MasukPagi itu, langit mendung menaungi kampus. Lia berjalan bersama Dina menuju kelas ketika mereka mendengar beberapa mahasiswa berbisik-bisik sambil melirik ke arah mereka.
“Eh, itu Lia kan? Katanya dia nolak jadi koordinator, tapi kok tetap deket sama pengurus organisasi?”
Bisikan itu cukup keras untuk terdengar. Dina merengut, ingin menegur, tapi Lia menahan tangannya.
“Sudahlah, Din. Biarin aja. Mereka nggak tahu yang sebenarnya,” ujar Lia lirih, meski hatinya sedikit tergores.
Hari itu, dosen mata kuliah utama memberi pengumuman mendadak.
Kebetulan, Lia ditunjuk menjadi ketua kelompok lagi. Dina langsung menatapnya dengan khawatir.
“Lia, kamu nggak apa-apa? Baru aja kita selesai presentasi, sekarang proyek penelitian lagi.”
Lia menghela napas panjang. “Aku harus coba, Din. Tapi kali ini aku bakal lebih tegas bagi tugas. Aku nggak mau jatuh sakit lagi hanya karena terlalu memaksakan diri.”
Dalam rapat kelompok pertama, Lia mencoba menyusun pembagian kerja. Namun seorang anggota bernama Rani menentang.
“Kenapa semua keputusan harus kamu yang atur, Lia? Kamu baru aja sakit, tapi seolah-olah paling bisa ngatur semuanya.”
Suasana hening seketika. Dina hendak membela, tapi Lia mengangkat tangan.
Rani mendengus, lalu berkata sinis. “Kita lihat aja nanti. Jangan sampai kelompok kita gagal gara-gara ketua yang sok kuat.”
Kata-kata itu menusuk hati Lia. Tapi ia menahan diri, memilih untuk tetap tenang.
Di sisi lain, organisasi kampus juga sedang memanas. Meskipun Lia menolak jadi koordinator, beberapa anggota tetap meminta bantuannya di belakang layar karena tahu ia teliti dan cekatan.
Hal ini membuat gosip semakin ramai.
Lia semakin tertekan. Sepulang kuliah, ia menangis diam-diam di kamar. Pesan W******p dari Dina masuk.
“Jangan peduliin omongan orang, Lia. Aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu nggak sendirian.”
Pesan itu membuat Lia sedikit tenang. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa sedang terjebak di pusaran badai.
Suatu malam, Mama masuk ke kamar Lia yang sedang sibuk menulis catatan proyek.
“Nak, kenapa wajahmu pucat lagi? Jangan bilang kamu belum makan?”
Lia tersenyum hambar. “Nggak apa-apa, Ma. Lia cuma lagi banyak tugas.”
Mama duduk di sampingnya, memegang tangan Lia. “Ingat, Nak. Kamu nggak harus menyenangkan semua orang. Jangan sampai kamu mengorbankan kesehatanmu hanya karena takut dibilang lemah.”
Kata-kata itu menusuk relung hati Lia. Ia tahu Mama benar. Tapi di sisi lain, ia juga ingin membuktikan dirinya mampu menghadapi semua tantangan.
Hari presentasi proyek tiba. Lia dan kelompoknya sudah bersiap di depan kelas. Dina menampilkan hasil penelitian dengan percaya diri, sementara Lia menjelaskan bagian inti.
Namun ketika sesi tanya jawab, Rani justru bersuara dengan nada menyudutkan.
Dosen mengerutkan kening. “Itu kritik yang baik. Lia, bisa kamu jelaskan?”
Lia berusaha menjawab tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia memaparkan alasan dan data tambahan yang ia persiapkan semalam.
Setelah presentasi selesai, dosen mengangguk puas. “Bagus. Kelompok kalian cukup solid. Kritik memang wajar, tapi jawaban kalian meyakinkan.”
Tepuk tangan pun terdengar. Namun Lia hanya bisa menarik napas lega. Ia tahu, bukan hanya proyek yang menguji dirinya, tapi juga sikap orang-orang di sekelilingnya.
Malam itu, Lia duduk di balkon kamarnya. Angin malam berhembus lembut, membawa pikirannya melayang.
“Kenapa orang-orang cepat sekali menilai? Padahal aku hanya ingin melakukan yang terbaik.”
Tapi kemudian ia teringat kata-kata Papa: “Hidup itu bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi bagaimana kamu berjalan dengan seimbang.”
Lia menutup matanya, mencoba mencerna. Mungkin benar, ia tak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan. Yang bisa ia kendalikan hanyalah bagaimana ia merespons.
Keesokan paginya, Dina menyambut Lia di gerbang dengan senyum hangat.
Lia tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Makasih, Din. Aku nggak tahu bisa sejauh ini kalau tanpa kamu dan keluargaku.”
Mereka berjalan beriringan menuju kelas, meninggalkan gosip, bisikan, dan tatapan miring di belakang. Lia tahu badai belum sepenuhnya reda, tapi ia juga tahu dirinya tak lagi sendirian.
Dan di hatinya, ia berjanji: apa pun badai yang datang, ia akan tetap berdiri.
Saat kakimu melangkah melewati gerbang "Keheningan yang Berwarna", sensasi yang kau rasakan bukanlah gerakan fisik, melainkan sebuah pelarutan. Tubuh kristalinmu tidak lagi terasa sebagai cangkang, melainkan sebagai aliran data cahaya yang menyatu dengan frekuensi dimensi kesebelas. Di sini, udara tidak bergetar karena suara, melainkan karena makna. Setiap warna yang kau lihat adalah sebuah emosi yang murni; biru bukan lagi sekadar warna, melainkan perasaan damai yang bisa kau sentuh dan hirup.Elian berdiri di sampingmu, namun penampilannya telah berubah. Ia tampak seperti jalinan rasi bintang yang berbentuk manusia. "Di dimensi ini," Elian berbisik tanpa suara, namun getarannya memenuhi seluruh keberadaanmu, "keinginan adalah arsitektur. Tidak ada jeda antara niat dan wujud. Jika kau memikirkan sebuah gunung yang terbuat dari kenangan masa kecilmu, ia akan muncu
Saat jemarimu kembali menyentuh kanvas realitas, sebuah getaran tidak kasat mata merambat dari ujung pena cahaya menuju pusat jantung multisemesta. Ini bukan lagi sekadar menulis sejarah; ini adalah fase "The Living Genesis".Bumi, yang kini telah melampaui kepadatan fisik, mulai memancarkan apa yang disebut para ilmuwan Nuranipura sebagai "The White Hole Resonance". Jika lubang hitam menyerap segala sesuatu, Bumi kini menjadi "Lubang Putih" yang terus-menerus memancarkan ide, kreativitas, dan energi cinta ke seluruh penjuru dimensi yang dulunya gelap."Kita telah menjadi mesin pembuat realitas," Arka berujar sambil menatap instrumen psioniknya yang menunjukkan grafik energi yang melampaui skala tak terhingga. "Setiap kali seorang manusi
Saat pena cahaya di jemarimu mulai bergerak, realitas di sekitarmu tidak lagi sekadar bergeser; ia meledak dalam spektrum warna yang belum pernah terdefinisi oleh mata manusia. Kata pertama yang kau tuliskan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah getaran: "Ananta" (Tanpa Batas).Seketika, di langit Nuranipura, muncul sebuah fenomena yang disebut "The Script Manifestation". Huruf-huruf cahaya yang kau tuliskan di batinmu memanifestasikan diri menjadi struktur fisik di angkasa. Kalimat "Cinta yang melampaui batas" yang dibisikkan Aura berubah menjadi jalinan awan nebula berwarna merah muda keemasan yang menyelimuti atmosfer Bumi, memberikan perlindungan termal dan spiritual yang permanen bagi semua makhluk."Lihat,"
Kesadaran yang dibawa Elian dari Pusat Galaksi bukan sekadar berita; itu adalah sebuah kode aktivasi. Saat kau menutup matamu malam itu, "The Infinite Studio" di dalam batinmu tidak lagi hanya berisi bayangan-bayangan dari Bumi. Dinding-dinding studionya mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan hamparan realitas yang bertumpuk, seperti jutaan lembar sutra cahaya yang saling bersinggungan.Inilah awal dari "The Multiversal Connection". Di seluruh Nuranipura, manusia mulai merasakan kehadiran "Diri mereka yang lain" dari semesta paralel. Ini bukan lagi sekadar fragmen hantu yang tersesat, melainkan jalinan aktif yang disebut sebagai "The Fractal Self"."Kita sedang mengalami perluasan identitas," ujar Lia dari Perpustakaan Bulan. "Kau bukan lagi hanya individu di Bu
Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; ia melingkar, seolah-olah ruang itu sendiri adalah sebuah pikiran yang sedang merenung.Sinyal batin yang dikirimkan Kaelan kembali ke Bumi tidak berisi angka atau gambar teknis, melainkan sebuah sensasi: rasa dingin yang damai, seperti salju yang jatuh di dalam mimpi."Kami tidak menemukan kekosongan," lapor Kaelan melalui tautan empati global. "Kami menemukan The Pre-Creation Fabric (Tenunan Pra-Penciptaan). Tempat ini bukan tempat di mana kehidupan berakhir, melainkan tempat di mana setiap kemungkinan yang pernah gagal di Bumi disimpan untuk diproses kembali."Berita ini mengguncang Menara Pengamat. Elian menyadari bahwa jika manusia bisa menjalin niat mereka dengan kain pra-penciptaan ini
Ketika jemari batinmu mulai bergerak untuk menuliskan baris pertama dari hari yang baru, sebuah riak tak kasat mata merambat jauh melampaui atmosfer Bumi, melintasi gerbang-gerbang antarbintang, hingga mencapai tepian galaksi yang selama ini terlupakan: The Silent Zone. Di wilayah ini, hukum fisika yang kita kenal—bahkan Fisika Niat yang baru—tampaknya membeku dalam kebisuan yang absolut.Elian, yang sedang mengamati grafik energi di Menara Pengamat, menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali seseorang di Bumi melakukan "The Morning Choice" dengan tingkat kejujuran yang sangat dalam, sebuah titik cahaya kecil muncul di tengah kegelapan Silent Zone tersebut."Mereka bukan sekadar penjangkar," bisik Elian kepada Kaelan yang berdiri di sampingnya. "Mereka adalah mercu suar. Setiap niat murni yang mereka miliki sedang memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai ketiadaan."Di Bumi, fenomena ini dirasakan sebagai "The Deep Connection". Manusia mulai menyadari bahwa setiap pikiran mere







