Beranda / Rumah Tangga / Saat Hasrat Menjadi Dosa / Bab 48 Ponsel Pilihan Suami

Share

Bab 48 Ponsel Pilihan Suami

Penulis: Tri Afifah
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-07 16:36:43

Adrian memutuskan untuk merubah jadwal pasiennya menjadi Minggu depan. Kali ini, ia ingin fokus terlebih dahulu pada perjanjiannya dengan Darlo Castellanos. Ia harus menyusun rencana sebaik mungkin. Terakhir kalinya ia bertemu dengan Selena pada insiden penculikan itu. wanita itu seperti sedang berusaha untuk memanipulasi keadaan. Ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya, membuat Adrian hampir saja jatuh dalam perangkap. Lengah sedikit saja, ia yakin saat Dharma masuk melihatnya akan membuat dirinya menghilang dari dunia ini.

“Kalau kekerasan dan penekanan tidak berhasil, seharusnya ada sesuatu. yang bisa membuat Selena datang menemuiku.” Ucap Adrian, seperti sedang berdiskusi dengan seseorang. nyatanya, ia sendirian di dalam Apartemen.

Saat wajahnya mendongak ke atas, ia melihat benda berbentuk bulat yang sejak tadi seperti menatap gerak geriknya. Ia tersenyum lebar saat menyadari bahwa dirinya telah memasang cctv.

“Ya, dengan begitu. Selena akan datang tanpa aku pinta.” lanjutny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 72 Kenapa Tidak Bercerai?

    Aku menegang dalam pelukannya,Tanganku mendorong dadanya. Namun Adrian justru menahan, lengannya mengunci tubuhku seolah aku sesuatu yang tak boleh lolos. Bukan pelukan yang menenangkan lebih seperti upaya menahan kendali.“Adrian,Lepaskan aku.”Ia tidak langsung menuruti. Napasnya berat di dekat telingaku.“Aku tidak akan menyerah,” katanya. “Aku begitu mencintaimu, Selena.”Kata-kata itu justru semakin membuatku tak nyaman.Karena aku tahu siapa dia sebenarnya.Aku berhenti melawan secara fisik. Tubuhku mengendur, bukan karena menyerah, tapi karena aku tidak ingin ia membaca gejolak apa pun dariku. setelah Adrian mengatakan perasaannya tiba-tiba saja dii kepalaku, wajah Darlo muncul jelas. tatapan dinginnya, suaranya yang selalu terdengar seolah sedang mengatur bidak catur.Orang suruhan Darlo tidak pernah datang tanpa tujuan.“Apa pun yang kau rasakan,” kataku pelan, nyaris datar, “lepaskan aku dulu.”Mungkin nada suaraku yang berubah, atau ketiadaan emosi yang ia harapkan, membuat

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 71 Ungkapan Perasaan

    Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada palu yang terus menghantam dari dalam. Aku menekan pelipis dengan kedua tangan, mencoba bernapas, tapi yang datang justru potongan-potongan suara itu kembali.Dadaku terasa sesak, Napasku terputus-putus. Aku bangkit dari tepi ranjang, langkahku goyah. Kenangan tentang ayahku caranya saat tersenyum, caranya memelukkuSemuanya terasa berbanding terbalik dengan kenyataan yang baru saja dibongkar. Rasanya seperti ditarik ke dua arah sampai hampir robek.“Aku tidak sanggup,” bisikku, lebih pada diriku sendiri daripada siapa pun.Tanpa benar-benar berpikir, aku melangkah kembali ke arah Adrian. Tanganku meraih punggungnya, memeluknya erat seolah jika kulepas, aku akan runtuh. Kepalaku bersandar di dadanya, detak jantungnya terdengar cepat. Satu-satunya hal yang terasa hidup.“Selena,” katanya pelan, mencoba menarikku sedikit menjauh. “kau…”Aku mendongak dan kembali mencium bibirnya. Kali ini lebih putus asa daripada sebelumnya. Ciuman itu bukan perminta

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 70 Terbongkar

    Darlo tersenyum, sebuah senyum yang lahir dari pusat rasa pahit. Ia berdiri perlahan dari kursinya, telapak tangannya menekan permukaan meja, membuat peralatan makan bergetar pelan.“Ya,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun jelas, memecah keheningan seperti pisau. “Aku dan Anggun tidak pernah benar-benar bersih. Dan ayahmu,” tatapannya beralih padaku, tajam dan tanpa ampun, “adalah bagian dari itu.”Dadaku seakan dihantam sesuatu yang keras. Dunia di sekelilingku meredup, seolah suara jam dinding berhenti berdetak. Aku menatapnya, mencoba mencerna kata-kata itu, tapi otakku menolak bekerja sama.“Apa… apa maksud ucapan ayah?” suaraku keluar parau, nyaris tak terdengar.Anggun berdiri tiba-tiba. Kursinya terjungkal ke belakang, menimbulkan suara keras yang membuatku tersentak. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. “Darlo, hentikan. Ini bukan caranya.”“Bukan caranya?” Darlo tertawa singkat. “Kau ingin kejujuran, bukan? Ini kejujuran.”Ia menatapku lagi. “Ayahmu dan istriku menjalin hu

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 69 Ayahmu dan Istriku

    Meja makan itu tampak tenang untuk pagi yang baru saja diwarnai kekerasan. Sarapan tersaji rapi di atas meja panjang, roti panggang yang masih hangat, telur setengah matang, irisan buah segar, semangkuk sup ringan, dan kopi hitam yang uapnya naik perlahan. Semuanya terlihat menggugah selera pemandangan pagi yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak satu pun dari kami benar-benar mempedulikannya.Kami duduk berhadap-hadapan.Darlo menempati ujung meja, punggungnya tegak, wajahnya terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Luka di sudut bibirnya sudah dibersihkan, namun aku dapat melihat bagaimana sorot matanya masih memendam sesuatu.Anggun duduk di sisi meja, tepat di samping Dharma. Tangannya sempat meraih cangkir kopi, lalu berhenti di tengah jalan, seolah ia sendiri sadar bahwa pagi ini tidak ada yang bisa dinikmati. Wajahnya tampak tenang, tapi rahangnya mengeras tanda bahwa emosinya sedang ia tekan sekuat tenaga.Aku duduk di sebelah Dharma,Bekas darah di sudut bibirnya ma

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 68 Harus Selesai Hari ini

    Saat aku akan menyentuh lengan Dharma,Darlo bergerak tanpa kami sadari. dan dorongan itu datang tiba-tiba, Tubuhku terdorong ke samping sebelum sempat menahan diri. Kakiku tersangkut kaki kursi, membuat diriku kehilangan keseimbangan membuatku jatuh ke lantai.Nyeri menjalar dari siku hingga bahu, cukup membuat kepalaku pening sesaat.“Selena!”Suara Dharma terdengar panik. disaat itulah,Darlo memanfaatkannya.Tinju Darlo menghantam perut Dharma tepat sasaran.Dharma terhenti seketika. Napasnya tercekik, tubuhnya membungkuk refleks, satu langkah mundur tak terkendali.“Dharma—!”Aku berusaha bangkit, telapak tanganku gemetar menekan lantai.Darlo tidak berhenti,Saat Dharma belum sepenuhnya tegak, tinju berikutnya mendarat di wajahnya membuat Kepala Dharma tersentak ke samping. Ia terhuyung, tangannya meraih meja kerja untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.Ada darah di sudut bibirnya.“Cukup!” teriakku, suaraku pecah. “Hentikan!”Darlo menarik napas kasar, dadanya naik turun. Wajahn

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 67 Perdebatan

    Darlo tidak langsung duduk. Ia justru berdiri tegak di sisi meja kerjanya, telapak tangannya menekan permukaan kayu gelap itu seolah sedang menahan sesuatu yang ingin meledak keluar.“Aku tidak setuju,” katanya tiba-tiba, suaranya terdengar pelan namun masih bisa didengar. “Ini bukan urusanmu, Anggun.”Anggun menoleh cepat. Tatapannya mengeras.“Bukan urusanku?” ulangnya pelan, berbahaya. “Selena adalah menantu kita. Apa pun yang kau bicarakan dengannya jelas menyangkut keluarga ini.”Darlo mendengus kecil. Ia mengibaskan tangan, gestur yang terlalu meremehkan.“Kau seharusnya menyiapkan sarapan. Biarkan aku menyelesaikan ini.”Aku membeku di kursi.“Darlo,” suara Anggun turun satu oktaf, penuh tekanan. “Jangan perintah aku seperti pelayan di rumah ini.”Pria itu akhirnya menoleh penuh padanya. Tatapannya dingin, tak bergeming.“Aku tidak ingin ada orang lain mendengar percakapan ini. Selena datang untuk bicara denganku. Bukan denganmu.”Dadaku mengencang.Aku membuka mulut, tapi Darl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status