Compartir

Bab 64. Penguntit?

Autor: Min Ye-Rin
last update Fecha de publicación: 2026-10-02 17:02:46

‘Cukup menjaga jarak denganku di kantor, dan bertindaklah layaknya seorang atasan pada bawahannya.’

Helena kembali mengingat ucapannya pada Lucien dua hari lalu. Karena semenjak saat itu, Lucien benar-benar menjaga jarak dengannya, terlebih ketika mereka sedang di kantor.

Rasanya tidak nyaman, terutama ketika berpapasan dengannya. Dia rindu, dia ingin bicara panjang lebar seperti biasanya, tapi gosip itu masih terus berjalan, bahkan justru semakin liar.

Sama seperti pagi ini, Helena sudah disa
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 108. Dipanggil Bos

    Lucien hanya mengangguk datar. Dia mempererat pelukannya. Hembusan napas kasar Helena berhasil membuat pria itu mengendurkan pelukan, dan perlahan melepaskannya.“Aku sudah percaya padamu,” kata Helena, begitu Lucien menatapnya dalam. “Kalau aku tidak percaya, tidak mungkin aku mau melakukan ini berulang kali.” “Tapi kecelakaan itu—”“Adrian memilihnya sendiri. Bahkan jika kamu berhasil menyelamatkannya saat itu, dia mungkin akan mengulanginya lagi sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.”Helena menunduk, mengingat kembali sosok Adrian yang akan selalu tunduk pada pendiriannya, sekalipun itu mengancam nyawa. “Jadi berhentilah menyalahkan dirimu,” lanjut Helena, mengangkat dagu perlahan, dan mengulas senyum untuk Lucien. Keheningan menyapa di kabin mobil itu. Namun perlahan, hati mereka justru menghangat. Ternyata tidak ada yang salah dengan berterus terang. Justru semuanya terasa jauh lebih ringan daripada terus menutupi kebenaran.*** Setelah kembalinya Roy Sinclair, kantor ca

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 107. Aku Memaafkanmu

    Mereka masih duduk berdekapan di dalam mobil. Napas belum sepenuhnya teratur ketika ponsel Lucien yang tergeletak di dashboard tiba-tiba bergetar.Helena bisa merasakan tubuh Lucien menegang. Pria itu segera meraih ponselnya, menatap layar selama beberapa detik dengan kening berkerut.“Siapa? Ada masalah lagi?” tanya Helena. Dia membelai pipi Lucien, membuat pria di depannya menoleh padanya. “Katakan, Lucien. Apa ada masalah yang lebih serius?”Lucien tidak langsung menjawab. Dia menatap Helena dalam, lalu menggeleng pelan. Lucien mengecup kening Helena, berusaha menenangkan wanita yang kini sudah gelisah. “Lalu, ada apa dengan wajah tegang itu?” tanyanya, menempelkan kembali kepalanya di dada Lucien. “Kamu tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresi itu dariku, Lucien.”Lucien terkekeh pelan. Dia menepuk puncak kepala Helena, lalu mengecupnya. “Iya, aku tahu,” katanya. “Ada anak buahku yang bilang, kalau Deren sudah dibebaskan. Dia akan dibawa ke rumah malam ini.”Helena langsung menj

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 106. Jangan Di sini

    Helena membiarkan kerinduan yang selama ini mereka pendam menemukan jalannya. Namun, ketika Lucien mulai menariknya semakin dekat, wanita itu teringat bahwa mereka masih berada di lorong yang bisa dilewati siapa saja. “Lucien, jangan. Kita tidak bisa melakukan ini di sini—” Helena menahan bahu pria itu, berusaha mengingatkannya pada keadaan sekitar. Namun, tatapan Lucien membuat kalimat berikutnya tertahan di ujung lidahnya. “Lucien,” desah Helena. “Aku menginginkanmu…” Lucien melepaskan pelukannya. Matanya mengunci tatapan Helena. Tangannya membelai lembut pipi wanita itu yang sudah memerah. “Aku juga menginginkanmu, sayang,” katanya serak. Lucien melirik mobilnya yang terparkir di ujung garasi. Ia kembali menatap Helena, seolah menunggu keputusan wanita itu. “Ikut aku,” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Helena memandang tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. Ia tahu keputusan tersebut bisa membawa konsekuensi, tapi ada begitu banyak hal di antara mereka yang belum sempat

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 105. Aku Merindukanmu

    Belum sempat Lucien menjawab, Roy sudah berlalu pergi. Dia berjalan tegas menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua. Lucien masih memperhatikan tanpa melepaskan pelukannya. Barulah saat mendengar suara pintu tertutup, pelukannya yang semua rapat kini langsung mengendur. Helena meraup napas sebanyak yang dia bisa, lalu mendongak menatap Lucien. “Kenapa kamu melawan ayahmu?” suara Helena yang lirih membuat Lucien menunduk menatapnya. Wanita itu sudah kembali menangis. Pria itu menangkup wajah Helena, menghapus air matanya dengan ibu jari. “Aku lebih memilih melawannya daripada aku harus kehilanganmu,” katanya. Pria itu tersenyum, lalu mengecup kening Helena. Ekspresi Lucien tidak lagi terlihat tegang seperti ketika berhadapan dengan Roy. “Dan kamu sudah membuatku marah, Helena,” katanya. Kedua alisnya saling bertaut, tapi wajahnya masih mengulas senyum. Dia menempelkan keningnya dengan kening Helena. “Kamu menyakitiku karena sudah mengusirku dari hidupmu.”Helena berkedip ringan

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 104. Keputusan Final

    Helena masih menatap wajah Lucien yang begitu tegang. Tangannya yang gemetar sedikit menarik ujung kemeja Lucien sampai membuat pria itu tersentak lalu menoleh padanya.“Bukan apa-apa. Kamu tenang saja,” kata Lucien, seolah menjawab pertanyaan hanya dari sorot mata Helena saja. “Aku akan melindungimu. Itu janjiku.”Pria itu membelai pipi Helena, sebelum akhirnya kembali menatap sang ayah. “Aku akan melepaskan Deren,” katanya. “Dan karena ini masalahku, biar aku sendiri yang menyelesaikannya.” Roy tidak menjawab. Dia berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan kedua tangan terlentang di sandaran sofa. Matanya masih memperhatikan Lucien dan Helena silih berganti. “Itu memang sudah seharusnya,” ujar Roy datar. “Kami juga tahu bagaimana Sinclair membersihkan pengacau. Jangan pernah membuang waktu lagi. Aku tidak suka bermain-main.”Helena bisa merasakan Lucien menahan napasnya. Bahkan genggaman tangan pria itu kian menguat, seolah memberi tahu kalau ini bukan hanya sekedar peringatan biasa

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 103. Dia Bekas Adrian!

    “Jangan pernah berani menyentuhnya.” Lucien menegakkan tubuhnya. Napasnya terengah dengan pupil menggelap. Dia menoleh kepada Helena. Wajah wanita itu pucat, matanya dipenuhi ketakutan. Rahang Lucien mengeras. Tanpa membuang waktu, dia segera menghampiri Helena dan berdiri tepat di depannya, melindungi wanita itu dengan tubuhnya.Roy Sinclair masih dengan ekspresi dinginnya. “Jadi benar dia yang membuatmu kehilangan akal sehatmu itu, Lucien?” tanya Roy. Dia memiringkan wajah, menatap sang putra tak percaya. Lucien menarik napas panjang. Genggaman tangannya di tangan Helena mengencang. “Bukan salahnya. Aku yang memilihnya,” kata Lucien. “Aku mencintainya, Ayah.” Roy tertawa, tapi matanya sudah menyipit tajam sampai akhirnya rahanganya kembali mengeras. Dia maju selangkah, menyentuh pundak Lucien. “Ayah tidak pernah bermain-main, Lucien. Kamu tahu itu,” katanya datar. “Berhenti membahas cinta, dan kembali ke posisimu sekarang.” Di belakang, Helena bisa merasakan tangan Lucien yang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status