เข้าสู่ระบบPagi di kantor Mahendra berjalan seperti biasa. Suara keyboard komputer serta percakapan ringan para karyawan masih tetap memenuhi ruangan.
Tidak ada yang berbeda, kecuali Rara.
Ia duduk di mejanya dengan komputer menyala, tetapi pandangannya tidak benar-benar fokus pada layar. Kursor di dokumen yang sama sudah berkedip sejak beberapa menit lalu tanpa ada satu pun kata yang bertambah.
Pikiran Rara masih tertinggal pada makan malam keluarga semalam.
Obrolan hangat dan tawa bahagia kedua orang tuanya serta orang tua Satya saat membicarakan rencana pertunangan mereka, masih menggema jelas di ingatannya. Sebuah rencana yang diputuskan dengan penuh keyakinan, tetapi terasa terlalu cepat bagi Rara untuk sesuatu yang sebesar itu.
“Ra.” Suara Dina memecah lamunannya.
Rara sedikit tersentak, lalu menoleh. “Hm?”
Dina mengerutkan kening. “Kamu dari tadi bengong terus. Kenapa?”
Rara menyandarkan sepenuhnya beban tubuhnya ke sandaran kursi, mengembuskan napas panjang seolah ingin membuang sesuatu yang mengganjal di dadanya.
“Enggak kenapa-kenapa.” Pada akhirnya, kata itu yang keluar.
Dina mengerutkan kening, kali ini lebih dalam. “Enggak kenapa-kenapa, tapi lesu begitu.”
Ia sempat kembali ke layar komputernya, mengetik cepat, menyelesaikan beberapa hal kecil. Namun perhatiannya jelas tidak benar-benar lepas dari Rara.
Beberapa detik kemudian, Dina berhenti, seperti baru tersadar akan sesuatu. Lalu, ia bersandar ke kursinya dan sedikit mencondongkan tubuh ke arah Rara.
Rara masih diam, menatap kosong ke arah layar. Hingga tiba-tiba Dina bersuara, seolah baru teringat sesuatu.
“Oh iya, ngomong-ngomong ....” Matanya langsung berbinar penuh rasa penasaran. “Aku punya gosip.”
Rara tidak langsung menoleh. Ia hanya menghela napas pelan. “Astaga ... masih pagi udah dapat gosip aja,” gumamnya malas, seolah tidak tertarik.
“Aku bukannya cari tahu, ya,” bela Dina cepat. “Tapi tiba-tiba ada yang kasih tahu.”
Kali ini, Rara sedikit melirik ke arahnya. “Memangnya gosip apa sih? Panas nggak?”
Dina menyeringai. “Ih, bukan lagi. Ini super panas.” Ia mencondongkan tubuh, menurunkan suaranya sedikit. “Tentang CEO kita tercinta, terganteng, dan termantap itu.”
Kini, giliran kening Rara yang berkerut. Jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Ada satu sosok yang terlintas di benaknya. Namun, Rara tidak yakin apakah sosok itu orang yang sama dengan yang dimaksud Dina.
Akhirnya, Rara memberanikan diri memastikan. “Maksudmu ... Pak Satya?”
“Betul,” jawab Dina ringan. “Siapa lagi CEO kita yang ganteng dan mantap kalau bukan beliau?”
Rara terdiam sejenak, kebingungan. Akhir-akhir ini Satya selalu bersamanya, dan selama itu ia tidak melihat ada hal yang bisa menjadi bahan gosip.
Ia memaksa dirinya tetap terlihat biasa, bahkan sempat menghela napas ringan, seolah tidak terlalu tertarik. “Memangnya kenapa sama Pak Satya?” tanyanya akhirnya.
Dina melirik sekitarnya lebih dulu, memastikan tidak ada yang mencuri dengar. Setelah merasa aman, ia pun menjawab Rara, “Katanya, dia mau nikah.”
Dunia Rara seolah berhenti sesaat. Matanya melebar tanpa sempat ia kendalikan.
Dengan susah payah Rara menelan ludah. “Kamu ... dengar ini dari mana?”
“Sepupuku,” jawab Dina tanpa curiga. “Dia kebetulan kenal sama Pak Satya. Kamu tahu sendiri, Pak Satya itu lumayan terkenal di kalangan bisnis.”
Rara mengangguk pelan, mencoba menjaga ritme napasnya tetap stabil. “Terus?” tanyanya, berusaha terdengar santai.
“Semalam, dia lihat Pak Satya di restoran,” lanjut Dina. “Katanya ... lagi ada pertemuan dua keluarga gitu. Dan dari suasananya, kayaknya memang lagi bahas pernikahan.”
Jantung Rara berdegup lebih keras. Potongan-potongan kejadian semalam langsung terhubung di kepalanya, cukup jelas.
Jemarinya tanpa sadar mencengkeram pegangan kursi. Namun, wajahnya harus tetap biasa, dan suaranya harus tetap stabil. Ia tidak boleh terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Lalu, dengan hati-hati, Rara bertanya, “Sepupumu ... lihat nggak Pak Satya datang sama siapa? Maksudku, kalau pertemuan keluarga, harusnya perempuan yang jadi calonnya itu ikut datang, kan?”
Dina terdiam sejenak. “Em ....” Ia menggeleng. “Katanya sih lihat, tapi nggak tahu siapa.”
Jawaban itu sama sekali tidak meredakan kepanikan Rara.
“Tapi tadi dia sempat kirim foto, sih,” lanjut Dina. “Bentar.”
Rara seketika menoleh, sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. “Hah? Foto apa?”
“Ya foto calonnya Pak Satya,” jawab Dina santai sambil meraih ponselnya. “Sepupuku sempat ambil dari jauh, terus dikirim ke aku tadi pagi, cuma memang belum sempat aku buka.”
Rara tidak benar-benar mendengarkannya. Waktu seolah melambat suara di sekitar seakan teredam ketika Dina membuka layar ponselnya.
Terlihat jelas gerakan jari Dina yang menggeser notifikasi, membuka pesan, lalu berhenti sesaat sebelum mengetuk layar.
Rara sungguh tidak bisa tenang. Jantungnya berdegup sangat cepat.
Tidak lama kemudian, layar ponsel Dina menampilkan sebuah foto. “Ini dia,” ucap Dina.
Rara menahan napas tanpa sadar. Mereka berdua sama-sama sedikit mendekat, menatap layar yang sama.
Foto itu menampilkan suasana restoran dengan pencahayaan hangat. Beberapa orang duduk mengelilingi satu meja.
Dina langsung terkejut. “Ini ....” Suara Dina terhenti di tengah kalimat, seolah tidak yakin harus melanjutkannya atau tidak.
Darah Rara seketika terasa surut. Tubuhnya menegang, pikirannya kosong sejenak.
Di kepalanya, satu keyakinan langsung muncul, bahwa Dina pasti tahu perempuan di foto itu adalah dirinya.
Perlahan, rasa pasrah merayap masuk ke hati Rara. Membuatnya tidak berani untuk menoleh.
Tatapannya tetap terpaku pada layar, sementara di dalam kepalanya, ia mulai merangkai jawaban-jawaban untuk pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan sahabatnya itu.
Suara Arjuna di ujung telepon terdengar dipenuhi nada terkejut sekaligus cemas saat Rara menyebutkan tempat keberadaannya.Tidak butuh waktu lama hingga sosok Arjuna menerobos pintu kaca bar, matanya dengan cepat memindai ruangan temaram sebelum akhirnya menemukan Rara duduk menyendiri di meja bar.Arjuna bergegas menghampiri. “Ra? Kamu kenapa ada di tempat seperti ini?” Ia memegang kedua bahu Rara dengan raut wajah panik. “Ada apa? Satya mana?”Menyebut nama Satya rasanya seperti menyayat luka yang masih basah. Rara mencengkeram lengan baju Arjuna, matanya yang mulai sembap menatap pria itu penuh keputusasaan.“Arjuna ... tolong aku,” bisik Rara dengan suara bergetar hebat. “Aku mohon, bantu aku.”“Bantu apa, Ra? Cerita sama aku, ada apa sebenarny
Tanpa sepengetahuan Satya, Rara menyetujui ajakan Nadine untuk mengobrol empat mata di kafe yang berada di lantai bawah gedung kantor. Suasana kafe yang terbilang sepi siang itu terasa makin mencekam di meja mereka.Nadine meletakkan sebundel dokumen tebal di atas meja, lalu menggesernya ke hadapan Rara. Tanpa basa-basi, wanita itu membeberkan fakta lapangan mengenai kondisi keuangan Mahendra Group, mulai dari angka kerugian, grafik penurunan saham, hingga kalkulasi skala kehancuran yang akan memusnahkan seluruh anak perusahaan dalam hitungan hari.Rara menatap angka-angka itu dengan tangan yang kian gemetar. Realitas pahit di atas kertas itu jauh lebih mengerikan dari apa yang dibayangkannya.“Sebenarnya, aku sangat ingin membantu Satya, tapi sayangnya ia menolakku mentah-mentah.” Nadine menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Andai dia mau menerima syaratku,” ucapnya sambil menatap lurus ke arah Rara, memaku pandangan wanita di hadapannya.Rara meneguk ludah pahit
Malam yang dingin merayap perlahan. Usai kepenatan dan sesak yang membakar sepanjang hari, Rara memutuskan untuk mengajak Satya keluar dari ruangan CEO yang mencekam.Ia menuntun pria itu menuju sebuah kedai makan terbuka di sudut kota, menikmati hawa segar agar lelakinya bisa menghela napas lebih rileks. Siapa tahu, kepala yang sedikit lebih dingin bisa membantu menyegarkan pikiran mereka.Sesuai perjanjian yang sebelumnya telah disepakati oleh mereka, malam ini tidak boleh ada obrolan serius mengenai krisis keuangan atau ancaman kebangkrutan. Rara sengaja hanya mengalirkan topik-topik manis tentang perjalanan hubungan mereka, menciptakan ruang aman tempat Satya bisa sejenak melupakan beban di pundaknya.Di tengah kehangatan uap makanan dan temaram lampu kedai, obrolan mereka pun akhirnya berbelok dan sampai ke arah yang lebih intim.“Sebenarnya ....” Satya meletakkan sendo
Satya terdiam menatap Rara dengan tatapan kelam. Haruskah ia jujur bahwa harga dari bantuan itu adalah Rara sendiri? Bahwa untuk menyelamatkan Mahendra Group, ia harus mengorbankan wanita yang kini jemarinya tengah menggenggam tangannya erat?Tidak. Tidak akan pernah.“Aku punya prinsip dalam berbisnis," dalih Satya akhirnya. Ia mengelus punggung tangan Rara dengan ibu jarinya, sedikit menyalurkan ketenangan. “Bantuan dari keluarga Nadine datang dengan terikat terlalu banyak syarat yang akan membahayakan independensi Mahendra Group di masa depan. Aku tidak bisa mempertaruhkan kontrol perusahaan begitu saja.”Rara menatap mata pria itu, mencari celah keraguan. Pernyataan Satya terdengar begitu logis dan rasional, tipikal Satya sang profesional. Namun, ada getar halus di suaranya yang membuat nurani Rara berbisik bahwa ada sesuatu yang terlewat.“Tapi tidakkah ini situasi darurat, Satya?” bisik Rara pelan, matanya berkaca-kaca menatap pria di hadapannya yang tampak begitu lelah. “Kalau
Rara menyusuri koridor menuju mejanya dengan langkah kaki yang terasa begitu berat. Suara bising mesin cetak dan gumaman rekan kerja di divisinya mendadak terdengar seperti gema yang jauh. Di kepalanya, kata-kata Nadine terus berulang bagai kaset rusak.Mantan kekasih Satya.Rara duduk di kursinya, jemarinya terkepal di atas pangkuan. Ia memandang berkas anggaran proyek yang tadinya terasa begitu penting, namun kini mendadak kehilangan arti.Ternyata, di saat Rara mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti profesionalitas kerja, Satya justru sedang berdiri di tepi jurang kehancuran bersama perusahaan keluarganya. Dan yang lebih menyakitkan, Rara baru mengetahuinya dari orang lain.Rara menghela napas panjang yang terasa berat dan menyiksa. Ia sandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Bayangan akan ketegangan yang terjadi di dalam ruangan sang CEO saat ini seolah menembus dan menghimp
Hawa dingin dari pendingin ruangan sang CEO menerpa Rara yang masih mematung di ambang pintu. Tiba-tiba ada rasa menyesakkan yang menyerang.Tatapan Satya melebar, sarat akan kejutan yang gagal ia sembunyikan saat menyadari keberadaan Rara di ambang pintu. “Ra.”Rara dengan cepat menguasai ekspresinya, meski gemuruh di dadanya belum juga reda. Otaknya yang rasional mencoba mengambil alih, berusaha keras menempatkan dirinya kembali sebagai bawahan yang profesional.“Maaf, Pak Satya,” ucap Rara kaku. “Saya tidak sengaja menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.”Satya gelisah. Tanpa membuang waktu, pria itu melangkah mundur, sengaja menciptakan jarak yang cukup lebar dari wanita di sampingnya. “Tidak apa-apa, Ra. Masuklah,” potongnya cepat, mengabaikan formalitas yang biasanya mereka jaga di kantor.Namun, sebelum Rara sempat melangkah, wanita berpenampilan anggun itu mengulas senyum tipis, sebuah senyuman yang lebih dipenuhi nada skeptis daripada keramahan. Pandangannya menilai







