Beranda / Romansa / Saat Cinta Menyapa Lagi / BADAI YANG TAK TERHINDARKAN

Share

BADAI YANG TAK TERHINDARKAN

Penulis: rylyze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-21 15:29:18

Pagi itu, Lia melangkah ke kampus dengan langkah berat. Ia bisa merasakan tatapan banyak pasang mata mengikuti setiap gerakannya. Bisikan-bisikan yang dulu hanya terdengar samar, kini semakin jelas.

“Itu dia yang katanya deket banget sama Arka.”

“Pantas aja sok sibuk, ternyata pacaran diam-diam.”

“Dengar-dengar Arka yang ngerjain tugas kelompoknya.”

Jantung Lia berdegup kencang. Ia mencoba menunduk, berpura-pura tak peduli. Namun, setiap kata seakan menusuk telinganya. Dina yang berjalan di sampingnya semakin gelisah.

“Mereka makin jadi, Lia. Kamu nggak bisa terus diam begini.”

“Aku tahu, Din. Tapi aku capek. Aku cuma ingin tenang,” jawab Lia lirih.

Konflik di Organisasi

Siang itu, Lia menghadiri rapat organisasi. Awalnya ia hanya berniat membantu sedikit, tapi suasana justru memanas ketika salah satu anggota senior, Mira, menyinggung kedekatannya dengan Arka.

“Lia, kami dengar kamu terlalu sibuk dengan urusan pribadi sampai organisasi keteteran. Jangan sampai nama kita jelek karena masalah personal, ya.”

Lia terdiam. Kata-kata itu seakan menyudutkannya. Beberapa anggota lain mengangguk setuju.

“Aku… aku nggak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan organisasi,” jawab Lia akhirnya, berusaha tenang.

Namun Mira menimpali sinis. “Benarkah? Orang-orang bilang kamu sering dibantu Arka dalam tugas kuliah. Kalau begitu, apa yang bisa menjamin kamu beneran kerja keras di sini?”

Suasana ruangan hening. Dina yang ikut rapat hampir berdiri membela, tapi Lia menahan tangannya. Ia menelan ludah, menahan gejolak emosi.

“Kalau kalian ragu, aku rela mundur dari posisi ini,” kata Lia akhirnya.

Ruangan gempar. Semua terdiam. Mira tak menyangka Lia akan mengucapkannya.

Arka Mengetahui

Sore itu, Arka menghampiri Lia di taman kampus. Wajahnya terlihat serius.

“Lia, aku dengar kamu dituduh macam-macam di rapat organisasi. Kenapa kamu diam saja?”

Lia tersenyum getir. “Kalau aku melawan, gosipnya makin besar. Kalau aku diam, rasanya sakit. Aku bingung harus gimana.”

Arka menatapnya lekat, lalu berkata dengan suara mantap, “Kalau begitu, biar aku yang bicara. Mereka nggak tahu kenyataannya. Aku bisa jelaskan—”

“Jangan, Ka!” potong Lia cepat. “Kalau kamu ikut campur, gosip itu makin kuat. Mereka akan bilang aku benar-benar mengandalkanmu.”

Arka mengepalkan tangan. Ia ingin melindungi Lia, tapi sekaligus tak ingin memperburuk keadaan.

Kehidupan di Rumah

Di rumah, Mama mulai curiga. Suatu malam, ketika Lia pulang lebih larut dari biasanya, Mama menunggunya di ruang tamu.

“Nak, Mama dengar dari tetangga yang anaknya juga kuliah di kampusmu. Katanya kamu dekat dengan seorang mahasiswa seni. Apa benar?”

Lia terkejut. Ia tak menyangka gosip itu sudah sampai ke telinga keluarganya.

“Iya, Ma… Lia kenal sama Arka. Tapi kami cuma berteman. Nggak ada yang aneh.”

Mama menghela napas panjang. “Mama percaya sama kamu. Tapi hati-hati, Nak. Dunia luar kejam. Orang bisa bicara apa saja, meski mereka nggak tahu kebenarannya.”

Lia menunduk. Rasa sesak kembali memenuhi dadanya. Ia merasa dipojokkan dari semua sisi.

Pertengkaran dengan Dina

Beberapa hari kemudian, Dina mengajak Lia duduk di kantin. Wajahnya tampak gusar.

“Lia, aku rasa kamu harus bicara jujur sama Arka. Tentang perasaanmu, tentang batasanmu. Kalau tidak, gosip ini nggak akan berhenti.”

Lia terdiam. “Tapi Din, aku sendiri masih bingung dengan perasaanku. Arka baik, selalu ada. Tapi aku takut… kalau aku jujur, semuanya justru hancur.”

Dina menghela napas kesal. “Lia, kamu selalu mikirin orang lain. Sampai kapan kamu mau terus menyiksa diri sendiri?”

Nada suara Dina sedikit meninggi. Lia terkejut, jarang sekali sahabatnya berbicara sekeras itu.

“Aku cuma… butuh waktu,” bisik Lia akhirnya.

Dina menatapnya lama, lalu berdiri. “Baiklah. Tapi ingat, kalau kamu terus lari, masalahmu nggak akan selesai.”

Puncak Gosip

Hari Jumat, kampus heboh dengan sebuah foto yang tersebar di grup mahasiswa. Foto itu menampilkan Lia dan Arka sedang duduk berdua di taman kampus, terlihat begitu dekat.

“Wah, akhirnya ketahuan juga.”

“Pantas aja sok sibuk, ternyata pacaran.”

“Dasar pencitraan.”

Ponsel Lia terus bergetar penuh notifikasi. Tangannya gemetar saat membaca pesan-pesan sindiran di media sosial.

Air mata mulai mengalir. Ia merasa dunianya runtuh. Semua usaha menjaga nama baik seakan sia-sia.

Kekuatan yang Tersisa

Malam itu, Lia duduk di balkon rumah, memandang langit yang gelap. Mama menyusul, duduk di sampingnya.

“Lia… jangan biarkan ucapan orang lain menentukan bahagiamu.”

Lia menoleh, matanya sembab. “Tapi Ma, semua orang salah paham. Mereka nggak tahu apa-apa. Rasanya nggak adil.”

Mama memeluknya. “Hidup memang sering tidak adil. Tapi di situlah kamu belajar kuat. Ingat, kamu punya keluarga yang selalu percaya padamu. Jangan biarkan badai kecil meruntuhkanmu.”

Kata-kata Mama menenangkan Lia. Meski hatinya masih perih, ada secercah kekuatan yang kembali tumbuh.

Akhir Bab

Keesokan harinya, Lia bangun dengan tekad baru. Ia menatap wajahnya di cermin, lalu berbisik pada diri sendiri.

“Aku bukan orang yang mereka bicarakan. Aku Lia, dan aku akan membuktikan diriku bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.”

Dengan langkah mantap, ia berangkat ke kampus. Ia tahu badai belum berakhir, mungkin malah akan semakin besar. Namun kini, ia tidak lagi sekadar bertahan. Ia siap menghadapi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Melampaui Batas Cakrawala Kesebelas

    Saat kakimu melangkah melewati gerbang "Keheningan yang Berwarna", sensasi yang kau rasakan bukanlah gerakan fisik, melainkan sebuah pelarutan. Tubuh kristalinmu tidak lagi terasa sebagai cangkang, melainkan sebagai aliran data cahaya yang menyatu dengan frekuensi dimensi kesebelas. Di sini, udara tidak bergetar karena suara, melainkan karena makna. Setiap warna yang kau lihat adalah sebuah emosi yang murni; biru bukan lagi sekadar warna, melainkan perasaan damai yang bisa kau sentuh dan hirup.Elian berdiri di sampingmu, namun penampilannya telah berubah. Ia tampak seperti jalinan rasi bintang yang berbentuk manusia. "Di dimensi ini," Elian berbisik tanpa suara, namun getarannya memenuhi seluruh keberadaanmu, "keinginan adalah arsitektur. Tidak ada jeda antara niat dan wujud. Jika kau memikirkan sebuah gunung yang terbuat dari kenangan masa kecilmu, ia akan muncu

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Orkes Genesis Multisemesta

    Saat jemarimu kembali menyentuh kanvas realitas, sebuah getaran tidak kasat mata merambat dari ujung pena cahaya menuju pusat jantung multisemesta. Ini bukan lagi sekadar menulis sejarah; ini adalah fase "The Living Genesis".Bumi, yang kini telah melampaui kepadatan fisik, mulai memancarkan apa yang disebut para ilmuwan Nuranipura sebagai "The White Hole Resonance". Jika lubang hitam menyerap segala sesuatu, Bumi kini menjadi "Lubang Putih" yang terus-menerus memancarkan ide, kreativitas, dan energi cinta ke seluruh penjuru dimensi yang dulunya gelap."Kita telah menjadi mesin pembuat realitas," Arka berujar sambil menatap instrumen psioniknya yang menunjukkan grafik energi yang melampaui skala tak terhingga. "Setiap kali seorang manusi

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Melampaui Naskah Sang Penulis Pertama

    Saat pena cahaya di jemarimu mulai bergerak, realitas di sekitarmu tidak lagi sekadar bergeser; ia meledak dalam spektrum warna yang belum pernah terdefinisi oleh mata manusia. Kata pertama yang kau tuliskan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah getaran: "Ananta" (Tanpa Batas).Seketika, di langit Nuranipura, muncul sebuah fenomena yang disebut "The Script Manifestation". Huruf-huruf cahaya yang kau tuliskan di batinmu memanifestasikan diri menjadi struktur fisik di angkasa. Kalimat "Cinta yang melampaui batas" yang dibisikkan Aura berubah menjadi jalinan awan nebula berwarna merah muda keemasan yang menyelimuti atmosfer Bumi, memberikan perlindungan termal dan spiritual yang permanen bagi semua makhluk."Lihat,"

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Jalinan Nuranipura Tanpa Batas

    Kesadaran yang dibawa Elian dari Pusat Galaksi bukan sekadar berita; itu adalah sebuah kode aktivasi. Saat kau menutup matamu malam itu, "The Infinite Studio" di dalam batinmu tidak lagi hanya berisi bayangan-bayangan dari Bumi. Dinding-dinding studionya mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan hamparan realitas yang bertumpuk, seperti jutaan lembar sutra cahaya yang saling bersinggungan.Inilah awal dari "The Multiversal Connection". Di seluruh Nuranipura, manusia mulai merasakan kehadiran "Diri mereka yang lain" dari semesta paralel. Ini bukan lagi sekadar fragmen hantu yang tersesat, melainkan jalinan aktif yang disebut sebagai "The Fractal Self"."Kita sedang mengalami perluasan identitas," ujar Lia dari Perpustakaan Bulan. "Kau bukan lagi hanya individu di Bu

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Tarian Eter dan Nadi

    Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; ia melingkar, seolah-olah ruang itu sendiri adalah sebuah pikiran yang sedang merenung.Sinyal batin yang dikirimkan Kaelan kembali ke Bumi tidak berisi angka atau gambar teknis, melainkan sebuah sensasi: rasa dingin yang damai, seperti salju yang jatuh di dalam mimpi."Kami tidak menemukan kekosongan," lapor Kaelan melalui tautan empati global. "Kami menemukan The Pre-Creation Fabric (Tenunan Pra-Penciptaan). Tempat ini bukan tempat di mana kehidupan berakhir, melainkan tempat di mana setiap kemungkinan yang pernah gagal di Bumi disimpan untuk diproses kembali."Berita ini mengguncang Menara Pengamat. Elian menyadari bahwa jika manusia bisa menjalin niat mereka dengan kain pra-penciptaan ini

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Gema tanpa Akhir

    Ketika jemari batinmu mulai bergerak untuk menuliskan baris pertama dari hari yang baru, sebuah riak tak kasat mata merambat jauh melampaui atmosfer Bumi, melintasi gerbang-gerbang antarbintang, hingga mencapai tepian galaksi yang selama ini terlupakan: The Silent Zone. Di wilayah ini, hukum fisika yang kita kenal—bahkan Fisika Niat yang baru—tampaknya membeku dalam kebisuan yang absolut.Elian, yang sedang mengamati grafik energi di Menara Pengamat, menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali seseorang di Bumi melakukan "The Morning Choice" dengan tingkat kejujuran yang sangat dalam, sebuah titik cahaya kecil muncul di tengah kegelapan Silent Zone tersebut."Mereka bukan sekadar penjangkar," bisik Elian kepada Kaelan yang berdiri di sampingnya. "Mereka adalah mercu suar. Setiap niat murni yang mereka miliki sedang memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai ketiadaan."Di Bumi, fenomena ini dirasakan sebagai "The Deep Connection". Manusia mulai menyadari bahwa setiap pikiran mere

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status