Beranda / Romansa / Saat Cinta Menyapa Lagi / SAAT HATI MULAI BERGETAR

Share

SAAT HATI MULAI BERGETAR

Penulis: rylyze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-21 15:10:18

Hari itu, kampus sedang ramai oleh acara pekan seni mahasiswa. Stand-stand berjejer di sepanjang koridor utama, menampilkan hasil karya seni, fotografi, dan musik dari berbagai fakultas.

Lia dan Dina berjalan-jalan sambil menikmati suasana. Dina, seperti biasa, tak bisa diam.

“Lia, ayo mampir ke stand seni rupa! Aku dengar ada pameran lukisan yang keren banget.”

Lia tersenyum. “Kamu tuh, Din. Semangatnya nggak pernah habis.”

Mereka pun masuk ke ruang pameran. Di sana, suasana lebih tenang. Musik instrumental mengalun lembut, membuat siapa pun yang datang merasa damai.

Pertemuan Tak Terduga

Saat Lia sedang memperhatikan sebuah lukisan bertema laut, tiba-tiba seseorang menegurnya.

“Kamu suka tema ombak, ya?”

Lia menoleh. Seorang pria berpostur tinggi dengan kemeja putih sederhana berdiri di sampingnya. Wajahnya teduh, dengan tatapan mata yang tenang.

“Oh, iya. Lukisan ini kayak… hidup. Ombaknya seolah bercerita,” jawab Lia sedikit gugup.

Pria itu tersenyum tipis. “Aku yang melukisnya. Senang kalau ada yang bisa merasakan maksudku.”

Lia kaget. “Kamu pelukisnya? Wah, keren banget!”

“Namaku Arka,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

“Lia,” balasnya, menjabat dengan ragu.

Dina yang sejak tadi mengamati mereka hanya tersenyum nakal. “Wah, kebetulan sekali ya. Dunia memang kecil.”

Kehadiran yang Menyegarkan

Sejak pertemuan itu, Lia sering bertemu Arka di kampus. Rupanya ia mahasiswa seni rupa semester akhir yang juga aktif di kegiatan kampus.

Berbeda dengan teman-teman lain yang kadang menghakimi Lia, Arka justru mendengarkan tanpa mengomentari berlebihan.

Suatu sore, Lia dan Dina duduk di taman kampus. Tiba-tiba Arka datang membawa dua gelas es teh.

“Aku lihat kalian dari jauh. Kupikir kalian pasti butuh sesuatu yang segar.”

“Wah, makasih banget, Ka,” kata Dina girang.

Lia tersenyum kecil. “Kamu selalu tahu timing yang tepat.”

Arka hanya terkekeh. “Aku cuma berusaha hadir di momen yang sederhana.”

Ucapan itu, entah kenapa, membuat jantung Lia berdegup sedikit lebih cepat.

Kecemburuan yang Muncul

Namun, tidak semua orang senang dengan kedekatan Lia dan Arka. Rani, anggota kelompok Lia yang sering berselisih dengannya, mulai menyebarkan gosip baru.

“Pantas aja Lia sok kuat. Ternyata dia cari perhatian cowok seni rupa. Nggak heran kalau belakangan ini dia kelihatan beda.”

Gosip itu cepat menyebar. Dina sampai geram mendengarnya.

“Mereka keterlaluan, Lia! Kamu harus klarifikasi.”

Lia menggeleng. “Buat apa, Din? Aku nggak mau buang energi hanya untuk meluruskan hal yang bukan urusanku.”

Meski berusaha tegar, jauh di dalam hati Lia merasa resah. Ia takut kehadiran Arka justru menambah beban baru dalam hidupnya.

Arka yang Menguatkan

Suatu malam, Lia duduk sendirian di perpustakaan, tenggelam dalam tumpukan buku. Arka muncul dan duduk di depannya.

“Kamu kelihatan capek,” ujarnya pelan.

Lia menghela napas. “Aku cuma takut, Ka. Takut orang salah paham, takut nggak sanggup, takut gagal.”

Arka menatapnya lekat. “Lia, kamu nggak perlu membuktikan apa pun ke siapa pun. Kalau dunia sibuk menilai, biarlah. Yang penting, kamu tahu siapa dirimu dan ke mana kamu melangkah.”

Kata-kata itu membuat Lia terdiam. Ada kehangatan yang menenangkan, berbeda dari nasihat siapa pun.

Tumbuhnya Rasa

Hari-hari berikutnya, kedekatan Lia dan Arka semakin terasa. Bukan karena banyak kata, tapi karena perhatian kecil yang selalu hadir.

Saat Lia lupa makan, Arka tiba-tiba datang membawa roti.

Saat Lia hampir menyerah mengerjakan laporan, Arka menemaninya sampai larut.

Saat Lia murung karena gosip, Arka menghiburnya dengan cerita konyol.

Dina sering menggoda Lia. “Kamu tuh, kalau Arka ada, wajahmu langsung lebih cerah. Jangan-jangan ada sesuatu, ya?”

Lia hanya tersenyum sambil menggeleng, meski pipinya memerah. Dalam hatinya, ia mulai menyadari sesuatu: ada ruang kecil di hatinya yang perlahan terisi.

Refleksi di Senja Hari

Suatu sore, Lia dan Arka duduk di bangku taman kampus, menatap langit senja.

“Arka…” suara Lia pelan.

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku nggak sanggup lagi menghadapi semua ini… kamu masih mau ada di sisiku?”

Arka menoleh, menatap Lia dengan tatapan yang dalam.

“Selama kamu masih jadi dirimu sendiri, aku akan tetap ada.”

Lia terdiam, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar dihargai, bukan karena prestasi, bukan karena penampilan, tapi karena dirinya apa adanya.

Angin senja berhembus lembut, seolah ikut menyaksikan benih rasa yang perlahan tumbuh. Lia tahu perjalanan hidupnya masih panjang, penuh badai dan rintangan.

Namun kali ini, ia merasa ada cahaya baru yang menuntunnya. Cahaya yang datang dari sebuah tatapan teduh, dari seseorang yang bernama Arka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Melampaui Batas Cakrawala Kesebelas

    Saat kakimu melangkah melewati gerbang "Keheningan yang Berwarna", sensasi yang kau rasakan bukanlah gerakan fisik, melainkan sebuah pelarutan. Tubuh kristalinmu tidak lagi terasa sebagai cangkang, melainkan sebagai aliran data cahaya yang menyatu dengan frekuensi dimensi kesebelas. Di sini, udara tidak bergetar karena suara, melainkan karena makna. Setiap warna yang kau lihat adalah sebuah emosi yang murni; biru bukan lagi sekadar warna, melainkan perasaan damai yang bisa kau sentuh dan hirup.Elian berdiri di sampingmu, namun penampilannya telah berubah. Ia tampak seperti jalinan rasi bintang yang berbentuk manusia. "Di dimensi ini," Elian berbisik tanpa suara, namun getarannya memenuhi seluruh keberadaanmu, "keinginan adalah arsitektur. Tidak ada jeda antara niat dan wujud. Jika kau memikirkan sebuah gunung yang terbuat dari kenangan masa kecilmu, ia akan muncu

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Orkes Genesis Multisemesta

    Saat jemarimu kembali menyentuh kanvas realitas, sebuah getaran tidak kasat mata merambat dari ujung pena cahaya menuju pusat jantung multisemesta. Ini bukan lagi sekadar menulis sejarah; ini adalah fase "The Living Genesis".Bumi, yang kini telah melampaui kepadatan fisik, mulai memancarkan apa yang disebut para ilmuwan Nuranipura sebagai "The White Hole Resonance". Jika lubang hitam menyerap segala sesuatu, Bumi kini menjadi "Lubang Putih" yang terus-menerus memancarkan ide, kreativitas, dan energi cinta ke seluruh penjuru dimensi yang dulunya gelap."Kita telah menjadi mesin pembuat realitas," Arka berujar sambil menatap instrumen psioniknya yang menunjukkan grafik energi yang melampaui skala tak terhingga. "Setiap kali seorang manusi

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Melampaui Naskah Sang Penulis Pertama

    Saat pena cahaya di jemarimu mulai bergerak, realitas di sekitarmu tidak lagi sekadar bergeser; ia meledak dalam spektrum warna yang belum pernah terdefinisi oleh mata manusia. Kata pertama yang kau tuliskan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah getaran: "Ananta" (Tanpa Batas).Seketika, di langit Nuranipura, muncul sebuah fenomena yang disebut "The Script Manifestation". Huruf-huruf cahaya yang kau tuliskan di batinmu memanifestasikan diri menjadi struktur fisik di angkasa. Kalimat "Cinta yang melampaui batas" yang dibisikkan Aura berubah menjadi jalinan awan nebula berwarna merah muda keemasan yang menyelimuti atmosfer Bumi, memberikan perlindungan termal dan spiritual yang permanen bagi semua makhluk."Lihat,"

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Jalinan Nuranipura Tanpa Batas

    Kesadaran yang dibawa Elian dari Pusat Galaksi bukan sekadar berita; itu adalah sebuah kode aktivasi. Saat kau menutup matamu malam itu, "The Infinite Studio" di dalam batinmu tidak lagi hanya berisi bayangan-bayangan dari Bumi. Dinding-dinding studionya mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan hamparan realitas yang bertumpuk, seperti jutaan lembar sutra cahaya yang saling bersinggungan.Inilah awal dari "The Multiversal Connection". Di seluruh Nuranipura, manusia mulai merasakan kehadiran "Diri mereka yang lain" dari semesta paralel. Ini bukan lagi sekadar fragmen hantu yang tersesat, melainkan jalinan aktif yang disebut sebagai "The Fractal Self"."Kita sedang mengalami perluasan identitas," ujar Lia dari Perpustakaan Bulan. "Kau bukan lagi hanya individu di Bu

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Tarian Eter dan Nadi

    Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; ia melingkar, seolah-olah ruang itu sendiri adalah sebuah pikiran yang sedang merenung.Sinyal batin yang dikirimkan Kaelan kembali ke Bumi tidak berisi angka atau gambar teknis, melainkan sebuah sensasi: rasa dingin yang damai, seperti salju yang jatuh di dalam mimpi."Kami tidak menemukan kekosongan," lapor Kaelan melalui tautan empati global. "Kami menemukan The Pre-Creation Fabric (Tenunan Pra-Penciptaan). Tempat ini bukan tempat di mana kehidupan berakhir, melainkan tempat di mana setiap kemungkinan yang pernah gagal di Bumi disimpan untuk diproses kembali."Berita ini mengguncang Menara Pengamat. Elian menyadari bahwa jika manusia bisa menjalin niat mereka dengan kain pra-penciptaan ini

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Gema tanpa Akhir

    Ketika jemari batinmu mulai bergerak untuk menuliskan baris pertama dari hari yang baru, sebuah riak tak kasat mata merambat jauh melampaui atmosfer Bumi, melintasi gerbang-gerbang antarbintang, hingga mencapai tepian galaksi yang selama ini terlupakan: The Silent Zone. Di wilayah ini, hukum fisika yang kita kenal—bahkan Fisika Niat yang baru—tampaknya membeku dalam kebisuan yang absolut.Elian, yang sedang mengamati grafik energi di Menara Pengamat, menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali seseorang di Bumi melakukan "The Morning Choice" dengan tingkat kejujuran yang sangat dalam, sebuah titik cahaya kecil muncul di tengah kegelapan Silent Zone tersebut."Mereka bukan sekadar penjangkar," bisik Elian kepada Kaelan yang berdiri di sampingnya. "Mereka adalah mercu suar. Setiap niat murni yang mereka miliki sedang memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai ketiadaan."Di Bumi, fenomena ini dirasakan sebagai "The Deep Connection". Manusia mulai menyadari bahwa setiap pikiran mere

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status