dan sedikit melebar di area pergelangan kaki.Kulit Shanaya yang tidak tertutup kain terlihat seputih salju. Rambut hitam panjangnya terurai bebas. Dia terlihat seperti putri duyung dari laut, begitu memukau hingga membuat orang tidak bisa berpaling.Saat ini, tatapan Stanley yang biasanya dingin sedikit menghangat. Ketika mata mereka bertemu, udara seolah membeku."Stanley, apa aku terl

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 95

    Rafael terdiam sejenak. Nadanya menjadi lebih serius saat melanjutkan, "Sejujurnya, aku mengagumi profesionalismemu. Aku berharap pesta apresiasi ini bisa jadi titik awal baru untuk kerja sama kita yang lebih dalam. Beri aku kesempatan, juga beri Lumina kesempatan. Oke?" Melihat ketulusan di mata Rafael, Shanaya teringat kesulitan dalam mengembangkan proyek ini. Pesta apresiasi ini memang merupakan kesempatan yang baik untuk memperluas koneksi. Dia tidak bisa membiarkan urusan pribadi memengaruhi kepentingan perusahaan.Ujung jarinya berhenti sejenak di undangan itu. Kemudian, Shanaya akhirnya mengangguk. "Karena Pak Rafael sudah ngomong begitu, aku pasti akan hadir." Rafael langsung tersenyum. "Aku akan menantikan kehadiranmu." Shanaya membawa undangan pesta apresiasi itu kembali ke perusahaan, lalu mengobrol dengan Zevon tentang kerja sama dengan Grup Senata.Zevon mengelus undangan itu. "Biar aku saja yang temani kamu pergi ke pesta apresiasi Jumat ini? Kebetulan, aku juga bisa b

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 34

    "Departemen hukum?" Shanaya tersenyum sinis dan melanjutkan, "Kenapa? Pak Stanley mau pakai pengacara untuk mengancamku?"Mata Stanley menjadi gelap dan dia menggertakkan giginya. "Kamu kira aku perlu pakai cara rendahan seperti itu untuk hadapi kamu?""Memangnya bukan kamu pelakunya? Pak Stanley ba

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 33

    Keesokan paginya, Shanaya tidak pergi ke perusahaan, melainkan langsung pergi ke Grup Herdian.Kebetulan, ini adalah jam masuk kerja yang ramai. Shanaya pun berbaur dengan kerumunan sehingga tidak disadari oleh resepsionis. Dia tidak begitu familier terhadap tata letak Grup Herdian. Dia hanya tahu b

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 32

    Semua orang tahu situasi ini sulit ditangani. Jika Zevon keluar seperti ini, dia akan menjadi sasaran kritik publik dan semua orang akan menudingnya."Nggak apa-apa. Aku ini penanggung jawab perusahaan. Berhubung sudah terjadi masalah, sudah seharusnya aku menghadapinya."Baru saja Zevon tiba di pin

  • Saat Aku Pendarahan, Suamiku Menemani Simpanannya   Bab 31

    Zevon Saputra adalah lulusan luar negeri bergelar doktor di bidang farmasi, juga merupakan pendiri Lumina Biotech. Shanaya sedang bekerja di perusahaannya.Stanley pun tersenyum sinis. Istrinya itu benar-benar hebat. Dia baru bekerja kurang dari sebulan, tetapi bosnya sudah begitu protektif terhadap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status