Home / Rumah Tangga / Saat Hasrat Menjadi Dosa / Bab 57 Nikmat yang Kau Berikan

Share

Bab 57 Nikmat yang Kau Berikan

Author: Tri Afifah
last update Last Updated: 2025-12-17 14:36:46

Dharma mengangkat tubuhku dengan hati-hati, seolah aku sesuatu yang rapuh sekaligus berharga. Air masih menetes dari rambut dan kulit kami, meninggalkan jejak dingin di lantai saat ia membawaku ke kamar. Kasur menyambutku dengan empuk ketika ia menidurkanku perlahan, memastikan aku benar-benar nyaman sebelum ia ikut berbaring di sisiku.

Ia menunduk, menciumku lagi. mula-mula di kening, lalu ke bibir, turun ke leher dengan kelembutan yang membuat napasku tercekat. Ciumannya menyusuri garis-garis tubuhku dengan penuh perhatian, bukan tergesa, seakan ia ingin menenangkan setiap bagian diriku satu per satu. Tangannya menahan tubuhku agar tetap dekat, sementara bibirnya meninggalkan rasa hangat yang membuatku mendesah tertahan.

Aku memejamkan mata, membiarkan perasaan itu mengalir. Tidak ada kata-kata. Hanya kedekatan yang cukup untuk membuatku merasa utuh, dan kehadirannya yang akhirnya sampai ke titik yang paling kurindukan malam itu.

Dharma tidak berhenti memberi perhatian. Kecupan-kec
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 73 Kau Pintar Memanipulasi Keadaan

    Ponselku bergetar cukup keras untuk memotong sisa keheningan di antara kami. Aku melirik layar tanpa segera mengambilnya. Nama yang tertera membuat dadaku menegang sedikit.Dokter Erela!Aku mengangkat ponsel itu, jariku sempat ragu sesaat sebelum akhirnya menjawab.“Ya, Dok?”“Nyonya Castellanos?” suara di seberang terdengar profesional seperti biasa, namun ada jeda tipis sebelum ia melanjutkan. “Aku hanya ingin memastikan. Besok itu jadwal Tuan Dharma untuk kontrol lanjutan. Jam sembilan pagi.”Aku menghela napas pelan. “Iya, Dok. Saya ingat.”“Aku sudah coba menghubungi nomor Dharma langsung,” lanjutnya, nada suaranya sedikit menurun, tanpa embel-embel kata ‘Tuan’.“tapi nomornya tidak aktif.Jadi aku pikir lebih aman menghubungimu.”Tanpa sadar, aku mengencangkan pegangan pada ponsel.“Apa ada perubahan jadwal dari pihak kalian?” tanya Dokter Erela lagi, kini lebih berhati-hati.“Tidak,” jawabku cepat. “Tidak ada perubahan.”“Baik,” katanya. “Kalau begitu, mohon pastikan dia datang.

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 72 Kenapa Tidak Bercerai?

    Aku menegang dalam pelukannya,Tanganku mendorong dadanya. Namun Adrian justru menahan, lengannya mengunci tubuhku seolah aku sesuatu yang tak boleh lolos. Bukan pelukan yang menenangkan lebih seperti upaya menahan kendali.“Adrian,Lepaskan aku.”Ia tidak langsung menuruti. Napasnya berat di dekat telingaku.“Aku tidak akan menyerah,” katanya. “Aku begitu mencintaimu, Selena.”Kata-kata itu justru semakin membuatku tak nyaman.Karena aku tahu siapa dia sebenarnya.Aku berhenti melawan secara fisik. Tubuhku mengendur, bukan karena menyerah, tapi karena aku tidak ingin ia membaca gejolak apa pun dariku. setelah Adrian mengatakan perasaannya tiba-tiba saja dii kepalaku, wajah Darlo muncul jelas. tatapan dinginnya, suaranya yang selalu terdengar seolah sedang mengatur bidak catur.Orang suruhan Darlo tidak pernah datang tanpa tujuan.“Apa pun yang kau rasakan,” kataku pelan, nyaris datar, “lepaskan aku dulu.”Mungkin nada suaraku yang berubah, atau ketiadaan emosi yang ia harapkan, membuat

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 71 Ungkapan Perasaan

    Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada palu yang terus menghantam dari dalam. Aku menekan pelipis dengan kedua tangan, mencoba bernapas, tapi yang datang justru potongan-potongan suara itu kembali.Dadaku terasa sesak, Napasku terputus-putus. Aku bangkit dari tepi ranjang, langkahku goyah. Kenangan tentang ayahku caranya saat tersenyum, caranya memelukkuSemuanya terasa berbanding terbalik dengan kenyataan yang baru saja dibongkar. Rasanya seperti ditarik ke dua arah sampai hampir robek.“Aku tidak sanggup,” bisikku, lebih pada diriku sendiri daripada siapa pun.Tanpa benar-benar berpikir, aku melangkah kembali ke arah Adrian. Tanganku meraih punggungnya, memeluknya erat seolah jika kulepas, aku akan runtuh. Kepalaku bersandar di dadanya, detak jantungnya terdengar cepat. Satu-satunya hal yang terasa hidup.“Selena,” katanya pelan, mencoba menarikku sedikit menjauh. “kau…”Aku mendongak dan kembali mencium bibirnya. Kali ini lebih putus asa daripada sebelumnya. Ciuman itu bukan perminta

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 70 Terbongkar

    Darlo tersenyum, sebuah senyum yang lahir dari pusat rasa pahit. Ia berdiri perlahan dari kursinya, telapak tangannya menekan permukaan meja, membuat peralatan makan bergetar pelan.“Ya,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun jelas, memecah keheningan seperti pisau. “Aku dan Anggun tidak pernah benar-benar bersih. Dan ayahmu,” tatapannya beralih padaku, tajam dan tanpa ampun, “adalah bagian dari itu.”Dadaku seakan dihantam sesuatu yang keras. Dunia di sekelilingku meredup, seolah suara jam dinding berhenti berdetak. Aku menatapnya, mencoba mencerna kata-kata itu, tapi otakku menolak bekerja sama.“Apa… apa maksud ucapan ayah?” suaraku keluar parau, nyaris tak terdengar.Anggun berdiri tiba-tiba. Kursinya terjungkal ke belakang, menimbulkan suara keras yang membuatku tersentak. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. “Darlo, hentikan. Ini bukan caranya.”“Bukan caranya?” Darlo tertawa singkat. “Kau ingin kejujuran, bukan? Ini kejujuran.”Ia menatapku lagi. “Ayahmu dan istriku menjalin hu

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 69 Ayahmu dan Istriku

    Meja makan itu tampak tenang untuk pagi yang baru saja diwarnai kekerasan. Sarapan tersaji rapi di atas meja panjang, roti panggang yang masih hangat, telur setengah matang, irisan buah segar, semangkuk sup ringan, dan kopi hitam yang uapnya naik perlahan. Semuanya terlihat menggugah selera pemandangan pagi yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak satu pun dari kami benar-benar mempedulikannya.Kami duduk berhadap-hadapan.Darlo menempati ujung meja, punggungnya tegak, wajahnya terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Luka di sudut bibirnya sudah dibersihkan, namun aku dapat melihat bagaimana sorot matanya masih memendam sesuatu.Anggun duduk di sisi meja, tepat di samping Dharma. Tangannya sempat meraih cangkir kopi, lalu berhenti di tengah jalan, seolah ia sendiri sadar bahwa pagi ini tidak ada yang bisa dinikmati. Wajahnya tampak tenang, tapi rahangnya mengeras tanda bahwa emosinya sedang ia tekan sekuat tenaga.Aku duduk di sebelah Dharma,Bekas darah di sudut bibirnya ma

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 68 Harus Selesai Hari ini

    Saat aku akan menyentuh lengan Dharma,Darlo bergerak tanpa kami sadari. dan dorongan itu datang tiba-tiba, Tubuhku terdorong ke samping sebelum sempat menahan diri. Kakiku tersangkut kaki kursi, membuat diriku kehilangan keseimbangan membuatku jatuh ke lantai.Nyeri menjalar dari siku hingga bahu, cukup membuat kepalaku pening sesaat.“Selena!”Suara Dharma terdengar panik. disaat itulah,Darlo memanfaatkannya.Tinju Darlo menghantam perut Dharma tepat sasaran.Dharma terhenti seketika. Napasnya tercekik, tubuhnya membungkuk refleks, satu langkah mundur tak terkendali.“Dharma—!”Aku berusaha bangkit, telapak tanganku gemetar menekan lantai.Darlo tidak berhenti,Saat Dharma belum sepenuhnya tegak, tinju berikutnya mendarat di wajahnya membuat Kepala Dharma tersentak ke samping. Ia terhuyung, tangannya meraih meja kerja untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.Ada darah di sudut bibirnya.“Cukup!” teriakku, suaraku pecah. “Hentikan!”Darlo menarik napas kasar, dadanya naik turun. Wajahn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status