Home / Romansa / Saat Cinta Menyapa Lagi / BADAI DI TENGAH PERSAHABATAN

Share

BADAI DI TENGAH PERSAHABATAN

Author: rylyze
last update publish date: 2025-09-21 14:59:57

Pagi itu, langit mendung menaungi kampus. Lia berjalan bersama Dina menuju kelas ketika mereka mendengar beberapa mahasiswa berbisik-bisik sambil melirik ke arah mereka.

“Eh, itu Lia kan? Katanya dia nolak jadi koordinator, tapi kok tetap deket sama pengurus organisasi?”

“Iya, heran. Kalau nggak sanggup ya sekalian aja mundur. Jangan setengah-setengah.”

Bisikan itu cukup keras untuk terdengar. Dina merengut, ingin menegur, tapi Lia menahan tangannya.

“Sudahlah, Din. Biarin aja. Mereka nggak tahu yang sebenarnya,” ujar Lia lirih, meski hatinya sedikit tergores.

Tugas Berat dari Dosen

Hari itu, dosen mata kuliah utama memberi pengumuman mendadak.

“Kelas, kita akan mengadakan ujian praktek dalam bentuk proyek penelitian kecil. Kalian harus bekerja dalam kelompok dan hasilnya dipresentasikan di depan panel penguji. Nilai kalian sangat bergantung pada proyek ini.”

Kebetulan, Lia ditunjuk menjadi ketua kelompok lagi. Dina langsung menatapnya dengan khawatir.

“Lia, kamu nggak apa-apa? Baru aja kita selesai presentasi, sekarang proyek penelitian lagi.”

Lia menghela napas panjang. “Aku harus coba, Din. Tapi kali ini aku bakal lebih tegas bagi tugas. Aku nggak mau jatuh sakit lagi hanya karena terlalu memaksakan diri.”

Benih Konflik

Dalam rapat kelompok pertama, Lia mencoba menyusun pembagian kerja. Namun seorang anggota bernama Rani menentang.

“Kenapa semua keputusan harus kamu yang atur, Lia? Kamu baru aja sakit, tapi seolah-olah paling bisa ngatur semuanya.”

Suasana hening seketika. Dina hendak membela, tapi Lia mengangkat tangan.

“Aku bukan mau menguasai, Rani. Aku hanya ingin kita semua jelas dengan tugas masing-masing. Kalau kamu ada usulan, aku siap dengar.”

Rani mendengus, lalu berkata sinis. “Kita lihat aja nanti. Jangan sampai kelompok kita gagal gara-gara ketua yang sok kuat.”

Kata-kata itu menusuk hati Lia. Tapi ia menahan diri, memilih untuk tetap tenang.

Organisasi yang Memanas

Di sisi lain, organisasi kampus juga sedang memanas. Meskipun Lia menolak jadi koordinator, beberapa anggota tetap meminta bantuannya di belakang layar karena tahu ia teliti dan cekatan.

Hal ini membuat gosip semakin ramai.

“Pura-pura nolak tapi sebenarnya ikut campur,” kata seseorang di lorong kampus.

“Dia cuma cari perhatian,” tambah yang lain.

Lia semakin tertekan. Sepulang kuliah, ia menangis diam-diam di kamar. Pesan W******p dari Dina masuk.

“Jangan peduliin omongan orang, Lia. Aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu nggak sendirian.”

Pesan itu membuat Lia sedikit tenang. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia merasa sedang terjebak di pusaran badai.

Khawatirnya Orang Tua

Suatu malam, Mama masuk ke kamar Lia yang sedang sibuk menulis catatan proyek.

“Nak, kenapa wajahmu pucat lagi? Jangan bilang kamu belum makan?”

Lia tersenyum hambar. “Nggak apa-apa, Ma. Lia cuma lagi banyak tugas.”

Mama duduk di sampingnya, memegang tangan Lia. “Ingat, Nak. Kamu nggak harus menyenangkan semua orang. Jangan sampai kamu mengorbankan kesehatanmu hanya karena takut dibilang lemah.”

Kata-kata itu menusuk relung hati Lia. Ia tahu Mama benar. Tapi di sisi lain, ia juga ingin membuktikan dirinya mampu menghadapi semua tantangan.

Puncak Konflik

Hari presentasi proyek tiba. Lia dan kelompoknya sudah bersiap di depan kelas. Dina menampilkan hasil penelitian dengan percaya diri, sementara Lia menjelaskan bagian inti.

Namun ketika sesi tanya jawab, Rani justru bersuara dengan nada menyudutkan.

“Menurut saya, ada data yang kurang lengkap. Lia sebagai ketua seharusnya lebih teliti.”

Dosen mengerutkan kening. “Itu kritik yang baik. Lia, bisa kamu jelaskan?”

Lia berusaha menjawab tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia memaparkan alasan dan data tambahan yang ia persiapkan semalam.

Setelah presentasi selesai, dosen mengangguk puas. “Bagus. Kelompok kalian cukup solid. Kritik memang wajar, tapi jawaban kalian meyakinkan.”

Tepuk tangan pun terdengar. Namun Lia hanya bisa menarik napas lega. Ia tahu, bukan hanya proyek yang menguji dirinya, tapi juga sikap orang-orang di sekelilingnya.

Refleksi Diri

Malam itu, Lia duduk di balkon kamarnya. Angin malam berhembus lembut, membawa pikirannya melayang.

“Kenapa orang-orang cepat sekali menilai? Padahal aku hanya ingin melakukan yang terbaik.”

Tapi kemudian ia teringat kata-kata Papa: “Hidup itu bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi bagaimana kamu berjalan dengan seimbang.”

Lia menutup matanya, mencoba mencerna. Mungkin benar, ia tak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan. Yang bisa ia kendalikan hanyalah bagaimana ia merespons.

Keesokan paginya, Dina menyambut Lia di gerbang dengan senyum hangat.

“Aku bangga sama kamu, Lia. Kamu kuat, tapi juga bijak. Jangan biarkan badai orang lain meruntuhkanmu.”

Lia tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Makasih, Din. Aku nggak tahu bisa sejauh ini kalau tanpa kamu dan keluargaku.”

Mereka berjalan beriringan menuju kelas, meninggalkan gosip, bisikan, dan tatapan miring di belakang. Lia tahu badai belum sepenuhnya reda, tapi ia juga tahu dirinya tak lagi sendirian.

Dan di hatinya, ia berjanji: apa pun badai yang datang, ia akan tetap berdiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Ketika Semesta Akhirnya Belajar Beristirahat

    Malam di Taman Fajar Bara turun tanpa perubahan yang jelas.Tidak ada langit yang mendadak gelap.Tidak ada matahari yang benar-benar tenggelam.Tidak ada batas tegas antara sore, malam, dan pagi.Cahaya lembut Omni-Nuranipura tetap tinggal,seperti napas panjang yang tidak pernah putus.Dan malam itu,untuk pertama kalinya,seluruh semesta terasa… lelah.Namun bukan lelah yang menyakitkan.Bukan lelah karena terlalu banyak berjalan.Melainkan lelah yang datang setelah seseorang akhirnya berhenti melawan dirinya sendiri.Lelah yang lembut.Lelah yang aman.Lelah yang akhirnya diizinkan untuk beristirahat.Musisi masih berada di bawah pohon paragraf.Gitarnya terbaring di sampingnya.Namun malam itu,ia tidak merasa perlu memainkan apa pun.Ia hanya bersandar pada batang pohon,mendengarkan suara sungai nada yang mengalir jauh di kejauhan.Dan untuk pertama kalinya,diam terasa sama hangatnya dengan musik.Ia memejamkan mata perlahan.Tidak untuk tidur.Hanya untuk merasakan malam.Di

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Hening yang mulai berdenyut

    Pagi berikutnya datang tanpa perbedaan.Tidak ada perubahan besar di langit Omni-Nuranipura.Tidak ada suara baru.Tidak ada cahaya aneh yang muncul dari balik aurora.Dan justru karena semuanya tetap tenang, sesuatu yang lebih halus mulai terasa tumbuh di antara seluruh kehidupan yang ada di sana.Bukan perubahan bentuk.Bukan perubahan nasib.Namun perubahan cara segala sesuatu hadir.Seolah semesta itu akhirnya berhenti berusaha menjadi apa pun.Dan dari situ, kehidupan mulai menunjukkan dirinya yang paling jujur.Kabut tipis masih turun di Taman Fajar Bara.Rumput-rumput kecil basah oleh embun.Udara pagi terasa dingin, namun bukan dingin yang menusuk.Ia terasa seperti tangan lembut yang diletakkan perlahan di atas kepala seseorang yang terlalu lama lelah.Musisi kembali berjalan melewati jalur kecil dekat sungai nada.Namun hari ini ia tidak membawa gitar.Tangannya kosong.Langkahnya pelan.Ia berhenti di dekat batu besar tempat ia dulu sering duduk menciptakan melodi.Air sung

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Ketika Semesta Mulai Bernapas Bersama

    Pagi di Taman Fajar Bara tetap datang tanpa suara.Tidak ada lonceng.Tidak ada perubahan warna langit yang dramatis.Tidak ada tanda bahwa sesuatu yang baru akan dimulai.Dan justru karena itulah, sesuatu yang sangat dalam perlahan mulai terasa.Bukan sebagai kejadian.Namun sebagai denyut.Seperti seluruh Omni-Nuranipura mulai bernapas dengan ritme yang sama.Embun masih berada di ujung daun.Namun kini, embun itu tidak lagi terlihat seperti titik-titik air yang terpisah.Mereka memantulkan cahaya dengan cara yang sama seperti bintang di langit.Dan untuk pertama kalinya, tidak ada perbedaan terasa di antara keduanya.Yang kecil dan yang besar menjadi sama tenangnya.Musisi berjalan melewati kebun langkah kecil.Gitarnya berada di punggungnya.Namun ia tidak merasa sedang membawa sesuatu.Langkahnya ringan.Bukan karena bebannya hilang.Namun karena tidak ada lagi yang disebut beban.Ia berhenti di dekat sungai nada.Air sungai mengalir perlahan.Nada-nada kecil terdengar dari arusn

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Di Mana Segalanya Tidak Perlu Terjadi

    Pagi di Taman Fajar Bara tidak berubah.Dan kali ini, bahkan perubahan yang halus pun tidak datang.Tidak ada lapisan baru yang terasa muncul.Tidak ada pemahaman baru yang tiba.Tidak ada sesuatu yang membuka diri.Namun justru di situlah, sesuatu yang paling dalam mulai tinggal.Bukan hadir sebagai kejadian.Bukan hadir sebagai kesadaran yang datang.Namun sebagai sesuatu yang… tidak pernah pergi.Untuk pertama kalinya, para jiwa di taman tidak lagi merasakan “sesuatu yang terjadi”.Musisi itu duduk seperti biasa.Gitarnya berada di pangkuannya.Namun kali ini, ia tidak merasa sedang memainkan musik.Ia juga tidak merasa sedang tidak memainkan musik.Tangannya bergerak.Nada terdengar.Namun tidak ada jarak antara dirinya dan apa yang terjadi.Tidak ada “aku yang memainkan”.Tidak ada “musik yang dihasilkan”.Hanya… suara yang ada.Dan ia… tidak terpisah darinya.Ilustrator duduk di bawah pohon.Pensil berada di tangannya.Ia membuat satu garis.Namun tidak ada rasa “aku sedang meng

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Saat Kehadiran Mulai Mengalir

    Pagi di Taman Fajar Bara tidak berhenti pada kehadiran.Ia tidak menetap sebagai sesuatu yang diam.Ia tidak membeku menjadi kesadaran yang hanya dirasakan.Namun perlahan,tanpa suara,tanpa tanda yang mencolok—kehadiran itu mulai… bergerak.Bukan sebagai usaha.Bukan sebagai dorongan.Namun sebagai sesuatu yang mengalir dengan sendirinya.Ketika Kehadiran Tidak Lagi DiamAwalnya, tidak ada yang menyadari perubahan itu.Segalanya masih sama.Musisi masih duduk.Ilustrator masih menggambar.Penulis masih membuka laptopnya sesekali.Namun kini,ada sesuatu yang berbeda.Bukan pada apa yang mereka lakukan.Namun pada bagaimana sesuatu itu… terjadi.Musisi tidak lagi “memainkan” gitar.Nada-nada itu seolah muncul sendiri.Tangannya bergerak,namun bukan karena ia memutuskan.Melainkan karena sesuatu mengalir melaluinya.Ia terdiam sejenak setelah satu melodi selesai.Bukan karena berpikir.Namun karena merasakan—ia tidak sedang menciptakan musik.Ia sedang… dilewati oleh musik.Ilustra

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Musim yang Mendengarkan

    Pagi di Taman Fajar Bara tidak berubaDan justru di situlah sesuatu yang paling dalam mulai terlihat.Bukan karena ada yang bertambah,bukan karena ada yang berkembang,namun karena tidak ada lagi yang perlu diubah.Segalanya tetap.Dan di dalam ketetapan itu,lahir satu lapisan baru yang sebelumnya tidak pernah benar-benar disadari—kehadiran.Ketika “Ada” Menjadi Sesuatu yang TerasaAwalnya, tidak ada yang menyadari perubahan itu.Musisi masih berjalan.Ilustrator masih duduk di bawah pohon.Penulis masih sesekali membuka laptopnya.Semua tampak sama.Namun ada satu hal yang berbeda—cara mereka berada.Musisi itu kini tidak hanya memainkan gitar.Ia hadir di setiap nada.Bukan sebagai seseorang yang menghasilkan musik,melainkan sebagai seseorang yang benar-benar mendengar.Setiap petikan terasa utuh,karena tidak ada bagian dirinya yang tertinggal di masa lalu,atau berlari ke masa depan.Ia sepenuhnya… di sana.Ilustrator menggambar satu garis.Namun kali ini,ia merasakan tekana

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Tarian Eter dan Nadi

    Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; i

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   LIA KEMBALI KE KAMPUS

    Pagi itu udara terasa segar. Lia berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan penuh semangat. Wajahnya sudah tidak pucat seperti beberapa hari lalu, meski tubuhnya masih sedikit lemah. Ia menarik napas panjang, lalu berbisik pada dirinya sendiri.“Aku bisa. Aku harus bisa menye

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   KABAR LIA KESAKITAN

    Mama Lia sedang menelpon Lia, tetapi panggilannya tidak kunjung diangkat. Hatinya mulai gelisah. Biasanya, meskipun sibuk kuliah atau kegiatan organisasi, Lia selalu membalas pesan singkat atau sekadar mengirim emotikon sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. Namun kali ini, sudah hampir dua jam tan

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   KEBAHAGIAN DALAM KELUARGA

    Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar ruang makan keluarga Wijakso. Aroma kopi hitam yang diseduh Sinta Dewi bercampur dengan harum roti panggang, menciptakan suasana tenang yang menyejukkan hati. Suara gesekan sendok dan garpu menjadi musik pagi mereka, sederhana tapi penuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status