เข้าสู่ระบบRara menahan napas. Foto di layar ponsel itu menampilkan suasana restoran dengan pencahayaan hangat.
Beberapa orang duduk mengelilingi satu meja. Wajah-wajah mereka terlihat cukup jelas, ada Satya, kedua orang tuanya, dan seorang pria paruh baya, yang menurut sepupu Dina, kemungkinan adalah calon ayah mertua Satya.
Hanya sayangnya ... dua perempuan lainnya, terutama perempuan yang duduk di samping Satya, posisinya membelakangi kamera, sehingga wajahnya sama sekali tidak terlihat. Hanya sebagian sisi wajah, rambut, dan siluet tubuhnya yang tertangkap. Tidak cukup untuk dikenali.
Rara berkedip beberapa kali, memastikan apa yang dilihatnya. Sementara itu, di sampingnya, Dina sudah mendecak kesal.
“Sial. Pas banget wajah calonnya Pak Satya nggak kelihatan.”
Saat menyadari hal itu, napas yang sejak tadi Rara tahan akhirnya terlepas perlahan.
Dina mendekatkan wajahnya ke layar, matanya menyipit, berusaha menangkap detail sekecil apa pun. “Ih ... beneran nggak ada petunjuk apapun. Pak Satya sih kelihatan jelas, tapi yang ceweknya ... duh, sama sekali nggak kelihatan mukanya.”
Rara hanya berdehem pelan, berusaha menjaga ekspresinya tetap netral.
“Ya sudah lah ... nggak usah dipaksa.” Ucapannya terdengar santai meski dadanya masih belum sepenuhnya tenang. “Nanti juga kalau sudah dipublis, kita pasti tahu.”
Dina menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Iya sih ... tapi kan kalau tahu duluan sebelum orang-orang lain, rasanya lebih seru buat digosipin.”
Rara langsung melirik tajam. “Dasar. Otaknya gosip mulu.”
Dina hanya menyeringai tanpa merasa bersalah.
“Udah, lanjut kerja gih,” lanjut Rara, setengah mengusir.
Dina berdecak pelan, jelas masih belum puas. Ia kembali menatap ponselnya, menggeser layar dan membaca chat lanjutan dari sepupunya.
“Oh, ada lanjutannya,” gumamnya.
Rara refleks menoleh sedikit. “Apa?” tanyanya cepat. “Masih ada fotonya?”
Dina menggeleng. “Enggak ....” Matanya tetap terpaku pada layar. “Ini loh, kata sepupuku ... ceweknya Pak Satya itu cantik. Tapi ya gitu, biasa aja. Nggak yang wah banget.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, ringan dan santai. Namun, cukup untuk menyentil sesuatu yang tidak terlihat.
Harga diri.
Sebelum rasa itu benar-benar mengembang, Rara buru-buru membuka suara, mencoba menutupinya dengan nada seolah biasa saja. Namun, suaranya yang keluar, tetap saja terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.
“Emang harus secantik apa buat bersanding sama Satya?”
Dina langsung menoleh. Tatapannya berubah, bukan lagi sekadar penasaran, tetapi mulai mengamati dan sedikit membaca.
Rara tersadar. Ia buru-buru merapikan ucapannya, menahan nada suaranya agar kembali netral.
“Maksudku ... ya nggak masalah juga, kan, mau ceweknya seperti apa. Yang penting mereka saling suka. Kita sebagai penonton nggak perlu kasih standar macam-macam.”
Kali ini, Rara benar-benar berusaha terdengar santai.
Dina menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ya ... iya sih.”
“Nah, kan.” Rara menyambung cepat, lalu tersenyum tipis. “Sudah, kan? Sekarang, ayo, lanjut kerja.”
Dina mendesah ringan, akan tetapi akhirnya kembali menoleh ke layar komputernya.
Rara pun ikut kembali ke pekerjaannya. Ia menatap lembar kerja yang sejak tadi belum benar-benar ia sentuh.
Namun ... belum sampai beberapa detik berlalu, Dina tiba-tiba berhenti, seolah baru teringat sesuatu.
Kepalanya kembali menoleh ke arah Rara. “Eh, Ra.” Suaranya kini lebih pelan, sarat rasa ingin tahu. “Kamu kan dekat sama Pak Bos. Emangnya ... kamu nggak tahu soal ini?”
Rara membeku sejenak. Namun, ia segera menarik napas ringan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang, tidak terlalu kaku.
Sementara di hadapannya, Dina masih menatapnya lekat, menunggu jawaban.
Rara mengerjap pelan, lalu memaksakan senyum tipis. “Enggak tahu. Aku juga baru dengar dari kamu.”
Dina menatapnya beberapa detik, seolah memastikan tidak ada yang disembunyikan. Namun, akhirnya ia hanya mengangguk kecil.
“Oh.” Ia merespon singkat. Lalu, kembali memutar kursinya dan kembali fokus pada layar komputer.
Percakapan pun berakhir begitu saja.
Rara pun ikut kembali menghadap layar komputernya. Jemarinya mulai bergerak di atas keyboard, mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Pikiran Rara tidak benar-benar di sana. Kata-kata tadi ... masih terngiang.
Cantik, tapi biasa saja. Seolah perempuan seperti dirinya tidak cukup pantas jika bersanding dengan Satya.
Rara diam-diam mengembuskan napas pelan. Seharusnya, ia tidak perlu peduli, karena ia dan Satya memang bukan pasangan sungguhan.
Semua ini hanya sandiwara. Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu jauh.
Namun entah kenapa ... tetap saja terasa mengganggu.
“Eh, by the way—” Suara Dina kembali terdengar, memotong alur pikiran Rara.
Rara refleks menoleh, sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. “Apa sih ....” Nada suaranya terdengar lebih kesal dari yang ia niatkan. “Aku beneran nggak tahu.”
Dina langsung mengernyit. “Apa sih?”
Rara ikut mengerutkan kening. “Lah? Bukan mau nanya soal Pak Satya?”
“Bukan,” jawab Dina cepat, bingung.
“Oh ....” Suasana jadi sedikit canggung. “Terus apa?” tanyanya kemudian.
Dina menghela napas ringan, lalu berkata, “Aku cuma mau kasih tahu, hari ini ada klien penting datang.”
“Klien?”
“Iya,” jawab Dina.
“Kok aku nggak tahu?”
“Makanya, buka grup dong, sayang.”
Rara menyeringai tipis. “Oh iya, lupa. Maaf, project kemarin bikin sibuk banget.”
Dina hanya berdecak pelan, lalu melanjutkan, “Klien kita dari perusahaan besar. Tapi ... yang lebih penting bukan itu.”
Rara mengernyit. “Terus?”
Dina menyeringai lagi. “Katanya sih, orangnya ganteng banget.”
Rara tidak tertarik dengan bagian itu. Ada hal lain yang justru membuatnya lebih penasaran.
“Dari perusahaan mana?” tanyanya.
“Dari JJ Investama.”
Rara tahu nama perusahaan itu.
Itu adalah perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaannya dalam proyek baru. Hanya saja, ia belum sempat membaca detail tim yang akan datang.
~
Setelah jam makan siang ....
Ponsel Rara berbunyi. Satu pesan masuk.
Rara melirik sekilas. Nama pengirimnya cukup untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Satya.
Ia membuka pesan itu. “Ke ruanganku sekarang. Penting.”
Kalimat itu biasa. Namun entah kenapa, cara Satya menuliskannya kali ini terasa lebih serius dari biasanya.
Rara segera berdiri. “Din, aku ke ruang CEO dulu.”
Dina hanya menyahut singkat, tanpa benar-benar menoleh. “Hm ....” Hal seperti itu memang sudah biasa.
Rara pun melangkah cepat menyusuri koridor kantor, menuju ruangan Satya. Namun, di tengah jalan ... ia menabrak seseorang.
Tubuh Rara sedikit terhuyung. “Ah, maaf!” Rara mendongak. Dan seketika, dunianya seolah berhenti.
Ia mengenali sosok di hadapannya. Seorang pria dengan aura percaya diri yang sulit untuk diabaikan. Tinggi dan tegap tubuhnya dibalut dengan kemeja rapi yang pas di tubuhnya.
Pria itu sedikit memiringkan kepala, menatap Rara lebih saksama. “Rara?”
Rara tidak bergerak. Pikirannya kosong selama beberapa detik.
Dan selama itu, pria di hadapannya terus menatap, seolah memastikan bahwa ia tidak salah mengenali sosok yang berdiri di depannya.
“Lama sekali tidak bertemu.” Pria itu tersenyum tipis.
Suara beratnya kembali memasuki indera pendengaran Rara.
Rara menelan ludah.
Lelaki di hadapannya adalah Arjuna ... seseorang dari masa lalunya.
Beberapa minggu berlalu. Tim audit internal dan divisi legal WM Corporation bekerja tanpa kenal lelah, merapikan celah-celah administratif yang ditinggalkan oleh konsorsium keluarga Nadine.Sementara itu, proyek Grade A Office Tower yang dipimpin oleh Rara menunjukkan performa gemilang, mencatatkan angka penjualan dan komitmen investasi yang melampaui target awal.Proyek tersebut resmi menjadi jangkar finansial independen, mengamankan posisi likuiditas Mahendra Group tanpa perlu bergantung pada sepeser pun dana dari konsorsium.Hari penentuan itu pun tiba.Satya melangkah masuk ke dalam markas besar konsorsium keluarga Nadine dengan penuh percaya diri, mengenakan setelan jas gelap yang memancarkan aura otoritas mutlak.Di hadapan Nadine yang menyambutnya dengan senyum penuh kemenangan di ruang kerja mewah, Satya tidak membuang waktu sedetik pun. Ia melemparkan sebuah berkas tebal tepat di atas meja kayu di hadapan wanita itu.Nadine mengernyit, menarik berkas tersebut dengan jemari le
Dunia bisnis ibu kota digemparkan oleh sebuah berita yang dengan cepat menghiasi berbagai portal berita ekonomi dan media sosial pagi itu.Mahendra Group, raksasa properti yang dikabarkan berada di ambang kebangkrutan, secara mengejutkan mengumumkan penyelamatan besar-besaran melalui suntikan dana segar dari konsorsium multinasional.Namun, yang jauh lebih menarik perhatian publik, sekaligus memicu kehebohan luar biasa di dalam gedung WM Corporation adalah pengumuman resmi mengenai peresmian hubungan istimewa berupa pernikahan antara Satya Mahendra dan Nadine, sang pewaris konsorsium.Di ruang divisi Project Management, suasana mendadak senyap sebelum akhirnya berubah menjadi riuh oleh bisik-bisik kaget para karyawan. Dina menatap layar ponselnya dengan mata membelalak lebar, lalu menoleh tajam ke arah meja Rara.“Ra ... kamu ... kamu sudah lihat berita ini?” suara Dina tercekat, menunjukkan rasa tidak percaya.Rara yang sejak pagi duduk termenung dengan pandangan kosong di balik laya
Malam itu, kota seolah kehilangan seluruh warnanya di mata Rara. Di dalam mobil yang melaju pelan menuju rumahnya, ia duduk di kursi penumpang dengan pandangan kosong menatap tetesan air hujan yang membasahi kaca jendela.Isak tangis Rara sudah reda, tetapi masih menyisakan sesak di dalam dadanya. Air matanya telah kering, namun rasa sakit akibat robeknya hati masih terasa menyiksa.Arjuna yang mengemudikan mobil melirik Rara sekilas dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Pria itu mencengkeram lingkar kemudi erat-erat. “Ra, apa kamu yakin dengan keputusan ini? Rasanya masih tidak masuk akal ... kamu mengorbankan kebahagiaanmu sendiri untuk pria yang bahkan mungkin sedang membencimu sekarang.”Rara menoleh pelan, menatap lurus ke depan dengan senyuman getir. “Aku tidak punya pilihan lain,” jawabnya dengan suara parau. “Kalau bukan dengan cara ini, Satya tidak akan pernah mau melepaskanku. Dia terlalu keras kepala untuk memilih hancur bersama perusahaannya demi aku.”Arjuna menge
Suara Arjuna di ujung telepon terdengar dipenuhi nada terkejut sekaligus cemas saat Rara menyebutkan tempat keberadaannya.Tidak butuh waktu lama hingga sosok Arjuna menerobos pintu kaca bar, matanya dengan cepat memindai ruangan temaram sebelum akhirnya menemukan Rara duduk menyendiri di meja bar.Arjuna bergegas menghampiri. “Ra? Kamu kenapa ada di tempat seperti ini?” Ia memegang kedua bahu Rara dengan raut wajah panik. “Ada apa? Satya mana?”Menyebut nama Satya rasanya seperti menyayat luka yang masih basah. Rara mencengkeram lengan baju Arjuna, matanya yang mulai sembap menatap pria itu penuh keputusasaan.“Arjuna ... tolong aku,” bisik Rara dengan suara bergetar hebat. “Aku mohon, bantu aku.”“Bantu apa, Ra? Cerita sama aku, ada apa sebenarny
Tanpa sepengetahuan Satya, Rara menyetujui ajakan Nadine untuk mengobrol empat mata di kafe yang berada di lantai bawah gedung kantor. Suasana kafe yang terbilang sepi siang itu terasa makin mencekam di meja mereka.Nadine meletakkan sebundel dokumen tebal di atas meja, lalu menggesernya ke hadapan Rara. Tanpa basa-basi, wanita itu membeberkan fakta lapangan mengenai kondisi keuangan Mahendra Group, mulai dari angka kerugian, grafik penurunan saham, hingga kalkulasi skala kehancuran yang akan memusnahkan seluruh anak perusahaan dalam hitungan hari.Rara menatap angka-angka itu dengan tangan yang kian gemetar. Realitas pahit di atas kertas itu jauh lebih mengerikan dari apa yang dibayangkannya.“Sebenarnya, aku sangat ingin membantu Satya, tapi sayangnya ia menolakku mentah-mentah.” Nadine menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke kursi. “Andai dia mau menerima syaratku,” ucapnya sambil menatap lurus ke arah Rara, memaku pandangan wanita di hadapannya.Rara meneguk ludah pahit
Malam yang dingin merayap perlahan. Usai kepenatan dan sesak yang membakar sepanjang hari, Rara memutuskan untuk mengajak Satya keluar dari ruangan CEO yang mencekam.Ia menuntun pria itu menuju sebuah kedai makan terbuka di sudut kota, menikmati hawa segar agar lelakinya bisa menghela napas lebih rileks. Siapa tahu, kepala yang sedikit lebih dingin bisa membantu menyegarkan pikiran mereka.Sesuai perjanjian yang sebelumnya telah disepakati oleh mereka, malam ini tidak boleh ada obrolan serius mengenai krisis keuangan atau ancaman kebangkrutan. Rara sengaja hanya mengalirkan topik-topik manis tentang perjalanan hubungan mereka, menciptakan ruang aman tempat Satya bisa sejenak melupakan beban di pundaknya.Di tengah kehangatan uap makanan dan temaram lampu kedai, obrolan mereka pun akhirnya berbelok dan sampai ke arah yang lebih intim.“Sebenarnya ....” Satya meletakkan sendo







